Kualat

Saya kualat. Sepertinya begitu.

Mama saya bekerja di departemen transmigrasi, menjadi peneliti dan memberikan penyuluhan ke daerah-daerah. Hal itu membuat beliau sering tugas dinas keliling Indonesia.

Sepulang dari dinas, beliau pasti membawa oleh-oleh cerita perjalanan serta makanan/barang khas daerah.

Dulu, saya tidak tertarik. Saya tidak mengerti batik. Saya tidak peduli dodol duren berasal dari mana, yang jelas, rasanya enak. Saya masa bodoh apakah tas yang dibelikan terbuat dari kulit buaya, hiu, gajah, atau manusia. Yang saya tahu, tasnya lucu. Saya menyahut seadanya ketika mama saya dengan bangganya bercerita beliau berfoto dengan petinggi daerah. Saya tidak kenal, so what?

Saya beranggapan bahwa yang keren itu papa saya. Yang berfoto di depan Colloseum. Ber-safari ria di Afrika Selatan. Melihat tulip bermekaran di Belanda. Dan sebagainya. Intinya, papa saya keren karena jalan-jalannya keluar negeri dan cap di paspornya banyak sekali.

Iya, secetek itu. Dulu.

Sekarang, setelah 6 bulan merantau di pedalaman Kalimantan Timur, saya mulai memahami peribahasa "tak kenal maka tak sayang". Saya mulai belajar kembali tentang sejarah dan budaya Indonesia. Mulai mengenali corak kain nusantara. Mulai peduli makanan khas daerah. Mulai memperhatikan siapa berasal dari suku mana. Dan sebagainya.

Saya bahkan berkhayal menjadi travel writer setelah penugasan Pengajar Muda, melakukan perjalanan untuk lebih mengenal Indonesia, mencintai tanah air.

Negeri ini terlalu luar biasa untuk sekedar tahu dari televisi atau buku. Semakin banyak kaki melangkah, rasanya saya semakin haus menjelajah.

Ah ya, sepertinya saya memang benar-benar kualat. Mungkin, saat saya menjadi orang tua nantinya, saya juga akan seperti mama, yang dengan mata berbinar-binar bercerita tentang nusantara.

Well, mungkin bedanya, kalau mama saya menuangkannya dalam bentuk penelitian dan penyuluhan, saya melalui tulisan.

Karena ingatan mudah lupa, sementara goresan tinta menolak lupa.

2 comments:

Theresia VS said...

Dulu gue juga berpikir bahwa travel abroad adalah opsi terbaik yang ramah budget ketimbang keliling Indonesia. Sebenarnya bukan karena gak tahu atau gak peduli sama Indonesia, justru karena tahu. Tahu seberapa KAYA Indonesia itu. Bukan cuma tentang Bali atau Jogja, tapi lebih dari itu. Tapi, apa daya kepentok budget. Indonesia itu, semakin sulit dijangkau, semakin ragam, semakin mahal. Haha.

Bagi gue saat itu, keliling Indonesia adalah resolusi gue kalo udah kerja dan punya duit. Untungnya makin kesini, makin gampang untuk ngejangkau Indonesia. Banyak banget daftar destinasi yang mau dijelajah, mulai dari gunung, pantai, laut, pulau. Belum lagi ragam budayanya. Hm, wish we have more time. :)

fidella anandhita savitri said...

Indonesia cantik banget yah, Vel. Semoga kita makin banyak waktu, duit, dan tenaga buat menjelajah Indonesia. Aamiin.

Powered by Blogger.