Posts

Showing posts from October, 2014

Siap-siap

Hai Tuan,

Boleh sedikit bercerita? Sepekan lalu aku membahasmu dengan seorang teman. Sebelum aku selesai bercerita, dia langsung menebak kelanjutan ceritaku dan tebakannya tepat sekali. Aku panik. Apa semudah itu aku 'dibaca'? Tapi ya sudahlah, mungkin memang iya, haha.

Mungkin suatu saat kita bisa bertemu. Mungkin kamu pun akan menemukan tulisanku. Hanya membayangkan itu saja, aku panik (lagi). Aku belum siap. Tapi ya sudahlah, kalau menunggu siap, selamanya pasti takkan siap. Jadi, mari bersiap-siap!

Oh ya, mungkin saja, kesempatan bertemu itu tidak pernah ada. Untuk itu, aku pun seharusnya juga bersiap-siap.
Salam dari pengagum diam-diam,
Nona

'Selimut'

Image
Baru 2 bulan berkenalan dan gw sudah kehabisan kata-kata. Berkali-kali mencoba, tetap nihil hasilnya. Tapi kali ini akan gw coba.

Sebetulnya gw bukan orang yang gampang membuka diri. Apalagi di forum terbuka yang ada banyak orang di dalamnya, yang bahkan belum pernah bertatap muka. Ya keleus! Gile lu, Ndro!

Tapi percakapan intens yang beragam di dalamnya bisa dengan mudah memancing gw untuk banyak bercerita. Dan pada pertemuan pertama, rasanya seperti sudah berteman lama.

Nggak ada habisnya gw bergumam "ini gila! Gila gila gilaaak!!!" Bisa-bisanya cerita apa saja --BAHKAN hal personal-- ke orang-orang yang 'baru kenal kemarin sore'.

Di sana dan di sini ada tulisan tentang kami. Mungkin ada lagi di blog yang belum gw ketahui. Mereka memang luar biasa. Luar biasa gila, maksudnya, hahaha.

Pembahasan topik umum yang udah nggak ngerti lagi randomnya dari mulai jengkol, kopi, bra dan undies, LGBT, ekonomi kreatif, RPP, konsep perkalian, sampai balada packing yang nggak kun…

No Pain No Gain

They start to count down. Despite all those unpacked stuff, I'm not worry about being ready or not. I know whatever happens, I'll keep moving and find a way. Nothing to worry about.

It's just... the pain of leaving is inevitable. But hopefully, there's more to gain. From living. From loving. From giving. From sharing. From learning. And from defining new form of happiness.

Murakami once said:
"Pain is inevitable, suffering is optional"
Thus I choose not to suffer.  I choose to write instead.

Motivasi atau Distraksi?

Gw baru ngeh-se-ngeh-ngeh-nya kalau yang paling berat dari pindah adalah meninggalkan orang-orang di zona nyaman. Gw kira nggak akan se-big deal itu susah komunikasi, toh gw fine-fine aja selama ini cuma dengan ber-teks-ria.

Iyeee.. selama ini, Del. Selama lo nggak pernah kesulitan berkabar. Selama semua orang masih dalam jangkauan. Toh se-jauh-jauhnya, masih terjangkau. Toh bukan lo yang pindah. Toh walaupun lo bilang pernah pindah rumah, selemparan tol juga nyampe *walaupun tolnya MAHAL.

Gw pengennya sih fokus ke persiapan. Tapi yang gengges-gengges macem ini paling tepat dituangkan lewat tulisan. Sebodo teuing lah ntar jadinya lebay.

Mungkin yang namanya motivasi itu ibarat keramas. Ya nggak harus tiap hari sih, tapi minimal kalau udah mulai nggak nyaman, kepalanya disiram, kucek pakai shampoo, dan bilas. Biar bersih lagi dan bisa mikir jernih.

Kucek banget? Itu rambut apa baju?!

Sesekali pengen manja sih creambath di salon. Kan kan kan, jadi pengen creambath tengah malem gini. Ran…

Halo, Tuan!

Halo, Tuan!

Ini gila. Luar biasa gila. 2 tahun, dan rasanya masih sama. Sama menariknya, sama bikin penasarannya, dan sama diam di tempatnya.

Kita bahkan nggak pernah berjumpa, tapi namamu ada dalam doaku yang sederhana: semoga di suatu masa, kita bisa duduk berdua dan bertukar cerita. Apa saja.

Tertanda,
Nona

Friendship Relationship

Belakangan, beberapa orang teman bercerita tentang sahabat-sahabat mereka, yang entah bagaimana mendadak asing. Setelah cerita, respon mereka rata-rata sama: yaudah. Selesai.

Gw emang nggak mengalami dan mungkin juga gatau apa yang mereka rasain, tapi rasanya mencelos. Sebuah kemewahan bisa punya sahabat, masa bisa segampang itu 'selesai' cuma gara-gara penyebab yang bahkan gatau apaan? Ngilang aja gitu ceritanya?

Mereka bilang "nggak semua orang layak kita pertahankan, kan?" Gw rasanya pengen gaplokin dan bilang "sahabatan belasan bahkan 20an tahun, masa nggak layak dipertahankan? Hampir seumur hidup loh itu!"

Seiring bertambahnya umur, gw semakin menyadari kalau mempertahankan teman dalam jangka waktu yang lama (BANGET) itu butuh usaha, tapi pasti akan diusahakan dengan senang hati.

Apalagi mereka yang jadi saksi metamorfosa kita dan hafal betul gimana kita luar-dalam, bahkan kadang lebih dari diri kita sendiri. Udah kartu As banget, nggak mungkin laaah g…

Tentang Jakarta

Kemarin, gw mengobrol dengan dua orang asing. Yang satu berkebangsaan Amerika, yang satunya lagi orang Jepang. Mereka banyak bercerita tentang perjalanan mereka melanglang buana, sementara gw banyak bercerita tentang........

Jakarta.

Oh betapa bencinya gw sama kota ini. Hiruk-pikuknya, kemacetannya, lumpuhnya kota saat hujan apalagi banjir, para warganya yang super barbarian mirip manusia purba didandanin, dan lain-lainnya.

"Come to Indonesia someday. You'll see heaven. Anywhere but Jakarta. You'll see hell" gw mengingatkan mereka.

Tapi sekarang, kalau diingat-ingat lagi dan menyadari sesuatu, gw malah ketawa sendiri (iya udah gila emang).

Saat itu, gw bercerita dengan berapi-api, penuh semangat, dan segala hal ke-chaos-an itu ibarat kecetus cabe atau seledri di kuah bakso. Walaupun nggak suka --nyerempet benci setengah mati--, toh nggak bikin gw berhenti makan bakso.

Gini nih kalau nulis tengah subuh dalam keadaan laper. Semua analogi ujung-ujungnya makanan.

Random …