Friday, November 27, 2015

Serahkan pada Perasaan

0 comments
Dulu, saya bukan orang yang terbiasa pakai perasaan. Lebih baik menjadi 'dingin' ketimbang terlihat lemah. Lebih baik dipendam dan dibilang cuek daripada diledek cengeng. Lenjeh. Sensitif kayak windchimes.

Tapi saya dibesarkan dari ekskul dan UKM. Organisasi yang bergeraknya pakai hati dan azas kekeluargaannya sangat erat. Mau tak mau ya terasah.

Apalagi di sini. Saya menemukan bahwa ada kekuatan luar biasa di balik memakai perasaan. Kepekaan benar-benar ampuh menggugah hati orang lain untuk bergerak. Jadi, makin terasahlah perasaan saya, sampai-sampai saya menyerah menulis 'dingin'.

Jadi ceritanya, berkat gerilya Sarah mengundang Departemen Kominfo Paser untuk meliput tiap acara kami, menyebarkan berita positif, kemajuan daerah pada khalayak seluas-luasnya, kami diberi kesempatan menulis di kolom opini dalam surat kabar lokal tentang desa penempatan masing-masing.

Saya kebagian menulis tentang salah satu penjual amplang ikan tengiri dan mencoba menantang diri saya dengan menulis objektif. Ala-ala jurnalis lah.

500 of minimum 5000 words, and I had no idea what to write anymore.

Akhirnya saya pengakuan ke Sarah, minta pencerahan. Sarah bilang, "coba mulai dengan tulis apa yang lo rasakan saat pertama kali liat amplang."

Feeling enlightened, I started to write again, exploring my feeling towards it. And it felt great. Now, I'm no longer afraid putting feeling into everything.

Di akhir penempatan ini, saat bercakap cukup personal dengan Fajri (berdua saja, sampai dikira pacaran sama murid-muridnya Fajri, haha), ia bilang "aku udah pasrah. Aku serahkan semua pada feeling."

Iya, setuju. Sekarang, saya tak lagi peduli dibilang baper. Bahkan, saya malah ingin berguru pada Anggi, 'bunda' kami yang istriable sekali, yang lemah lembut, sensitif, gampang terharu, dan sangat peka.

Kenapa saya ingin berguru? Karena sampai sekarang, saya masih 'batu' dalam menitikkan air mata, haha. Padahal, ditahan tak pernah membuat lega, kan?

Yaaah, semoga di akhir nanti, saya tak perlu repot-repot sewot, "KOK GW NGGAK BISA NANGIS SIK?!"

Wednesday, November 11, 2015

Keep Calm and Carpe Diem

0 comments
Setelah lika-liku seru sepuluh bulan ke belakang, di dua purnama menuju pulang, saya mulai bisa 'menari di atas ritme hidup' di sini.

Untuk level anak disorganized seperti saya, jujur, cukup kewalahan mengelola waktu. 

Hal-hal sepele seperti kapan ambil uang ke ATM, kirim karya anak, atau download ide-ide materi ajar, harus saya perhitungkan waktunya, karena tidak bisa dengan mudahnya bolak-balik kabupaten. Butuh waktu paliiing cepat 2 hari 1 malam di kabupaten, itu pun pasti kejar tayang.

Di luar urusan pribadi dan sekolah, saya juga harus membagi waktu untuk pertemuan-pertemuan di kabupaten. Efeknya bagus sih, saya jadi terbiasa membuat workplan, to-do list, jadwal agenda, atau apa pun itu istilahnya. Kalau tidak, bakal banyak urusan yang terlewat.

Semester lalu, saya menjadi wali kelas sekaligus guru SBK. Mencelos rasanya saat pembagian rapor, ada wali murid yang dengan santai bercerita, anaknya bingung siapa gurunya. "Kadang Bu Della, kadang Bu Rukaya, kadang Bu Dewi". Ini karena saya sering izin ke kabupaten, jadi kelas saya dipegang guru yang berbaik hati menggantikan.

Sebetulnya saya sangat bersyukur atas kerjasama para guru yang saling back up apabila ada guru yang tidak hadir, apalagi paham betul posisi saya di sini: caught in between, being the last runner to make sure the sustainability of our movement.

Tapi tetap saja rasanya tuh........ nggak bisakah prioritas itu cuma satu? Malahan saya lebih memilih pada protes saja sekalian kenapa saya sering keluar. Kalau dimaklumi begini kan saya jadi semakin merasa bersalah. Kasihan anak-anak bingung gurunya ganti-ganti.

Ah, manusia memang tak pernah puas ya.

Anyway, belajar dari pengalaman semester lalu itu, di semester ini saya meminta izin kepala sekolah untuk menjadi guru SBK saja, dan ternyata itu keputusan yang tepat. Well, setidaknya setelah berjalan beberapa bulan ini.

Mulai semester baru, saya mencoba lebih rapi dan terencana. Kesepakatan kelas yang baru. Pemetaan materi satu semester ke depan. Membuat kelas musik. Prakarya yang lebih berwarna. Metode penilaian yang beragam. Dan lainnya.

Perkara menghadapi murid-murid, memang, satu-dua kali, saya masih suka sumbu pendek seperti yang saya tulis di sini. Masih sering merasa gagal jadi guru. Khawatir ini-itu.

Tapi apa yaaah.. sekarang tuh rasanya ibarat main terompet, akhirnya ketemu 'celah' gimana cara niup yang 'nge-blow'. Atau ketemu posisi nyaman spin dan toss riffle. Argh, bingung menjelaskannya.

Mungkin karena para Paserangers --istilah untuk tim Pengajar Muda Paser-- juga sudah 'dapat polanya'. Jadi, pembuatan jadwal monthly meeting --kami tiap bulan selalu menjadwalkan rapat koordinasi tim-- semakin lama semakin ciamik. Efisien, efektif, dan tanpa kehilangan unsur fun.

Selain memudahkan penyesuaian dengan kegiatan di desa, juga membuat saya nggak lagi jadi 'guru PHP' yang menjanjikan les atau main sama anak-anak, eh nggak taunya ada urusan di kabupaten.

Menyadari hal yang sebetulnya positif ini, saya justru jadi jengkel sendiri. Kenapa baru sekarang, hah?! Coba dari dulu-dulu. Tapi ya sudahlah. Maksimalkan saja waktu yang tersisa. Huhu, sebentar lagi. Nggak kerasaaa..

Kemudian, soal perubahan dalam diri selama ada di sini. Saya cukup yakin saya banyak berubah.

Mungkin belum sesignifikan 'life changing' seperti saat saya pertama kali masuk SMA negeri setelah sekian lama jadi 'anak swasta'. Pertama kali pacaran setelah jomblo sekian lama (dan dengan segala drama). Pertama kali kecelakaan dan patah kaki, juga patah hati gagal jadi pasukan TIMBC. Dan 'check point' lainnya.

Dulu saya masih suka jumawa, merasa bisa simsalabim mengubah banyak hal, melakukan semuanya, bahkan membuat excel rinci program selama setahun ke depan dengan keyakinan penuh bisa berjalan lancar.

With full self-affirmation, i expect this gonna be life changing.

Kenyataannya? Semesta ternyata punya banyak selipan program kejutan. Saya pun lupa mempertimbangkan kemampuan.

We all know that phrase: "yes, we can" but we actually should know, we can't do everything. We can only do something, but not all at once.

Rileks. Pelatih brass saya dulu sering sekali bilang begitu. Semakin tegang, malah semakin nggak bisa niup. Semakin ngotot niup, malah semakin nggak keluar bunyi. Begitu juga kata pelatih color guard. Nggak usah terlalu nafsu toss flag atau riffle. Santai saja. Powernya dijaga.

Betul sekali. Dan santaaai.. dan rileeeks. Mungkin, setahun di sini bukan salah satu 'life changing moment' saya, tapi tak apa. Setidaknya, banyak juga perubahan baik pada diri saya.

Lagipula, dari zaman pelatihan pun, yang ditekankan itu 'perubahan perilaku' kan, bukan 'perubahan hidup'?

So, keep calm and carpe diem.

Kicau Kacau

0 comments
Minggu lalu, saya, Ruth, Raden, dan Fajri menghabiskan malam dengan bersantai di Siring, duduk-duduk sambil nyemil pentol dan Nutrisari, menikmati suasana sepanjang Sungai Kandilo.

Setelah sepekan lebih berkutat dengan titah Jokowi "Kerja! Kerja! Kerja!", menikmati malam sesantai itu tanpa perlu rapat evaluasi dan sosialisasi jadwal rasanyaaa.. mewah. Haha.

Ditambah, hujan deras yang mengguyur Paser beberapa hari belakangan membuat udara terasa lebih segar karena kabut asap menipis. Alhamdulillah.

Percakapan menyenangkan pun mengalir, diawali dengan membayangkan 1 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, sampai saling memberi feedback. Mengutarakan kekaguman dan apresiasi pada tim cetar membahana ini.

Terhanyut dalam obrolan seru, tanpa sadar malam semakin larut. Kami pun kembali ke rumah dinas. Dalam perjalanan, dibonceng Fajri yang banyak diam, ingatan saya meloncat ke sana kemari.

Ah, sepertinya 1 posting tidak akan cukup mencurahkan pikiran yang meluap. Rasanya potongan berbagai kejadian ingin buru-buru saya rangkai.

Di suatu pagi, masih dengan formasi yang sama (saya, Ruth, Fajri, Raden), saya membuka topik soal Ubud Writers and Readers Festival yang melarang diskusi tentang pembantaian PKI.

Ruth bertanya, sebetulnya kenapa PKI dibantai? Fajri kemudian bercerita tentang sejarah terbentuknya komunis, dibawanya konsep tersebut ke Indonesia oleh Soekarno, sampai mengapa terjadi pembantaian.

Ngalor-ngidul, kami sampai pada kesimpulan bahwa seorang pemimpin yang niatnya tulus, bekerja dengan jujur, dan bebas kepentingan, pasti progress daerah yang dipimpinnya akan cepat mengalami kemajuan.

