Obrolan Motor (lagi)

Obrolan motor memang selalu menarik dan personal. Saya pernah menulis tentang itu di sini.

Obrolan motor kali ini, saya dan Ruth --personil 'Geng Kota' (secuplik cerita per-geng-an Paserangers bisa dibaca di sini)-- membahas 'kehidupan pasca OPP'.

"Del, lo abis OPP mau ngapain?" Yak! Pertanyaan ini lagi. Topik hits memang.

"Lo dulu lah." Saya lebih tertarik mendengar cerita kawan saya ini.

Dengan bersemangat, Ruth mulai menceritakan keinginannya. Mulai dari ingin ikut training soft skill, sekolah lagi, melatih guru PAUD, bekerja di Kemenlu, jadi diplomat, lalu lanjut ke UN.

"Cetek ya?" Ia menutup ceritanya.

"MANA ADA KAYAK GITU CETEK?!" Tentu saja saya protes keras. Ruth terbahak.

"Lo nggak mau sekolah lagi?" Ruth balik bertanya sambil memakai maskernya. Oke. Sekarang giliran saya.

Saya menarik napas. Sesak. Tidak jelas karena kabut asap atau karena jawaban yang dari dulu stuck di situ, dari 4 tahun semenjak lulus kuliah.

"Mau banget. Tapi gw bingung. Gw cuma pengen Miami Ad School. Titik. Belajar copywriting, creative thinking, how to develop ideas, dan hal-hal semacam itu. Tapi itu jatohnya course. Mahal pula. Gw cuma pengen belajar, sementara bokap minta gw sekolah lagi ya supaya ilmunya kepake di pekerjaan gw nantinya, dan kalau bisa ya S2."

I exhaled. I just wanna learn it for the sake of learning. That's it. I don't have any other purpose.

Kalau pun harus bertujuan, yang paling terpakai ya bekerja di bidang tulis-menulis. Sementara, saya tidak mau menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan. Saya mau itu jadi hobi yang menghasilkan.

Sebetulnya saya maju-mundur menulis tentang ini, karena sejujurnya, salah satu ketakutan besar saya adalah 'mati rasa' dalam melakukan hal yang saya sangat suka. Mungkin terkesan lebay, tapi menulis itu sudah seperti oksigen jiwa bagi saya. Njir emang lebay njir!

Ingat kata-kata Sarah --anggota Geng Kota juga-- yang mantan jurnalis, "ketika menulis itu jadi pekerjaan, akan ada masa-masa di mana menulis itu jadi nggak ada rasanya."

Boleh lah saya jadi 'buruh korporat' selama menulis tetap bisa jadi tempat pelarian dan katarsis. Tapi ketika pekerjaan saya menulis dan saya muak, saya takut saya tidak tahu harus lari ke mana.

Fyuh. I finally said that.

No comments:

Powered by Blogger.