Posts

Showing posts from July, 2015

So Little Time So Much to Do (part 2)

"Tidak ada kata tidak ada waktu. Yang ada hanya skala prioritas" Prioritas. Hmm baiklah. Selama libur lebaran ini, waktu saya banyak dihabiskan bersama keluarga. Apakah ini prioritas saya? Tentu saja! Tapi... izinkan saya berkeluh-kesah, daripada balas marah-marah. Hah *tarik empat buang empat*
Jadi, saya punya mama yang suka memerintah dan super tidak sabaran. Harus dikerjakan detik itu juga walau perang dunia sekali pun. Ini menyebalkan, karena kalau tidak dituruti, pasti mama marah-marah.
Yaaa.. pun dituruti tetap marah-marah sih. Seharusnya saya terbiasa ya, tapi siapa sih yang tidak kesal kalau semua hal jadi masalah dan bikin kita jadi serba salah? Hah *tarik sejuta buang dua ribu juta*
Saya dan adik-adik saya sering ngomel-ngomel di belakang, karena kalau di depan mama pasti tambah marah. Kami cuma tak mau tambah masalah.
Kami tahu waktu kapan harus santai dan kapan harus mengerjakan sesuatu. Toh apa yang disuruh selalu selesai, kan? Tapi cetakan mama itu seperti dik…

So Little Time So Much to Do (part 1)

"So little time so much to do" Katanya, itu perihal manajemen waktu. Kalau memang begitu, berarti manajemen waktu saya payah sekali.

Saya sudah mempersiapkan apa-apa yang mau saya lakukan selama cuti lebaran dari sebulan sebelumnya. Karena saya anaknya perfeksionis (catatan: untuk beberapa hal), list itu terus diperbaharui sampai saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta.

Bukan cuma itu, saya bahkan membuat mind map untuk memetakan liburan super panjang, dari libur sekolah, libur puasa, sampai libur lebaran. Kira-kira, 40 hari. Lama sekali ya.

Tidak selama itu, ternyata.

Sebagai anak yang dasarnya spontan, dinamis, dan random, saya sering kesal sendiri saat saya mati-matian berusaha merancang segala sesuatunya tapi saya sendiri yang melanggarnya.

"Tau gitu nggak usah niat-niat amat deh ngerancang ini-itu!" Saya sering misuh-misuh sendiri ketika to-do list saya berantakan. Padahal kadang memang salah saya juga yang suka impulsif berubah haluan karena ada yan…

Enam Purnama

Tanggal 21 Juli kemarin genap sudah 6 bulan masa penempatan kami, Pengajar Muda 9.
Terasa lama sekali, sekaligus seperti lari. Katanya, tandanya itu menikmati.
Di tanah Borneo ini, rasa kebangsaan dan nasionalisme dipupuk. Mungkin karena kami sudah tercuci otaknya untuk lebih cinta negeri. Haha. Buat saya sih tak ada masalah. Dengan senang hati malah.
Saya masih ingat masa pelatihan di mana lagu-lagu nasional terasa menggetarkan untuk dinyanyikan.
Terakhir kali saya hampir menangis adalah ketika menyanyikan lagu Hymne Almamater di Thailand, dalam kompetisi Marching Band Internasional 3 tahun yang lalu. Setelahnya, baru saat pelatihan.
Dalam pelatihan, saya hampir menangis berkali-kali. Misalnya saat pengumuman penempatan. Juga saat Malam Seni dan menyanyi lagu Tanah Air dalam temaram lilin. Ah, banyak lah pokoknya.
Tapi momen paling magis adalah saat pelantikan ketika saya menjadi dirigen untuk menyanyikan beberapa lagu nasional.
Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, beberapa kepala …

Mudik

Dari dulu, saya ngidam mudik. Saya penasaran rasanya punya kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.
Saya lama hidup di kota. Bahkan bisa dibilang saya seumur hidup tinggal di kota. Ibukota, tepatnya. Sebelum lebaran pergi ke mall, setelah lebaran ke mall lagi. Tidak setiap tahun memang, tapi seringnya begitu.
Saya suka sirik dengan teman-teman perantau yang sibuk mencari tiket mudik, update perjalanan mereka menuju pulang, dan melihat foto senyum cerah mereka menginjakkan kampung halamannya lagi. Membayar rindu.
Sebahagia itu ya, rasanya mudik?
Sekarang, bisa dibilang saya sedang merantau. Makanya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah lebaran. Saya akhirnya mudik untuk pertama kalinya. Sendirian pula! Yeay!
Lalu, apa rasanya mudik?
Sebenarnya saya punya pilihan untuk tetap di desa, menabung rindu, dan merasakan hype lebaran di tanah Borneo dengan keluarga baru. Seru, saya tahu. Pasti menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan di penempatan.
Tapi saya memilih pulan…

