Tentang Jakarta

Kemarin, gw mengobrol dengan dua orang asing. Yang satu berkebangsaan Amerika, yang satunya lagi orang Jepang. Mereka banyak bercerita tentang perjalanan mereka melanglang buana, sementara gw banyak bercerita tentang........

Jakarta.

Oh betapa bencinya gw sama kota ini. Hiruk-pikuknya, kemacetannya, lumpuhnya kota saat hujan apalagi banjir, para warganya yang super barbarian mirip manusia purba didandanin, dan lain-lainnya.

"Come to Indonesia someday. You'll see heaven. Anywhere but Jakarta. You'll see hell" gw mengingatkan mereka.

Tapi sekarang, kalau diingat-ingat lagi dan menyadari sesuatu, gw malah ketawa sendiri (iya udah gila emang).

Saat itu, gw bercerita dengan berapi-api, penuh semangat, dan segala hal ke-chaos-an itu ibarat kecetus cabe atau seledri di kuah bakso. Walaupun nggak suka --nyerempet benci setengah mati--, toh nggak bikin gw berhenti makan bakso.

Gini nih kalau nulis tengah subuh dalam keadaan laper. Semua analogi ujung-ujungnya makanan.

Random lah. Intinya sih, mungkin bener kata orang kalau benci dan cinta itu beda tipis. Gw bisa bilang benci setengah mati, tapi apa namanya kalau bukan cinta, saat setengah mati berusaha nggak peduli tapi ujung-ujungnya balik lagi?

Sebentar lagi gw akan meninggalkan segala atribut perkotaan ini dalam waktu yang cukup lama. Gw benci bilang ini, tapi ya, dengan segala hiruk-pikuknya, Jakarta tetap punya hak untuk dirindukan.

No comments:

Powered by Blogger.