Friday, October 24, 2014

Siap-siap

0 comments
Hai Tuan,

Boleh sedikit bercerita? Sepekan lalu aku membahasmu dengan seorang teman. Sebelum aku selesai bercerita, dia langsung menebak kelanjutan ceritaku dan tebakannya tepat sekali. Aku panik. Apa semudah itu aku 'dibaca'? Tapi ya sudahlah, mungkin memang iya, haha.

Mungkin suatu saat kita bisa bertemu. Mungkin kamu pun akan menemukan tulisanku. Hanya membayangkan itu saja, aku panik (lagi). Aku belum siap. Tapi ya sudahlah, kalau menunggu siap, selamanya pasti takkan siap. Jadi, mari bersiap-siap!

Oh ya, mungkin saja, kesempatan bertemu itu tidak pernah ada. Untuk itu, aku pun seharusnya juga bersiap-siap.

Salam dari pengagum diam-diam,
Nona

Thursday, October 16, 2014

'Selimut'

0 comments
Baru 2 bulan berkenalan dan gw sudah kehabisan kata-kata. Berkali-kali mencoba, tetap nihil hasilnya. Tapi kali ini akan gw coba.

Sebetulnya gw bukan orang yang gampang membuka diri. Apalagi di forum terbuka yang ada banyak orang di dalamnya, yang bahkan belum pernah bertatap muka. Ya keleus! Gile lu, Ndro!

Tapi percakapan intens yang beragam di dalamnya bisa dengan mudah memancing gw untuk banyak bercerita. Dan pada pertemuan pertama, rasanya seperti sudah berteman lama.

Nggak ada habisnya gw bergumam "ini gila! Gila gila gilaaak!!!" Bisa-bisanya cerita apa saja --BAHKAN hal personal-- ke orang-orang yang 'baru kenal kemarin sore'.

Di sana dan di sini ada tulisan tentang kami. Mungkin ada lagi di blog yang belum gw ketahui. Mereka memang luar biasa. Luar biasa gila, maksudnya, hahaha.

Pembahasan topik umum yang udah nggak ngerti lagi randomnya dari mulai jengkol, kopi, bra dan undies, LGBT, ekonomi kreatif, RPP, konsep perkalian, sampai balada packing yang nggak kunjung selesai.

Topik klasik yang selalu terselip: jodoh dan pernikahan, dinamika kelompok seperti left group dan hoax yang bikin sebagian ngakak dan sebagian lainnya kesal, sampai pembahasan insightful barusan: tentang zona nyaman.

Menarik banget menyimak definisi 'zona nyaman' masing-masing dari mereka. Buat gw, zona nyaman itu ibarat selimut: sahabat saat istirahat, musuh saat subuh.

Bergelung di balik selimut memang nyaman, tapi bahaya karena bisa membuat orang terlena, terlalu mager untuk keluar dari situ. Apalagi kalau cuaca dingin. Brr. Boleh selamanya ngerungkel jadi kepompong aja nggak? NGGAK! Nanti 'mati rasa' loh!

Makanya, ada istilah "keluar dari zona nyaman".

Tapi, alih-alih memakai istilah "keluar dari zona nyaman", salah seorang dari mereka menyebutnya "memperluas zona nyaman". Menarik! Ibarat beranjak dari selimut kesayangan buat mencari selimut di tempat lain. Jadi selimutnya ada banyak *apose sih, Del?

Oke. Gw kembali kehabisan kata-kata. Yang jelas, gw sangat bersyukur dipertemukan dengan mereka, calon Pengajar Muda IX, yang 10 hari lagi akan (akhirnya) berjumpa semua. Mereka, 'selimut' baru yang nyaman.

Ah, rasanya nggak sabar untuk saling berkabar!

Peserta kopdar perdana CPM IX cabang Jakarta

Wednesday, October 15, 2014

No Pain No Gain

0 comments
They start to count down. Despite all those unpacked stuff, I'm not worry about being ready or not. I know whatever happens, I'll keep moving and find a way. Nothing to worry about.

It's just... the pain of leaving is inevitable. But hopefully, there's more to gain. From living. From loving. From giving. From sharing. From learning. And from defining new form of happiness.

Murakami once said:
"Pain is inevitable, suffering is optional"

Thus I choose not to suffer.  I choose to write instead.

Motivasi atau Distraksi?

0 comments
Gw baru ngeh-se-ngeh-ngeh-nya kalau yang paling berat dari pindah adalah meninggalkan orang-orang di zona nyaman. Gw kira nggak akan se-big deal itu susah komunikasi, toh gw fine-fine aja selama ini cuma dengan ber-teks-ria.

