Serahkan pada Perasaan

Dulu, saya bukan orang yang terbiasa pakai perasaan. Lebih baik menjadi 'dingin' ketimbang terlihat lemah. Lebih baik dipendam dan dibilang cuek daripada diledek cengeng. Lenjeh. Sensitif kayak windchimes.

Tapi saya dibesarkan dari ekskul dan UKM. Organisasi yang bergeraknya pakai hati dan azas kekeluargaannya sangat erat. Mau tak mau ya terasah.

Apalagi di sini. Saya menemukan bahwa ada kekuatan luar biasa di balik memakai perasaan. Kepekaan benar-benar ampuh menggugah hati orang lain untuk bergerak. Jadi, makin terasahlah perasaan saya, sampai-sampai saya menyerah menulis 'dingin'.

Jadi ceritanya, berkat gerilya Sarah mengundang Departemen Kominfo Paser untuk meliput tiap acara kami, menyebarkan berita positif, kemajuan daerah pada khalayak seluas-luasnya, kami diberi kesempatan menulis di kolom opini dalam surat kabar lokal tentang desa penempatan masing-masing.

Saya kebagian menulis tentang salah satu penjual amplang ikan tengiri dan mencoba menantang diri saya dengan menulis objektif. Ala-ala jurnalis lah.

500 of minimum 5000 words, and I had no idea what to write anymore.

Akhirnya saya pengakuan ke Sarah, minta pencerahan. Sarah bilang, "coba mulai dengan tulis apa yang lo rasakan saat pertama kali liat amplang."

Feeling enlightened, I started to write again, exploring my feeling towards it. And it felt great. Now, I'm no longer afraid putting feeling into everything.

Di akhir penempatan ini, saat bercakap cukup personal dengan Fajri (berdua saja, sampai dikira pacaran sama murid-muridnya Fajri, haha), ia bilang "aku udah pasrah. Aku serahkan semua pada feeling."

Iya, setuju. Sekarang, saya tak lagi peduli dibilang baper. Bahkan, saya malah ingin berguru pada Anggi, 'bunda' kami yang istriable sekali, yang lemah lembut, sensitif, gampang terharu, dan sangat peka.

Kenapa saya ingin berguru? Karena sampai sekarang, saya masih 'batu' dalam menitikkan air mata, haha. Padahal, ditahan tak pernah membuat lega, kan?

Yaaah, semoga di akhir nanti, saya tak perlu repot-repot sewot, "KOK GW NGGAK BISA NANGIS SIK?!"

No comments:

Powered by Blogger.