"Tapi kebijakan politik, ekonomi, nggak mungkin bebas kepentingan. Nggak mungkin. Yang mungkin itu kaum akademisi yang nggak takut mati." Fajri mengoreksi.

Lalu pikiran saya meloncat pada Prof. Sangkot Marzuki. Akademisi hebat yang rendah hati dan punya jiwa nasionalisme tinggi.

Tersadar akan besarnya peluang saya 'mencuri ilmu' dari orang-orang seperti Prof Sangkot, saya refleks berkata, "oke. Gw mau balik lagi ke kantor lama."

Entah bagaimana, pembahasan kami malah berujung pada apa yang bisa kita lakukan kalau jadi pemimpin bangsa ini nanti. Perihal topik ini, jujur, saya jiper. Merasa belum berkapasitas sampai ke sana, bahkan membayangkannya pun tidak berani.

"Yaaah.. see you on top pokoknya." Fajri tertawa, mengakhiri pembahasan berat pagi itu.

Pikiran saya kemudian meloncat lagi pada obrolan makan siang dengan keluarga Komandan Distrik Militer (Dandim), membahas topik bela negara.

Karena super penasaran, seolah wartawan, saya mengajukan banyak pertanyaan pada Pak Dandim. Bagaimana sebenarnya konsep bela negara ini? Apa outputnya? Sifatnya wajib atau kerelawanan? Apakah wujudnya harus berupa latihan militer atau bisa diterapkan di ranah lain, pendidikan misalnya?

Kalau memang outputnya adalah nasionalisme, saya rasa konsep bela negara punya beragam bentuk. Karena dengan berada di sini saja, menjadi Pengajar Muda, rasa nasionalisme sangat terpupuk. Apa itu yang dicari?

"Kalau kamu atau teman-teman punya ide, terobosan, masukan tentang ini, utarakan aja. Nanti bisa saya sampaikan pada atasan." Usai menjelaskan, Pak Dandim menyatakan keterbukaannya akan segala masukan. Menyenangkan sekali memang berdiskusi dengan beliau.

Kalau dipikir-pikir, alangkah beruntungnya saya. Dulu, mana pernah terbayang sebelumnya, duduk santai semeja bersama salah satu 'pejabat militer' daerah, berdialog seru diselingi kunyahan buras dan kelapa gula aren.

Oke. Kembali pada malam santai di Siring. Tiap kali mengobrol berkualitas seperti ini, feedback-feedback-an, saya selalu merasa bersyukur.

Am surrounded by a real future leaders. Those dominant people who have both power, attitude, and kindness. Those who love to talk about issues, ideas, plans, and focus on problem solvings instead of complaining about how cruel and unfair life is. Those who are bright, sparkling under their own spotlight.

Terima kasih ya teman-teman. Saya mah nggak ada apa-apanya dibanding kalian, tapi berkat kalian, saya makin terpacu buat 'jadi apa-apa' seperti Prof Sangkot atau Pak Dandim.

Because life is not always about finding a meaning, but being meaningful.

Yaudah. Sekian postingan penuh kicauan kacau.

Wednesday, October 21, 2015

Obrolan Motor (lagi)

0 comments
Obrolan motor memang selalu menarik dan personal. Saya pernah menulis tentang itu di sini.

Obrolan motor kali ini, saya dan Ruth --personil 'Geng Kota' (secuplik cerita per-geng-an Paserangers bisa dibaca di sini)-- membahas 'kehidupan pasca OPP'.

"Del, lo abis OPP mau ngapain?" Yak! Pertanyaan ini lagi. Topik hits memang.

"Lo dulu lah." Saya lebih tertarik mendengar cerita kawan saya ini.

Dengan bersemangat, Ruth mulai menceritakan keinginannya. Mulai dari ingin ikut training soft skill, sekolah lagi, melatih guru PAUD, bekerja di Kemenlu, jadi diplomat, lalu lanjut ke UN.

"Cetek ya?" Ia menutup ceritanya.

"MANA ADA KAYAK GITU CETEK?!" Tentu saja saya protes keras. Ruth terbahak.

"Lo nggak mau sekolah lagi?" Ruth balik bertanya sambil memakai maskernya. Oke. Sekarang giliran saya.

Saya menarik napas. Sesak. Tidak jelas karena kabut asap atau karena jawaban yang dari dulu stuck di situ, dari 4 tahun semenjak lulus kuliah.

"Mau banget. Tapi gw bingung. Gw cuma pengen Miami Ad School. Titik. Belajar copywriting, creative thinking, how to develop ideas, dan hal-hal semacam itu. Tapi itu jatohnya course. Mahal pula. Gw cuma pengen belajar, sementara bokap minta gw sekolah lagi ya supaya ilmunya kepake di pekerjaan gw nantinya, dan kalau bisa ya S2."

I exhaled. I just wanna learn it for the sake of learning. That's it. I don't have any other purpose.

Kalau pun harus bertujuan, yang paling terpakai ya bekerja di bidang tulis-menulis. Sementara, saya tidak mau menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan. Saya mau itu jadi hobi yang menghasilkan.

Sebetulnya saya maju-mundur menulis tentang ini, karena sejujurnya, salah satu ketakutan besar saya adalah 'mati rasa' dalam melakukan hal yang saya sangat suka. Mungkin terkesan lebay, tapi menulis itu sudah seperti oksigen jiwa bagi saya. Njir emang lebay njir!

Ingat kata-kata Sarah --anggota Geng Kota juga-- yang mantan jurnalis, "ketika menulis itu jadi pekerjaan, akan ada masa-masa di mana menulis itu jadi nggak ada rasanya."

Boleh lah saya jadi 'buruh korporat' selama menulis tetap bisa jadi tempat pelarian dan katarsis. Tapi ketika pekerjaan saya menulis dan saya muak, saya takut saya tidak tahu harus lari ke mana.

Fyuh. I finally said that.

Semesta Maha Baik

0 comments
20 Oktober 2015, 22.10 WITA, di kamar warga.

Belakangan, perjalanan pulang ke desa semakin penuh kejutan.

Berdasarkan info dari Fajri bahwa air lagi konda (maksudnya air laut surutnya lama, bisa dari pagi sampe sore), hari ini saya dan Raden balik dari kabupaten agak siang. Niat hati biar nggak perlu lumutan nunggu kapal.

Sesampainya di dermaga Lori, saya mendapati bahwa nggak ada kapal ke Tanjung Aru, desa saya. Sudah jalan dari pagi, jelas warga.

MATIK!

Nggak ada kapal ikan pula. Ah, selain air, kemarau memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, termasuk dalam mencari ikan, juga kapal dan jodoh #eh

Sebetulnya, kalaupun ada kapal ikan, saya juga nggak mau ambil resiko terlunta-lunta lagi di tengah laut karena mitos-mitosan warga yang bilang "perempuan sendirian di kapal yang isinya laki-laki semua itu bawa sial" sih.

So, unless emergency, omit that option.

"Lo nggak mau telfon Pak Lukman? Siapa tahu bisa numpang nginep di rumah guru Lori" Raden mengeluarkan HPnya, bersiap memberi nomor Pak Lukman, kepala sekolah SD Lori.

Sambil duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi di dermaga, saya membuat isyarat tangan ke atas dan ke depan. Raden tertawa.

"Kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan ya."

Saya mengangguk sambil nyengir penuh arti dan segera mencatat nomor Pak Lukman.

Tak lama, seorang pemuda dengan rengge' (semacam jala) di tangannya berjalan menuju balapan (kapal kecil bermesin) yang berlabuh di dekat tempat saya duduk-duduk. Ternyata ia hendak ke Tanjung Aru. Cucok! Saya tanpa basa-basi bertanya, apa boleh menumpang.

Tau-tau seorang bapak-bapak dari Desa Labuang Kallo --desanya Raden-- nimbrung. Ombak kencang. Baiknya menginap saja, himbaunya.

Saya menimbang-nimbang. Kata warga, cara tahu ombak kencang atau tidak, bisa dilihat dari buihnya. Saya menyipitkan mata, sok-sokan meneliti ombak. Buihnya seperti susu coklat yang dikocok.

"Basah kah? Bawa laptop aman?" Ragu-ragu saya bertanya.

"Pasti basah, tapi aman aja."

Anehnya, meski pemuda tersebut mencoba meyakinkan, entah kenapa feeling saya malah makin ragu.

Ok, trust your gut, Del. Akhirnya saya batal menumpang balapan.

Karena susah sinyal untuk menelfon Pak Lukman, Raden menawarkan diri mengantar ke rumah tempat guru-guru di sekolahnya biasa menginap. Saat tiba di sana, pemilik rumah sedang tidur siang.

Tak lama setelah Raden pamit pulang, sang ibu pun akhirnya mengulet bangun. Mencoba mengesampingkan rasa nggak enak-an, dengan muka badak saya bertanya apa boleh bermalam. Sang ibu mengalihkan pada rumah lain. Hiks, ditolak. Ya wajar sih, kenal juga belum, tau-tau mau numpang menginap.

Sambil menggendong carrier merah andalan, saya celingak-celinguk cari rumah lain. Kebingungan, saya memutuskan cari makan saja, lalu curhat ke penjualnya bahwa saya ketinggalan kapal.

Dengan baik hatinya, bapak penjual soto menawarkan rumahnya untuk tempat saya bermalam.

Maghrib tiba. Raden SMS saya, tadi ombak kencang sekali. Kapal goyang ekstrim, miring kiri dan kanan. Ibu-ibu yang sekapal dengannya sampai menangis ketakutan.

"Untung lo nggak jadi nyebrang. Ati-ati ya, semangat :)" Ia menutup sms nya dengan emoticon senyum.

Saya pun ikut senyum membacanya. Alhamdulillah masih ada kabar, berarti Raden sudah sampai dengan selamat.

Terus saya membayangkan. Kalau Raden saja yang desanya cuma 15 menit dari dermaga ombaknya super kencang, apalagi desa saya yang minimal 2 jam menyebrang laut lepas. Dengan balapan, wassalam........

21 Oktober 2015, 11.23 WITA, perjalanan pulang ke desa.

Genap sepuluh purnama.

