Friday, November 27, 2015

Serahkan pada Perasaan

0 comments
Dulu, saya bukan orang yang terbiasa pakai perasaan. Lebih baik menjadi 'dingin' ketimbang terlihat lemah. Lebih baik dipendam dan dibilang cuek daripada diledek cengeng. Lenjeh. Sensitif kayak windchimes.

Tapi saya dibesarkan dari ekskul dan UKM. Organisasi yang bergeraknya pakai hati dan azas kekeluargaannya sangat erat. Mau tak mau ya terasah.

Apalagi di sini. Saya menemukan bahwa ada kekuatan luar biasa di balik memakai perasaan. Kepekaan benar-benar ampuh menggugah hati orang lain untuk bergerak. Jadi, makin terasahlah perasaan saya, sampai-sampai saya menyerah menulis 'dingin'.

Jadi ceritanya, berkat gerilya Sarah mengundang Departemen Kominfo Paser untuk meliput tiap acara kami, menyebarkan berita positif, kemajuan daerah pada khalayak seluas-luasnya, kami diberi kesempatan menulis di kolom opini dalam surat kabar lokal tentang desa penempatan masing-masing.

Saya kebagian menulis tentang salah satu penjual amplang ikan tengiri dan mencoba menantang diri saya dengan menulis objektif. Ala-ala jurnalis lah.

500 of minimum 5000 words, and I had no idea what to write anymore.

Akhirnya saya pengakuan ke Sarah, minta pencerahan. Sarah bilang, "coba mulai dengan tulis apa yang lo rasakan saat pertama kali liat amplang."

Feeling enlightened, I started to write again, exploring my feeling towards it. And it felt great. Now, I'm no longer afraid putting feeling into everything.

Di akhir penempatan ini, saat bercakap cukup personal dengan Fajri (berdua saja, sampai dikira pacaran sama murid-muridnya Fajri, haha), ia bilang "aku udah pasrah. Aku serahkan semua pada feeling."

Iya, setuju. Sekarang, saya tak lagi peduli dibilang baper. Bahkan, saya malah ingin berguru pada Anggi, 'bunda' kami yang istriable sekali, yang lemah lembut, sensitif, gampang terharu, dan sangat peka.

Kenapa saya ingin berguru? Karena sampai sekarang, saya masih 'batu' dalam menitikkan air mata, haha. Padahal, ditahan tak pernah membuat lega, kan?

Yaaah, semoga di akhir nanti, saya tak perlu repot-repot sewot, "KOK GW NGGAK BISA NANGIS SIK?!"

Wednesday, November 11, 2015

Keep Calm and Carpe Diem

0 comments
Setelah lika-liku seru sepuluh bulan ke belakang, di dua purnama menuju pulang, saya mulai bisa 'menari di atas ritme hidup' di sini.

Untuk level anak disorganized seperti saya, jujur, cukup kewalahan mengelola waktu. 

Hal-hal sepele seperti kapan ambil uang ke ATM, kirim karya anak, atau download ide-ide materi ajar, harus saya perhitungkan waktunya, karena tidak bisa dengan mudahnya bolak-balik kabupaten. Butuh waktu paliiing cepat 2 hari 1 malam di kabupaten, itu pun pasti kejar tayang.

Di luar urusan pribadi dan sekolah, saya juga harus membagi waktu untuk pertemuan-pertemuan di kabupaten. Efeknya bagus sih, saya jadi terbiasa membuat workplan, to-do list, jadwal agenda, atau apa pun itu istilahnya. Kalau tidak, bakal banyak urusan yang terlewat.

Semester lalu, saya menjadi wali kelas sekaligus guru SBK. Mencelos rasanya saat pembagian rapor, ada wali murid yang dengan santai bercerita, anaknya bingung siapa gurunya. "Kadang Bu Della, kadang Bu Rukaya, kadang Bu Dewi". Ini karena saya sering izin ke kabupaten, jadi kelas saya dipegang guru yang berbaik hati menggantikan.

Sebetulnya saya sangat bersyukur atas kerjasama para guru yang saling back up apabila ada guru yang tidak hadir, apalagi paham betul posisi saya di sini: caught in between, being the last runner to make sure the sustainability of our movement.

Tapi tetap saja rasanya tuh........ nggak bisakah prioritas itu cuma satu? Malahan saya lebih memilih pada protes saja sekalian kenapa saya sering keluar. Kalau dimaklumi begini kan saya jadi semakin merasa bersalah. Kasihan anak-anak bingung gurunya ganti-ganti.

