Izin Semesta

Hari-hari kami selama 9 bulan di penempatan ini sungguh penuh warna dan cerita.

Karena letak geografis yang berjauhan, bersama 9 'rekan senasib sepenanggungan' lainnya, kami membagi tim menjadi 3 'geng' untuk memudahkan koordinasi. 'Geng Longkali' yang jauh dari kabupaten namun dekat dengan Balikpapan, 'Geng Kota' yang dekat kabupaten, dan 'Geng Pesisir' yang jauh dari mana-mana.

Saya masuk dalam 'Geng Pesisir' bersama 2 'Pangeran Pesisir', Fajri dan Raden. Akses transportasi di sini terbatas. Ada waktu-waktu tertentu di mana air laut surut sehingga kapal masih berlabuh di dermaga. Kalau sudah begitu, apa boleh buat, kami harus menunggu air naik dulu. Bisa sampai berjam-jam.

Belum lagi taksi (semacam angkot) menuju dermaga yang baru mau berangkat kalau penumpang sudah penuh. Kalau beruntung, bisa langsung berangkat. Kalau taksi masih kosong, mau tak mau menunggu. Bisa sampai berjam-jam juga.

Sebenarnya saya lebih beruntung karena akses transportasi laut bisa dipastikan ada setiap hari, sementara Fajri dan Raden harus bertanya sana-sini untuk menumpang balapan (kapal kecil bermesin) ke desanya.

Namun tetap saja, kami susah memprediksi waktu keberangkatan taksi atau kapal.

Lama-lama kami akrab dengan ketidakpastian dan terbiasa untuk 'pasrah' tiap kali berencana pergi ke kabupaten atau kembali ke desa masing-masing.

"Kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan" sukses menjadi motto kami, ditambah gerakan tangan ke atas dan ke depan sebagai penekanan 'semesta' dan 'jalan'.

Desa saya paling jauh, sehingga saya selalu sengaja membawa tas besar yang kosong separuh. Sekalian, siapa tahu ada sesuatu yang bisa dibeli atau dibawa dari kabupaten.

Saya sering berkelakar, ruang kosong itu adalah ruang yang saya sediakan untuk kejutan. Dan ya, di Paser ini memang penuh kejutan yang selalu seru dikenang.

Seperti saat itu, ketika saya dan Raden pulang dari kabupaten di hari Jumat. Kami menunggu taksi (kendaraan umum berbentuk mobil Elf) dari jam 8 pagi, jam 1 baru berangkat karena terpotong shalat Jumat. Sampai dermaga jam 3 dan tidak ada kapal. JENG JENG!

Lama menunggu kepastian, Raden memutuskan batal pulang ke desanya. Ia memilih yang pasti-pasti saja: ikut kapal ikan yang kebetulan mau ke desa saya dan bersedia kami tumpangi. Jam 5 sore kami berangkat.

Seharusnya kami sudah bisa sampai jam 8 malam, tapi di tengah laut, mesin kapal mati. Gelap, asap tebal, terombang-ambing, dan hilang arah karena salah haluan, saya memilih tidur.

Tak berapa lama, Raden membangunkan saya dan mengajak duduk santai di atas kapal. Kawan kami, Ruth, menelpon menanyakan kabar. Saya bilang, aman. Untung ada Raden. Kalau tidak, mungkin saat itu saya gelisah mengapung di tengah laut bersama 4 orang pria yang tidak terlalu dikenal.

"Gw semakin yakin kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan. Kalau ngga, pasti ada alasan. Gw ngga dapet kapal dan 'ngga diizinin' balik ke desa, alesannya ternyata ini, nemenin lo dan bantuin bapaknya cari arah" Raden tertawa kecil sambil menunjukkan aplikasi Google Maps di smartphone nya. Sinyal 3G. Berarti sudah dekat desa saya. YEAY!

"Yang penting usaha dulu nyampe dermaga ya" saya ikut tertawa sambil menepuk bahu Raden, berterima kasih karena telah menemani.

Saya menengadah menatap bintang. Pikiran saya menerawang, menganalogikan perjalanan menuju desa seperti merancang masa depan. Kita bisa saja rapi berencana. Balik dari kabupaten pagi, naik taksi sampai dermaga, lalu lanjut kapal. Sampai desa siang.

Tapi pada kenyataannya belum tentu. Walaupun sudah tepat waktu berangkat pagi, tetap saja kalau semesta 'tidak mengizinkan', ya ada-ada saja kejutannya. Taksi lama berangkat lah. Terpaksa menumpang kapal ikan lah. Mesinnya mati di tengah laut lah. Kesasar salah haluan lah. Mana ada cerita bisa sampai desa tengah hari.

Namun setidaknya, kita punya tujuan dan mau usaha mencapainya. Ibaratnya, kalau mau pulang ke desa, minimal sampai dermaga dulu.

Begitu juga dengan masa depan. Mau sekolah lagi habis ini? Ya usaha saja dulu tes TOEFL atau IELTS. Mau kerja di perusahaan besar? Buat CV sebaik mungkin dan kirim saja dulu. Mau wirausaha? Siapkan modal saja dulu. Mau menikah? Pantaskan diri saja dulu.

Intinya, perihal tercapai apa tidak, pasrahkan saja pada semesta. Kalau 'diizinkan', pasti ada jalan. Kalau tidak, pasti ada alasan. Yang penting: U-S-A-H-A.

Saya pernah baca, Tuhan selalu menjawab permintaan kita. "YA. Aku kabulkan sekarang". "YA. Aku kabulkan nanti". "TIDAK. Aku sudah siapkan yang lebih baik".

"Del, siap-siap. Bentar lagi sampe" Raden mencolek lengan saya, membuyarkan lamunan.

Singkat cerita, kami akhirnya sampai di desa jam 10 malam. Raden pamit menginap di rumah guru dan saya pulang ke rumah, langsung tertidur pulas, bermimpi tentang masa depan yang menanti selepas ini.

Teruntuk kalian yang terpisah jarak, selamat 9 bulan, kawan! Tiga purnama menjelang akhir penugasan. Mari selalu siapkan ruang untuk kejutan. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan :)

No comments:

Powered by Blogger.