Posts

Showing posts from 2015

Serahkan pada Perasaan

Dulu, saya bukan orang yang terbiasa pakai perasaan. Lebih baik menjadi 'dingin' ketimbang terlihat lemah. Lebih baik dipendam dan dibilang cuek daripada diledek cengeng. Lenjeh. Sensitif kayak windchimes.

Tapi saya dibesarkan dari ekskul dan UKM. Organisasi yang bergeraknya pakai hati dan azas kekeluargaannya sangat erat. Mau tak mau ya terasah.
Apalagi di sini. Saya menemukan bahwa ada kekuatan luar biasa di balik memakai perasaan. Kepekaan benar-benar ampuh menggugah hati orang lain untuk bergerak. Jadi, makin terasahlah perasaan saya, sampai-sampai saya menyerah menulis 'dingin'.
Jadi ceritanya, berkat gerilya Sarah mengundang Departemen Kominfo Paser untuk meliput tiap acara kami, menyebarkan berita positif, kemajuan daerah pada khalayak seluas-luasnya, kami diberi kesempatan menulis di kolom opini dalam surat kabar lokal tentang desa penempatan masing-masing.
Saya kebagian menulis tentang salah satu penjual amplang ikan tengiri dan mencoba menantang diri saya den…

Keep Calm and Carpe Diem

Setelah lika-liku seru sepuluh bulan ke belakang, di dua purnama menuju pulang, saya mulai bisa 'menari di atas ritme hidup' di sini.
Untuk level anak disorganized seperti saya, jujur, cukup kewalahan mengelola waktu. 
Hal-hal sepele seperti kapan ambil uang ke ATM, kirim karya anak, atau download ide-ide materi ajar, harus saya perhitungkan waktunya, karena tidak bisa dengan mudahnya bolak-balik kabupaten. Butuh waktu paliiing cepat 2 hari 1 malam di kabupaten, itu pun pasti kejar tayang.
Di luar urusan pribadi dan sekolah, saya juga harus membagi waktu untuk pertemuan-pertemuan di kabupaten. Efeknya bagus sih, saya jadi terbiasa membuat workplan, to-do list, jadwal agenda, atau apa pun itu istilahnya. Kalau tidak, bakal banyak urusan yang terlewat.

Semester lalu, saya menjadi wali kelas sekaligus guru SBK. Mencelos rasanya saat pembagian rapor, ada wali murid yang dengan santai bercerita, anaknya bingung siapa gurunya. "Kadang Bu Della, kadang Bu Rukaya, kadang Bu Dewi…

Kicau Kacau

Minggu lalu, saya, Ruth, Raden, dan Fajri menghabiskan malam dengan bersantai di Siring, duduk-duduk sambil nyemil pentol dan Nutrisari, menikmati suasana sepanjang Sungai Kandilo.
Setelah sepekan lebih berkutat dengan titah Jokowi "Kerja! Kerja! Kerja!", menikmati malam sesantai itu tanpa perlu rapat evaluasi dan sosialisasi jadwal rasanyaaa.. mewah. Haha.
Ditambah, hujan deras yang mengguyur Paser beberapa hari belakangan membuat udara terasa lebih segar karena kabut asap menipis. Alhamdulillah.
Percakapan menyenangkan pun mengalir, diawali dengan membayangkan 1 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, sampai saling memberi feedback. Mengutarakan kekaguman dan apresiasi pada tim cetar membahana ini.
Terhanyut dalam obrolan seru, tanpa sadar malam semakin larut. Kami pun kembali ke rumah dinas. Dalam perjalanan, dibonceng Fajri yang banyak diam, ingatan saya meloncat ke sana kemari.
Ah, sepertinya 1 posting tidak akan cukup mencurahkan pikiran yang meluap. Rasanya potongan berba…

Obrolan Motor (lagi)