Kepada Semesta yang Maha Baik, terima kasih telah membuka jalan berjumpa dengan orang-orang baik di Paser ini. Terima kasih untuk 'nggak mengizinkan' saya pulang ke desa sore kemarin. Terima kasih selalu melindungi perjalanan kami.

Terima kasih :)

Sunday, October 18, 2015

About Being Jack of All Trades

0 comments
Saya bukan atlet jago silat, tapi saya menikmati 'menarikan' gerakan Perisai Diri.

Saya bukan penari hebat, tapi saya menikmati menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik.

Saya bukan pemain terompet ulung, tapi saya menikmati menggambarkan suasana lewat musik.

Saya bukan desainer profesional, tapi saya menikmati merancang tampilan visual.
 
Some people say it's "jack of all trades, master of none". Back then, I pitied myself, found it's rather sad, to master nothing.

But lately, I come to term with it, that it's okay not to be specialist.

Kemarin, saat sedang sesi "1 jam lebih dekat", Adam --teman PM di daerah Longkali-- berkomentar "gw merasa, ketimbang OPP, yang lebih penting itu justru setelahnya. Mau ngapain? Mau jadi apa? Itu yang harusnya dipikirin"

Sedikit cerita. Jadi, di sisa waktu menuju akhir penempatan, kami menyelipkan agenda agak ambisius yaitu penampilan tari di kegiatan Orientasi Pasca Penugasan (OPP).

Nah, kami ingin tampil sebaik mungkin, bahkan saya mengajukan diri menjadi penanggung jawab sampai membuat 'ikrar tari' segala, hahaha. Niat.

Kembali pada pernyataan Adam tadi, menjelang masa purna tugas, 'galau karir' menjadi topik yang hangat dibahas.

Kalau direnungi lagi ya, saya juga clueless sih mau jadi apa. Tapi ternyataaaaaaaa.. banyak mempelajari hal yang bervariasi (dan kadang seperti tidak ada hubungannya) tuh membawa keuntungan tersendiri.

Seperti hari ini ketika kami latihan tari untuk OPP. Beberapa gerakannya ada unsur silat dan sedikit dasar balet. Saya pernah ikut, jadi lumayan luwes penyesuaiannya.

Atau seperti kemarin, ketika kami membantu dinas pendidikan mengadakan pelatihan guru. Mereka butuh desain poster, spanduk, sertifikat, nametag, dan kebutuhan cetak lainnya. Saya bisa bantu, jadi nggak perlu gemes-gemes lihat desain yang nggak 'sreg' dipandang.

Atau ketika mengajarkan musik, melatih anak-anak menjadi dirigen, dan PBB. Modal saya adalah ilmu dari marching band, jadi kalau yang dasar-dasar mah sudah di luar kepala.

Walaupun jauuuuuuuuh dari ahli, tapi setidaknya, saya bisa. Tak perlu mulai dari nol. Kalaupun memang harus mulai dari nol, karena terbiasa menjadi pemula, saya bersedia mencoba.

Saya hanya tak mau menutup pintu kemungkinan pada hal-hal baru. Tapi bukan berarti tidak bertanggung jawab. Prinsip "selesaikan apa yang sudah dimulai" selalu saya usahakan tepati.

Well, semoga saya tidak menjilat ludah sendiri dan masih tetap bisa memegang teguh prinsip ini nantinya dan selamanya. aamiin.

Intinya, walaupung nggak ada yang nanya 'mau jadi apa', saya mau jawab dengan jawaban yang sangat abstrak.

I wanna be content with myself, embrace my many passions, and do it with full responsibility.

Saya nggak tahu sih ini pembenaran atau bukan, tapi sejauh ini, saya menemukan bahwa menjadi 'jack of all trades' yang niat dan penuh totalitas ternyata tidak buruk juga.

Siapa tahu ke depannya bisa 'mastering some', kan? Yaudah, sekarang usaha dulu saja.

Saturday, October 3, 2015

Gila Sejenak

2 comments
Rasanya jadi guru itu...

Capek. Sumpah! Saya kira saya bisa dengan pedenya bilang saya tidak gampang marah. Ternyata tidak juga. Tiap hari menghadapi puluhan anak yang ulahnya macam-macam kadang membuat saya bersumbu pendek. 

Saya pernah meledak hanya karena ketika diberi instruksi "satu kelompok ber-5 atau 6", anak-anak tidak menyimak dan masih saja bertanya jutaan kali "bu, ber-8 boleh kah?" "Bu, ber-3 aja je ta ndak papa?" Bu... bu... bu... ISSSH!

Saya keceplosan menyahut gemas "kamu punya telinga tidak?! Tadi dengar apa kata ibu?! LI-MA SAM-PAI E-NAM. Bisa berhitung tidak?! Hitung sudah dengan jarimu!" Anak-anak tertunduk. Mengkeret. Setelah itu saya menyesal. Meskipun jengkel luar biasa, tidak semestinya saya berkata sekasar itu.

Pernah juga saya kelepasan meneriaki anak di depan umum. Petang itu, di perjalanan pulang dari pantai, salah satu anak uangnya hilang. Kami balik lagi menelusuri jembatan kayu untuk mencari.

Ternyata air sudah pasang. Akhirnya saya bilang padanya, pulang saja. Bahaya, sudah Maghrib. Tapi ia tidak mau dengar. "PULANG SEKARANG ATAU IBU TINGGAL!" Kesal, saya berteriak galak. Ia kembali, berjalan membuntuti, tapi menjaga jarak jauh-jauh dengan saya.

Demi apapun, ternyata susah sekali ya mengurus dan mendidik anak. Contoh tadi hanya sebagian kecil saja. Belum lagi........ ah sudahlah.

Tapi itu konsekuensi. Saya dengan sepenuh sadar memilih. Kalau ingat perjalanan panjang daftar, tes, gagal, galau, pengangguran, dapat pekerjaan baru, daftar lagi, lolos, resign dari kerjaan yang lagi enak-enaknya, pelatihan, sampai sekarang ada di Borneo, rasanya tak pantas saya mengeluh.

Saya seumur hidup tidak pernah tertarik menjadi guru. Terpikir pun tidak. Never, even in my wildest dream, I would become a teacher.

Tapi entahlah, keputusan ini terasa tepat saja. One of my best big decision so far.

Meskipun demikian, serbuan keraguan tidak sekali-dua kali datang. Bahkan tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, saat saya melakukan ritual coret kalender, saya mendadak sedih. Cemas. Gelisah. Senewen. Uring-uringan. Tinggal sebentar lagi, dan saya masih gini-gini saja.

Saya jadi mempertanyakan, kalau masih suka mengomeli anak, apa saya pantas menjadi seorang guru? Menjadi panutan yang digugu dan ditiru? Apakah saya sudah mendidik murid-murid dengan benar? Atau malah menyesatkan?

Saya mengatur napas, menyediakan waktu sejenak untuk katarsis dengan monolog.

Mungkin kalau ada orang lihat, dikira saya sudah gila, karena saya benar-benar ngomong sendiri. Saya membiarkan segala perasaan tidak nyaman itu tercurahkan.

Setelah lega, saya mencari momen-momen bahagia bersama anak-anak. Waaah, banyak sekali! Tadinya saya ingin jadi gila lagi dengan ngomong sendiri, tapi ternyata tidak perlu. Hanya dengan memikirkannya saja, senyum langsung mengembang. Mood secepat kilat membaik.

Di perjalanan menuju sekolah, saya geli sendiri mengingat kekonyolan yang barusan saya lakukan.

Yaaah, tak apa lah ya. Pembelaan saya, semua orang pasti pernah gila sejenak :))

Saturday, September 26, 2015

Izin Semesta

0 comments
Hari-hari kami selama 9 bulan di penempatan ini sungguh penuh warna dan cerita.

Karena letak geografis yang berjauhan, bersama 9 'rekan senasib sepenanggungan' lainnya, kami membagi tim menjadi 3 'geng' untuk memudahkan koordinasi. 'Geng Longkali' yang jauh dari kabupaten namun dekat dengan Balikpapan, 'Geng Kota' yang dekat kabupaten, dan 'Geng Pesisir' yang jauh dari mana-mana.

Saya masuk dalam 'Geng Pesisir' bersama 2 'Pangeran Pesisir', Fajri dan Raden. Akses transportasi di sini terbatas. Ada waktu-waktu tertentu di mana air laut surut sehingga kapal masih berlabuh di dermaga. Kalau sudah begitu, apa boleh buat, kami harus menunggu air naik dulu. Bisa sampai berjam-jam.

Belum lagi taksi (semacam angkot) menuju dermaga yang baru mau berangkat kalau penumpang sudah penuh. Kalau beruntung, bisa langsung berangkat. Kalau taksi masih kosong, mau tak mau menunggu. Bisa sampai berjam-jam juga.

Sebenarnya saya lebih beruntung karena akses transportasi laut bisa dipastikan ada setiap hari, sementara Fajri dan Raden harus bertanya sana-sini untuk menumpang balapan (kapal kecil bermesin) ke desanya.

Namun tetap saja, kami susah memprediksi waktu keberangkatan taksi atau kapal.

Lama-lama kami akrab dengan ketidakpastian dan terbiasa untuk 'pasrah' tiap kali berencana pergi ke kabupaten atau kembali ke desa masing-masing.

"Kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan" sukses menjadi motto kami, ditambah gerakan tangan ke atas dan ke depan sebagai penekanan 'semesta' dan 'jalan'.

Desa saya paling jauh, sehingga saya selalu sengaja membawa tas besar yang kosong separuh. Sekalian, siapa tahu ada sesuatu yang bisa dibeli atau dibawa dari kabupaten.

Saya sering berkelakar, ruang kosong itu adalah ruang yang saya sediakan untuk kejutan. Dan ya, di Paser ini memang penuh kejutan yang selalu seru dikenang.

Seperti saat itu, ketika saya dan Raden pulang dari kabupaten di hari Jumat. Kami menunggu taksi (kendaraan umum berbentuk mobil Elf) dari jam 8 pagi, jam 1 baru berangkat karena terpotong shalat Jumat. Sampai dermaga jam 3 dan tidak ada kapal. JENG JENG!