Ah, manusia memang tak pernah puas ya.

Anyway, belajar dari pengalaman semester lalu itu, di semester ini saya meminta izin kepala sekolah untuk menjadi guru SBK saja, dan ternyata itu keputusan yang tepat. Well, setidaknya setelah berjalan beberapa bulan ini.

Mulai semester baru, saya mencoba lebih rapi dan terencana. Kesepakatan kelas yang baru. Pemetaan materi satu semester ke depan. Membuat kelas musik. Prakarya yang lebih berwarna. Metode penilaian yang beragam. Dan lainnya.

Perkara menghadapi murid-murid, memang, satu-dua kali, saya masih suka sumbu pendek seperti yang saya tulis di sini. Masih sering merasa gagal jadi guru. Khawatir ini-itu.

Tapi apa yaaah.. sekarang tuh rasanya ibarat main terompet, akhirnya ketemu 'celah' gimana cara niup yang 'nge-blow'. Atau ketemu posisi nyaman spin dan toss riffle. Argh, bingung menjelaskannya.

Mungkin karena para Paserangers --istilah untuk tim Pengajar Muda Paser-- juga sudah 'dapat polanya'. Jadi, pembuatan jadwal monthly meeting --kami tiap bulan selalu menjadwalkan rapat koordinasi tim-- semakin lama semakin ciamik. Efisien, efektif, dan tanpa kehilangan unsur fun.

Selain memudahkan penyesuaian dengan kegiatan di desa, juga membuat saya nggak lagi jadi 'guru PHP' yang menjanjikan les atau main sama anak-anak, eh nggak taunya ada urusan di kabupaten.

Menyadari hal yang sebetulnya positif ini, saya justru jadi jengkel sendiri. Kenapa baru sekarang, hah?! Coba dari dulu-dulu. Tapi ya sudahlah. Maksimalkan saja waktu yang tersisa. Huhu, sebentar lagi. Nggak kerasaaa..

Kemudian, soal perubahan dalam diri selama ada di sini. Saya cukup yakin saya banyak berubah.

Mungkin belum sesignifikan 'life changing' seperti saat saya pertama kali masuk SMA negeri setelah sekian lama jadi 'anak swasta'. Pertama kali pacaran setelah jomblo sekian lama (dan dengan segala drama). Pertama kali kecelakaan dan patah kaki, juga patah hati gagal jadi pasukan TIMBC. Dan 'check point' lainnya.

Dulu saya masih suka jumawa, merasa bisa simsalabim mengubah banyak hal, melakukan semuanya, bahkan membuat excel rinci program selama setahun ke depan dengan keyakinan penuh bisa berjalan lancar.

With full self-affirmation, i expect this gonna be life changing.

Kenyataannya? Semesta ternyata punya banyak selipan program kejutan. Saya pun lupa mempertimbangkan kemampuan.

We all know that phrase: "yes, we can" but we actually should know, we can't do everything. We can only do something, but not all at once.

Rileks. Pelatih brass saya dulu sering sekali bilang begitu. Semakin tegang, malah semakin nggak bisa niup. Semakin ngotot niup, malah semakin nggak keluar bunyi. Begitu juga kata pelatih color guard. Nggak usah terlalu nafsu toss flag atau riffle. Santai saja. Powernya dijaga.

Betul sekali. Dan santaaai.. dan rileeeks. Mungkin, setahun di sini bukan salah satu 'life changing moment' saya, tapi tak apa. Setidaknya, banyak juga perubahan baik pada diri saya.

Lagipula, dari zaman pelatihan pun, yang ditekankan itu 'perubahan perilaku' kan, bukan 'perubahan hidup'?

So, keep calm and carpe diem.

Kicau Kacau

0 comments
Minggu lalu, saya, Ruth, Raden, dan Fajri menghabiskan malam dengan bersantai di Siring, duduk-duduk sambil nyemil pentol dan Nutrisari, menikmati suasana sepanjang Sungai Kandilo.

Setelah sepekan lebih berkutat dengan titah Jokowi "Kerja! Kerja! Kerja!", menikmati malam sesantai itu tanpa perlu rapat evaluasi dan sosialisasi jadwal rasanyaaa.. mewah. Haha.

Ditambah, hujan deras yang mengguyur Paser beberapa hari belakangan membuat udara terasa lebih segar karena kabut asap menipis. Alhamdulillah.

