Wednesday, October 21, 2015

Obrolan Motor (lagi)

0 comments
Obrolan motor memang selalu menarik dan personal. Saya pernah menulis tentang itu di sini.

Obrolan motor kali ini, saya dan Ruth --personil 'Geng Kota' (secuplik cerita per-geng-an Paserangers bisa dibaca di sini)-- membahas 'kehidupan pasca OPP'.

"Del, lo abis OPP mau ngapain?" Yak! Pertanyaan ini lagi. Topik hits memang.

"Lo dulu lah." Saya lebih tertarik mendengar cerita kawan saya ini.

Dengan bersemangat, Ruth mulai menceritakan keinginannya. Mulai dari ingin ikut training soft skill, sekolah lagi, melatih guru PAUD, bekerja di Kemenlu, jadi diplomat, lalu lanjut ke UN.

"Cetek ya?" Ia menutup ceritanya.

"MANA ADA KAYAK GITU CETEK?!" Tentu saja saya protes keras. Ruth terbahak.

"Lo nggak mau sekolah lagi?" Ruth balik bertanya sambil memakai maskernya. Oke. Sekarang giliran saya.

Saya menarik napas. Sesak. Tidak jelas karena kabut asap atau karena jawaban yang dari dulu stuck di situ, dari 4 tahun semenjak lulus kuliah.

"Mau banget. Tapi gw bingung. Gw cuma pengen Miami Ad School. Titik. Belajar copywriting, creative thinking, how to develop ideas, dan hal-hal semacam itu. Tapi itu jatohnya course. Mahal pula. Gw cuma pengen belajar, sementara bokap minta gw sekolah lagi ya supaya ilmunya kepake di pekerjaan gw nantinya, dan kalau bisa ya S2."

I exhaled. I just wanna learn it for the sake of learning. That's it. I don't have any other purpose.

Kalau pun harus bertujuan, yang paling terpakai ya bekerja di bidang tulis-menulis. Sementara, saya tidak mau menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan. Saya mau itu jadi hobi yang menghasilkan.

Sebetulnya saya maju-mundur menulis tentang ini, karena sejujurnya, salah satu ketakutan besar saya adalah 'mati rasa' dalam melakukan hal yang saya sangat suka. Mungkin terkesan lebay, tapi menulis itu sudah seperti oksigen jiwa bagi saya. Njir emang lebay njir!

Ingat kata-kata Sarah --anggota Geng Kota juga-- yang mantan jurnalis, "ketika menulis itu jadi pekerjaan, akan ada masa-masa di mana menulis itu jadi nggak ada rasanya."

Boleh lah saya jadi 'buruh korporat' selama menulis tetap bisa jadi tempat pelarian dan katarsis. Tapi ketika pekerjaan saya menulis dan saya muak, saya takut saya tidak tahu harus lari ke mana.

Fyuh. I finally said that.

Semesta Maha Baik

0 comments
20 Oktober 2015, 22.10 WITA, di kamar warga.

Belakangan, perjalanan pulang ke desa semakin penuh kejutan.

Berdasarkan info dari Fajri bahwa air lagi konda (maksudnya air laut surutnya lama, bisa dari pagi sampe sore), hari ini saya dan Raden balik dari kabupaten agak siang. Niat hati biar nggak perlu lumutan nunggu kapal.

Sesampainya di dermaga Lori, saya mendapati bahwa nggak ada kapal ke Tanjung Aru, desa saya. Sudah jalan dari pagi, jelas warga.

MATIK!

Nggak ada kapal ikan pula. Ah, selain air, kemarau memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, termasuk dalam mencari ikan, juga kapal dan jodoh #eh

Sebetulnya, kalaupun ada kapal ikan, saya juga nggak mau ambil resiko terlunta-lunta lagi di tengah laut karena mitos-mitosan warga yang bilang "perempuan sendirian di kapal yang isinya laki-laki semua itu bawa sial" sih.

So, unless emergency, omit that option.

"Lo nggak mau telfon Pak Lukman? Siapa tahu bisa numpang nginep di rumah guru Lori" Raden mengeluarkan HPnya, bersiap memberi nomor Pak Lukman, kepala sekolah SD Lori.

Sambil duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi di dermaga, saya membuat isyarat tangan ke atas dan ke depan. Raden tertawa.

"Kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan ya."

Saya mengangguk sambil nyengir penuh arti dan segera mencatat nomor Pak Lukman.

Tak lama, seorang pemuda dengan rengge' (semacam jala) di tangannya berjalan menuju balapan (kapal kecil bermesin) yang berlabuh di dekat tempat saya duduk-duduk. Ternyata ia hendak ke Tanjung Aru. Cucok! Saya tanpa basa-basi bertanya, apa boleh menumpang.

Tau-tau seorang bapak-bapak dari Desa Labuang Kallo --desanya Raden-- nimbrung. Ombak kencang. Baiknya menginap saja, himbaunya.

