Saturday, July 25, 2015

So Little Time So Much to Do (part 2)

0 comments
"Tidak ada kata tidak ada waktu. Yang ada hanya skala prioritas"
Prioritas. Hmm baiklah. Selama libur lebaran ini, waktu saya banyak dihabiskan bersama keluarga. Apakah ini prioritas saya? Tentu saja! Tapi... izinkan saya berkeluh-kesah, daripada balas marah-marah. Hah *tarik empat buang empat*

Jadi, saya punya mama yang suka memerintah dan super tidak sabaran. Harus dikerjakan detik itu juga walau perang dunia sekali pun. Ini menyebalkan, karena kalau tidak dituruti, pasti mama marah-marah.

Yaaa.. pun dituruti tetap marah-marah sih. Seharusnya saya terbiasa ya, tapi siapa sih yang tidak kesal kalau semua hal jadi masalah dan bikin kita jadi serba salah? Hah *tarik sejuta buang dua ribu juta*

Saya dan adik-adik saya sering ngomel-ngomel di belakang, karena kalau di depan mama pasti tambah marah. Kami cuma tak mau tambah masalah.

Kami tahu waktu kapan harus santai dan kapan harus mengerjakan sesuatu. Toh apa yang disuruh selalu selesai, kan? Tapi cetakan mama itu seperti dikejar banteng. Selalu buru-buru. Tanpa alasan yang jelas, panik sendiri. Padahal, makin panik malah makin tidak selesai.

"So little time so much to do. I'd rather spent my time with you"
Kalau saja nada perintahnya lebih bersahabat dan tidak perlu pakai acara marah-marah terus 24 jam seperti mini market, saya mungkin akan lebih betah di rumah. Menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama keluarga di waktu cuti yang terbatas ini.

Mama oh mamaaa..

So Little Time So Much to Do (part 1)

0 comments
"So little time so much to do"
Katanya, itu perihal manajemen waktu. Kalau memang begitu, berarti manajemen waktu saya payah sekali.

Saya sudah mempersiapkan apa-apa yang mau saya lakukan selama cuti lebaran dari sebulan sebelumnya. Karena saya anaknya perfeksionis (catatan: untuk beberapa hal), list itu terus diperbaharui sampai saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta.

Bukan cuma itu, saya bahkan membuat mind map untuk memetakan liburan super panjang, dari libur sekolah, libur puasa, sampai libur lebaran. Kira-kira, 40 hari. Lama sekali ya.

Tidak selama itu, ternyata.

Sebagai anak yang dasarnya spontan, dinamis, dan random, saya sering kesal sendiri saat saya mati-matian berusaha merancang segala sesuatunya tapi saya sendiri yang melanggarnya.

"Tau gitu nggak usah niat-niat amat deh ngerancang ini-itu!" Saya sering misuh-misuh sendiri ketika to-do list saya berantakan. Padahal kadang memang salah saya juga yang suka impulsif berubah haluan karena ada yang lebih menarik.

Yaaa.. banyak faktor sih sebetulnya. Tidak melulu karena saya impulsif. Kadang karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Seperti sekarang contohnya. Seharusnya saya bertemu dengan teman-teman yang sudah janjian dari lama, mumpung saya lagi di Jakarta, sebelum balik lagi ke desa. Tapi saya malah belum beranjak dari rumah karena lemas sekali kena diare.

Harusnya juga saya mengurus printilan akreditasi sekolah, membeli alat musik untuk inventaris sekolah, mencetak foto anak-anak, pergi mencari onderdil motor titipan teman, menukar charger laptop titipan teman juga, membeli buku (lagi-lagi) titipan teman, mengurus nomer yang hangus, mengirim surat serta paket-paket ke kantor pos, daaan.. *brb cek to-do list*

Kenyataannya, saya malah masih di sini menulis blog, sementara 2 hari lagi saya sudah harus kembali ke Paser untuk mengajar. Semoga segala urusan masih kekejar.

Yasudahlah. Ingat baik-baik ya, Del. Sehat itu mahal. Karena bayarannya itu waktu yang berharga, yang dibuang percuma hanya karena tak ada tenaga.

