Enam Purnama

Tanggal 21 Juli kemarin genap sudah 6 bulan masa penempatan kami, Pengajar Muda 9.

Terasa lama sekali, sekaligus seperti lari. Katanya, tandanya itu menikmati.

Di tanah Borneo ini, rasa kebangsaan dan nasionalisme dipupuk. Mungkin karena kami sudah tercuci otaknya untuk lebih cinta negeri. Haha. Buat saya sih tak ada masalah. Dengan senang hati malah.

Saya masih ingat masa pelatihan di mana lagu-lagu nasional terasa menggetarkan untuk dinyanyikan.

Terakhir kali saya hampir menangis adalah ketika menyanyikan lagu Hymne Almamater di Thailand, dalam kompetisi Marching Band Internasional 3 tahun yang lalu. Setelahnya, baru saat pelatihan.

Dalam pelatihan, saya hampir menangis berkali-kali. Misalnya saat pengumuman penempatan. Juga saat Malam Seni dan menyanyi lagu Tanah Air dalam temaram lilin. Ah, banyak lah pokoknya.

Tapi momen paling magis adalah saat pelantikan ketika saya menjadi dirigen untuk menyanyikan beberapa lagu nasional.

Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, beberapa kepala kawan tertunduk, bahu berguncang. Terisak. Di atas kepala mereka berkibar bendera Indonesia. Di dada mereka disematkan kepercayaan besar sebagai putera-puteri (katanya) terbaik bangsa yang membawa harapan akan masa depan Indonesia.

Saya berusaha tetap fokus meng-conduct walaupun tangan saya sama bergetarnya dengan bibir yang menggumamkan lagu tersebut. Janji kemerdekaan.
"Bagimu negeri. Jiwa raga kami"

Saya memberi tanda lagu selesai dan bergeming. Merinding. Mungkin saya masih akan bengong berdiri terpaku ke tanah kalau tidak dipanggil untuk bergiliran salam-salaman.

6 bulan kemudian, di tempat saya menulis ini, di Hari Anak Nasional, saya 'merayakan' setengah perjalanan dengan refleksi diri. Sudah ngapain aja selama ini? Sebanyak apa kamu berkontribusi?

Memikirkan hal itu, saya gelisah. Saya masih merasa belum banyak melakukan apa-apa. Tidak mudah ya, menyerahkan jiwa raga bagi negeri. Salut bagi mereka yang bisa.

Saya anaknya masih sangat duniawi ternyata. Jatah cuti saja saya ambil untuk temu rindu dengan kota. Lebaran dengan keluarga. Dan itu dengan alasan cetek karena saya mau merasakan pengalaman mudik ala anak rantau.

Mungkin, cita-cita besar menunaikan janji kemerdekaan terlalu muluk-muluk. Mungkin, alih-alih memikirkan aksi patriotis yang terkesan dahsyat, lebih baik melakukan hal konkrit sederhana. Sebuah 'mantera' yang selalu komat-kamit diucapkan kami --saya dan keluarga seperjuangan di Paser.

Sisa 6 bulan lagi. 6 purnama menuju tuntas.

Teruntuk teman-teman Pengajar Muda yang tersebar di titik-titik nusantara, semangat setengah perjalanan ya! 6 bulan lagi kita bersua. Bertukar cerita seru dan bahagia.

Satu lagi, selamat Hari Anak Nasional!

Semoga saat pulang nanti kita bisa berkata dengan kebanggaan yang membuncah:
"Di sana, di pelosok negeri ini, masih ada bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa, anak-anak didik kita."

2 comments:

Bayu Filladiaz Wiranda said...

Bu Della, ooooooo Bu Della purnamanya udah masuk yang ketujuh, Bu...
������

fidella anandhita savitri said...

Iyaaa.. Pak Bayu, maapin anaknya disorientasi bulan, ahaha

Powered by Blogger.