Obrolan motor memang selalu menarik dan personal. Saya pernah menulis tentang itu di sini.
Obrolan motor kali ini, saya dan Ruth --personil 'Geng Kota' (secuplik cerita per-geng-an Paserangers bisa dibaca di sini)-- membahas 'kehidupan pasca OPP'.
"Del, lo abis OPP mau ngapain?" Yak! Pertanyaan ini lagi. Topik hits memang.
"Lo dulu lah." Saya lebih tertarik mendengar cerita kawan saya ini.
Dengan bersemangat, Ruth mulai menceritakan keinginannya. Mulai dari ingin ikut training soft skill, sekolah lagi, melatih guru PAUD, bekerja di Kemenlu, jadi diplomat, lalu lanjut ke UN.
"Cetek ya?" Ia menutup ceritanya.
"MANA ADA KAYAK GITU CETEK?!" Tentu saja saya protes keras. Ruth terbahak.
"Lo nggak mau sekolah lagi?" Ruth balik bertanya sambil memakai maskernya. Oke. Sekarang giliran saya.
Saya menarik napas. Sesak. Tidak jelas karena kabut asap atau karena jawaban yang dari dulu stuck di situ, dari 4 tahun semenjak lulus kuli…

Semesta Maha Baik

20 Oktober 2015, 22.10 WITA, di kamar warga.
Belakangan, perjalanan pulang ke desa semakin penuh kejutan.
Berdasarkan info dari Fajri bahwa air lagi konda (maksudnya air laut surutnya lama, bisa dari pagi sampe sore), hari ini saya dan Raden balik dari kabupaten agak siang. Niat hati biar nggak perlu lumutan nunggu kapal.
Sesampainya di dermaga Lori, saya mendapati bahwa nggak ada kapal ke Tanjung Aru, desa saya. Sudah jalan dari pagi, jelas warga.
MATIK!
Nggak ada kapal ikan pula. Ah, selain air, kemarau memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, termasuk dalam mencari ikan, juga kapal dan jodoh #eh
Sebetulnya, kalaupun ada kapal ikan, saya juga nggak mau ambil resiko terlunta-lunta lagi di tengah laut karena mitos-mitosan warga yang bilang "perempuan sendirian di kapal yang isinya laki-laki semua itu bawa sial" sih.
So, unless emergency, omit that option.
"Lo nggak mau telfon Pak Lukman? Siapa tahu bisa numpang nginep di rumah guru Lori" Raden mengelu…

About Being Jack of All Trades

Saya bukan atlet jago silat, tapi saya menikmati 'menarikan' gerakan Perisai Diri.
Saya bukan penari hebat, tapi saya menikmati menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik.
Saya bukan pemain terompet ulung, tapi saya menikmati menggambarkan suasana lewat musik.
Saya bukan desainer profesional, tapi saya menikmati merancang tampilan visual. Some people say it's "jack of all trades, master of none". Back then, I pitied myself, found it's rather sad, to master nothing.
But lately, I come to term with it, that it's okay not to be specialist.
Kemarin, saat sedang sesi "1 jam lebih dekat", Adam --teman PM di daerah Longkali-- berkomentar "gw merasa, ketimbang OPP, yang lebih penting itu justru setelahnya. Mau ngapain? Mau jadi apa? Itu yang harusnya dipikirin"
Sedikit cerita. Jadi, di sisa waktu menuju akhir penempatan, kami menyelipkan agenda agak ambisius yaitu penampilan tari di kegiatan Orientasi Pasca Penugasan (OPP).
Nah, kami ingin tampil sebai…

Gila Sejenak

Rasanya jadi guru itu...
Capek. Sumpah! Saya kira saya bisa dengan pedenya bilang saya tidak gampang marah. Ternyata tidak juga. Tiap hari menghadapi puluhan anak yang ulahnya macam-macam kadang membuat saya bersumbu pendek. 
Saya pernah meledak hanya karena ketika diberi instruksi "satu kelompok ber-5 atau 6", anak-anak tidak menyimak dan masih saja bertanya jutaan kali "bu, ber-8 boleh kah?" "Bu, ber-3 aja je ta ndak papa?" Bu... bu... bu... ISSSH!
Saya keceplosan menyahut gemas "kamu punya telinga tidak?! Tadi dengar apa kata ibu?! LI-MA SAM-PAI E-NAM. Bisa berhitung tidak?! Hitung sudah dengan jarimu!" Anak-anak tertunduk. Mengkeret. Setelah itu saya menyesal. Meskipun jengkel luar biasa, tidak semestinya saya berkata sekasar itu.
Pernah juga saya kelepasan meneriaki anak di depan umum. Petang itu, di perjalanan pulang dari pantai, salah satu anak uangnya hilang. Kami balik lagi menelusuri jembatan kayu untuk mencari.
Ternyata air sudah pas…