"Inget Kawin"

"Ah seruuu! Banyak yang mau gw lakuin abis ini"
"Inget kawin"
Saya dan seorang teman sedang bercakap membahas masa depan. Sebagai seorang tukang khayal kelas salmon yang banyak maunya, saya memang harus selalu diingatkan agar realistis dan tidak terlalu kemaruk.
Namun saat itu, saya keberatan. Apa hidup ini cuma seputar cinta, jodoh, dan kawin? Apa semua keputusan harus berdasarkan pertimbangan perkawinan? Eh, pernikahan?
Tadinya alih-alih kawin, saya lebih sreg dengan kata nikah karena konotasinya beda, tapi yasudahlah. Sama saja sebetulnya.
Saya pernah berdiskusi panjang lebar tinggi dengan seorang teman sampai larut malam menjelang subuh (itu pun berhenti karena baru sadar harus sahur), hanya untuk sepakat bahwa manusia cenderung berpikir lawan kata. Premis 'jika-maka'.
Jika kontra legalisasi perkawinan gay maka homophobic. Jika pro maka gay. Jika mengucapkan selamat hari raya maka kafir. Jika tidak maka fanatik.
Lantas, jika ingin sekolah lagi atau men…

Obrolan Motor

Obrolan motor. Ketika pembonceng dan yang dibonceng bercakap-cakap sepanjang perjalanan.
Obrolan motor hanya melibatkan 2 orang (kecuali bonceng 3). Karenanya, obrolan motor bisa mengarah pada topik-topik yang cukup personal atau penuh perenungan.
Biasanya begitu, bagi saya. Kalau tidak merenung ya mengobrol. Karena tak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan.
Di suatu obrolan motor di siang bolong, seorang teman berceletuk, "Nikmat itu singkat ya"
Saya terbahak. Kami baru saja melewati jalan berbatu yang cukup membuat badan seperti bermain jungkat-jungkit, lalu jalanan aspal mulus sejenak, kemudian jalan berbatu lagi.
"Seenggaknya masih bisa ngerasain nikmat" sahut saya.
Kemudian hening. Lalu kami tertawa geli, menyadari bahwa memang kadang nikmat itu tidak seberapa dibanding perjuangan mencapainya.
Seperti aspal halus yang menyenangkan namun hanya seperdelapan jalan menuju rumah teman saya, untuk kemudian singgah lagi di rumah teman yang lain dengan jalanan yang t…

Kunang-kunang

Hai Tuan,

Apakah kau suka kunang-kunang?

Pada malam ketika aku berkunjung ke desa seorang teman, aku melihat kunang-kunang bergantian berkerlip seperti lampu natal yang bergantung di pohon. Tidak banyak, mungkin karena sedang terang bulan, jelas temanku.
Tak apa. Aku tetap terpesona. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kunang-kunang. Kombinasi kunang-kunang dan cantiknya langit malam itu sudah lebih cukup bagiku.

Anak-anak di sana menangkapkan kunang-kunang untukku. Kuminta mereka melepas lagi. Kunang-kunang semestinya hidup bebas. Kerlipnya akan redup bahkan mati jika dalam genggaman.

Hai Tuan,

Apakah di tempatmu ada kunang-kunang?

Kalau ada, bolehkah aku bertamu? Barangkali, kita bisa terpesona bersama. Kalaupun tidak ada, barangkali, aku bisa terpesona olehmu.

Salam,
Nona pengagum kunang-kunang. Dan kamu

Pilihan

"Kamu mau nggak sama X?"

"Nggak boleh."

"Kalau sama Y, mau nggak?"

"Nggak mau."

"NAH!"

Mereka tergelak. Saya mencerna sejenak lalu mengangguk paham, kemudian ikut tergelak. Baru sadar ada perbedaan yang cukup signifikan antara dua jawaban yang terlontar spontan tadi.

Tidak boleh.
Bisa jadi mau.

Tidak mau.
Bisa jadi boleh.

Mau.
Tapi tidak boleh.

Boleh.
Tapi tidak mau.

"Kalau begitu, kamu mau?"

"Hmm.. bisa jadi."

"Lalu, kenapa mau?"

Saya terdiam. Lama. Berpikir. Mengingat-ingat. Bingung. Benar-benar bingung. Saya tidak punya alasan. Sejujur-jujurnya, sekeras apa pun saya mencari, tidak ketemu. Rasanya tidak ada jawaban yang pas. Seketika, saya tersentak.

"Sepertinya yang tepat bukan 'mau karena...' tapi 'mau walaupun...'"

Lalu hening. Yang memberi ruang untuk helaan napas dan tatapan gagal paham mereka, diiringi desisan gemas.

"Saya rasa kalian jodoh." Salah satu dari mere…