Iyeee.. selama ini, Del. Selama lo nggak pernah kesulitan berkabar. Selama semua orang masih dalam jangkauan. Toh se-jauh-jauhnya, masih terjangkau. Toh bukan lo yang pindah. Toh walaupun lo bilang pernah pindah rumah, selemparan tol juga nyampe *walaupun tolnya MAHAL.

Gw pengennya sih fokus ke persiapan. Tapi yang gengges-gengges macem ini paling tepat dituangkan lewat tulisan. Sebodo teuing lah ntar jadinya lebay.

Mungkin yang namanya motivasi itu ibarat keramas. Ya nggak harus tiap hari sih, tapi minimal kalau udah mulai nggak nyaman, kepalanya disiram, kucek pakai shampoo, dan bilas. Biar bersih lagi dan bisa mikir jernih.

Kucek banget? Itu rambut apa baju?!

Sesekali pengen manja sih creambath di salon. Kan kan kan, jadi pengen creambath tengah malem gini. Random.

Ya intinya, hmm.. apa ya intinya? Ah elah fuck denial lah, Del. Jadi gini. Ada seorang oknum yang jadi salah satu motivasi gw. 'Shampoo' dengan aroma yang menyegarkan. Masalahnya udah 2 tahun dan nggak pernah berani bawa ke kasir. Kemahalan.

Demmm.. apa sih ini bawa-bawa kasir segala?!

Nah, distraksi gw dari si oknum adalah orang-orang di zona nyaman. Lah kalau susah nyampahan ke mereka terus kudu piyeee? Guling-guling sendiri aja lah di pinggir pantai tanpa gadget tanpa listrik.

Gw bukan pengen ngeluh sih, malah sebenernya nggak sabar. Cuma lagi mikir aja, zona nyaman gw, tempat katarsis, mungkin harus sedikit 'dimodifikasi' nantinya. Atau gw nya yang perlu adaptasi.

Terus si motivasi yang mendistraksi ini harus diapain dooong? Terlalu menyenangkan untuk dienyahkan, tapi terlalu mengesalkan untuk dipertahankan.

Eh gimana gimana? Jadi distraksi apa motivasi? Siapa yang mendistraksi yang mana? Siapa yang memotivasi apa?

AUK AH DEL! Suka sendiri, sewot sendiri, bingung sendiri. Maunya hapaaah?!

Kalau pakai prinsip paradoxical intention, ini yaudalah ya mabokan aja sendiri nulis-nulis sampai puas. Abis itu tidur bentar, terus lanjut lari pagi.

Jadiii.. gw sebenernya merasa bersalah karena mengakui si oknum itu jadi salah satu motivasi gw. Sempet 'lupa' sih, dan saat inget lagi jadi agak 'panik' dan menganggap itu distraksi.

It's like every time I think of that person, this monologue goes like this:

Della 1: "So... how sincere can you go? You don't do this because of him in the first place, right?"
Della 2 (doubtlessly nod): "OF COURSE not because of him"
Della 1: "Then why still anxious?"
Della 2: "If I were car, then he would be the gasoline, NOT the destiny. What makes me anxious is because I'm run out gas"

AH INI GIMANA NGEJABARINNYA KOK SUSAH BANGET SIH?!

Banyak hal yang tumpang tindih di otak. Nggak ngerti banget deh. Aaargh, semoga nanti gw nggak punya waktu buat mikirin hal macem gini karena masih banyak hal lain yang lebih penting buat dipikirin. Aamin aamiin.

Dan semoga semuanya lancar. Baik motivasi maupun distraksi. Eh?

Saturday, October 11, 2014

Halo, Tuan!

0 comments
Halo, Tuan!

Ini gila. Luar biasa gila. 2 tahun, dan rasanya masih sama. Sama menariknya, sama bikin penasarannya, dan sama diam di tempatnya.

Kita bahkan nggak pernah berjumpa, tapi namamu ada dalam doaku yang sederhana: semoga di suatu masa, kita bisa duduk berdua dan bertukar cerita. Apa saja.

Tertanda,
Nona

Tuesday, October 7, 2014

Friendship Relationship

1 comments
Belakangan, beberapa orang teman bercerita tentang sahabat-sahabat mereka, yang entah bagaimana mendadak asing. Setelah cerita, respon mereka rata-rata sama: yaudah. Selesai.

Gw emang nggak mengalami dan mungkin juga gatau apa yang mereka rasain, tapi rasanya mencelos. Sebuah kemewahan bisa punya sahabat, masa bisa segampang itu 'selesai' cuma gara-gara penyebab yang bahkan gatau apaan? Ngilang aja gitu ceritanya?

