Keep Calm and Carpe Diem

Setelah lika-liku seru sepuluh bulan ke belakang, di dua purnama menuju pulang, saya mulai bisa 'menari di atas ritme hidup' di sini.

Untuk level anak disorganized seperti saya, jujur, cukup kewalahan mengelola waktu. 

Hal-hal sepele seperti kapan ambil uang ke ATM, kirim karya anak, atau download ide-ide materi ajar, harus saya perhitungkan waktunya, karena tidak bisa dengan mudahnya bolak-balik kabupaten. Butuh waktu paliiing cepat 2 hari 1 malam di kabupaten, itu pun pasti kejar tayang.

Di luar urusan pribadi dan sekolah, saya juga harus membagi waktu untuk pertemuan-pertemuan di kabupaten. Efeknya bagus sih, saya jadi terbiasa membuat workplan, to-do list, jadwal agenda, atau apa pun itu istilahnya. Kalau tidak, bakal banyak urusan yang terlewat.

Semester lalu, saya menjadi wali kelas sekaligus guru SBK. Mencelos rasanya saat pembagian rapor, ada wali murid yang dengan santai bercerita, anaknya bingung siapa gurunya. "Kadang Bu Della, kadang Bu Rukaya, kadang Bu Dewi". Ini karena saya sering izin ke kabupaten, jadi kelas saya dipegang guru yang berbaik hati menggantikan.

Sebetulnya saya sangat bersyukur atas kerjasama para guru yang saling back up apabila ada guru yang tidak hadir, apalagi paham betul posisi saya di sini: caught in between, being the last runner to make sure the sustainability of our movement.

Tapi tetap saja rasanya tuh........ nggak bisakah prioritas itu cuma satu? Malahan saya lebih memilih pada protes saja sekalian kenapa saya sering keluar. Kalau dimaklumi begini kan saya jadi semakin merasa bersalah. Kasihan anak-anak bingung gurunya ganti-ganti.

Ah, manusia memang tak pernah puas ya.

Anyway, belajar dari pengalaman semester lalu itu, di semester ini saya meminta izin kepala sekolah untuk menjadi guru SBK saja, dan ternyata itu keputusan yang tepat. Well, setidaknya setelah berjalan beberapa bulan ini.

Mulai semester baru, saya mencoba lebih rapi dan terencana. Kesepakatan kelas yang baru. Pemetaan materi satu semester ke depan. Membuat kelas musik. Prakarya yang lebih berwarna. Metode penilaian yang beragam. Dan lainnya.

Perkara menghadapi murid-murid, memang, satu-dua kali, saya masih suka sumbu pendek seperti yang saya tulis di sini. Masih sering merasa gagal jadi guru. Khawatir ini-itu.

Tapi apa yaaah.. sekarang tuh rasanya ibarat main terompet, akhirnya ketemu 'celah' gimana cara niup yang 'nge-blow'. Atau ketemu posisi nyaman spin dan toss riffle. Argh, bingung menjelaskannya.

Mungkin karena para Paserangers --istilah untuk tim Pengajar Muda Paser-- juga sudah 'dapat polanya'. Jadi, pembuatan jadwal monthly meeting --kami tiap bulan selalu menjadwalkan rapat koordinasi tim-- semakin lama semakin ciamik. Efisien, efektif, dan tanpa kehilangan unsur fun.

Selain memudahkan penyesuaian dengan kegiatan di desa, juga membuat saya nggak lagi jadi 'guru PHP' yang menjanjikan les atau main sama anak-anak, eh nggak taunya ada urusan di kabupaten.

Menyadari hal yang sebetulnya positif ini, saya justru jadi jengkel sendiri. Kenapa baru sekarang, hah?! Coba dari dulu-dulu. Tapi ya sudahlah. Maksimalkan saja waktu yang tersisa. Huhu, sebentar lagi. Nggak kerasaaa..

Kemudian, soal perubahan dalam diri selama ada di sini. Saya cukup yakin saya banyak berubah.

Mungkin belum sesignifikan 'life changing' seperti saat saya pertama kali masuk SMA negeri setelah sekian lama jadi 'anak swasta'. Pertama kali pacaran setelah jomblo sekian lama (dan dengan segala drama). Pertama kali kecelakaan dan patah kaki, juga patah hati gagal jadi pasukan TIMBC. Dan 'check point' lainnya.

Dulu saya masih suka jumawa, merasa bisa simsalabim mengubah banyak hal, melakukan semuanya, bahkan membuat excel rinci program selama setahun ke depan dengan keyakinan penuh bisa berjalan lancar.

With full self-affirmation, i expect this gonna be life changing.

Kenyataannya? Semesta ternyata punya banyak selipan program kejutan. Saya pun lupa mempertimbangkan kemampuan.

We all know that phrase: "yes, we can" but we actually should know, we can't do everything. We can only do something, but not all at once.

Rileks. Pelatih brass saya dulu sering sekali bilang begitu. Semakin tegang, malah semakin nggak bisa niup. Semakin ngotot niup, malah semakin nggak keluar bunyi. Begitu juga kata pelatih color guard. Nggak usah terlalu nafsu toss flag atau riffle. Santai saja. Powernya dijaga.

Betul sekali. Dan santaaai.. dan rileeeks. Mungkin, setahun di sini bukan salah satu 'life changing moment' saya, tapi tak apa. Setidaknya, banyak juga perubahan baik pada diri saya.

Lagipula, dari zaman pelatihan pun, yang ditekankan itu 'perubahan perilaku' kan, bukan 'perubahan hidup'?

So, keep calm and carpe diem.

No comments:

Powered by Blogger.