Izin Semesta

Hari-hari kami selama 9 bulan di penempatan ini sungguh penuh warna dan cerita.
Karena letak geografis yang berjauhan, bersama 9 'rekan senasib sepenanggungan' lainnya, kami membagi tim menjadi 3 'geng' untuk memudahkan koordinasi. 'Geng Longkali' yang jauh dari kabupaten namun dekat dengan Balikpapan, 'Geng Kota' yang dekat kabupaten, dan 'Geng Pesisir' yang jauh dari mana-mana.
Saya masuk dalam 'Geng Pesisir' bersama 2 'Pangeran Pesisir', Fajri dan Raden. Akses transportasi di sini terbatas. Ada waktu-waktu tertentu di mana air laut surut sehingga kapal masih berlabuh di dermaga. Kalau sudah begitu, apa boleh buat, kami harus menunggu air naik dulu. Bisa sampai berjam-jam.
Belum lagi taksi (semacam angkot) menuju dermaga yang baru mau berangkat kalau penumpang sudah penuh. Kalau beruntung, bisa langsung berangkat. Kalau taksi masih kosong, mau tak mau menunggu. Bisa sampai berjam-jam juga.
Sebenarnya saya lebih beruntung karen…

What's Next?

3 bulan lagi saya kembali ke 'habitat'. What's next? Hmm.. saya masih belum tahu mau jadi apa -sejujurnya masih ada sisa obsesi terpendam jadi copywriter sih-, tapi saya sudah tahu mau saya apa.

Kadang, saya suka cengar-cengir sendiri membayangkan what's next.

Salah satu yang mau saya lakukan adalah pergi ke Santorini, sebuah pulau kecil yang cantik di Yunani, tahun depan. Bagaimana caranya? Saya pun nggak tahu, haha. Selain itu, saya mau jadi relawan sebuah penangkaran hewan liar di Manado, namanya Tasikoki.

Saya juga berpikir untuk mendaftar Forum Indonesia Muda, ikut Kelas Inspirasi, terlibat dalam Akademi Berbagi, kontribusi tulisan di buletin alumni MBUI Tune In dan mengaktifkan kembali Estafet Buku. Program pertukaran budaya SSEYAP (The Ship for Southeast Asian Youth Program) kayanya seru juga. Pesiar ke Jepang meeen!

Terus, kalau ada kesempatan, saya masih mau jadi volunteer Europe on Screen, Citra Pariwara, dan lainnya. Tapi kalau volunteer-an mulu, duit dari m…

Di Sini

Di sini, berinteraksi dengan diri sendiri, saya menjadi individu yang lebih tenang, lebih mendengarkan, lebih hati-hati bicara, dan lebih peka.
Di sini, berinteraksi dengan anak-anak, saya baru sadar saya sudah dewasa. Dunia anak sungguh berwarna. Tawa renyah mereka menjadi sumber kebahagiaan saya.
Di sini, berinteraksi dengan warga, mata saya terbuka. Masalah sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan hal rumit lainnya ada di mana-mana. Saya banyak tidak tahu apa-apa.
Di sini, berinteraksi dengan teman-teman sepenempatan, saya tertohok oleh komentar "di sini, yang kita urus itu manusia".
Di sini, alih-alih mengajar, yang justru banyak belajar itu saya.

Mereka Ini

Image
Mereka ini. Yang selalu ada. Ketika salah satu anggotanya down, semua sepakat meluangkan waktu bertemu, menempuh perjalanan panjang dari ujung ke ujung untuk sesi "1 jam lebih dekat", sesi team bonding yang meyenangkan.
Mereka ini. Yang selalu menjaga. Yang punya kebiasaan mengabari ketika sudah kembali ke desa masing-masing. Yang ketika lo sakit di ujung pulau, telfon nggak berhenti berdering, SMS pun terus masuk, menanyakan kabar, apa yang bisa dibantu, bahkan muncul tiba-tiba untuk mengecek keadaan dan membawa obat-obatan.
Mereka ini. Yang selalu perhatian. Ketika tertidur di ruang ber-AC dan nggak berselimut, esok paginya sudah ada jaket ataupun sarung bertengger hangat di badan lo. Ketika lo demam kemudian tertidur, lalu terbangun dengan kompres di kening. Ketika lo terlihat murung dan diberi 'hiburan' sebungkus cokelat dan seulas senyum.
Mereka ini. Yang selalu membuat perayaan ulang tahun sederhana terasa spesial. Yang rela menempuh jalan berbatu, berlubang, …

