Pilihan

"Kamu mau nggak sama X?"

"Nggak boleh."

"Kalau sama Y, mau nggak?"

"Nggak mau."

"NAH!"

Mereka tergelak. Saya mencerna sejenak lalu mengangguk paham, kemudian ikut tergelak. Baru sadar ada perbedaan yang cukup signifikan antara dua jawaban yang terlontar spontan tadi.

Tidak boleh.
Bisa jadi mau.

Tidak mau.
Bisa jadi boleh.

Mau.
Tapi tidak boleh.

Boleh.
Tapi tidak mau.

"Kalau begitu, kamu mau?"

"Hmm.. bisa jadi."

"Lalu, kenapa mau?"

Saya terdiam. Lama. Berpikir. Mengingat-ingat. Bingung. Benar-benar bingung. Saya tidak punya alasan. Sejujur-jujurnya, sekeras apa pun saya mencari, tidak ketemu. Rasanya tidak ada jawaban yang pas. Seketika, saya tersentak.

"Sepertinya yang tepat bukan 'mau karena...' tapi 'mau walaupun...'"

Lalu hening. Yang memberi ruang untuk helaan napas dan tatapan gagal paham mereka, diiringi desisan gemas.

"Saya rasa kalian jodoh." Salah satu dari mereka bersuara, memecah hening.

Saya menoleh, tersenyum simpul sembari membalas, "Tapi saya rasa, kita selalu punya pilihan bukan?"

No comments:

Powered by Blogger.