Saya menimbang-nimbang. Kata warga, cara tahu ombak kencang atau tidak, bisa dilihat dari buihnya. Saya menyipitkan mata, sok-sokan meneliti ombak. Buihnya seperti susu coklat yang dikocok.

"Basah kah? Bawa laptop aman?" Ragu-ragu saya bertanya.

"Pasti basah, tapi aman aja."

Anehnya, meski pemuda tersebut mencoba meyakinkan, entah kenapa feeling saya malah makin ragu.

Ok, trust your gut, Del. Akhirnya saya batal menumpang balapan.

Karena susah sinyal untuk menelfon Pak Lukman, Raden menawarkan diri mengantar ke rumah tempat guru-guru di sekolahnya biasa menginap. Saat tiba di sana, pemilik rumah sedang tidur siang.

Tak lama setelah Raden pamit pulang, sang ibu pun akhirnya mengulet bangun. Mencoba mengesampingkan rasa nggak enak-an, dengan muka badak saya bertanya apa boleh bermalam. Sang ibu mengalihkan pada rumah lain. Hiks, ditolak. Ya wajar sih, kenal juga belum, tau-tau mau numpang menginap.

Sambil menggendong carrier merah andalan, saya celingak-celinguk cari rumah lain. Kebingungan, saya memutuskan cari makan saja, lalu curhat ke penjualnya bahwa saya ketinggalan kapal.

Dengan baik hatinya, bapak penjual soto menawarkan rumahnya untuk tempat saya bermalam.

Maghrib tiba. Raden SMS saya, tadi ombak kencang sekali. Kapal goyang ekstrim, miring kiri dan kanan. Ibu-ibu yang sekapal dengannya sampai menangis ketakutan.

"Untung lo nggak jadi nyebrang. Ati-ati ya, semangat :)" Ia menutup sms nya dengan emoticon senyum.

Saya pun ikut senyum membacanya. Alhamdulillah masih ada kabar, berarti Raden sudah sampai dengan selamat.

Terus saya membayangkan. Kalau Raden saja yang desanya cuma 15 menit dari dermaga ombaknya super kencang, apalagi desa saya yang minimal 2 jam menyebrang laut lepas. Dengan balapan, wassalam........

21 Oktober 2015, 11.23 WITA, perjalanan pulang ke desa.

Genap sepuluh purnama.

Kepada Semesta yang Maha Baik, terima kasih telah membuka jalan berjumpa dengan orang-orang baik di Paser ini. Terima kasih untuk 'nggak mengizinkan' saya pulang ke desa sore kemarin. Terima kasih selalu melindungi perjalanan kami.

Terima kasih :)

Sunday, October 18, 2015

About Being Jack of All Trades

0 comments
Saya bukan atlet jago silat, tapi saya menikmati 'menarikan' gerakan Perisai Diri.

Saya bukan penari hebat, tapi saya menikmati menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik.

Saya bukan pemain terompet ulung, tapi saya menikmati menggambarkan suasana lewat musik.

Saya bukan desainer profesional, tapi saya menikmati merancang tampilan visual.
 
Some people say it's "jack of all trades, master of none". Back then, I pitied myself, found it's rather sad, to master nothing.

But lately, I come to term with it, that it's okay not to be specialist.

Kemarin, saat sedang sesi "1 jam lebih dekat", Adam --teman PM di daerah Longkali-- berkomentar "gw merasa, ketimbang OPP, yang lebih penting itu justru setelahnya. Mau ngapain? Mau jadi apa? Itu yang harusnya dipikirin"

Sedikit cerita. Jadi, di sisa waktu menuju akhir penempatan, kami menyelipkan agenda agak ambisius yaitu penampilan tari di kegiatan Orientasi Pasca Penugasan (OPP).

Nah, kami ingin tampil sebaik mungkin, bahkan saya mengajukan diri menjadi penanggung jawab sampai membuat 'ikrar tari' segala, hahaha. Niat.

Kembali pada pernyataan Adam tadi, menjelang masa purna tugas, 'galau karir' menjadi topik yang hangat dibahas.

Kalau direnungi lagi ya, saya juga clueless sih mau jadi apa. Tapi ternyataaaaaaaa.. banyak mempelajari hal yang bervariasi (dan kadang seperti tidak ada hubungannya) tuh membawa keuntungan tersendiri.

Seperti hari ini ketika kami latihan tari untuk OPP. Beberapa gerakannya ada unsur silat dan sedikit dasar balet. Saya pernah ikut, jadi lumayan luwes penyesuaiannya.

Atau seperti kemarin, ketika kami membantu dinas pendidikan mengadakan pelatihan guru. Mereka butuh desain poster, spanduk, sertifikat, nametag, dan kebutuhan cetak lainnya. Saya bisa bantu, jadi nggak perlu gemes-gemes lihat desain yang nggak 'sreg' dipandang.

Atau ketika mengajarkan musik, melatih anak-anak menjadi dirigen, dan PBB. Modal saya adalah ilmu dari marching band, jadi kalau yang dasar-dasar mah sudah di luar kepala.