Self Assessment

Saya selalu keringat dingin ketika disuruh 'jual diri'. Misalnya saat wawancara kerja, saat ditanya tentang kelebihan, saat berusaha meyakinkan orang lain akan kemampuan saya, dan sebagainya.
Bukannya tidak percaya diri (iya sih kadang), tapi lebih kepada saya bingung harus menjawab apa.
Waktu pelatihan Pengajar Muda, salah satu tugas kami adalah membuat self assessment. Penilaian untuk diri sendiri. Saya insecure level bok**-flush-rusak.
Ketika itu, saya suka 'menggelembung' buat cari ilham untuk mengulik stok STAR (situation, task, action, result) demi self assessment. Dan itu mengundang tatapan "Del, lo lagi ngapain sendirian bengong?" dari teman-teman.
Sekarang, di penempatan, tugas itu diberikan lagi, sebagai tools untuk refleksi diri, melihat dimensi kepemimpinan yang berkembang selama di sini.
Makin insecure level bok**-flush-rusak-air-mati. Damn.
Branding Indonesia Mengajar di daerah penempatan sangat kuat. Mungkin karena memang terbukti, para Pengaj…

So Little Time So Much to Do (part 2)

"Tidak ada kata tidak ada waktu. Yang ada hanya skala prioritas" Prioritas. Hmm baiklah. Selama libur lebaran ini, waktu saya banyak dihabiskan bersama keluarga. Apakah ini prioritas saya? Tentu saja! Tapi... izinkan saya berkeluh-kesah, daripada balas marah-marah. Hah *tarik empat buang empat*
Jadi, saya punya mama yang suka memerintah dan super tidak sabaran. Harus dikerjakan detik itu juga walau perang dunia sekali pun. Ini menyebalkan, karena kalau tidak dituruti, pasti mama marah-marah.
Yaaa.. pun dituruti tetap marah-marah sih. Seharusnya saya terbiasa ya, tapi siapa sih yang tidak kesal kalau semua hal jadi masalah dan bikin kita jadi serba salah? Hah *tarik sejuta buang dua ribu juta*
Saya dan adik-adik saya sering ngomel-ngomel di belakang, karena kalau di depan mama pasti tambah marah. Kami cuma tak mau tambah masalah.
Kami tahu waktu kapan harus santai dan kapan harus mengerjakan sesuatu. Toh apa yang disuruh selalu selesai, kan? Tapi cetakan mama itu seperti dik…

So Little Time So Much to Do (part 1)

"So little time so much to do" Katanya, itu perihal manajemen waktu. Kalau memang begitu, berarti manajemen waktu saya payah sekali.

Saya sudah mempersiapkan apa-apa yang mau saya lakukan selama cuti lebaran dari sebulan sebelumnya. Karena saya anaknya perfeksionis (catatan: untuk beberapa hal), list itu terus diperbaharui sampai saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta.

Bukan cuma itu, saya bahkan membuat mind map untuk memetakan liburan super panjang, dari libur sekolah, libur puasa, sampai libur lebaran. Kira-kira, 40 hari. Lama sekali ya.

Tidak selama itu, ternyata.

Sebagai anak yang dasarnya spontan, dinamis, dan random, saya sering kesal sendiri saat saya mati-matian berusaha merancang segala sesuatunya tapi saya sendiri yang melanggarnya.

"Tau gitu nggak usah niat-niat amat deh ngerancang ini-itu!" Saya sering misuh-misuh sendiri ketika to-do list saya berantakan. Padahal kadang memang salah saya juga yang suka impulsif berubah haluan karena ada yan…

Enam Purnama

Tanggal 21 Juli kemarin genap sudah 6 bulan masa penempatan kami, Pengajar Muda 9.
Terasa lama sekali, sekaligus seperti lari. Katanya, tandanya itu menikmati.
Di tanah Borneo ini, rasa kebangsaan dan nasionalisme dipupuk. Mungkin karena kami sudah tercuci otaknya untuk lebih cinta negeri. Haha. Buat saya sih tak ada masalah. Dengan senang hati malah.
Saya masih ingat masa pelatihan di mana lagu-lagu nasional terasa menggetarkan untuk dinyanyikan.
Terakhir kali saya hampir menangis adalah ketika menyanyikan lagu Hymne Almamater di Thailand, dalam kompetisi Marching Band Internasional 3 tahun yang lalu. Setelahnya, baru saat pelatihan.
Dalam pelatihan, saya hampir menangis berkali-kali. Misalnya saat pengumuman penempatan. Juga saat Malam Seni dan menyanyi lagu Tanah Air dalam temaram lilin. Ah, banyak lah pokoknya.
Tapi momen paling magis adalah saat pelantikan ketika saya menjadi dirigen untuk menyanyikan beberapa lagu nasional.
Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, beberapa kepala …

