Gila Sejenak

Rasanya jadi guru itu...

Capek. Sumpah! Saya kira saya bisa dengan pedenya bilang saya tidak gampang marah. Ternyata tidak juga. Tiap hari menghadapi puluhan anak yang ulahnya macam-macam kadang membuat saya bersumbu pendek. 

Saya pernah meledak hanya karena ketika diberi instruksi "satu kelompok ber-5 atau 6", anak-anak tidak menyimak dan masih saja bertanya jutaan kali "bu, ber-8 boleh kah?" "Bu, ber-3 aja je ta ndak papa?" Bu... bu... bu... ISSSH!

Saya keceplosan menyahut gemas "kamu punya telinga tidak?! Tadi dengar apa kata ibu?! LI-MA SAM-PAI E-NAM. Bisa berhitung tidak?! Hitung sudah dengan jarimu!" Anak-anak tertunduk. Mengkeret. Setelah itu saya menyesal. Meskipun jengkel luar biasa, tidak semestinya saya berkata sekasar itu.

Pernah juga saya kelepasan meneriaki anak di depan umum. Petang itu, di perjalanan pulang dari pantai, salah satu anak uangnya hilang. Kami balik lagi menelusuri jembatan kayu untuk mencari.

Ternyata air sudah pasang. Akhirnya saya bilang padanya, pulang saja. Bahaya, sudah Maghrib. Tapi ia tidak mau dengar. "PULANG SEKARANG ATAU IBU TINGGAL!" Kesal, saya berteriak galak. Ia kembali, berjalan membuntuti, tapi menjaga jarak jauh-jauh dengan saya.

Demi apapun, ternyata susah sekali ya mengurus dan mendidik anak. Contoh tadi hanya sebagian kecil saja. Belum lagi........ ah sudahlah.

Tapi itu konsekuensi. Saya dengan sepenuh sadar memilih. Kalau ingat perjalanan panjang daftar, tes, gagal, galau, pengangguran, dapat pekerjaan baru, daftar lagi, lolos, resign dari kerjaan yang lagi enak-enaknya, pelatihan, sampai sekarang ada di Borneo, rasanya tak pantas saya mengeluh.

Saya seumur hidup tidak pernah tertarik menjadi guru. Terpikir pun tidak. Never, even in my wildest dream, I would become a teacher.

Tapi entahlah, keputusan ini terasa tepat saja. One of my best big decision so far.

Meskipun demikian, serbuan keraguan tidak sekali-dua kali datang. Bahkan tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, saat saya melakukan ritual coret kalender, saya mendadak sedih. Cemas. Gelisah. Senewen. Uring-uringan. Tinggal sebentar lagi, dan saya masih gini-gini saja.

Saya jadi mempertanyakan, kalau masih suka mengomeli anak, apa saya pantas menjadi seorang guru? Menjadi panutan yang digugu dan ditiru? Apakah saya sudah mendidik murid-murid dengan benar? Atau malah menyesatkan?

Saya mengatur napas, menyediakan waktu sejenak untuk katarsis dengan monolog.

Mungkin kalau ada orang lihat, dikira saya sudah gila, karena saya benar-benar ngomong sendiri. Saya membiarkan segala perasaan tidak nyaman itu tercurahkan.

Setelah lega, saya mencari momen-momen bahagia bersama anak-anak. Waaah, banyak sekali! Tadinya saya ingin jadi gila lagi dengan ngomong sendiri, tapi ternyata tidak perlu. Hanya dengan memikirkannya saja, senyum langsung mengembang. Mood secepat kilat membaik.

Di perjalanan menuju sekolah, saya geli sendiri mengingat kekonyolan yang barusan saya lakukan.

Yaaah, tak apa lah ya. Pembelaan saya, semua orang pasti pernah gila sejenak :))

2 comments:

Anonymous said...

Dellaaa,, you are amazing okay? Semangat ya sayaaang!

fidella anandhita savitri said...

Yooo.. makasih Nyaaa! Lo nulis lagi dooong, pengen baca cerita-cerita lo juga :D

Powered by Blogger.