"No plan is planning to fail"
Oke. Walaupun ujung-ujungnya gagal juga, setidaknya saya sudah membuat rencana daripada tidak sama sekali. Ini saya lagi menghibur diri.

Thursday, July 23, 2015

Enam Purnama

2 comments
Tanggal 21 Juli kemarin genap sudah 6 bulan masa penempatan kami, Pengajar Muda 9.

Terasa lama sekali, sekaligus seperti lari. Katanya, tandanya itu menikmati.

Di tanah Borneo ini, rasa kebangsaan dan nasionalisme dipupuk. Mungkin karena kami sudah tercuci otaknya untuk lebih cinta negeri. Haha. Buat saya sih tak ada masalah. Dengan senang hati malah.

Saya masih ingat masa pelatihan di mana lagu-lagu nasional terasa menggetarkan untuk dinyanyikan.

Terakhir kali saya hampir menangis adalah ketika menyanyikan lagu Hymne Almamater di Thailand, dalam kompetisi Marching Band Internasional 3 tahun yang lalu. Setelahnya, baru saat pelatihan.

Dalam pelatihan, saya hampir menangis berkali-kali. Misalnya saat pengumuman penempatan. Juga saat Malam Seni dan menyanyi lagu Tanah Air dalam temaram lilin. Ah, banyak lah pokoknya.

Tapi momen paling magis adalah saat pelantikan ketika saya menjadi dirigen untuk menyanyikan beberapa lagu nasional.

Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, beberapa kepala kawan tertunduk, bahu berguncang. Terisak. Di atas kepala mereka berkibar bendera Indonesia. Di dada mereka disematkan kepercayaan besar sebagai putera-puteri (katanya) terbaik bangsa yang membawa harapan akan masa depan Indonesia.

Saya berusaha tetap fokus meng-conduct walaupun tangan saya sama bergetarnya dengan bibir yang menggumamkan lagu tersebut. Janji kemerdekaan.
"Bagimu negeri. Jiwa raga kami"

Saya memberi tanda lagu selesai dan bergeming. Merinding. Mungkin saya masih akan bengong berdiri terpaku ke tanah kalau tidak dipanggil untuk bergiliran salam-salaman.

6 bulan kemudian, di tempat saya menulis ini, di Hari Anak Nasional, saya 'merayakan' setengah perjalanan dengan refleksi diri. Sudah ngapain aja selama ini? Sebanyak apa kamu berkontribusi?

Memikirkan hal itu, saya gelisah. Saya masih merasa belum banyak melakukan apa-apa. Tidak mudah ya, menyerahkan jiwa raga bagi negeri. Salut bagi mereka yang bisa.

Saya anaknya masih sangat duniawi ternyata. Jatah cuti saja saya ambil untuk temu rindu dengan kota. Lebaran dengan keluarga. Dan itu dengan alasan cetek karena saya mau merasakan pengalaman mudik ala anak rantau.

Mungkin, cita-cita besar menunaikan janji kemerdekaan terlalu muluk-muluk. Mungkin, alih-alih memikirkan aksi patriotis yang terkesan dahsyat, lebih baik melakukan hal konkrit sederhana. Sebuah 'mantera' yang selalu komat-kamit diucapkan kami --saya dan keluarga seperjuangan di Paser.

Sisa 6 bulan lagi. 6 purnama menuju tuntas.

Teruntuk teman-teman Pengajar Muda yang tersebar di titik-titik nusantara, semangat setengah perjalanan ya! 6 bulan lagi kita bersua. Bertukar cerita seru dan bahagia.

Satu lagi, selamat Hari Anak Nasional!

Semoga saat pulang nanti kita bisa berkata dengan kebanggaan yang membuncah:
"Di sana, di pelosok negeri ini, masih ada bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa, anak-anak didik kita."

Wednesday, July 22, 2015

Mudik

0 comments
Dari dulu, saya ngidam mudik. Saya penasaran rasanya punya kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.

Saya lama hidup di kota. Bahkan bisa dibilang saya seumur hidup tinggal di kota. Ibukota, tepatnya. Sebelum lebaran pergi ke mall, setelah lebaran ke mall lagi. Tidak setiap tahun memang, tapi seringnya begitu.