Walaupun jauuuuuuuuh dari ahli, tapi setidaknya, saya bisa. Tak perlu mulai dari nol. Kalaupun memang harus mulai dari nol, karena terbiasa menjadi pemula, saya bersedia mencoba.

Saya hanya tak mau menutup pintu kemungkinan pada hal-hal baru. Tapi bukan berarti tidak bertanggung jawab. Prinsip "selesaikan apa yang sudah dimulai" selalu saya usahakan tepati.

Well, semoga saya tidak menjilat ludah sendiri dan masih tetap bisa memegang teguh prinsip ini nantinya dan selamanya. aamiin.

Intinya, walaupung nggak ada yang nanya 'mau jadi apa', saya mau jawab dengan jawaban yang sangat abstrak.

I wanna be content with myself, embrace my many passions, and do it with full responsibility.

Saya nggak tahu sih ini pembenaran atau bukan, tapi sejauh ini, saya menemukan bahwa menjadi 'jack of all trades' yang niat dan penuh totalitas ternyata tidak buruk juga.

Siapa tahu ke depannya bisa 'mastering some', kan? Yaudah, sekarang usaha dulu saja.

Saturday, October 3, 2015

Gila Sejenak

2 comments
Rasanya jadi guru itu...

Capek. Sumpah! Saya kira saya bisa dengan pedenya bilang saya tidak gampang marah. Ternyata tidak juga. Tiap hari menghadapi puluhan anak yang ulahnya macam-macam kadang membuat saya bersumbu pendek. 

Saya pernah meledak hanya karena ketika diberi instruksi "satu kelompok ber-5 atau 6", anak-anak tidak menyimak dan masih saja bertanya jutaan kali "bu, ber-8 boleh kah?" "Bu, ber-3 aja je ta ndak papa?" Bu... bu... bu... ISSSH!

Saya keceplosan menyahut gemas "kamu punya telinga tidak?! Tadi dengar apa kata ibu?! LI-MA SAM-PAI E-NAM. Bisa berhitung tidak?! Hitung sudah dengan jarimu!" Anak-anak tertunduk. Mengkeret. Setelah itu saya menyesal. Meskipun jengkel luar biasa, tidak semestinya saya berkata sekasar itu.

Pernah juga saya kelepasan meneriaki anak di depan umum. Petang itu, di perjalanan pulang dari pantai, salah satu anak uangnya hilang. Kami balik lagi menelusuri jembatan kayu untuk mencari.

Ternyata air sudah pasang. Akhirnya saya bilang padanya, pulang saja. Bahaya, sudah Maghrib. Tapi ia tidak mau dengar. "PULANG SEKARANG ATAU IBU TINGGAL!" Kesal, saya berteriak galak. Ia kembali, berjalan membuntuti, tapi menjaga jarak jauh-jauh dengan saya.

Demi apapun, ternyata susah sekali ya mengurus dan mendidik anak. Contoh tadi hanya sebagian kecil saja. Belum lagi........ ah sudahlah.

Tapi itu konsekuensi. Saya dengan sepenuh sadar memilih. Kalau ingat perjalanan panjang daftar, tes, gagal, galau, pengangguran, dapat pekerjaan baru, daftar lagi, lolos, resign dari kerjaan yang lagi enak-enaknya, pelatihan, sampai sekarang ada di Borneo, rasanya tak pantas saya mengeluh.

Saya seumur hidup tidak pernah tertarik menjadi guru. Terpikir pun tidak. Never, even in my wildest dream, I would become a teacher.

Tapi entahlah, keputusan ini terasa tepat saja. One of my best big decision so far.

Meskipun demikian, serbuan keraguan tidak sekali-dua kali datang. Bahkan tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, saat saya melakukan ritual coret kalender, saya mendadak sedih. Cemas. Gelisah. Senewen. Uring-uringan. Tinggal sebentar lagi, dan saya masih gini-gini saja.

Saya jadi mempertanyakan, kalau masih suka mengomeli anak, apa saya pantas menjadi seorang guru? Menjadi panutan yang digugu dan ditiru? Apakah saya sudah mendidik murid-murid dengan benar? Atau malah menyesatkan?

Saya mengatur napas, menyediakan waktu sejenak untuk katarsis dengan monolog.

Mungkin kalau ada orang lihat, dikira saya sudah gila, karena saya benar-benar ngomong sendiri. Saya membiarkan segala perasaan tidak nyaman itu tercurahkan.

Setelah lega, saya mencari momen-momen bahagia bersama anak-anak. Waaah, banyak sekali! Tadinya saya ingin jadi gila lagi dengan ngomong sendiri, tapi ternyata tidak perlu. Hanya dengan memikirkannya saja, senyum langsung mengembang. Mood secepat kilat membaik.

Di perjalanan menuju sekolah, saya geli sendiri mengingat kekonyolan yang barusan saya lakukan.

Yaaah, tak apa lah ya. Pembelaan saya, semua orang pasti pernah gila sejenak :))