Lama menunggu kepastian, Raden memutuskan batal pulang ke desanya. Ia memilih yang pasti-pasti saja: ikut kapal ikan yang kebetulan mau ke desa saya dan bersedia kami tumpangi. Jam 5 sore kami berangkat.

Seharusnya kami sudah bisa sampai jam 8 malam, tapi di tengah laut, mesin kapal mati. Gelap, asap tebal, terombang-ambing, dan hilang arah karena salah haluan, saya memilih tidur.

Tak berapa lama, Raden membangunkan saya dan mengajak duduk santai di atas kapal. Kawan kami, Ruth, menelpon menanyakan kabar. Saya bilang, aman. Untung ada Raden. Kalau tidak, mungkin saat itu saya gelisah mengapung di tengah laut bersama 4 orang pria yang tidak terlalu dikenal.

"Gw semakin yakin kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan. Kalau ngga, pasti ada alasan. Gw ngga dapet kapal dan 'ngga diizinin' balik ke desa, alesannya ternyata ini, nemenin lo dan bantuin bapaknya cari arah" Raden tertawa kecil sambil menunjukkan aplikasi Google Maps di smartphone nya. Sinyal 3G. Berarti sudah dekat desa saya. YEAY!

"Yang penting usaha dulu nyampe dermaga ya" saya ikut tertawa sambil menepuk bahu Raden, berterima kasih karena telah menemani.

Saya menengadah menatap bintang. Pikiran saya menerawang, menganalogikan perjalanan menuju desa seperti merancang masa depan. Kita bisa saja rapi berencana. Balik dari kabupaten pagi, naik taksi sampai dermaga, lalu lanjut kapal. Sampai desa siang.

Tapi pada kenyataannya belum tentu. Walaupun sudah tepat waktu berangkat pagi, tetap saja kalau semesta 'tidak mengizinkan', ya ada-ada saja kejutannya. Taksi lama berangkat lah. Terpaksa menumpang kapal ikan lah. Mesinnya mati di tengah laut lah. Kesasar salah haluan lah. Mana ada cerita bisa sampai desa tengah hari.

Namun setidaknya, kita punya tujuan dan mau usaha mencapainya. Ibaratnya, kalau mau pulang ke desa, minimal sampai dermaga dulu.

Begitu juga dengan masa depan. Mau sekolah lagi habis ini? Ya usaha saja dulu tes TOEFL atau IELTS. Mau kerja di perusahaan besar? Buat CV sebaik mungkin dan kirim saja dulu. Mau wirausaha? Siapkan modal saja dulu. Mau menikah? Pantaskan diri saja dulu.

Intinya, perihal tercapai apa tidak, pasrahkan saja pada semesta. Kalau 'diizinkan', pasti ada jalan. Kalau tidak, pasti ada alasan. Yang penting: U-S-A-H-A.

Saya pernah baca, Tuhan selalu menjawab permintaan kita. "YA. Aku kabulkan sekarang". "YA. Aku kabulkan nanti". "TIDAK. Aku sudah siapkan yang lebih baik".

"Del, siap-siap. Bentar lagi sampe" Raden mencolek lengan saya, membuyarkan lamunan.

Singkat cerita, kami akhirnya sampai di desa jam 10 malam. Raden pamit menginap di rumah guru dan saya pulang ke rumah, langsung tertidur pulas, bermimpi tentang masa depan yang menanti selepas ini.

Teruntuk kalian yang terpisah jarak, selamat 9 bulan, kawan! Tiga purnama menjelang akhir penugasan. Mari selalu siapkan ruang untuk kejutan. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan :)

Monday, September 7, 2015

What's Next?

2 comments
3 bulan lagi saya kembali ke 'habitat'. What's next? Hmm.. saya masih belum tahu mau jadi apa -sejujurnya masih ada sisa obsesi terpendam jadi copywriter sih-, tapi saya sudah tahu mau saya apa.

Kadang, saya suka cengar-cengir sendiri membayangkan what's next.

Salah satu yang mau saya lakukan adalah pergi ke Santorini, sebuah pulau kecil yang cantik di Yunani, tahun depan. Bagaimana caranya? Saya pun nggak tahu, haha. Selain itu, saya mau jadi relawan sebuah penangkaran hewan liar di Manado, namanya Tasikoki.

Saya juga berpikir untuk mendaftar Forum Indonesia Muda, ikut Kelas Inspirasi, terlibat dalam Akademi Berbagi, kontribusi tulisan di buletin alumni MBUI Tune In dan mengaktifkan kembali Estafet Buku. Program pertukaran budaya SSEYAP (The Ship for Southeast Asian Youth Program) kayanya seru juga. Pesiar ke Jepang meeen!

Terus, kalau ada kesempatan, saya masih mau jadi volunteer Europe on Screen, Citra Pariwara, dan lainnya. Tapi kalau volunteer-an mulu, duit dari mana? 'Kerja beneran' nya kapan? Nah, itu dia (potensi) masalahnya!

(Potensi) masalah berikutnya adalah saya nggak yakin ortu setuju kalau saya main-main terus. Papa maunya saya kuliah lagi. Mama maunya saya nikah. Maunya si mama ini yang berat. Nanti dulu dong plis. 28 deh. Doain aja udah ada calonnya. Tapi maunya yang itu *lalalaaa.. aamiin dulu aja*

Sebetulnya kalau saya ditawari kembali lagi ke kantor lama, kerja bareng dua teman saya yang canggih-canggih untuk ngurusin para ilmuwan jenius, saya nggak nolak juga. Kalau 'kerja beneran' definisinya adalah kerja kantoran, saya tertarik banget MT Star Danone bagian Marketingnya Aqua atau HR.

Cuma kalau langsung kerja lagi atau jadi job hunter, kesempatan volunteer-an berkurang. Tapi mayan sih, bisa nabung ke Santorini, fufufu.

Banyak maunya ih. Biarin! Lebih baik punya banyak mimpi yang bisa diwujudkan daripada nggak punya mimpi sama sekali, kan?

Malahan, dengan menuangkan wacana yang membludak di kepala dalam bentuk tulisan seperti ini, saya tuh jadi sadar. Ternyata yang membuat saya keseruan sendiri dan rasanya energi recharged terus tuh sesuatu yang berhubungan dengan gerakan sosial, konsep ide-ide kreatif, volunteerism, dan tulis-menulis. Njir ke mana aja yah selama ini?

Tapi saya nggak ngoyo kok. Soalnya saya percaya, I may have it all somehow, but not all at once. If I insist, I may lose it all. Been there done that, learn it hard way. Banyak lah kejadian yang bikin saya harus pinter-pinter kompromi sama semesta.

Cuma yang ke Tasikoki sih serius. Awal tahun depan mungkin. Antara Januari akhir atau Februari awal. Yang Santorini juga serius.......... kalau udah ada duitnya :))

Aamiin.

Wednesday, September 2, 2015

Di Sini

0 comments
Di sini, berinteraksi dengan diri sendiri, saya menjadi individu yang lebih tenang, lebih mendengarkan, lebih hati-hati bicara, dan lebih peka.

Di sini, berinteraksi dengan anak-anak, saya baru sadar saya sudah dewasa. Dunia anak sungguh berwarna. Tawa renyah mereka menjadi sumber kebahagiaan saya.

Di sini, berinteraksi dengan warga, mata saya terbuka. Masalah sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan hal rumit lainnya ada di mana-mana. Saya banyak tidak tahu apa-apa.

Di sini, berinteraksi dengan teman-teman sepenempatan, saya tertohok oleh komentar "di sini, yang kita urus itu manusia".

Di sini, alih-alih mengajar, yang justru banyak belajar itu saya.

Mereka Ini

0 comments

Mereka ini. Yang selalu ada. Ketika salah satu anggotanya down, semua sepakat meluangkan waktu bertemu, menempuh perjalanan panjang dari ujung ke ujung untuk sesi "1 jam lebih dekat", sesi team bonding yang meyenangkan.

Mereka ini. Yang selalu menjaga. Yang punya kebiasaan mengabari ketika sudah kembali ke desa masing-masing. Yang ketika lo sakit di ujung pulau, telfon nggak berhenti berdering, SMS pun terus masuk, menanyakan kabar, apa yang bisa dibantu, bahkan muncul tiba-tiba untuk mengecek keadaan dan membawa obat-obatan.

Mereka ini. Yang selalu perhatian. Ketika tertidur di ruang ber-AC dan nggak berselimut, esok paginya sudah ada jaket ataupun sarung bertengger hangat di badan lo. Ketika lo demam kemudian tertidur, lalu terbangun dengan kompres di kening. Ketika lo terlihat murung dan diberi 'hiburan' sebungkus cokelat dan seulas senyum.

Mereka ini. Yang selalu membuat perayaan ulang tahun sederhana terasa spesial. Yang rela menempuh jalan berbatu, berlubang, becek, atau menyebrangi lautan berombak kencang hanya untuk merayakan ulang tahun malamnya, lalu kerja lagi besoknya.

Mereka ini. Yang selalu membuat lo merasa dekat. Ketika lo sedang mudik nun jauh ke pulau seberang, lo dikirimkan video suasana kumpul kemudian ditelfon hanya untuk bilang "rasanya sepi dan nggak lengkap kalau nggak bersepuluh".

Mereka ini. Yang selalu mendukung. Jangan harap dimanja dengan kata-kata manis ketika menghadapi masalah. Yang ada, justru ledekan dan celaan di mana-mana. Tapi lo nggak akan dibiarkan sendirian menanganinya.

Mereka ini. Yang selalu siap membantu. Yang justru marah ketika lo berusaha mandiri dan nggak mau merepotkan yang lainnya. Yang meski lo tekankan "gpp gw bisa sendiri kok" tetap bersikeras membantu. Atau setidaknya menemani.

Mereka ini. Yang selalu istimewa. Yang sebenarnya dominan tapi terlalu rendah hati untuk mendominasi. Yang lebih memilih peran di belakang layar untuk merangkul dan mendorong penggerak lokal berpotensi yang masih malu-malu untuk unjuk aksi.

Dipertemukan di pelosok Borneo dengan orang-orang kayak mereka ini. Kurang beruntung apalagi coba? Alhamdulillah :)

"Friends are family you choose" -Jess C Scott.

