Sunday, February 8, 2015

Tidak Sendirian

0 comments
Seharusnya gw banyak mencatat. Perjalanan luar biasa ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Tapi........

Ah sudahlah. Nanti malah terlalu banyak alasan yang dibuat-buat. Yang jelas, setelah sebulan proses adaptasi, gw mulai menikmati kehidupan di sini.

Sepekan kemarin, gw bertemu teman-teman sepenempatan di Paser. Selalu menyenangkan bertemu mereka. Bertukar cerita, menggila bersama, tertawa lepas karena hal yang sebenarnya super garing, daaan sebagainya.

Kalau sedang berkumpul seperti ini, kendala seperti susah sinyal dan listrik, kehidupan masyarakat yang seperti di gotham city, anak murid yang 'aktif dan ringan tangan', 'tato' memar dan luka akibat terjatuh saat berkendara di jalan lumpur yang super licin, kulit yang semakin 'bertekstur' karena air yang keruh dan gigitan serangga, dsb terdengar seperti kisah petualangan yang seru.

Iya, seru saat diceritakan memang. Saat dijalankan? Yaaa.. jalani saja, hahaha. Berat pasti. Tidak mudah jelas. Seorang teman bahkan pernah terheran-heran.

"Kok ada ya orang yang mau tinggal di sini?"

Saat itu, gw tertawa geli. Membayangkan ada orang yang bertanya balik:

"Kok kalian mau-maunya ke sini?"

Meskipun demikian, ada perasaan kuat yang membuat gw selalu percaya bahwa masih ada harapan. Masih banyaaak potensi di desa yang sangat mungkin dikembangkan.

Di suatu hari, kami membuat janji untuk bertemu dengan salah satu pemangku kepentingan di Paser. Anggap saja Bapak X. Kami mengungkapkan tantangan yang kami hadapi di desa masing-masing, yang bahkan mengancam jiwa.

Setelah itu, kami banyak mengobrol santai dan Bapak X mengemukakan kekhawatiran beliau akan masa depan Indonesia. Alih-alih ikut khawatir, gw malah tersenyum dan berkata:

"Setidaknya kita nggak sendirian ya pak"

Di tengah masalah ini-itu yang rasanya ingin diselesaikan semua namun bingung harus memulai dari mana, gw belum pernah merasa seoptimis ini, yakin sekali bahwa kami tidak bergerak sendirian.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Banyak bukti perubahan berkat keterlibatan banyak pihak.

Perubahan itu terlihat dari upacara bendera yang mulai rutin diadakan tiap hari Senin di sekolah setelah sekian lama tidak ada upacara, guru-guru yang sekarang sudah tidak lagi menggunakan hukuman fisik seperti memukul, murid-murid yang sudah berani mengikuti lomba dan tampil di depan umum, daaan masih banyak lagi.

Gw ingat kata-kata Pak Hikmat tentang cita-cita bersama. Dan selayaknya semua hal yang menjadi milik bersama, tentunya tidak bisa diurus sendirian.