Semesta Maha Baik

20 Oktober 2015, 22.10 WITA, di kamar warga.

Belakangan, perjalanan pulang ke desa semakin penuh kejutan.

Berdasarkan info dari Fajri bahwa air lagi konda (maksudnya air laut surutnya lama, bisa dari pagi sampe sore), hari ini saya dan Raden balik dari kabupaten agak siang. Niat hati biar nggak perlu lumutan nunggu kapal.

Sesampainya di dermaga Lori, saya mendapati bahwa nggak ada kapal ke Tanjung Aru, desa saya. Sudah jalan dari pagi, jelas warga.

MATIK!

Nggak ada kapal ikan pula. Ah, selain air, kemarau memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit, termasuk dalam mencari ikan, juga kapal dan jodoh #eh

Sebetulnya, kalaupun ada kapal ikan, saya juga nggak mau ambil resiko terlunta-lunta lagi di tengah laut karena mitos-mitosan warga yang bilang "perempuan sendirian di kapal yang isinya laki-laki semua itu bawa sial" sih.

So, unless emergency, omit that option.

"Lo nggak mau telfon Pak Lukman? Siapa tahu bisa numpang nginep di rumah guru Lori" Raden mengeluarkan HPnya, bersiap memberi nomor Pak Lukman, kepala sekolah SD Lori.

Sambil duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi di dermaga, saya membuat isyarat tangan ke atas dan ke depan. Raden tertawa.

"Kalau semesta mengizinkan pasti ada jalan ya."

Saya mengangguk sambil nyengir penuh arti dan segera mencatat nomor Pak Lukman.

Tak lama, seorang pemuda dengan rengge' (semacam jala) di tangannya berjalan menuju balapan (kapal kecil bermesin) yang berlabuh di dekat tempat saya duduk-duduk. Ternyata ia hendak ke Tanjung Aru. Cucok! Saya tanpa basa-basi bertanya, apa boleh menumpang.

Tau-tau seorang bapak-bapak dari Desa Labuang Kallo --desanya Raden-- nimbrung. Ombak kencang. Baiknya menginap saja, himbaunya.

Saya menimbang-nimbang. Kata warga, cara tahu ombak kencang atau tidak, bisa dilihat dari buihnya. Saya menyipitkan mata, sok-sokan meneliti ombak. Buihnya seperti susu coklat yang dikocok.

"Basah kah? Bawa laptop aman?" Ragu-ragu saya bertanya.

"Pasti basah, tapi aman aja."

Anehnya, meski pemuda tersebut mencoba meyakinkan, entah kenapa feeling saya malah makin ragu.

Ok, trust your gut, Del. Akhirnya saya batal menumpang balapan.

Karena susah sinyal untuk menelfon Pak Lukman, Raden menawarkan diri mengantar ke rumah tempat guru-guru di sekolahnya biasa menginap. Saat tiba di sana, pemilik rumah sedang tidur siang.

Tak lama setelah Raden pamit pulang, sang ibu pun akhirnya mengulet bangun. Mencoba mengesampingkan rasa nggak enak-an, dengan muka badak saya bertanya apa boleh bermalam. Sang ibu mengalihkan pada rumah lain. Hiks, ditolak. Ya wajar sih, kenal juga belum, tau-tau mau numpang menginap.

Sambil menggendong carrier merah andalan, saya celingak-celinguk cari rumah lain. Kebingungan, saya memutuskan cari makan saja, lalu curhat ke penjualnya bahwa saya ketinggalan kapal.

Dengan baik hatinya, bapak penjual soto menawarkan rumahnya untuk tempat saya bermalam.

Maghrib tiba. Raden SMS saya, tadi ombak kencang sekali. Kapal goyang ekstrim, miring kiri dan kanan. Ibu-ibu yang sekapal dengannya sampai menangis ketakutan.

"Untung lo nggak jadi nyebrang. Ati-ati ya, semangat :)" Ia menutup sms nya dengan emoticon senyum.

Saya pun ikut senyum membacanya. Alhamdulillah masih ada kabar, berarti Raden sudah sampai dengan selamat.

Terus saya membayangkan. Kalau Raden saja yang desanya cuma 15 menit dari dermaga ombaknya super kencang, apalagi desa saya yang minimal 2 jam menyebrang laut lepas. Dengan balapan, wassalam........

21 Oktober 2015, 11.23 WITA, perjalanan pulang ke desa.

Genap sepuluh purnama.

Kepada Semesta yang Maha Baik, terima kasih telah membuka jalan berjumpa dengan orang-orang baik di Paser ini. Terima kasih untuk 'nggak mengizinkan' saya pulang ke desa sore kemarin. Terima kasih selalu melindungi perjalanan kami.

Terima kasih :)

Comments