Sunday, August 2, 2015

Self Assessment

0 comments
Saya selalu keringat dingin ketika disuruh 'jual diri'. Misalnya saat wawancara kerja, saat ditanya tentang kelebihan, saat berusaha meyakinkan orang lain akan kemampuan saya, dan sebagainya.

Bukannya tidak percaya diri (iya sih kadang), tapi lebih kepada saya bingung harus menjawab apa.

Waktu pelatihan Pengajar Muda, salah satu tugas kami adalah membuat self assessment. Penilaian untuk diri sendiri. Saya insecure level bok**-flush-rusak.

Ketika itu, saya suka 'menggelembung' buat cari ilham untuk mengulik stok STAR (situation, task, action, result) demi self assessment. Dan itu mengundang tatapan "Del, lo lagi ngapain sendirian bengong?" dari teman-teman.

Sekarang, di penempatan, tugas itu diberikan lagi, sebagai tools untuk refleksi diri, melihat dimensi kepemimpinan yang berkembang selama di sini.

Makin insecure level bok**-flush-rusak-air-mati. Damn.

Branding Indonesia Mengajar di daerah penempatan sangat kuat. Mungkin karena memang terbukti, para Pengajar Muda selama 4 tahun belakangan hebat-hebat. Iya, saya pun mengakui kok. Bahkan teman-teman sepenempatan di Paser juga luar biasa.

Sementara da aku mah apa atuh. Butiran debu di alam semesta. Semakin dilihat tinggi, ketakutan saya pun semakin tinggi.

Keinginan untuk membuktikan ekspektasi seiring dengan bolak-balik mempertanyakan kesanggupan diri sekaligus entah apa ya ini namanya? Perfeksionis buta?

Ekspektasi tinggi ditambah saya yang keras sekaligus ragu pada diri sendiri membuat ujung-ujungnya saya uring-uringan, merasa belum ngapa-ngapain di sini.

Makanya soal self assessment, saya masih clueless mau tulis apa. Rasanya seperti mendeskripsikan hantu. Mengerikan. Absurd memang. Saya hobi introspeksi, tapi sekalinya diberi ruang, saya ketakutan setengah mati.

Seharusnya saya tidak curhat di sini, cuma berkali-kali terbukti, dengan menulis saya bisa menemukan jawaban atau sekedar ketenangan.

Kalau saya merenung lagi, apa sih yang ditakuti? Tulis saja sesuai bukti yang ada. Kenyataan. Masa sih nggak bisa?

Saya sebetulnya yakin bisa. Kalau mau dicari pasti ketemu dimensi kepemimpinan yang berkembang walaupun cetek. Tapi tetap saja rasanya oh rasanya........

Kenapa ya menilai diri sendiri sesulit ini?

Saturday, July 25, 2015

So Little Time So Much to Do (part 2)

0 comments
"Tidak ada kata tidak ada waktu. Yang ada hanya skala prioritas"
Prioritas. Hmm baiklah. Selama libur lebaran ini, waktu saya banyak dihabiskan bersama keluarga. Apakah ini prioritas saya? Tentu saja! Tapi... izinkan saya berkeluh-kesah, daripada balas marah-marah. Hah *tarik empat buang empat*

Jadi, saya punya mama yang suka memerintah dan super tidak sabaran. Harus dikerjakan detik itu juga walau perang dunia sekali pun. Ini menyebalkan, karena kalau tidak dituruti, pasti mama marah-marah.

Yaaa.. pun dituruti tetap marah-marah sih. Seharusnya saya terbiasa ya, tapi siapa sih yang tidak kesal kalau semua hal jadi masalah dan bikin kita jadi serba salah? Hah *tarik sejuta buang dua ribu juta*

Saya dan adik-adik saya sering ngomel-ngomel di belakang, karena kalau di depan mama pasti tambah marah. Kami cuma tak mau tambah masalah.

Kami tahu waktu kapan harus santai dan kapan harus mengerjakan sesuatu. Toh apa yang disuruh selalu selesai, kan? Tapi cetakan mama itu seperti dikejar banteng. Selalu buru-buru. Tanpa alasan yang jelas, panik sendiri. Padahal, makin panik malah makin tidak selesai.

"So little time so much to do. I'd rather spent my time with you"
Kalau saja nada perintahnya lebih bersahabat dan tidak perlu pakai acara marah-marah terus 24 jam seperti mini market, saya mungkin akan lebih betah di rumah. Menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama keluarga di waktu cuti yang terbatas ini.

Mama oh mamaaa..

So Little Time So Much to Do (part 1)

0 comments
"So little time so much to do"
Katanya, itu perihal manajemen waktu. Kalau memang begitu, berarti manajemen waktu saya payah sekali.

Saya sudah mempersiapkan apa-apa yang mau saya lakukan selama cuti lebaran dari sebulan sebelumnya. Karena saya anaknya perfeksionis (catatan: untuk beberapa hal), list itu terus diperbaharui sampai saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta.

Bukan cuma itu, saya bahkan membuat mind map untuk memetakan liburan super panjang, dari libur sekolah, libur puasa, sampai libur lebaran. Kira-kira, 40 hari. Lama sekali ya.

Tidak selama itu, ternyata.

Sebagai anak yang dasarnya spontan, dinamis, dan random, saya sering kesal sendiri saat saya mati-matian berusaha merancang segala sesuatunya tapi saya sendiri yang melanggarnya.

"Tau gitu nggak usah niat-niat amat deh ngerancang ini-itu!" Saya sering misuh-misuh sendiri ketika to-do list saya berantakan. Padahal kadang memang salah saya juga yang suka impulsif berubah haluan karena ada yang lebih menarik.

Yaaa.. banyak faktor sih sebetulnya. Tidak melulu karena saya impulsif. Kadang karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Seperti sekarang contohnya. Seharusnya saya bertemu dengan teman-teman yang sudah janjian dari lama, mumpung saya lagi di Jakarta, sebelum balik lagi ke desa. Tapi saya malah belum beranjak dari rumah karena lemas sekali kena diare.

Harusnya juga saya mengurus printilan akreditasi sekolah, membeli alat musik untuk inventaris sekolah, mencetak foto anak-anak, pergi mencari onderdil motor titipan teman, menukar charger laptop titipan teman juga, membeli buku (lagi-lagi) titipan teman, mengurus nomer yang hangus, mengirim surat serta paket-paket ke kantor pos, daaan.. *brb cek to-do list*

Kenyataannya, saya malah masih di sini menulis blog, sementara 2 hari lagi saya sudah harus kembali ke Paser untuk mengajar. Semoga segala urusan masih kekejar.

Yasudahlah. Ingat baik-baik ya, Del. Sehat itu mahal. Karena bayarannya itu waktu yang berharga, yang dibuang percuma hanya karena tak ada tenaga.

"No plan is planning to fail"
Oke. Walaupun ujung-ujungnya gagal juga, setidaknya saya sudah membuat rencana daripada tidak sama sekali. Ini saya lagi menghibur diri.

Thursday, July 23, 2015

Enam Purnama

2 comments
Tanggal 21 Juli kemarin genap sudah 6 bulan masa penempatan kami, Pengajar Muda 9.

Terasa lama sekali, sekaligus seperti lari. Katanya, tandanya itu menikmati.

Di tanah Borneo ini, rasa kebangsaan dan nasionalisme dipupuk. Mungkin karena kami sudah tercuci otaknya untuk lebih cinta negeri. Haha. Buat saya sih tak ada masalah. Dengan senang hati malah.

Saya masih ingat masa pelatihan di mana lagu-lagu nasional terasa menggetarkan untuk dinyanyikan.

Terakhir kali saya hampir menangis adalah ketika menyanyikan lagu Hymne Almamater di Thailand, dalam kompetisi Marching Band Internasional 3 tahun yang lalu. Setelahnya, baru saat pelatihan.

Dalam pelatihan, saya hampir menangis berkali-kali. Misalnya saat pengumuman penempatan. Juga saat Malam Seni dan menyanyi lagu Tanah Air dalam temaram lilin. Ah, banyak lah pokoknya.

Tapi momen paling magis adalah saat pelantikan ketika saya menjadi dirigen untuk menyanyikan beberapa lagu nasional.

Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, beberapa kepala kawan tertunduk, bahu berguncang. Terisak. Di atas kepala mereka berkibar bendera Indonesia. Di dada mereka disematkan kepercayaan besar sebagai putera-puteri (katanya) terbaik bangsa yang membawa harapan akan masa depan Indonesia.

Saya berusaha tetap fokus meng-conduct walaupun tangan saya sama bergetarnya dengan bibir yang menggumamkan lagu tersebut. Janji kemerdekaan.
"Bagimu negeri. Jiwa raga kami"

Saya memberi tanda lagu selesai dan bergeming. Merinding. Mungkin saya masih akan bengong berdiri terpaku ke tanah kalau tidak dipanggil untuk bergiliran salam-salaman.

6 bulan kemudian, di tempat saya menulis ini, di Hari Anak Nasional, saya 'merayakan' setengah perjalanan dengan refleksi diri. Sudah ngapain aja selama ini? Sebanyak apa kamu berkontribusi?

Memikirkan hal itu, saya gelisah. Saya masih merasa belum banyak melakukan apa-apa. Tidak mudah ya, menyerahkan jiwa raga bagi negeri. Salut bagi mereka yang bisa.

Saya anaknya masih sangat duniawi ternyata. Jatah cuti saja saya ambil untuk temu rindu dengan kota. Lebaran dengan keluarga. Dan itu dengan alasan cetek karena saya mau merasakan pengalaman mudik ala anak rantau.

Mungkin, cita-cita besar menunaikan janji kemerdekaan terlalu muluk-muluk. Mungkin, alih-alih memikirkan aksi patriotis yang terkesan dahsyat, lebih baik melakukan hal konkrit sederhana. Sebuah 'mantera' yang selalu komat-kamit diucapkan kami --saya dan keluarga seperjuangan di Paser.

Sisa 6 bulan lagi. 6 purnama menuju tuntas.