Mudik

Dari dulu, saya ngidam mudik. Saya penasaran rasanya punya kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.
Saya lama hidup di kota. Bahkan bisa dibilang saya seumur hidup tinggal di kota. Ibukota, tepatnya. Sebelum lebaran pergi ke mall, setelah lebaran ke mall lagi. Tidak setiap tahun memang, tapi seringnya begitu.
Saya suka sirik dengan teman-teman perantau yang sibuk mencari tiket mudik, update perjalanan mereka menuju pulang, dan melihat foto senyum cerah mereka menginjakkan kampung halamannya lagi. Membayar rindu.
Sebahagia itu ya, rasanya mudik?
Sekarang, bisa dibilang saya sedang merantau. Makanya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah lebaran. Saya akhirnya mudik untuk pertama kalinya. Sendirian pula! Yeay!
Lalu, apa rasanya mudik?
Sebenarnya saya punya pilihan untuk tetap di desa, menabung rindu, dan merasakan hype lebaran di tanah Borneo dengan keluarga baru. Seru, saya tahu. Pasti menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan di penempatan.
Tapi saya memilih pulan…

"Inget Kawin"

"Ah seruuu! Banyak yang mau gw lakuin abis ini"
"Inget kawin"
Saya dan seorang teman sedang bercakap membahas masa depan. Sebagai seorang tukang khayal kelas salmon yang banyak maunya, saya memang harus selalu diingatkan agar realistis dan tidak terlalu kemaruk.
Namun saat itu, saya keberatan. Apa hidup ini cuma seputar cinta, jodoh, dan kawin? Apa semua keputusan harus berdasarkan pertimbangan perkawinan? Eh, pernikahan?
Tadinya alih-alih kawin, saya lebih sreg dengan kata nikah karena konotasinya beda, tapi yasudahlah. Sama saja sebetulnya.
Saya pernah berdiskusi panjang lebar tinggi dengan seorang teman sampai larut malam menjelang subuh (itu pun berhenti karena baru sadar harus sahur), hanya untuk sepakat bahwa manusia cenderung berpikir lawan kata. Premis 'jika-maka'.
Jika kontra legalisasi perkawinan gay maka homophobic. Jika pro maka gay. Jika mengucapkan selamat hari raya maka kafir. Jika tidak maka fanatik.
Lantas, jika ingin sekolah lagi atau men…

Obrolan Motor

Obrolan motor. Ketika pembonceng dan yang dibonceng bercakap-cakap sepanjang perjalanan.
Obrolan motor hanya melibatkan 2 orang (kecuali bonceng 3). Karenanya, obrolan motor bisa mengarah pada topik-topik yang cukup personal atau penuh perenungan.
Biasanya begitu, bagi saya. Kalau tidak merenung ya mengobrol. Karena tak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan.
Di suatu obrolan motor di siang bolong, seorang teman berceletuk, "Nikmat itu singkat ya"
Saya terbahak. Kami baru saja melewati jalan berbatu yang cukup membuat badan seperti bermain jungkat-jungkit, lalu jalanan aspal mulus sejenak, kemudian jalan berbatu lagi.
"Seenggaknya masih bisa ngerasain nikmat" sahut saya.
Kemudian hening. Lalu kami tertawa geli, menyadari bahwa memang kadang nikmat itu tidak seberapa dibanding perjuangan mencapainya.
Seperti aspal halus yang menyenangkan namun hanya seperdelapan jalan menuju rumah teman saya, untuk kemudian singgah lagi di rumah teman yang lain dengan jalanan yang t…

Kunang-kunang

Hai Tuan,

Apakah kau suka kunang-kunang?

