Posts

Showing posts from June, 2015

Kualat

Saya kualat. Sepertinya begitu.
Mama saya bekerja di departemen transmigrasi, menjadi peneliti dan memberikan penyuluhan ke daerah-daerah. Hal itu membuat beliau sering tugas dinas keliling Indonesia.
Sepulang dari dinas, beliau pasti membawa oleh-oleh cerita perjalanan serta makanan/barang khas daerah.
Dulu, saya tidak tertarik. Saya tidak mengerti batik. Saya tidak peduli dodol duren berasal dari mana, yang jelas, rasanya enak. Saya masa bodoh apakah tas yang dibelikan terbuat dari kulit buaya, hiu, gajah, atau manusia. Yang saya tahu, tasnya lucu. Saya menyahut seadanya ketika mama saya dengan bangganya bercerita beliau berfoto dengan petinggi daerah. Saya tidak kenal, so what?
Saya beranggapan bahwa yang keren itu papa saya. Yang berfoto di depan Colloseum. Ber-safari ria di Afrika Selatan. Melihat tulip bermekaran di Belanda. Dan sebagainya. Intinya, papa saya keren karena jalan-jalannya keluar negeri dan cap di paspornya banyak sekali.
Iya, secetek itu. Dulu.
Sekarang, setelah 6 bulan…

Check Point Terakhir

Saya suka istilah. Saya suka ketika panjangnya uraian, definisi rumit yang menggambarkan sesuatu, dapat disederhanakan menjadi satu atau beberapa kata saja.
Istilah "Petrichor" misalnya, merupakan aroma tanah segar yang menguar setelah disiram hujan. Atau "jatuh cinta", rasa menyenangkan yang sama seperti yang diciptakan Petrichor. Begitulah. Saya suka yang sederhana. Sekaligus begitu rumit.
Kali ini, saya sedang mengalami suatu keadaan yang hmm.. bagaimana menjelaskannya? Bayangkan sebuah permainan petualangan yang terdiri dari beberapa level. Tiap level, ada titik-titik check point yang merupakan titik aman, sehingga kalau nyawa berkurang, pemain tidak perlu mengulang dari awal.
Saya merasa sedang berada di "check point terakhir" di mana saya belum tamat 1 level, tapi saya tahu sebentar lagi saya akan naik level. Dari mana saya tahu? Entahlah. Tahu begitu saja.
Saya ingat, saya pernah bermain game di mana "check point terakhir" nya adalah melawan …