Mereka bilang "nggak semua orang layak kita pertahankan, kan?" Gw rasanya pengen gaplokin dan bilang "sahabatan belasan bahkan 20an tahun, masa nggak layak dipertahankan? Hampir seumur hidup loh itu!"

Seiring bertambahnya umur, gw semakin menyadari kalau mempertahankan teman dalam jangka waktu yang lama (BANGET) itu butuh usaha, tapi pasti akan diusahakan dengan senang hati.

Apalagi mereka yang jadi saksi metamorfosa kita dan hafal betul gimana kita luar-dalam, bahkan kadang lebih dari diri kita sendiri. Udah kartu As banget, nggak mungkin laaah gamau diusahakan.

Kalau emang tiap hubungan punya masa kadaluwarsa, pasti pertemanan jangka panjang ini yang paling pedih saat ternyata ada kadaluwarsanya. Dan pasti rasanya super nggak rela.

Emang ya, dalam mendengarkan cerita seseorang (atau berusaha jadi pendengar yang baik) tuh butuh banget kemampuan untuk nahan diri buat nggak menyertakan "kalau gw jadi lo".

Mungkin saat seseorang curhat ke kita, bisa dibilang itu bentuk penghargaan karena tandanya dia percaya sama kita. Tapi buat tetap 'jaga batas' antara empati dan simpati itu S-U-S-A-H meeen!

Jadi, pada akhirnya gw tetap menyertakan "kalau gw jadi lo" dalam komentar. Gw bilang ke mereka kira-kira begini "gw gatau rasanya jadi lo, tapi kalau gw jadi lo, mungkin gw akan keras kepala pertahanin" dengan nada senetral mungkin.

Salah satu dari mereka akhirnya 'baikan' lagi. Gw nggak kenal sahabatnya sama sekali, cuma denger cerita dari si teman gw itu, tapi rasanyaaa.. I'm extremely happy for them :)

Terus barusan, seorang teman cerita lagi. Dan rasanya kayak de javu. Komentar yang sama pun gw lontarkan, dengan rasa mencelos yang juga sama. Ini kenapa sik gw jadi kayak 'magnet' orang-orang cerita beginian mulu?! Hiks. Kan jadi ikutan sedih.

So... to all my dear friends,

I need to assure myself about this. People come and go. I may lose you anytime, but hopefully I can guarantee you won't lose me no matter what.

And IF I were you --you, yes you, my friends with friendship-relationship-matter-- guess at leaaast I would let that buddy know that s/he might come, s/he might go. But I would still stay.

Semoga pada cepat 'baikan' lagi yah sama sahabatnya masing-masing. Dan semoga, yang namanya 'kadaluwarsa' dalam persahabatan itu cuma mitos belaka. Aamiin.

Monday, October 6, 2014

Tentang Jakarta

0 comments
Kemarin, gw mengobrol dengan dua orang asing. Yang satu berkebangsaan Amerika, yang satunya lagi orang Jepang. Mereka banyak bercerita tentang perjalanan mereka melanglang buana, sementara gw banyak bercerita tentang........

Jakarta.

Oh betapa bencinya gw sama kota ini. Hiruk-pikuknya, kemacetannya, lumpuhnya kota saat hujan apalagi banjir, para warganya yang super barbarian mirip manusia purba didandanin, dan lain-lainnya.

"Come to Indonesia someday. You'll see heaven. Anywhere but Jakarta. You'll see hell" gw mengingatkan mereka.

Tapi sekarang, kalau diingat-ingat lagi dan menyadari sesuatu, gw malah ketawa sendiri (iya udah gila emang).

Saat itu, gw bercerita dengan berapi-api, penuh semangat, dan segala hal ke-chaos-an itu ibarat kecetus cabe atau seledri di kuah bakso. Walaupun nggak suka --nyerempet benci setengah mati--, toh nggak bikin gw berhenti makan bakso.

Gini nih kalau nulis tengah subuh dalam keadaan laper. Semua analogi ujung-ujungnya makanan.

Random lah. Intinya sih, mungkin bener kata orang kalau benci dan cinta itu beda tipis. Gw bisa bilang benci setengah mati, tapi apa namanya kalau bukan cinta, saat setengah mati berusaha nggak peduli tapi ujung-ujungnya balik lagi?

Sebentar lagi gw akan meninggalkan segala atribut perkotaan ini dalam waktu yang cukup lama. Gw benci bilang ini, tapi ya, dengan segala hiruk-pikuknya, Jakarta tetap punya hak untuk dirindukan.