Pada malam ketika aku berkunjung ke desa seorang teman, aku melihat kunang-kunang bergantian berkerlip seperti lampu natal yang bergantung di pohon. Tidak banyak, mungkin karena sedang terang bulan, jelas temanku.
Tak apa. Aku tetap terpesona. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kunang-kunang. Kombinasi kunang-kunang dan cantiknya langit malam itu sudah lebih cukup bagiku.

Anak-anak di sana menangkapkan kunang-kunang untukku. Kuminta mereka melepas lagi. Kunang-kunang semestinya hidup bebas. Kerlipnya akan redup bahkan mati jika dalam genggaman.

Hai Tuan,

Apakah di tempatmu ada kunang-kunang?

Kalau ada, bolehkah aku bertamu? Barangkali, kita bisa terpesona bersama. Kalaupun tidak ada, barangkali, aku bisa terpesona olehmu.

Salam,
Nona pengagum kunang-kunang. Dan kamu

Pilihan

"Kamu mau nggak sama X?"

"Nggak boleh."

"Kalau sama Y, mau nggak?"

"Nggak mau."

"NAH!"

Mereka tergelak. Saya mencerna sejenak lalu mengangguk paham, kemudian ikut tergelak. Baru sadar ada perbedaan yang cukup signifikan antara dua jawaban yang terlontar spontan tadi.

Tidak boleh.
Bisa jadi mau.

Tidak mau.
Bisa jadi boleh.

Mau.
Tapi tidak boleh.

Boleh.
Tapi tidak mau.

"Kalau begitu, kamu mau?"

"Hmm.. bisa jadi."

"Lalu, kenapa mau?"

Saya terdiam. Lama. Berpikir. Mengingat-ingat. Bingung. Benar-benar bingung. Saya tidak punya alasan. Sejujur-jujurnya, sekeras apa pun saya mencari, tidak ketemu. Rasanya tidak ada jawaban yang pas. Seketika, saya tersentak.

"Sepertinya yang tepat bukan 'mau karena...' tapi 'mau walaupun...'"

Lalu hening. Yang memberi ruang untuk helaan napas dan tatapan gagal paham mereka, diiringi desisan gemas.

"Saya rasa kalian jodoh." Salah satu dari mere…

Kualat

Saya kualat. Sepertinya begitu.
Mama saya bekerja di departemen transmigrasi, menjadi peneliti dan memberikan penyuluhan ke daerah-daerah. Hal itu membuat beliau sering tugas dinas keliling Indonesia.
Sepulang dari dinas, beliau pasti membawa oleh-oleh cerita perjalanan serta makanan/barang khas daerah.
Dulu, saya tidak tertarik. Saya tidak mengerti batik. Saya tidak peduli dodol duren berasal dari mana, yang jelas, rasanya enak. Saya masa bodoh apakah tas yang dibelikan terbuat dari kulit buaya, hiu, gajah, atau manusia. Yang saya tahu, tasnya lucu. Saya menyahut seadanya ketika mama saya dengan bangganya bercerita beliau berfoto dengan petinggi daerah. Saya tidak kenal, so what?
Saya beranggapan bahwa yang keren itu papa saya. Yang berfoto di depan Colloseum. Ber-safari ria di Afrika Selatan. Melihat tulip bermekaran di Belanda. Dan sebagainya. Intinya, papa saya keren karena jalan-jalannya keluar negeri dan cap di paspornya banyak sekali.
Iya, secetek itu. Dulu.
Sekarang, setelah 6 bulan…

Check Point Terakhir

Saya suka istilah. Saya suka ketika panjangnya uraian, definisi rumit yang menggambarkan sesuatu, dapat disederhanakan menjadi satu atau beberapa kata saja.
Istilah "Petrichor" misalnya, merupakan aroma tanah segar yang menguar setelah disiram hujan. Atau "jatuh cinta", rasa menyenangkan yang sama seperti yang diciptakan Petrichor. Begitulah. Saya suka yang sederhana. Sekaligus begitu rumit.
Kali ini, saya sedang mengalami suatu keadaan yang hmm.. bagaimana menjelaskannya? Bayangkan sebuah permainan petualangan yang terdiri dari beberapa level. Tiap level, ada titik-titik check point yang merupakan titik aman, sehingga kalau nyawa berkurang, pemain tidak perlu mengulang dari awal.
Saya merasa sedang berada di "check point terakhir" di mana saya belum tamat 1 level, tapi saya tahu sebentar lagi saya akan naik level. Dari mana saya tahu? Entahlah. Tahu begitu saja.
Saya ingat, saya pernah bermain game di mana "check point terakhir" nya adalah melawan …

