Motivasi atau Distraksi?

Gw baru ngeh-se-ngeh-ngeh-nya kalau yang paling berat dari pindah adalah meninggalkan orang-orang di zona nyaman. Gw kira nggak akan se-big deal itu susah komunikasi, toh gw fine-fine aja selama ini cuma dengan ber-teks-ria.

Iyeee.. selama ini, Del. Selama lo nggak pernah kesulitan berkabar. Selama semua orang masih dalam jangkauan. Toh se-jauh-jauhnya, masih terjangkau. Toh bukan lo yang pindah. Toh walaupun lo bilang pernah pindah rumah, selemparan tol juga nyampe *walaupun tolnya MAHAL.

Gw pengennya sih fokus ke persiapan. Tapi yang gengges-gengges macem ini paling tepat dituangkan lewat tulisan. Sebodo teuing lah ntar jadinya lebay.

Mungkin yang namanya motivasi itu ibarat keramas. Ya nggak harus tiap hari sih, tapi minimal kalau udah mulai nggak nyaman, kepalanya disiram, kucek pakai shampoo, dan bilas. Biar bersih lagi dan bisa mikir jernih.

Kucek banget? Itu rambut apa baju?!

Sesekali pengen manja sih creambath di salon. Kan kan kan, jadi pengen creambath tengah malem gini. Random.

Ya intinya, hmm.. apa ya intinya? Ah elah fuck denial lah, Del. Jadi gini. Ada seorang oknum yang jadi salah satu motivasi gw. 'Shampoo' dengan aroma yang menyegarkan. Masalahnya udah 2 tahun dan nggak pernah berani bawa ke kasir. Kemahalan.

Demmm.. apa sih ini bawa-bawa kasir segala?!

Nah, distraksi gw dari si oknum adalah orang-orang di zona nyaman. Lah kalau susah nyampahan ke mereka terus kudu piyeee? Guling-guling sendiri aja lah di pinggir pantai tanpa gadget tanpa listrik.

Gw bukan pengen ngeluh sih, malah sebenernya nggak sabar. Cuma lagi mikir aja, zona nyaman gw, tempat katarsis, mungkin harus sedikit 'dimodifikasi' nantinya. Atau gw nya yang perlu adaptasi.

Terus si motivasi yang mendistraksi ini harus diapain dooong? Terlalu menyenangkan untuk dienyahkan, tapi terlalu mengesalkan untuk dipertahankan.

Eh gimana gimana? Jadi distraksi apa motivasi? Siapa yang mendistraksi yang mana? Siapa yang memotivasi apa?

AUK AH DEL! Suka sendiri, sewot sendiri, bingung sendiri. Maunya hapaaah?!

Kalau pakai prinsip paradoxical intention, ini yaudalah ya mabokan aja sendiri nulis-nulis sampai puas. Abis itu tidur bentar, terus lanjut lari pagi.

Jadiii.. gw sebenernya merasa bersalah karena mengakui si oknum itu jadi salah satu motivasi gw. Sempet 'lupa' sih, dan saat inget lagi jadi agak 'panik' dan menganggap itu distraksi.

It's like every time I think of that person, this monologue goes like this:

Della 1: "So... how sincere can you go? You don't do this because of him in the first place, right?"
Della 2 (doubtlessly nod): "OF COURSE not because of him"
Della 1: "Then why still anxious?"
Della 2: "If I were car, then he would be the gasoline, NOT the destiny. What makes me anxious is because I'm run out gas"

AH INI GIMANA NGEJABARINNYA KOK SUSAH BANGET SIH?!

Banyak hal yang tumpang tindih di otak. Nggak ngerti banget deh. Aaargh, semoga nanti gw nggak punya waktu buat mikirin hal macem gini karena masih banyak hal lain yang lebih penting buat dipikirin. Aamin aamiin.

Dan semoga semuanya lancar. Baik motivasi maupun distraksi. Eh?

No comments:

Powered by Blogger.