"Inget Kawin"

"Ah seruuu! Banyak yang mau gw lakuin abis ini"

"Inget kawin"

Saya dan seorang teman sedang bercakap membahas masa depan. Sebagai seorang tukang khayal kelas salmon yang banyak maunya, saya memang harus selalu diingatkan agar realistis dan tidak terlalu kemaruk.

Namun saat itu, saya keberatan. Apa hidup ini cuma seputar cinta, jodoh, dan kawin? Apa semua keputusan harus berdasarkan pertimbangan perkawinan? Eh, pernikahan?

Tadinya alih-alih kawin, saya lebih sreg dengan kata nikah karena konotasinya beda, tapi yasudahlah. Sama saja sebetulnya.

Saya pernah berdiskusi panjang lebar tinggi dengan seorang teman sampai larut malam menjelang subuh (itu pun berhenti karena baru sadar harus sahur), hanya untuk sepakat bahwa manusia cenderung berpikir lawan kata. Premis 'jika-maka'.

Jika kontra legalisasi perkawinan gay maka homophobic. Jika pro maka gay. Jika mengucapkan selamat hari raya maka kafir. Jika tidak maka fanatik.

Lantas, jika ingin sekolah lagi atau mengejar karir atau keliling dunia atau menjadi relawan pecinta hewan maka 'lupa kawin'? Alamak. Logika macam apa ini?

Jadi begini. Di usia yang sering saya guraukan 'umur kondangan', sepertinya seluruh alam semesta berkonspirasi mendekatkan saya pada topik yang itu-itu lagi di berbagai lingkaran. Jadi ya sudahlah, mari sekalian bahas saja.

Saya tidak suka istilah cari jodoh karena saya tidak tahu harus cari ke mana. Apa saya harus tanya peta "mau ke mana kita?" ala Della the Explorer?

Tidak juga sreg dengan ungkapan 'jodoh di tangan Tuhan'. Lah ya gimana ambilnya? Pasrah saja tunggu Tuhan kasih? Gitu?

Saya lebih nyaman dengan judul lagunya Afgan: "jodoh pasti bertemu".

Belakangan, saya jadi sering berdoa. Sebetulnya karena takut terbawa kata-kata orang dan tanpa sadar jadi doa, saya berdoa saja dengan sadar.

Ya Allah, orang-orang mendoakan saya agar disegerakan jodohnya. Saya aamiin-kan saja. Tapi sebetulnya saya tidak mau tergesa-gesa sebelum saya siap. Jadi, kalau memang sudah saatnya bertemu, tolong pertemukan di saat saya sudah siap, ya Allah. Aamiin.

Oh ya, saya maunya dia, cocok nggak, ya Allah? Tapi maunya kalau memang cocok dan berjodoh, kami saling mendukung mimpi masing-masing, bukannya mengalah dan membuang mimpi atau malah ngotot-ngototan keras kepala tak ada yang mau mengalah.

Saya maunya kami saling menghebatkan. Sama-sama hebat, tapi kalau berdua jadinya kombo hebat. Juga bermanfaat. Percuma kan ya kalau jadi hebat tapi tidak memberikan manfaat bagi sekitar?

Saya maunya kami sama-sama punya banyak keinginan, tapi nggak jadi halangan untuk saling membutuhkan. Mandiri, tapi selalu ingat kalau kami tidak sendiri.

Saya maunya dia. Tapi saya maunya saya cukup berkualitas untuk bersisian dengan dia.

Jadi, kalau sekarang saya masih khayal babu, tolong bukakan peluang sebesar-besarnya untuk saya berusaha menjadi Cinderdella tanpa bergantung pada sihir ajaib Ibu Peri, ya Allah. Tapi tidak mau seekstrim Ariel yang merelakan suara emasnya untuk menukar sirip dengan kaki.

Kalau terlalu muluk, ya sudah, saya berusaha saja dulu mewujudkan apa yang saya mau. Nanti juga bertemu ketika sudah siap kan, ya Allah? Saya 'inget kawin' kok.

Sekian dan maaf banyak maunya, ya Allah. Terima kasih sudah banyak menghadirkan orang-orang baik dan doa-doa baik di sekitar saya.

Iya, saya kalau berdoa sekalian curhat. Jangan ketawa plis. Saya malu, HAHA. Terus malah saya yang ketawa sendiri. Ah, kenapa juga saya malah berdoa di sini?

Sudah gila memang.

Comments