Posts

Showing posts from September, 2015

Izin Semesta

Hari-hari kami selama 9 bulan di penempatan ini sungguh penuh warna dan cerita.
Karena letak geografis yang berjauhan, bersama 9 'rekan senasib sepenanggungan' lainnya, kami membagi tim menjadi 3 'geng' untuk memudahkan koordinasi. 'Geng Longkali' yang jauh dari kabupaten namun dekat dengan Balikpapan, 'Geng Kota' yang dekat kabupaten, dan 'Geng Pesisir' yang jauh dari mana-mana.
Saya masuk dalam 'Geng Pesisir' bersama 2 'Pangeran Pesisir', Fajri dan Raden. Akses transportasi di sini terbatas. Ada waktu-waktu tertentu di mana air laut surut sehingga kapal masih berlabuh di dermaga. Kalau sudah begitu, apa boleh buat, kami harus menunggu air naik dulu. Bisa sampai berjam-jam.
Belum lagi taksi (semacam angkot) menuju dermaga yang baru mau berangkat kalau penumpang sudah penuh. Kalau beruntung, bisa langsung berangkat. Kalau taksi masih kosong, mau tak mau menunggu. Bisa sampai berjam-jam juga.
Sebenarnya saya lebih beruntung karen…

What's Next?

3 bulan lagi saya kembali ke 'habitat'. What's next? Hmm.. saya masih belum tahu mau jadi apa -sejujurnya masih ada sisa obsesi terpendam jadi copywriter sih-, tapi saya sudah tahu mau saya apa.

Kadang, saya suka cengar-cengir sendiri membayangkan what's next.

Salah satu yang mau saya lakukan adalah pergi ke Santorini, sebuah pulau kecil yang cantik di Yunani, tahun depan. Bagaimana caranya? Saya pun nggak tahu, haha. Selain itu, saya mau jadi relawan sebuah penangkaran hewan liar di Manado, namanya Tasikoki.

Saya juga berpikir untuk mendaftar Forum Indonesia Muda, ikut Kelas Inspirasi, terlibat dalam Akademi Berbagi, kontribusi tulisan di buletin alumni MBUI Tune In dan mengaktifkan kembali Estafet Buku. Program pertukaran budaya SSEYAP (The Ship for Southeast Asian Youth Program) kayanya seru juga. Pesiar ke Jepang meeen!

Terus, kalau ada kesempatan, saya masih mau jadi volunteer Europe on Screen, Citra Pariwara, dan lainnya. Tapi kalau volunteer-an mulu, duit dari m…

Di Sini

Di sini, berinteraksi dengan diri sendiri, saya menjadi individu yang lebih tenang, lebih mendengarkan, lebih hati-hati bicara, dan lebih peka.
Di sini, berinteraksi dengan anak-anak, saya baru sadar saya sudah dewasa. Dunia anak sungguh berwarna. Tawa renyah mereka menjadi sumber kebahagiaan saya.
Di sini, berinteraksi dengan warga, mata saya terbuka. Masalah sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan hal rumit lainnya ada di mana-mana. Saya banyak tidak tahu apa-apa.
Di sini, berinteraksi dengan teman-teman sepenempatan, saya tertohok oleh komentar "di sini, yang kita urus itu manusia".
Di sini, alih-alih mengajar, yang justru banyak belajar itu saya.

Mereka Ini

Image
Mereka ini. Yang selalu ada. Ketika salah satu anggotanya down, semua sepakat meluangkan waktu bertemu, menempuh perjalanan panjang dari ujung ke ujung untuk sesi "1 jam lebih dekat", sesi team bonding yang meyenangkan.
Mereka ini. Yang selalu menjaga. Yang punya kebiasaan mengabari ketika sudah kembali ke desa masing-masing. Yang ketika lo sakit di ujung pulau, telfon nggak berhenti berdering, SMS pun terus masuk, menanyakan kabar, apa yang bisa dibantu, bahkan muncul tiba-tiba untuk mengecek keadaan dan membawa obat-obatan.
Mereka ini. Yang selalu perhatian. Ketika tertidur di ruang ber-AC dan nggak berselimut, esok paginya sudah ada jaket ataupun sarung bertengger hangat di badan lo. Ketika lo demam kemudian tertidur, lalu terbangun dengan kompres di kening. Ketika lo terlihat murung dan diberi 'hiburan' sebungkus cokelat dan seulas senyum.
Mereka ini. Yang selalu membuat perayaan ulang tahun sederhana terasa spesial. Yang rela menempuh jalan berbatu, berlubang, …