Sunday, August 2, 2015

Self Assessment

0 comments
Saya selalu keringat dingin ketika disuruh 'jual diri'. Misalnya saat wawancara kerja, saat ditanya tentang kelebihan, saat berusaha meyakinkan orang lain akan kemampuan saya, dan sebagainya.

Bukannya tidak percaya diri (iya sih kadang), tapi lebih kepada saya bingung harus menjawab apa.

Waktu pelatihan Pengajar Muda, salah satu tugas kami adalah membuat self assessment. Penilaian untuk diri sendiri. Saya insecure level bok**-flush-rusak.

Ketika itu, saya suka 'menggelembung' buat cari ilham untuk mengulik stok STAR (situation, task, action, result) demi self assessment. Dan itu mengundang tatapan "Del, lo lagi ngapain sendirian bengong?" dari teman-teman.

Sekarang, di penempatan, tugas itu diberikan lagi, sebagai tools untuk refleksi diri, melihat dimensi kepemimpinan yang berkembang selama di sini.

Makin insecure level bok**-flush-rusak-air-mati. Damn.

Branding Indonesia Mengajar di daerah penempatan sangat kuat. Mungkin karena memang terbukti, para Pengajar Muda selama 4 tahun belakangan hebat-hebat. Iya, saya pun mengakui kok. Bahkan teman-teman sepenempatan di Paser juga luar biasa.

Sementara da aku mah apa atuh. Butiran debu di alam semesta. Semakin dilihat tinggi, ketakutan saya pun semakin tinggi.

Keinginan untuk membuktikan ekspektasi seiring dengan bolak-balik mempertanyakan kesanggupan diri sekaligus entah apa ya ini namanya? Perfeksionis buta?

Ekspektasi tinggi ditambah saya yang keras sekaligus ragu pada diri sendiri membuat ujung-ujungnya saya uring-uringan, merasa belum ngapa-ngapain di sini.

Makanya soal self assessment, saya masih clueless mau tulis apa. Rasanya seperti mendeskripsikan hantu. Mengerikan. Absurd memang. Saya hobi introspeksi, tapi sekalinya diberi ruang, saya ketakutan setengah mati.

Seharusnya saya tidak curhat di sini, cuma berkali-kali terbukti, dengan menulis saya bisa menemukan jawaban atau sekedar ketenangan.

Kalau saya merenung lagi, apa sih yang ditakuti? Tulis saja sesuai bukti yang ada. Kenyataan. Masa sih nggak bisa?

Saya sebetulnya yakin bisa. Kalau mau dicari pasti ketemu dimensi kepemimpinan yang berkembang walaupun cetek. Tapi tetap saja rasanya oh rasanya........

Kenapa ya menilai diri sendiri sesulit ini?