Teruntuk teman-teman Pengajar Muda yang tersebar di titik-titik nusantara, semangat setengah perjalanan ya! 6 bulan lagi kita bersua. Bertukar cerita seru dan bahagia.

Satu lagi, selamat Hari Anak Nasional!

Semoga saat pulang nanti kita bisa berkata dengan kebanggaan yang membuncah:
"Di sana, di pelosok negeri ini, masih ada bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa, anak-anak didik kita."

Wednesday, July 22, 2015

Mudik

0 comments
Dari dulu, saya ngidam mudik. Saya penasaran rasanya punya kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.

Saya lama hidup di kota. Bahkan bisa dibilang saya seumur hidup tinggal di kota. Ibukota, tepatnya. Sebelum lebaran pergi ke mall, setelah lebaran ke mall lagi. Tidak setiap tahun memang, tapi seringnya begitu.

Saya suka sirik dengan teman-teman perantau yang sibuk mencari tiket mudik, update perjalanan mereka menuju pulang, dan melihat foto senyum cerah mereka menginjakkan kampung halamannya lagi. Membayar rindu.

Sebahagia itu ya, rasanya mudik?

Sekarang, bisa dibilang saya sedang merantau. Makanya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah lebaran. Saya akhirnya mudik untuk pertama kalinya. Sendirian pula! Yeay!

Lalu, apa rasanya mudik?

Sebenarnya saya punya pilihan untuk tetap di desa, menabung rindu, dan merasakan hype lebaran di tanah Borneo dengan keluarga baru. Seru, saya tahu. Pasti menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan di penempatan.

Tapi saya memilih pulang selain karena ditagih terus sama keluarga besar, alasan cetek saya adalah "mau ngerasain mudik". Saking bersemangatnya, tiket sudah dibeli jauh-jauh hari, bahkan lebih dulu dari pembuatan surat permohonan cuti.

Kata teman-teman, saya ambi(sius) sekali. Haha, biarlah.

Sekarang, saat sudah pulang, saya jadi bingung. Setelah ini saya pulang lagi. Lah yang benar pulang ke mana?

Ingat kata-kata Pengajar Muda sebelum saya "nanti kamu akan ngerasain deh, desa berasa rumah sendiri"

Yup! 6 bulan di penempatan, saya merasakan sekali hal itu. Di sini rumah saya, di sana juga.

Keluarga dan kerabat saya di Jakarta bertanya, apa rasanya tinggal di desa? Saya bilang, bahagia. Bahagia mana, di sini apa di sana? Sama saja, ujar saya.

Kebanyakan mereka masih belum percaya, anak kota manja seperti saya kenapa kok mau hidup di desa? Meninggalkan semua fasilitas, listrik, sinyal, air bersih, dsb. Jarang makan daging. Puasa nonton bioskop, jalan-jalan ke mall, toko buku, salon, dsb. Saya tertawa. Kenapa tidak? Saya bahagia kok.

Memang, tidak bisa dipungkiri, di sana saya kadang mau gila juga karena rindu rumah. Tapi ketika di sini, saya pun rindu rumah.

Lagipula, apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu sadar rumahmu ada banyak?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika tempatmu pulang ada di mana-mana?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu disambut hangat dengan senyum tulus di sini dan di sana?

Apalagi yang lebih membahagiakan dari bersyukur apa pun keadaannya? 

Alhamdulillah. Nikmat manalagi yang kau dustakan? :)

Jadi, setelah ini saya akan mudik lagi nih? YEAY!

Saturday, July 18, 2015

"Inget Kawin"

0 comments
"Ah seruuu! Banyak yang mau gw lakuin abis ini"

"Inget kawin"

Saya dan seorang teman sedang bercakap membahas masa depan. Sebagai seorang tukang khayal kelas salmon yang banyak maunya, saya memang harus selalu diingatkan agar realistis dan tidak terlalu kemaruk.

Namun saat itu, saya keberatan. Apa hidup ini cuma seputar cinta, jodoh, dan kawin? Apa semua keputusan harus berdasarkan pertimbangan perkawinan? Eh, pernikahan?

Tadinya alih-alih kawin, saya lebih sreg dengan kata nikah karena konotasinya beda, tapi yasudahlah. Sama saja sebetulnya.

Saya pernah berdiskusi panjang lebar tinggi dengan seorang teman sampai larut malam menjelang subuh (itu pun berhenti karena baru sadar harus sahur), hanya untuk sepakat bahwa manusia cenderung berpikir lawan kata. Premis 'jika-maka'.

Jika kontra legalisasi perkawinan gay maka homophobic. Jika pro maka gay. Jika mengucapkan selamat hari raya maka kafir. Jika tidak maka fanatik.

Lantas, jika ingin sekolah lagi atau mengejar karir atau keliling dunia atau menjadi relawan pecinta hewan maka 'lupa kawin'? Alamak. Logika macam apa ini?

Jadi begini. Di usia yang sering saya guraukan 'umur kondangan', sepertinya seluruh alam semesta berkonspirasi mendekatkan saya pada topik yang itu-itu lagi di berbagai lingkaran. Jadi ya sudahlah, mari sekalian bahas saja.

Saya tidak suka istilah cari jodoh karena saya tidak tahu harus cari ke mana. Apa saya harus tanya peta "mau ke mana kita?" ala Della the Explorer?

Tidak juga sreg dengan ungkapan 'jodoh di tangan Tuhan'. Lah ya gimana ambilnya? Pasrah saja tunggu Tuhan kasih? Gitu?

Saya lebih nyaman dengan judul lagunya Afgan: "jodoh pasti bertemu".

Belakangan, saya jadi sering berdoa. Sebetulnya karena takut terbawa kata-kata orang dan tanpa sadar jadi doa, saya berdoa saja dengan sadar.

Ya Allah, orang-orang mendoakan saya agar disegerakan jodohnya. Saya aamiin-kan saja. Tapi sebetulnya saya tidak mau tergesa-gesa sebelum saya siap. Jadi, kalau memang sudah saatnya bertemu, tolong pertemukan di saat saya sudah siap, ya Allah. Aamiin.

Oh ya, saya maunya dia, cocok nggak, ya Allah? Tapi maunya kalau memang cocok dan berjodoh, kami saling mendukung mimpi masing-masing, bukannya mengalah dan membuang mimpi atau malah ngotot-ngototan keras kepala tak ada yang mau mengalah.

Saya maunya kami saling menghebatkan. Sama-sama hebat, tapi kalau berdua jadinya kombo hebat. Juga bermanfaat. Percuma kan ya kalau jadi hebat tapi tidak memberikan manfaat bagi sekitar?

Saya maunya kami sama-sama punya banyak keinginan, tapi nggak jadi halangan untuk saling membutuhkan. Mandiri, tapi selalu ingat kalau kami tidak sendiri.

Saya maunya dia. Tapi saya maunya saya cukup berkualitas untuk bersisian dengan dia.

Jadi, kalau sekarang saya masih khayal babu, tolong bukakan peluang sebesar-besarnya untuk saya berusaha menjadi Cinderdella tanpa bergantung pada sihir ajaib Ibu Peri, ya Allah. Tapi tidak mau seekstrim Ariel yang merelakan suara emasnya untuk menukar sirip dengan kaki.

Kalau terlalu muluk, ya sudah, saya berusaha saja dulu mewujudkan apa yang saya mau. Nanti juga bertemu ketika sudah siap kan, ya Allah? Saya 'inget kawin' kok.

Sekian dan maaf banyak maunya, ya Allah. Terima kasih sudah banyak menghadirkan orang-orang baik dan doa-doa baik di sekitar saya.

Iya, saya kalau berdoa sekalian curhat. Jangan ketawa plis. Saya malu, HAHA. Terus malah saya yang ketawa sendiri. Ah, kenapa juga saya malah berdoa di sini?

Sudah gila memang.

Sunday, July 12, 2015

Obrolan Motor

0 comments
Obrolan motor. Ketika pembonceng dan yang dibonceng bercakap-cakap sepanjang perjalanan.

Obrolan motor hanya melibatkan 2 orang (kecuali bonceng 3). Karenanya, obrolan motor bisa mengarah pada topik-topik yang cukup personal atau penuh perenungan.

Biasanya begitu, bagi saya. Kalau tidak merenung ya mengobrol. Karena tak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan.

Di suatu obrolan motor di siang bolong, seorang teman berceletuk, "Nikmat itu singkat ya"

Saya terbahak. Kami baru saja melewati jalan berbatu yang cukup membuat badan seperti bermain jungkat-jungkit, lalu jalanan aspal mulus sejenak, kemudian jalan berbatu lagi.

"Seenggaknya masih bisa ngerasain nikmat" sahut saya.

Kemudian hening. Lalu kami tertawa geli, menyadari bahwa memang kadang nikmat itu tidak seberapa dibanding perjuangan mencapainya.

Seperti aspal halus yang menyenangkan namun hanya seperdelapan jalan menuju rumah teman saya, untuk kemudian singgah lagi di rumah teman yang lain dengan jalanan yang tidak kalah berbatu. Atas nama silaturahmi dan temu rindu.

Saya jadi ingat pertanyaan sederhana dari seorang teman "kenapa harus naik gunung kalau ujung-ujungnya turun lagi?"

Saat itu, kami sedang ada dalam pelatihan di mana kami diharuskan naik turun gunung sambil membawa ransel besar seberat Batu Malin Kundang, dengan medan yang lumayan menantang untuk pemula sampai saya hampir masuk jurang dengan ransel yang menggantung di tepinya.

Alih-alih mengeluh, semakin menantang medannya, semakin riang tawa kami. Karena insiden hampir masuk jurang itu, kaki saya gemetar tak terkendali, begitu juga dengan perut yang harus dipegangi terus karena terpingkal tak terkendali.

Kalau dipikir-pikir, benar juga pertanyaan teman saya. Kenapa kami rela bersusah payah naik gunung untuk turun lagi? Dari mana nikmatnya?

Mungkin, dari kebersamaan. Berjuang bersama. Susah senang semua dihadapi dengan tawa.