Saya suka sirik dengan teman-teman perantau yang sibuk mencari tiket mudik, update perjalanan mereka menuju pulang, dan melihat foto senyum cerah mereka menginjakkan kampung halamannya lagi. Membayar rindu.

Sebahagia itu ya, rasanya mudik?

Sekarang, bisa dibilang saya sedang merantau. Makanya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah lebaran. Saya akhirnya mudik untuk pertama kalinya. Sendirian pula! Yeay!

Lalu, apa rasanya mudik?

Sebenarnya saya punya pilihan untuk tetap di desa, menabung rindu, dan merasakan hype lebaran di tanah Borneo dengan keluarga baru. Seru, saya tahu. Pasti menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan di penempatan.

Tapi saya memilih pulang selain karena ditagih terus sama keluarga besar, alasan cetek saya adalah "mau ngerasain mudik". Saking bersemangatnya, tiket sudah dibeli jauh-jauh hari, bahkan lebih dulu dari pembuatan surat permohonan cuti.

Kata teman-teman, saya ambi(sius) sekali. Haha, biarlah.

Sekarang, saat sudah pulang, saya jadi bingung. Setelah ini saya pulang lagi. Lah yang benar pulang ke mana?

Ingat kata-kata Pengajar Muda sebelum saya "nanti kamu akan ngerasain deh, desa berasa rumah sendiri"

Yup! 6 bulan di penempatan, saya merasakan sekali hal itu. Di sini rumah saya, di sana juga.

Keluarga dan kerabat saya di Jakarta bertanya, apa rasanya tinggal di desa? Saya bilang, bahagia. Bahagia mana, di sini apa di sana? Sama saja, ujar saya.

Kebanyakan mereka masih belum percaya, anak kota manja seperti saya kenapa kok mau hidup di desa? Meninggalkan semua fasilitas, listrik, sinyal, air bersih, dsb. Jarang makan daging. Puasa nonton bioskop, jalan-jalan ke mall, toko buku, salon, dsb. Saya tertawa. Kenapa tidak? Saya bahagia kok.

Memang, tidak bisa dipungkiri, di sana saya kadang mau gila juga karena rindu rumah. Tapi ketika di sini, saya pun rindu rumah.

Lagipula, apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu sadar rumahmu ada banyak?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika tempatmu pulang ada di mana-mana?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu disambut hangat dengan senyum tulus di sini dan di sana?

Apalagi yang lebih membahagiakan dari bersyukur apa pun keadaannya? 

Alhamdulillah. Nikmat manalagi yang kau dustakan? :)

Jadi, setelah ini saya akan mudik lagi nih? YEAY!

Saturday, July 18, 2015

"Inget Kawin"

0 comments
"Ah seruuu! Banyak yang mau gw lakuin abis ini"

"Inget kawin"

Saya dan seorang teman sedang bercakap membahas masa depan. Sebagai seorang tukang khayal kelas salmon yang banyak maunya, saya memang harus selalu diingatkan agar realistis dan tidak terlalu kemaruk.

Namun saat itu, saya keberatan. Apa hidup ini cuma seputar cinta, jodoh, dan kawin? Apa semua keputusan harus berdasarkan pertimbangan perkawinan? Eh, pernikahan?

Tadinya alih-alih kawin, saya lebih sreg dengan kata nikah karena konotasinya beda, tapi yasudahlah. Sama saja sebetulnya.

Saya pernah berdiskusi panjang lebar tinggi dengan seorang teman sampai larut malam menjelang subuh (itu pun berhenti karena baru sadar harus sahur), hanya untuk sepakat bahwa manusia cenderung berpikir lawan kata. Premis 'jika-maka'.

Jika kontra legalisasi perkawinan gay maka homophobic. Jika pro maka gay. Jika mengucapkan selamat hari raya maka kafir. Jika tidak maka fanatik.

Lantas, jika ingin sekolah lagi atau mengejar karir atau keliling dunia atau menjadi relawan pecinta hewan maka 'lupa kawin'? Alamak. Logika macam apa ini?

