Kicau Kacau

Minggu lalu, saya, Ruth, Raden, dan Fajri menghabiskan malam dengan bersantai di Siring, duduk-duduk sambil nyemil pentol dan Nutrisari, menikmati suasana sepanjang Sungai Kandilo.

Setelah sepekan lebih berkutat dengan titah Jokowi "Kerja! Kerja! Kerja!", menikmati malam sesantai itu tanpa perlu rapat evaluasi dan sosialisasi jadwal rasanyaaa.. mewah. Haha.

Ditambah, hujan deras yang mengguyur Paser beberapa hari belakangan membuat udara terasa lebih segar karena kabut asap menipis. Alhamdulillah.

Percakapan menyenangkan pun mengalir, diawali dengan membayangkan 1 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, sampai saling memberi feedback. Mengutarakan kekaguman dan apresiasi pada tim cetar membahana ini.

Terhanyut dalam obrolan seru, tanpa sadar malam semakin larut. Kami pun kembali ke rumah dinas. Dalam perjalanan, dibonceng Fajri yang banyak diam, ingatan saya meloncat ke sana kemari.

Ah, sepertinya 1 posting tidak akan cukup mencurahkan pikiran yang meluap. Rasanya potongan berbagai kejadian ingin buru-buru saya rangkai.

Di suatu pagi, masih dengan formasi yang sama (saya, Ruth, Fajri, Raden), saya membuka topik soal Ubud Writers and Readers Festival yang melarang diskusi tentang pembantaian PKI.

Ruth bertanya, sebetulnya kenapa PKI dibantai? Fajri kemudian bercerita tentang sejarah terbentuknya komunis, dibawanya konsep tersebut ke Indonesia oleh Soekarno, sampai mengapa terjadi pembantaian.

Ngalor-ngidul, kami sampai pada kesimpulan bahwa seorang pemimpin yang niatnya tulus, bekerja dengan jujur, dan bebas kepentingan, pasti progress daerah yang dipimpinnya akan cepat mengalami kemajuan.

"Tapi kebijakan politik, ekonomi, nggak mungkin bebas kepentingan. Nggak mungkin. Yang mungkin itu kaum akademisi yang nggak takut mati." Fajri mengoreksi.

Lalu pikiran saya meloncat pada Prof. Sangkot Marzuki. Akademisi hebat yang rendah hati dan punya jiwa nasionalisme tinggi.

Tersadar akan besarnya peluang saya 'mencuri ilmu' dari orang-orang seperti Prof Sangkot, saya refleks berkata, "oke. Gw mau balik lagi ke kantor lama."

Entah bagaimana, pembahasan kami malah berujung pada apa yang bisa kita lakukan kalau jadi pemimpin bangsa ini nanti. Perihal topik ini, jujur, saya jiper. Merasa belum berkapasitas sampai ke sana, bahkan membayangkannya pun tidak berani.

"Yaaah.. see you on top pokoknya." Fajri tertawa, mengakhiri pembahasan berat pagi itu.

Pikiran saya kemudian meloncat lagi pada obrolan makan siang dengan keluarga Komandan Distrik Militer (Dandim), membahas topik bela negara.

Karena super penasaran, seolah wartawan, saya mengajukan banyak pertanyaan pada Pak Dandim. Bagaimana sebenarnya konsep bela negara ini? Apa outputnya? Sifatnya wajib atau kerelawanan? Apakah wujudnya harus berupa latihan militer atau bisa diterapkan di ranah lain, pendidikan misalnya?

Kalau memang outputnya adalah nasionalisme, saya rasa konsep bela negara punya beragam bentuk. Karena dengan berada di sini saja, menjadi Pengajar Muda, rasa nasionalisme sangat terpupuk. Apa itu yang dicari?

"Kalau kamu atau teman-teman punya ide, terobosan, masukan tentang ini, utarakan aja. Nanti bisa saya sampaikan pada atasan." Usai menjelaskan, Pak Dandim menyatakan keterbukaannya akan segala masukan. Menyenangkan sekali memang berdiskusi dengan beliau.

Kalau dipikir-pikir, alangkah beruntungnya saya. Dulu, mana pernah terbayang sebelumnya, duduk santai semeja bersama salah satu 'pejabat militer' daerah, berdialog seru diselingi kunyahan buras dan kelapa gula aren.

Oke. Kembali pada malam santai di Siring. Tiap kali mengobrol berkualitas seperti ini, feedback-feedback-an, saya selalu merasa bersyukur.

Am surrounded by a real future leaders. Those dominant people who have both power, attitude, and kindness. Those who love to talk about issues, ideas, plans, and focus on problem solvings instead of complaining about how cruel and unfair life is. Those who are bright, sparkling under their own spotlight.

Terima kasih ya teman-teman. Saya mah nggak ada apa-apanya dibanding kalian, tapi berkat kalian, saya makin terpacu buat 'jadi apa-apa' seperti Prof Sangkot atau Pak Dandim.

Because life is not always about finding a meaning, but being meaningful.

Yaudah. Sekian postingan penuh kicauan kacau.

No comments:

Powered by Blogger.