Memikirkan itu, saya tersenyum dan menepuk pundak teman saya. Mendadak merasa sangat bersyukur. Betapa nikmat itu sesungguhnya tidak sesingkat jalan aspal.

"Kenapa?" Teman saya menoleh sebentar kemudian fokus lagi ke jalan.

"Gpp"

Tuesday, July 7, 2015

Kunang-kunang

3 comments
Hai Tuan,

Apakah kau suka kunang-kunang?

Pada malam ketika aku berkunjung ke desa seorang teman, aku melihat kunang-kunang bergantian berkerlip seperti lampu natal yang bergantung di pohon. Tidak banyak, mungkin karena sedang terang bulan, jelas temanku.
Tak apa. Aku tetap terpesona. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kunang-kunang. Kombinasi kunang-kunang dan cantiknya langit malam itu sudah lebih cukup bagiku.

Anak-anak di sana menangkapkan kunang-kunang untukku. Kuminta mereka melepas lagi. Kunang-kunang semestinya hidup bebas. Kerlipnya akan redup bahkan mati jika dalam genggaman.

Hai Tuan,

Apakah di tempatmu ada kunang-kunang?

Kalau ada, bolehkah aku bertamu? Barangkali, kita bisa terpesona bersama. Kalaupun tidak ada, barangkali, aku bisa terpesona olehmu.

Salam,
Nona pengagum kunang-kunang. Dan kamu

Pilihan

0 comments
"Kamu mau nggak sama X?"

"Nggak boleh."

"Kalau sama Y, mau nggak?"

"Nggak mau."

"NAH!"

Mereka tergelak. Saya mencerna sejenak lalu mengangguk paham, kemudian ikut tergelak. Baru sadar ada perbedaan yang cukup signifikan antara dua jawaban yang terlontar spontan tadi.

Tidak boleh.
Bisa jadi mau.

Tidak mau.
Bisa jadi boleh.

Mau.
Tapi tidak boleh.

Boleh.
Tapi tidak mau.

"Kalau begitu, kamu mau?"

"Hmm.. bisa jadi."

"Lalu, kenapa mau?"

Saya terdiam. Lama. Berpikir. Mengingat-ingat. Bingung. Benar-benar bingung. Saya tidak punya alasan. Sejujur-jujurnya, sekeras apa pun saya mencari, tidak ketemu. Rasanya tidak ada jawaban yang pas. Seketika, saya tersentak.

"Sepertinya yang tepat bukan 'mau karena...' tapi 'mau walaupun...'"

Lalu hening. Yang memberi ruang untuk helaan napas dan tatapan gagal paham mereka, diiringi desisan gemas.

"Saya rasa kalian jodoh." Salah satu dari mereka bersuara, memecah hening.

Saya menoleh, tersenyum simpul sembari membalas, "Tapi saya rasa, kita selalu punya pilihan bukan?"

Sunday, June 28, 2015

Kualat

2 comments
Saya kualat. Sepertinya begitu.

Mama saya bekerja di departemen transmigrasi, menjadi peneliti dan memberikan penyuluhan ke daerah-daerah. Hal itu membuat beliau sering tugas dinas keliling Indonesia.

Sepulang dari dinas, beliau pasti membawa oleh-oleh cerita perjalanan serta makanan/barang khas daerah.

Dulu, saya tidak tertarik. Saya tidak mengerti batik. Saya tidak peduli dodol duren berasal dari mana, yang jelas, rasanya enak. Saya masa bodoh apakah tas yang dibelikan terbuat dari kulit buaya, hiu, gajah, atau manusia. Yang saya tahu, tasnya lucu. Saya menyahut seadanya ketika mama saya dengan bangganya bercerita beliau berfoto dengan petinggi daerah. Saya tidak kenal, so what?

Saya beranggapan bahwa yang keren itu papa saya. Yang berfoto di depan Colloseum. Ber-safari ria di Afrika Selatan. Melihat tulip bermekaran di Belanda. Dan sebagainya. Intinya, papa saya keren karena jalan-jalannya keluar negeri dan cap di paspornya banyak sekali.

Iya, secetek itu. Dulu.

Sekarang, setelah 6 bulan merantau di pedalaman Kalimantan Timur, saya mulai memahami peribahasa "tak kenal maka tak sayang". Saya mulai belajar kembali tentang sejarah dan budaya Indonesia. Mulai mengenali corak kain nusantara. Mulai peduli makanan khas daerah. Mulai memperhatikan siapa berasal dari suku mana. Dan sebagainya.

Saya bahkan berkhayal menjadi travel writer setelah penugasan Pengajar Muda, melakukan perjalanan untuk lebih mengenal Indonesia, mencintai tanah air.

Negeri ini terlalu luar biasa untuk sekedar tahu dari televisi atau buku. Semakin banyak kaki melangkah, rasanya saya semakin haus menjelajah.

Ah ya, sepertinya saya memang benar-benar kualat. Mungkin, saat saya menjadi orang tua nantinya, saya juga akan seperti mama, yang dengan mata berbinar-binar bercerita tentang nusantara.

Well, mungkin bedanya, kalau mama saya menuangkannya dalam bentuk penelitian dan penyuluhan, saya melalui tulisan.

Karena ingatan mudah lupa, sementara goresan tinta menolak lupa.

Tuesday, June 2, 2015

Check Point Terakhir

3 comments
Saya suka istilah. Saya suka ketika panjangnya uraian, definisi rumit yang menggambarkan sesuatu, dapat disederhanakan menjadi satu atau beberapa kata saja.

Istilah "Petrichor" misalnya, merupakan aroma tanah segar yang menguar setelah disiram hujan. Atau "jatuh cinta", rasa menyenangkan yang sama seperti yang diciptakan Petrichor. Begitulah. Saya suka yang sederhana. Sekaligus begitu rumit.

Kali ini, saya sedang mengalami suatu keadaan yang hmm.. bagaimana menjelaskannya? Bayangkan sebuah permainan petualangan yang terdiri dari beberapa level. Tiap level, ada titik-titik check point yang merupakan titik aman, sehingga kalau nyawa berkurang, pemain tidak perlu mengulang dari awal.

Saya merasa sedang berada di "check point terakhir" di mana saya belum tamat 1 level, tapi saya tahu sebentar lagi saya akan naik level. Dari mana saya tahu? Entahlah. Tahu begitu saja.

Saya ingat, saya pernah bermain game di mana "check point terakhir" nya adalah melawan Ratu Musuh. Tidak selemah musuh biasa, tapi tidak sekuat sang Raja Penguasa. Game over. Menyebalkan sekali. Padahal tinggal sedikit lagi.

Tapi dalam hidup yang sesungguhnya, di mana nyawa hanya 1 bukan 3 apalagi 9, manusia tidak serapuh tersenggol duri naga senjata Ratu Musuh kemudian game over.

Manusia bertambah kuat dan berkembang sesuai porsinya. Sesuai pengalaman yang dirasakannya. Sesuai pemaknaan yang diresapinya. Sesuai levelnya.

Sebetulnya alih-alih memakai istilah "check point terakhir", saya bisa saja menggunakan "titik terendah". Tapi rendah yang seperti apa? Dari selisih antara titik paling atas dan paling bawah kah? Atau hanya dari titik paling bawah saja? Lalu, selama berapa periode? Kurang adil rasanya kalau dari lahir. Karena seperti yang tadi saya sebutkan, manusia berkembang sesuai levelnya.

Ah ya, saya kelupaan sesuatu. Karena kesukaan saya akan istilah, apabila saya tidak berhasil menemukan sebuah istilah yang dapat mengilustrasikan makna dengan tepat atau sudah ada istilahnya (seperti "titik terendah" tadi) tapi kurang sreg, saya membuatnya sendiri.

Dan menurut saya, istilah "check point terakhir" terdengar lebih adil, manusiawi, masuk akal, dan menyimpan sejuta harapan.

Yup. Harapan. Pak Rhenald Kasali pernah berkata "jangan memulai sesuatu dari hambatan. Mulailah dari harapan" setuju sekali. Karena kalau tidak, ketika menghadapi "check point terakhir", mungkin yang akan terlintas adalah:

"Alaaah paling sebentar lagi game over"

Oh well, I just want this to end with no more regret. Anyway, if the game is over, we can still always start over, no?

Saturday, May 23, 2015

Jerawat

0 comments
Muka gw sekarang dekil. Dulu juga sih. Tapi ini ditambah jerawat. Parah. Kesel sampai bikin insecure lihat cermin. Yang menyebalkan, di ruang guru, depan pintu masuk tempat parkir sepatu, digantung sebuah cermin seukuran badan yang membuat gw terpaksa melihat pantulan seorang gadis (anggap saja) belia mematung meratap titik-titik merah yang ibarat pahlawan. Mati satu tumbuh seribu. ARGH!

Dulu gw pernah juga jerawatan karena stres, sering begadang, dan emang jorok males cuci muka. Nah sekarang, stres sih kadang, tapi cepet pulih. Tidur gw cukup. Cuci muka rajin. APANYA YANG SALAH?! Ngeselin.

Kebetulan, seminggu yang lalu gw kena campak (kalau di desa disebutnya 'kerumutan'). Muka berjerawat, mata merah, dan ada bintik-bintik campak. Sungguh kombinasi yang ciamik.

Saat itu, gw akhirnya pasrah bercerita ke orang rumah, berharap dapat pencerahan karena di desa cuma dikasih air doa dan air kelapa, serta susu putih. Detoks yang bikin kembung.

Walhasil, dikirimlah satu paket obat-obatan dari rumah, salah satunya minuman herbal dari teripang. Berhubung gw berniat banget untuk sembuh dan menghilangkan jerawat, gw minum lah itu jeli teripang super hueks 3 sendok makan 3x sehari PLUS gw jadikan masker, dipakai 4x sehari.

Alhamdulillah dalam 3 hari di kabupaten, jerawat dan bekas campaknya mengering. O hail masker teripang! Di sini, gw pikir masalah selesai.

Balik ke desa, jerawat gw tambah parah. Insecure level Uka-uka. Gw cerita lagi ke orang rumah dan bokap gw menyarankan cuci muka dengan air mineral serta mengganti sabun muka non alkohol yang mengandung sedikit busa.

