Sunday, June 28, 2015

Kualat

2 comments
Saya kualat. Sepertinya begitu.

Mama saya bekerja di departemen transmigrasi, menjadi peneliti dan memberikan penyuluhan ke daerah-daerah. Hal itu membuat beliau sering tugas dinas keliling Indonesia.

Sepulang dari dinas, beliau pasti membawa oleh-oleh cerita perjalanan serta makanan/barang khas daerah.

Dulu, saya tidak tertarik. Saya tidak mengerti batik. Saya tidak peduli dodol duren berasal dari mana, yang jelas, rasanya enak. Saya masa bodoh apakah tas yang dibelikan terbuat dari kulit buaya, hiu, gajah, atau manusia. Yang saya tahu, tasnya lucu. Saya menyahut seadanya ketika mama saya dengan bangganya bercerita beliau berfoto dengan petinggi daerah. Saya tidak kenal, so what?

Saya beranggapan bahwa yang keren itu papa saya. Yang berfoto di depan Colloseum. Ber-safari ria di Afrika Selatan. Melihat tulip bermekaran di Belanda. Dan sebagainya. Intinya, papa saya keren karena jalan-jalannya keluar negeri dan cap di paspornya banyak sekali.

Iya, secetek itu. Dulu.

Sekarang, setelah 6 bulan merantau di pedalaman Kalimantan Timur, saya mulai memahami peribahasa "tak kenal maka tak sayang". Saya mulai belajar kembali tentang sejarah dan budaya Indonesia. Mulai mengenali corak kain nusantara. Mulai peduli makanan khas daerah. Mulai memperhatikan siapa berasal dari suku mana. Dan sebagainya.

Saya bahkan berkhayal menjadi travel writer setelah penugasan Pengajar Muda, melakukan perjalanan untuk lebih mengenal Indonesia, mencintai tanah air.

Negeri ini terlalu luar biasa untuk sekedar tahu dari televisi atau buku. Semakin banyak kaki melangkah, rasanya saya semakin haus menjelajah.

Ah ya, sepertinya saya memang benar-benar kualat. Mungkin, saat saya menjadi orang tua nantinya, saya juga akan seperti mama, yang dengan mata berbinar-binar bercerita tentang nusantara.

Well, mungkin bedanya, kalau mama saya menuangkannya dalam bentuk penelitian dan penyuluhan, saya melalui tulisan.

Karena ingatan mudah lupa, sementara goresan tinta menolak lupa.

Tuesday, June 2, 2015

Check Point Terakhir

3 comments
Saya suka istilah. Saya suka ketika panjangnya uraian, definisi rumit yang menggambarkan sesuatu, dapat disederhanakan menjadi satu atau beberapa kata saja.

Istilah "Petrichor" misalnya, merupakan aroma tanah segar yang menguar setelah disiram hujan. Atau "jatuh cinta", rasa menyenangkan yang sama seperti yang diciptakan Petrichor. Begitulah. Saya suka yang sederhana. Sekaligus begitu rumit.

Kali ini, saya sedang mengalami suatu keadaan yang hmm.. bagaimana menjelaskannya? Bayangkan sebuah permainan petualangan yang terdiri dari beberapa level. Tiap level, ada titik-titik check point yang merupakan titik aman, sehingga kalau nyawa berkurang, pemain tidak perlu mengulang dari awal.

Saya merasa sedang berada di "check point terakhir" di mana saya belum tamat 1 level, tapi saya tahu sebentar lagi saya akan naik level. Dari mana saya tahu? Entahlah. Tahu begitu saja.

Saya ingat, saya pernah bermain game di mana "check point terakhir" nya adalah melawan Ratu Musuh. Tidak selemah musuh biasa, tapi tidak sekuat sang Raja Penguasa. Game over. Menyebalkan sekali. Padahal tinggal sedikit lagi.

Tapi dalam hidup yang sesungguhnya, di mana nyawa hanya 1 bukan 3 apalagi 9, manusia tidak serapuh tersenggol duri naga senjata Ratu Musuh kemudian game over.

Manusia bertambah kuat dan berkembang sesuai porsinya. Sesuai pengalaman yang dirasakannya. Sesuai pemaknaan yang diresapinya. Sesuai levelnya.

Sebetulnya alih-alih memakai istilah "check point terakhir", saya bisa saja menggunakan "titik terendah". Tapi rendah yang seperti apa? Dari selisih antara titik paling atas dan paling bawah kah? Atau hanya dari titik paling bawah saja? Lalu, selama berapa periode? Kurang adil rasanya kalau dari lahir. Karena seperti yang tadi saya sebutkan, manusia berkembang sesuai levelnya.

Ah ya, saya kelupaan sesuatu. Karena kesukaan saya akan istilah, apabila saya tidak berhasil menemukan sebuah istilah yang dapat mengilustrasikan makna dengan tepat atau sudah ada istilahnya (seperti "titik terendah" tadi) tapi kurang sreg, saya membuatnya sendiri.

Dan menurut saya, istilah "check point terakhir" terdengar lebih adil, manusiawi, masuk akal, dan menyimpan sejuta harapan.

Yup. Harapan. Pak Rhenald Kasali pernah berkata "jangan memulai sesuatu dari hambatan. Mulailah dari harapan" setuju sekali. Karena kalau tidak, ketika menghadapi "check point terakhir", mungkin yang akan terlintas adalah:

"Alaaah paling sebentar lagi game over"

Oh well, I just want this to end with no more regret. Anyway, if the game is over, we can still always start over, no?