Transnasionalisme

Kemarin, gw menyimak diskusi forum para ilmuwan muda yang diadakan kantor. Dalam diskusi tentang transnasionalisme, salah satu partisipan cerita, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia harus siap kalau misalnya anaknya menikah dengan orang Afrika.

Gw menangkap kekhawatirannya. Ibu X ini mengajarkan anaknya untuk melihat dunia, berarti dia harus siap melepas kalau anaknya suatu hari jadi 'warga dunia' dengan segala keberagamannya, termasuk menikah dengan orang asing.

Ready or not, her kids are now third culture kids.

Terus salah satu partisipan yang menikahi orang asing bilang, nggak susah kok mengurus suami bule, walaupun mereka harus mendidik anaknya dengan 3 bahasa (Indonesia, Inggris, Tamil). Oh ya, fyi, ibu Y ini keturunan India.

"Kayaknya justru lebih susah mengurus suami Indonesia ya?" komentarnya.

Lalu salah satu partisipan lain menanggapi sekaligus bertanya-tanya, "Sebetulnya, mana yang lebih berpotensi terjadi konflik? Seragam atau beragam?"

Mindblowing.

No comments:

Powered by Blogger.