Jerawat

Muka gw sekarang dekil. Dulu juga sih. Tapi ini ditambah jerawat. Parah. Kesel sampai bikin insecure lihat cermin. Yang menyebalkan, di ruang guru, depan pintu masuk tempat parkir sepatu, digantung sebuah cermin seukuran badan yang membuat gw terpaksa melihat pantulan seorang gadis (anggap saja) belia mematung meratap titik-titik merah yang ibarat pahlawan. Mati satu tumbuh seribu. ARGH!
Dulu gw pernah juga jerawatan karena stres, sering begadang, dan emang jorok males cuci muka. Nah sekarang, stres sih kadang, tapi cepet pulih. Tidur gw cukup. Cuci muka rajin. APANYA YANG SALAH?! Ngeselin.
Kebetulan, seminggu yang lalu gw kena campak (kalau di desa disebutnya 'kerumutan'). Muka berjerawat, mata merah, dan ada bintik-bintik campak. Sungguh kombinasi yang ciamik.
Saat itu, gw akhirnya pasrah bercerita ke orang rumah, berharap dapat pencerahan karena di desa cuma dikasih air doa dan air kelapa, serta susu putih. Detoks yang bikin kembung.
Walhasil, dikirimlah satu paket obat-obatan…

On Being 25

I'll be 26 in two days.

Geez, I'm getting older. It still feels like my age stops at 19, haha. So, how is it, being 25? Well, nothing changes much actually. I'm still me, only with different age. Closer to 30 than 17.

Anyway, have a wonderful life in this whole new world, Del :D

Gagal Keren

Sabtu kemarin, di sekolah gw diadakan acara pisah sambut kepala sekolah, semacam serah terima jabatan dari kepala sekolah yang lama pada yang baru.

Acara tersebut turut mengundang kepala UPTD, pengawas, komite, dinas pendidikan, polisi dan aparat militer setempat, kepala desa, dan juga tokoh-tokoh masyarakat. Acara penting yang dihadiri banyak orang penting.

2 jam sebelum acara dimulai, susunan acara belum juga dibuat. Guru-guru belum banyak yang datang. Gemas, gw mendatangi guru yang menjadi penanggung jawab acara pisah sambut. Sebut saja Pak X.

"Pak, susunan acaranya bagaimana? Biar kita enak nyiapin anak-anak yang akan tampil," gw mulai nggak sabar.

"Ini makanya kita susun bareng-bareng sama Bu Della," kata Pak X.

Yaaak! Jebakan Betmen pertama. Walhasil, jadilah gw dan Pak X membuat susunan acara. Yaudalah saling bantu, biar cepet kelar. Pikir gw.

Sejam pun berlalu. Susunan acara masih belum selesai, sementara kepala UPTD dan beberapa stakeholder dari kabupaten …

Tidak Sendirian

Seharusnya gw banyak mencatat. Perjalanan luar biasa ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Tapi........
Ah sudahlah. Nanti malah terlalu banyak alasan yang dibuat-buat. Yang jelas, setelah sebulan proses adaptasi, gw mulai menikmati kehidupan di sini.
Sepekan kemarin, gw bertemu teman-teman sepenempatan di Paser. Selalu menyenangkan bertemu mereka. Bertukar cerita, menggila bersama, tertawa lepas karena hal yang sebenarnya super garing, daaan sebagainya.
Kalau sedang berkumpul seperti ini, kendala seperti susah sinyal dan listrik, kehidupan masyarakat yang seperti di gotham city, anak murid yang 'aktif dan ringan tangan', 'tato' memar dan luka akibat terjatuh saat berkendara di jalan lumpur yang super licin, kulit yang semakin 'bertekstur' karena air yang keruh dan gigitan serangga, dsb terdengar seperti kisah petualangan yang seru.
Iya, seru saat diceritakan memang. Saat dijalankan? Yaaa.. jalani saja, hahaha. Berat pasti. Tidak mudah jelas. Seorang teman bahk…

A Whole New World

"A whole new world / A new fantastic point of view / No one to tell us no or where to go / Or say we're only dreaming"

Dear 2015,
Let's make a new adventure in this whole new world!