Jadi begini. Di usia yang sering saya guraukan 'umur kondangan', sepertinya seluruh alam semesta berkonspirasi mendekatkan saya pada topik yang itu-itu lagi di berbagai lingkaran. Jadi ya sudahlah, mari sekalian bahas saja.

Saya tidak suka istilah cari jodoh karena saya tidak tahu harus cari ke mana. Apa saya harus tanya peta "mau ke mana kita?" ala Della the Explorer?

Tidak juga sreg dengan ungkapan 'jodoh di tangan Tuhan'. Lah ya gimana ambilnya? Pasrah saja tunggu Tuhan kasih? Gitu?

Saya lebih nyaman dengan judul lagunya Afgan: "jodoh pasti bertemu".

Belakangan, saya jadi sering berdoa. Sebetulnya karena takut terbawa kata-kata orang dan tanpa sadar jadi doa, saya berdoa saja dengan sadar.

Ya Allah, orang-orang mendoakan saya agar disegerakan jodohnya. Saya aamiin-kan saja. Tapi sebetulnya saya tidak mau tergesa-gesa sebelum saya siap. Jadi, kalau memang sudah saatnya bertemu, tolong pertemukan di saat saya sudah siap, ya Allah. Aamiin.

Oh ya, saya maunya dia, cocok nggak, ya Allah? Tapi maunya kalau memang cocok dan berjodoh, kami saling mendukung mimpi masing-masing, bukannya mengalah dan membuang mimpi atau malah ngotot-ngototan keras kepala tak ada yang mau mengalah.

Saya maunya kami saling menghebatkan. Sama-sama hebat, tapi kalau berdua jadinya kombo hebat. Juga bermanfaat. Percuma kan ya kalau jadi hebat tapi tidak memberikan manfaat bagi sekitar?

Saya maunya kami sama-sama punya banyak keinginan, tapi nggak jadi halangan untuk saling membutuhkan. Mandiri, tapi selalu ingat kalau kami tidak sendiri.

Saya maunya dia. Tapi saya maunya saya cukup berkualitas untuk bersisian dengan dia.

Jadi, kalau sekarang saya masih khayal babu, tolong bukakan peluang sebesar-besarnya untuk saya berusaha menjadi Cinderdella tanpa bergantung pada sihir ajaib Ibu Peri, ya Allah. Tapi tidak mau seekstrim Ariel yang merelakan suara emasnya untuk menukar sirip dengan kaki.

Kalau terlalu muluk, ya sudah, saya berusaha saja dulu mewujudkan apa yang saya mau. Nanti juga bertemu ketika sudah siap kan, ya Allah? Saya 'inget kawin' kok.

Sekian dan maaf banyak maunya, ya Allah. Terima kasih sudah banyak menghadirkan orang-orang baik dan doa-doa baik di sekitar saya.

Iya, saya kalau berdoa sekalian curhat. Jangan ketawa plis. Saya malu, HAHA. Terus malah saya yang ketawa sendiri. Ah, kenapa juga saya malah berdoa di sini?

Sudah gila memang.

Sunday, July 12, 2015

Obrolan Motor

0 comments
Obrolan motor. Ketika pembonceng dan yang dibonceng bercakap-cakap sepanjang perjalanan.

Obrolan motor hanya melibatkan 2 orang (kecuali bonceng 3). Karenanya, obrolan motor bisa mengarah pada topik-topik yang cukup personal atau penuh perenungan.

Biasanya begitu, bagi saya. Kalau tidak merenung ya mengobrol. Karena tak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan.

Di suatu obrolan motor di siang bolong, seorang teman berceletuk, "Nikmat itu singkat ya"

Saya terbahak. Kami baru saja melewati jalan berbatu yang cukup membuat badan seperti bermain jungkat-jungkit, lalu jalanan aspal mulus sejenak, kemudian jalan berbatu lagi.

"Seenggaknya masih bisa ngerasain nikmat" sahut saya.

Kemudian hening. Lalu kami tertawa geli, menyadari bahwa memang kadang nikmat itu tidak seberapa dibanding perjuangan mencapainya.