Percakapan menyenangkan pun mengalir, diawali dengan membayangkan 1 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, sampai saling memberi feedback. Mengutarakan kekaguman dan apresiasi pada tim cetar membahana ini.

Terhanyut dalam obrolan seru, tanpa sadar malam semakin larut. Kami pun kembali ke rumah dinas. Dalam perjalanan, dibonceng Fajri yang banyak diam, ingatan saya meloncat ke sana kemari.

Ah, sepertinya 1 posting tidak akan cukup mencurahkan pikiran yang meluap. Rasanya potongan berbagai kejadian ingin buru-buru saya rangkai.

Di suatu pagi, masih dengan formasi yang sama (saya, Ruth, Fajri, Raden), saya membuka topik soal Ubud Writers and Readers Festival yang melarang diskusi tentang pembantaian PKI.

Ruth bertanya, sebetulnya kenapa PKI dibantai? Fajri kemudian bercerita tentang sejarah terbentuknya komunis, dibawanya konsep tersebut ke Indonesia oleh Soekarno, sampai mengapa terjadi pembantaian.

Ngalor-ngidul, kami sampai pada kesimpulan bahwa seorang pemimpin yang niatnya tulus, bekerja dengan jujur, dan bebas kepentingan, pasti progress daerah yang dipimpinnya akan cepat mengalami kemajuan.

"Tapi kebijakan politik, ekonomi, nggak mungkin bebas kepentingan. Nggak mungkin. Yang mungkin itu kaum akademisi yang nggak takut mati." Fajri mengoreksi.

Lalu pikiran saya meloncat pada Prof. Sangkot Marzuki. Akademisi hebat yang rendah hati dan punya jiwa nasionalisme tinggi.

Tersadar akan besarnya peluang saya 'mencuri ilmu' dari orang-orang seperti Prof Sangkot, saya refleks berkata, "oke. Gw mau balik lagi ke kantor lama."

Entah bagaimana, pembahasan kami malah berujung pada apa yang bisa kita lakukan kalau jadi pemimpin bangsa ini nanti. Perihal topik ini, jujur, saya jiper. Merasa belum berkapasitas sampai ke sana, bahkan membayangkannya pun tidak berani.

"Yaaah.. see you on top pokoknya." Fajri tertawa, mengakhiri pembahasan berat pagi itu.

Pikiran saya kemudian meloncat lagi pada obrolan makan siang dengan keluarga Komandan Distrik Militer (Dandim), membahas topik bela negara.

Karena super penasaran, seolah wartawan, saya mengajukan banyak pertanyaan pada Pak Dandim. Bagaimana sebenarnya konsep bela negara ini? Apa outputnya? Sifatnya wajib atau kerelawanan? Apakah wujudnya harus berupa latihan militer atau bisa diterapkan di ranah lain, pendidikan misalnya?

Kalau memang outputnya adalah nasionalisme, saya rasa konsep bela negara punya beragam bentuk. Karena dengan berada di sini saja, menjadi Pengajar Muda, rasa nasionalisme sangat terpupuk. Apa itu yang dicari?

"Kalau kamu atau teman-teman punya ide, terobosan, masukan tentang ini, utarakan aja. Nanti bisa saya sampaikan pada atasan." Usai menjelaskan, Pak Dandim menyatakan keterbukaannya akan segala masukan. Menyenangkan sekali memang berdiskusi dengan beliau.

Kalau dipikir-pikir, alangkah beruntungnya saya. Dulu, mana pernah terbayang sebelumnya, duduk santai semeja bersama salah satu 'pejabat militer' daerah, berdialog seru diselingi kunyahan buras dan kelapa gula aren.

Oke. Kembali pada malam santai di Siring. Tiap kali mengobrol berkualitas seperti ini, feedback-feedback-an, saya selalu merasa bersyukur.

Am surrounded by a real future leaders. Those dominant people who have both power, attitude, and kindness. Those who love to talk about issues, ideas, plans, and focus on problem solvings instead of complaining about how cruel and unfair life is. Those who are bright, sparkling under their own spotlight.

Terima kasih ya teman-teman. Saya mah nggak ada apa-apanya dibanding kalian, tapi berkat kalian, saya makin terpacu buat 'jadi apa-apa' seperti Prof Sangkot atau Pak Dandim.

Because life is not always about finding a meaning, but being meaningful.

Yaudah. Sekian postingan penuh kicauan kacau.