Ngga nyangka, bokap gw paham betul urusan perawatan muka. Iya, papaku memang random seperti itu.

Usaha menghilangkan jerawat ini juga diselingi dengan konsultasi (dan curhat) pada seorang teman yang memakai produk perawatan wajah super mahal yang berinisial SK II.

Berhubung gw sedang memakai produk minyak daun teh atau bahasa kerennya tea tree oil, ya sudah, habiskan dulu apa yang sudah dibeli. Sayang. Mending uangnya dipakai beli pentol.

Entahlah, sampai sekarang masalah jerawat ini masih belum selesai, dan gw rasa, sebetulnya penyebabnya cuma satu: rindu rumah.

Ah.


Friday, May 1, 2015

On Being 25

0 comments
I'll be 26 in two days.

Geez, I'm getting older. It still feels like my age stops at 19, haha. So, how is it, being 25? Well, nothing changes much actually. I'm still me, only with different age. Closer to 30 than 17.

Anyway, have a wonderful life in this whole new world, Del :D

Sunday, April 12, 2015

Gagal Keren

1 comments
Sabtu kemarin, di sekolah gw diadakan acara pisah sambut kepala sekolah, semacam serah terima jabatan dari kepala sekolah yang lama pada yang baru.

Acara tersebut turut mengundang kepala UPTD, pengawas, komite, dinas pendidikan, polisi dan aparat militer setempat, kepala desa, dan juga tokoh-tokoh masyarakat. Acara penting yang dihadiri banyak orang penting.

2 jam sebelum acara dimulai, susunan acara belum juga dibuat. Guru-guru belum banyak yang datang. Gemas, gw mendatangi guru yang menjadi penanggung jawab acara pisah sambut. Sebut saja Pak X.

"Pak, susunan acaranya bagaimana? Biar kita enak nyiapin anak-anak yang akan tampil," gw mulai nggak sabar.

"Ini makanya kita susun bareng-bareng sama Bu Della," kata Pak X.

Yaaak! Jebakan Betmen pertama. Walhasil, jadilah gw dan Pak X membuat susunan acara. Yaudalah saling bantu, biar cepet kelar. Pikir gw.

Sejam pun berlalu. Susunan acara masih belum selesai, sementara kepala UPTD dan beberapa stakeholder dari kabupaten datang lebih cepat dari jadwal undangan. Baiklah, gw pun mengajak ngobrol para stakeholder untuk mengisi waktu. Pak X tetap berkutat dengan detail susunan acara.

Beberapa menit sebelum pembukaan, Pak X mengejutkan gw. "Bu Della, nanti setelah sambutan dari dewan guru dengan saya sebagai perwakilan, Bu Della mohon lanjutkan ya sebagai perwakilan dari Indonesia Mengajar"

What........?!

Gw menolak dengan halus. "Ndak usah, Pak. Ndak papa. Saya kan bagian dari guru. Sudah cukup perwakilan dari Bapak saja"

"Biar masyarakat lebih paham juga, Bu. Kebetulan Ibu juga pakai rompi Indonesia Mengajar, jadi bisa sekalian menjelaskan. Sudah saya masukkan di susunan acara"

Yaaak! Jebakan Betmen kedua. Demyu rompi! Harusnya gw tinggal aja di rumah, nggak usah dibawa ke sekolah. Tapi yaudalah. Udah terlanjur basah, berenang sekalian.

'Dikerjain' suruh kasih sambutan dadakan begini, kontan gw panik. Belum ada persiapan meeen! Terjun bebas ini namanya.

Panas dingin rasanya menunggu detik-detik 'eksekusi'. Gelisah, berharap tiba-tiba ada dinosaurus tentakel seribu lewat, orang-orang hilang tersedot tentakel seribu, acara bubar, dan gw nggak jadi kasih sambutan. HORE!!

Tapi kenyataan memang seperti pare. Pahit. Show must go on. "If you can't you must. If you must you can" Mantera NAC ini gw gumamkan terus dalam hati.

Gw mengatur napas dan memulai dengan sebuah cerita. Tentang batang pohon yang tergeletak di tengah jalan dan membuat kemacetan. Kendaraan tidak bisa lewat. Orang-orang mulai kesal, memaki sambil membunyikan klakson.

Hujan pun turun. Amarah semakin menjadi-jadi. Kemudian datanglah seorang anak yang bergerak, berusaha mendorong batang pohon tersebut. Tentu saja batang pohon tidak bergerak sama sekali.

Kemudian bala bantuan datang. Teman-teman anak tersebut beramai-ramai membantu mendorong. Orang-orang di dalam mobil mulai malu. Mereka pun ikut mendorong. Para pejalan kaki pun. Akhirnya, batang pohon tersebut berhasil dipindahkan.

Cerita sederhana sebenarnya. Batang pohon tersebut dianalogikan sebagai kebodohan, dan selayaknya sebatang pohon yang super berat, tentunya tidak bisa dipindahkan sendirian.

Dengan bekerjasama, gotong royong di bidang pendidikan, barulah misi besar memberantas kebodohan dapat terwujud. Lalu gw pun mengutip sedikit kata-kata pak Menteri Anies Baswedan, "mendidik adalah tanggung jawab kaum terdidik".

Sampai sini alhamdulillah masih lancar. Tetapi selanjutnya, saat mulai mengucapkan maaf dan terima kasih, gw terbawa suasana haru. Kepala sekolah gw menangis. Damn. Buyarlah semua kata-kata keren yang sudah gw susun di kepala.

Singkat cerita, sambutan ala ala gw pun selesai. Fyuh! Seluruh badan serasa bebek goreng tulang lunak. Lemes. GROGI PARAH MEN ITU BANYAK PETINGGI DAERAH! All eyes on me, staring like millions Dementor. Tega pisan memang gw disuruh ngoceh tanpa persiapan.

Well, sejujurnya gw merasa keren sih bisa cukup lancar 'mendongeng' di depan puluhan audiens yang hadir. Yaaa.. kasih apresiasi untuk diri sendiri boleh lah ya.

Setelah acara selesai, Pak X mengacungkan jempol pada gw. "Keren, Bu Della". Guru lainnya pun menambahkan "Iya, Del. Luar biasa loh!" Hehe. Gw pun tersenyum salting dan membalas "Makasih loh, Pak, saya dikerjain suruh kasih sambutan"

Intinya, perasaan 'gw keren juga ya ternyata' memenuhi tiap eritrosit, leukosit, dan trombosit gw saat itu.

Malam harinya, gw menghadiri acara kumpul bareng di rumah Pak Kepsek. Bakar-bakar ikan, minum kelapa, karaoke ala ala, dan seseruan lainnya. Di tengah obrolan, seorang warga berceletuk.

"Wah, Ibu yang tadi cerita tentang batang pohon pisang ya? Awalnya saya pikir SPG rokok mau promosi iklan yang gotong royong, asyiknya rame-rame. Ternyata Bu Guru lagi mendongeng. Lucu juga ya, kayak anak TK"

Oke. Gw gagal keren :|

Sunday, February 8, 2015

Tidak Sendirian

0 comments
Seharusnya gw banyak mencatat. Perjalanan luar biasa ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Tapi........

Ah sudahlah. Nanti malah terlalu banyak alasan yang dibuat-buat. Yang jelas, setelah sebulan proses adaptasi, gw mulai menikmati kehidupan di sini.

Sepekan kemarin, gw bertemu teman-teman sepenempatan di Paser. Selalu menyenangkan bertemu mereka. Bertukar cerita, menggila bersama, tertawa lepas karena hal yang sebenarnya super garing, daaan sebagainya.

Kalau sedang berkumpul seperti ini, kendala seperti susah sinyal dan listrik, kehidupan masyarakat yang seperti di gotham city, anak murid yang 'aktif dan ringan tangan', 'tato' memar dan luka akibat terjatuh saat berkendara di jalan lumpur yang super licin, kulit yang semakin 'bertekstur' karena air yang keruh dan gigitan serangga, dsb terdengar seperti kisah petualangan yang seru.

Iya, seru saat diceritakan memang. Saat dijalankan? Yaaa.. jalani saja, hahaha. Berat pasti. Tidak mudah jelas. Seorang teman bahkan pernah terheran-heran.

"Kok ada ya orang yang mau tinggal di sini?"

Saat itu, gw tertawa geli. Membayangkan ada orang yang bertanya balik:

"Kok kalian mau-maunya ke sini?"

Meskipun demikian, ada perasaan kuat yang membuat gw selalu percaya bahwa masih ada harapan. Masih banyaaak potensi di desa yang sangat mungkin dikembangkan.

Di suatu hari, kami membuat janji untuk bertemu dengan salah satu pemangku kepentingan di Paser. Anggap saja Bapak X. Kami mengungkapkan tantangan yang kami hadapi di desa masing-masing, yang bahkan mengancam jiwa.

Setelah itu, kami banyak mengobrol santai dan Bapak X mengemukakan kekhawatiran beliau akan masa depan Indonesia. Alih-alih ikut khawatir, gw malah tersenyum dan berkata:

"Setidaknya kita nggak sendirian ya pak"

Di tengah masalah ini-itu yang rasanya ingin diselesaikan semua namun bingung harus memulai dari mana, gw belum pernah merasa seoptimis ini, yakin sekali bahwa kami tidak bergerak sendirian.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Banyak bukti perubahan berkat keterlibatan banyak pihak.

Perubahan itu terlihat dari upacara bendera yang mulai rutin diadakan tiap hari Senin di sekolah setelah sekian lama tidak ada upacara, guru-guru yang sekarang sudah tidak lagi menggunakan hukuman fisik seperti memukul, murid-murid yang sudah berani mengikuti lomba dan tampil di depan umum, daaan masih banyak lagi.

Gw ingat kata-kata Pak Hikmat tentang cita-cita bersama. Dan selayaknya semua hal yang menjadi milik bersama, tentunya tidak bisa diurus sendirian.

Saturday, January 3, 2015

A Whole New World

1 comments
"A whole new world / A new fantastic point of view / No one to tell us no or where to go / Or say we're only dreaming"

Dear 2015,

Let's make a new adventure in this whole new world!