Sunday, April 12, 2015

Gagal Keren

1 comments
Sabtu kemarin, di sekolah gw diadakan acara pisah sambut kepala sekolah, semacam serah terima jabatan dari kepala sekolah yang lama pada yang baru.

Acara tersebut turut mengundang kepala UPTD, pengawas, komite, dinas pendidikan, polisi dan aparat militer setempat, kepala desa, dan juga tokoh-tokoh masyarakat. Acara penting yang dihadiri banyak orang penting.

2 jam sebelum acara dimulai, susunan acara belum juga dibuat. Guru-guru belum banyak yang datang. Gemas, gw mendatangi guru yang menjadi penanggung jawab acara pisah sambut. Sebut saja Pak X.

"Pak, susunan acaranya bagaimana? Biar kita enak nyiapin anak-anak yang akan tampil," gw mulai nggak sabar.

"Ini makanya kita susun bareng-bareng sama Bu Della," kata Pak X.

Yaaak! Jebakan Betmen pertama. Walhasil, jadilah gw dan Pak X membuat susunan acara. Yaudalah saling bantu, biar cepet kelar. Pikir gw.

Sejam pun berlalu. Susunan acara masih belum selesai, sementara kepala UPTD dan beberapa stakeholder dari kabupaten datang lebih cepat dari jadwal undangan. Baiklah, gw pun mengajak ngobrol para stakeholder untuk mengisi waktu. Pak X tetap berkutat dengan detail susunan acara.

Beberapa menit sebelum pembukaan, Pak X mengejutkan gw. "Bu Della, nanti setelah sambutan dari dewan guru dengan saya sebagai perwakilan, Bu Della mohon lanjutkan ya sebagai perwakilan dari Indonesia Mengajar"

What........?!

Gw menolak dengan halus. "Ndak usah, Pak. Ndak papa. Saya kan bagian dari guru. Sudah cukup perwakilan dari Bapak saja"

"Biar masyarakat lebih paham juga, Bu. Kebetulan Ibu juga pakai rompi Indonesia Mengajar, jadi bisa sekalian menjelaskan. Sudah saya masukkan di susunan acara"

Yaaak! Jebakan Betmen kedua. Demyu rompi! Harusnya gw tinggal aja di rumah, nggak usah dibawa ke sekolah. Tapi yaudalah. Udah terlanjur basah, berenang sekalian.

'Dikerjain' suruh kasih sambutan dadakan begini, kontan gw panik. Belum ada persiapan meeen! Terjun bebas ini namanya.

Panas dingin rasanya menunggu detik-detik 'eksekusi'. Gelisah, berharap tiba-tiba ada dinosaurus tentakel seribu lewat, orang-orang hilang tersedot tentakel seribu, acara bubar, dan gw nggak jadi kasih sambutan. HORE!!

Tapi kenyataan memang seperti pare. Pahit. Show must go on. "If you can't you must. If you must you can" Mantera NAC ini gw gumamkan terus dalam hati.

Gw mengatur napas dan memulai dengan sebuah cerita. Tentang batang pohon yang tergeletak di tengah jalan dan membuat kemacetan. Kendaraan tidak bisa lewat. Orang-orang mulai kesal, memaki sambil membunyikan klakson.

Hujan pun turun. Amarah semakin menjadi-jadi. Kemudian datanglah seorang anak yang bergerak, berusaha mendorong batang pohon tersebut. Tentu saja batang pohon tidak bergerak sama sekali.

Kemudian bala bantuan datang. Teman-teman anak tersebut beramai-ramai membantu mendorong. Orang-orang di dalam mobil mulai malu. Mereka pun ikut mendorong. Para pejalan kaki pun. Akhirnya, batang pohon tersebut berhasil dipindahkan.

Cerita sederhana sebenarnya. Batang pohon tersebut dianalogikan sebagai kebodohan, dan selayaknya sebatang pohon yang super berat, tentunya tidak bisa dipindahkan sendirian.

Dengan bekerjasama, gotong royong di bidang pendidikan, barulah misi besar memberantas kebodohan dapat terwujud. Lalu gw pun mengutip sedikit kata-kata pak Menteri Anies Baswedan, "mendidik adalah tanggung jawab kaum terdidik".

Sampai sini alhamdulillah masih lancar. Tetapi selanjutnya, saat mulai mengucapkan maaf dan terima kasih, gw terbawa suasana haru. Kepala sekolah gw menangis. Damn. Buyarlah semua kata-kata keren yang sudah gw susun di kepala.

Singkat cerita, sambutan ala ala gw pun selesai. Fyuh! Seluruh badan serasa bebek goreng tulang lunak. Lemes. GROGI PARAH MEN ITU BANYAK PETINGGI DAERAH! All eyes on me, staring like millions Dementor. Tega pisan memang gw disuruh ngoceh tanpa persiapan.

Well, sejujurnya gw merasa keren sih bisa cukup lancar 'mendongeng' di depan puluhan audiens yang hadir. Yaaa.. kasih apresiasi untuk diri sendiri boleh lah ya.

Setelah acara selesai, Pak X mengacungkan jempol pada gw. "Keren, Bu Della". Guru lainnya pun menambahkan "Iya, Del. Luar biasa loh!" Hehe. Gw pun tersenyum salting dan membalas "Makasih loh, Pak, saya dikerjain suruh kasih sambutan"

Intinya, perasaan 'gw keren juga ya ternyata' memenuhi tiap eritrosit, leukosit, dan trombosit gw saat itu.

Malam harinya, gw menghadiri acara kumpul bareng di rumah Pak Kepsek. Bakar-bakar ikan, minum kelapa, karaoke ala ala, dan seseruan lainnya. Di tengah obrolan, seorang warga berceletuk.

"Wah, Ibu yang tadi cerita tentang batang pohon pisang ya? Awalnya saya pikir SPG rokok mau promosi iklan yang gotong royong, asyiknya rame-rame. Ternyata Bu Guru lagi mendongeng. Lucu juga ya, kayak anak TK"

Oke. Gw gagal keren :|