So Little Time So Much to Do (part 1)

"So little time so much to do"
Katanya, itu perihal manajemen waktu. Kalau memang begitu, berarti manajemen waktu saya payah sekali.

Saya sudah mempersiapkan apa-apa yang mau saya lakukan selama cuti lebaran dari sebulan sebelumnya. Karena saya anaknya perfeksionis (catatan: untuk beberapa hal), list itu terus diperbaharui sampai saya menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta.

Bukan cuma itu, saya bahkan membuat mind map untuk memetakan liburan super panjang, dari libur sekolah, libur puasa, sampai libur lebaran. Kira-kira, 40 hari. Lama sekali ya.

Tidak selama itu, ternyata.

Sebagai anak yang dasarnya spontan, dinamis, dan random, saya sering kesal sendiri saat saya mati-matian berusaha merancang segala sesuatunya tapi saya sendiri yang melanggarnya.

"Tau gitu nggak usah niat-niat amat deh ngerancang ini-itu!" Saya sering misuh-misuh sendiri ketika to-do list saya berantakan. Padahal kadang memang salah saya juga yang suka impulsif berubah haluan karena ada yang lebih menarik.

Yaaa.. banyak faktor sih sebetulnya. Tidak melulu karena saya impulsif. Kadang karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Seperti sekarang contohnya. Seharusnya saya bertemu dengan teman-teman yang sudah janjian dari lama, mumpung saya lagi di Jakarta, sebelum balik lagi ke desa. Tapi saya malah belum beranjak dari rumah karena lemas sekali kena diare.

Harusnya juga saya mengurus printilan akreditasi sekolah, membeli alat musik untuk inventaris sekolah, mencetak foto anak-anak, pergi mencari onderdil motor titipan teman, menukar charger laptop titipan teman juga, membeli buku (lagi-lagi) titipan teman, mengurus nomer yang hangus, mengirim surat serta paket-paket ke kantor pos, daaan.. *brb cek to-do list*

Kenyataannya, saya malah masih di sini menulis blog, sementara 2 hari lagi saya sudah harus kembali ke Paser untuk mengajar. Semoga segala urusan masih kekejar.

Yasudahlah. Ingat baik-baik ya, Del. Sehat itu mahal. Karena bayarannya itu waktu yang berharga, yang dibuang percuma hanya karena tak ada tenaga.

"No plan is planning to fail"
Oke. Walaupun ujung-ujungnya gagal juga, setidaknya saya sudah membuat rencana daripada tidak sama sekali. Ini saya lagi menghibur diri.

No comments:

Powered by Blogger.