Posts

Showing posts from October, 2015

Obrolan Motor (lagi)

Obrolan motor memang selalu menarik dan personal. Saya pernah menulis tentang itu di sini.
Obrolan motor kali ini, saya dan Ruth --personil 'Geng Kota' (secuplik cerita per-geng-an Paserangers bisa dibaca di sini)-- membahas 'kehidupan pasca OPP'.
"Del, lo abis OPP mau ngapain?" Yak! Pertanyaan ini lagi. Topik hits memang.
"Lo dulu lah." Saya lebih tertarik mendengar cerita kawan saya ini.
Dengan bersemangat, Ruth mulai menceritakan keinginannya. Mulai dari ingin ikut training soft skill, sekolah lagi, melatih guru PAUD, bekerja di Kemenlu, jadi diplomat, lalu lanjut ke UN.
"Cetek ya?" Ia menutup ceritanya.
"MANA ADA KAYAK GITU CETEK?!" Tentu saja saya protes keras. Ruth terbahak.
"Lo nggak mau sekolah lagi?" Ruth balik bertanya sambil memakai maskernya. Oke. Sekarang giliran saya.
Saya menarik napas. Sesak. Tidak jelas karena kabut asap atau karena jawaban yang dari dulu stuck di situ, dari 4 tahun semenjak lulus kuli…

Semesta Maha Baik

20 Oktober 2015, 22.10 WITA, di kamar warga.
Belakangan, perjalanan pulang ke desa semakin penuh kejutan.
Berdasarkan info dari Fajri bahwa air lagi konda (maksudnya air laut surutnya lama, bisa dari pagi sampe sore), hari ini saya dan Raden balik dari kabupaten agak siang. Niat hati biar nggak perlu lumutan nunggu kapal.
Sesampainya di dermaga Lori, saya mendapati bahwa nggak ada kapal ke Tanjung Aru, desa saya. Sudah jalan dari pagi, jelas warga.
MATIK!
Nggak ada kapal ikan pula. Ah, selain air, kemarau memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, termasuk dalam mencari ikan, juga kapal dan jodoh #eh
Sebetulnya, kalaupun ada kapal ikan, saya juga nggak mau ambil resiko terlunta-lunta lagi di tengah laut karena mitos-mitosan warga yang bilang "perempuan sendirian di kapal yang isinya laki-laki semua itu bawa sial" sih.
So, unless emergency, omit that option.
"Lo nggak mau telfon Pak Lukman? Siapa tahu bisa numpang nginep di rumah guru Lori" Raden mengelu…

About Being Jack of All Trades

Saya bukan atlet jago silat, tapi saya menikmati 'menarikan' gerakan Perisai Diri.
Saya bukan penari hebat, tapi saya menikmati menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik.
Saya bukan pemain terompet ulung, tapi saya menikmati menggambarkan suasana lewat musik.
Saya bukan desainer profesional, tapi saya menikmati merancang tampilan visual. Some people say it's "jack of all trades, master of none". Back then, I pitied myself, found it's rather sad, to master nothing.
But lately, I come to term with it, that it's okay not to be specialist.
Kemarin, saat sedang sesi "1 jam lebih dekat", Adam --teman PM di daerah Longkali-- berkomentar "gw merasa, ketimbang OPP, yang lebih penting itu justru setelahnya. Mau ngapain? Mau jadi apa? Itu yang harusnya dipikirin"
Sedikit cerita. Jadi, di sisa waktu menuju akhir penempatan, kami menyelipkan agenda agak ambisius yaitu penampilan tari di kegiatan Orientasi Pasca Penugasan (OPP).
Nah, kami ingin tampil sebai…

Gila Sejenak

Rasanya jadi guru itu...
Capek. Sumpah! Saya kira saya bisa dengan pedenya bilang saya tidak gampang marah. Ternyata tidak juga. Tiap hari menghadapi puluhan anak yang ulahnya macam-macam kadang membuat saya bersumbu pendek. 
Saya pernah meledak hanya karena ketika diberi instruksi "satu kelompok ber-5 atau 6", anak-anak tidak menyimak dan masih saja bertanya jutaan kali "bu, ber-8 boleh kah?" "Bu, ber-3 aja je ta ndak papa?" Bu... bu... bu... ISSSH!
Saya keceplosan menyahut gemas "kamu punya telinga tidak?! Tadi dengar apa kata ibu?! LI-MA SAM-PAI E-NAM. Bisa berhitung tidak?! Hitung sudah dengan jarimu!" Anak-anak tertunduk. Mengkeret. Setelah itu saya menyesal. Meskipun jengkel luar biasa, tidak semestinya saya berkata sekasar itu.
Pernah juga saya kelepasan meneriaki anak di depan umum. Petang itu, di perjalanan pulang dari pantai, salah satu anak uangnya hilang. Kami balik lagi menelusuri jembatan kayu untuk mencari.
Ternyata air sudah pas…