Seperti aspal halus yang menyenangkan namun hanya seperdelapan jalan menuju rumah teman saya, untuk kemudian singgah lagi di rumah teman yang lain dengan jalanan yang tidak kalah berbatu. Atas nama silaturahmi dan temu rindu.

Saya jadi ingat pertanyaan sederhana dari seorang teman "kenapa harus naik gunung kalau ujung-ujungnya turun lagi?"

Saat itu, kami sedang ada dalam pelatihan di mana kami diharuskan naik turun gunung sambil membawa ransel besar seberat Batu Malin Kundang, dengan medan yang lumayan menantang untuk pemula sampai saya hampir masuk jurang dengan ransel yang menggantung di tepinya.

Alih-alih mengeluh, semakin menantang medannya, semakin riang tawa kami. Karena insiden hampir masuk jurang itu, kaki saya gemetar tak terkendali, begitu juga dengan perut yang harus dipegangi terus karena terpingkal tak terkendali.

Kalau dipikir-pikir, benar juga pertanyaan teman saya. Kenapa kami rela bersusah payah naik gunung untuk turun lagi? Dari mana nikmatnya?

Mungkin, dari kebersamaan. Berjuang bersama. Susah senang semua dihadapi dengan tawa.

Memikirkan itu, saya tersenyum dan menepuk pundak teman saya. Mendadak merasa sangat bersyukur. Betapa nikmat itu sesungguhnya tidak sesingkat jalan aspal.

"Kenapa?" Teman saya menoleh sebentar kemudian fokus lagi ke jalan.

"Gpp"

Tuesday, July 7, 2015

Kunang-kunang

3 comments
Hai Tuan,

Apakah kau suka kunang-kunang?

Pada malam ketika aku berkunjung ke desa seorang teman, aku melihat kunang-kunang bergantian berkerlip seperti lampu natal yang bergantung di pohon. Tidak banyak, mungkin karena sedang terang bulan, jelas temanku.
Tak apa. Aku tetap terpesona. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kunang-kunang. Kombinasi kunang-kunang dan cantiknya langit malam itu sudah lebih cukup bagiku.

Anak-anak di sana menangkapkan kunang-kunang untukku. Kuminta mereka melepas lagi. Kunang-kunang semestinya hidup bebas. Kerlipnya akan redup bahkan mati jika dalam genggaman.

Hai Tuan,

Apakah di tempatmu ada kunang-kunang?

Kalau ada, bolehkah aku bertamu? Barangkali, kita bisa terpesona bersama. Kalaupun tidak ada, barangkali, aku bisa terpesona olehmu.

Salam,
Nona pengagum kunang-kunang. Dan kamu

Pilihan

0 comments
"Kamu mau nggak sama X?"

"Nggak boleh."

"Kalau sama Y, mau nggak?"

"Nggak mau."

"NAH!"

Mereka tergelak. Saya mencerna sejenak lalu mengangguk paham, kemudian ikut tergelak. Baru sadar ada perbedaan yang cukup signifikan antara dua jawaban yang terlontar spontan tadi.

Tidak boleh.
Bisa jadi mau.

Tidak mau.
Bisa jadi boleh.

Mau.
Tapi tidak boleh.

Boleh.
Tapi tidak mau.

"Kalau begitu, kamu mau?"

"Hmm.. bisa jadi."

"Lalu, kenapa mau?"

Saya terdiam. Lama. Berpikir. Mengingat-ingat. Bingung. Benar-benar bingung. Saya tidak punya alasan. Sejujur-jujurnya, sekeras apa pun saya mencari, tidak ketemu. Rasanya tidak ada jawaban yang pas. Seketika, saya tersentak.

"Sepertinya yang tepat bukan 'mau karena...' tapi 'mau walaupun...'"

Lalu hening. Yang memberi ruang untuk helaan napas dan tatapan gagal paham mereka, diiringi desisan gemas.

"Saya rasa kalian jodoh." Salah satu dari mereka bersuara, memecah hening.

Saya menoleh, tersenyum simpul sembari membalas, "Tapi saya rasa, kita selalu punya pilihan bukan?"