Mudik

Dari dulu, saya ngidam mudik. Saya penasaran rasanya punya kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.

Saya lama hidup di kota. Bahkan bisa dibilang saya seumur hidup tinggal di kota. Ibukota, tepatnya. Sebelum lebaran pergi ke mall, setelah lebaran ke mall lagi. Tidak setiap tahun memang, tapi seringnya begitu.

Saya suka sirik dengan teman-teman perantau yang sibuk mencari tiket mudik, update perjalanan mereka menuju pulang, dan melihat foto senyum cerah mereka menginjakkan kampung halamannya lagi. Membayar rindu.

Sebahagia itu ya, rasanya mudik?

Sekarang, bisa dibilang saya sedang merantau. Makanya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah lebaran. Saya akhirnya mudik untuk pertama kalinya. Sendirian pula! Yeay!

Lalu, apa rasanya mudik?

Sebenarnya saya punya pilihan untuk tetap di desa, menabung rindu, dan merasakan hype lebaran di tanah Borneo dengan keluarga baru. Seru, saya tahu. Pasti menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan di penempatan.

Tapi saya memilih pulang selain karena ditagih terus sama keluarga besar, alasan cetek saya adalah "mau ngerasain mudik". Saking bersemangatnya, tiket sudah dibeli jauh-jauh hari, bahkan lebih dulu dari pembuatan surat permohonan cuti.

Kata teman-teman, saya ambi(sius) sekali. Haha, biarlah.

Sekarang, saat sudah pulang, saya jadi bingung. Setelah ini saya pulang lagi. Lah yang benar pulang ke mana?

Ingat kata-kata Pengajar Muda sebelum saya "nanti kamu akan ngerasain deh, desa berasa rumah sendiri"

Yup! 6 bulan di penempatan, saya merasakan sekali hal itu. Di sini rumah saya, di sana juga.

Keluarga dan kerabat saya di Jakarta bertanya, apa rasanya tinggal di desa? Saya bilang, bahagia. Bahagia mana, di sini apa di sana? Sama saja, ujar saya.

Kebanyakan mereka masih belum percaya, anak kota manja seperti saya kenapa kok mau hidup di desa? Meninggalkan semua fasilitas, listrik, sinyal, air bersih, dsb. Jarang makan daging. Puasa nonton bioskop, jalan-jalan ke mall, toko buku, salon, dsb. Saya tertawa. Kenapa tidak? Saya bahagia kok.

Memang, tidak bisa dipungkiri, di sana saya kadang mau gila juga karena rindu rumah. Tapi ketika di sini, saya pun rindu rumah.

Lagipula, apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu sadar rumahmu ada banyak?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika tempatmu pulang ada di mana-mana?

Apalagi yang lebih membahagiakan, ketika kamu disambut hangat dengan senyum tulus di sini dan di sana?

Apalagi yang lebih membahagiakan dari bersyukur apa pun keadaannya? 

Alhamdulillah. Nikmat manalagi yang kau dustakan? :)

Jadi, setelah ini saya akan mudik lagi nih? YEAY!

Comments