Posts

Showing posts from 2016

Connecting the Dots, Understanding the Odds

Di suatu sore, saya berbincang santai-serius dengan Pak Hikmat Hardono. Berangkat dari satu pertanyaan yang menggantung sejak Mei lalu terkait sejauh apa peran pelibatan publik dalam membantu negara, saya beberapa kali kontak Pak HH untuk ajak diskusi.

Tapi barangkali karena tengah berenang-renang di lautan kesibukan, baru sempat ngobrol paska reshuffle. Telat? Well........ better than nothing, yes?

Pak HH menggambar sebuah skema dan menjelaskan pada saya. "Sederhananya kira-kira begini. Kita punya pemerintah, kita punya society. Untuk mencapai sebuah tujuan, publik membantu pemerintah agar kebijakan bisa efektif. Sementara dalam society, mereka mengorganisir diri sendiri."

Saya mulai mencerna dan mencatat.

"Kemarin, kita bekerja di dalam pemerintahan, memang sudah seharusnya melibatkan publik. Karena ada kebijakan dan anggarannya. Sekarang, kita ada di luar, mari kembali bekerja sesuai porsi masing-masing. Memang berbeda caranya."

Pikiran saya melompat acak pada b…

(Masih) Hal Konkrit Sederhana

Dari hari Minggu (07/08) lalu, jagad media mulai membicarakan wacana Mendikbud soal Full Day School (FDS). Kian ramai sampai Rabu (10/08). Sekarang? Belum tau, masih menunggu perkembangan.

Saat mendengar berita itu, reaksi pertama saya rasanya mau ngamuk. Tapi saya tahan-tahan. Tanya sana-sini, minta klarifikasi, cek berbagai media, cek opini para pegiat pendidikan, dan ikut diskusi dalam grup.
Tetap saja, saya tak bisa menipu diri sendiri. Wacana ini tidak masuk akal kalau betul akan diterapkan dalam skala nasional. Seperti postingan sebelumnya, saya bukan dalam kapasitas mengkritisi apalagi mengkaji wacana FDS.
Justru, yang mau saya kaji itu diri sendiri.
Apa saya sama reaktifnya dengan yang lainnya? Bagaimana cara saya bertanya pada orang-orang yang bisa saya minta klarifikasinya? Apakah saya benar-benar mendengar penjelasan mereka? Atau saya cuma ingin dengar pembenaran?

Bagaimana agar segera kembali berpikir jernih? Bagaimana mencoba berempati dengan teman-teman di internal Kemdi…

Hal Konkrit Sederhana

Masih soal reshuffle. Iya, belum move on. Saya lagi gelisah, tapi nggak mau umbar galau yang yang sepotong-sepotong di media sosial. Sekalian aja dituntaskan dalam satu tulisan ini, lalu bergegas tidur. Sudah pukul setengah empat.

Jadi begini. Mau cerita sedikit, flashback masa-masa di penempatan yang situasinya mirip. Saya ingat betul, di awal April tahun lalu, ada pergantian pimpinan di SD tempat saya mengajar.

Kabar tersebut jelas mengejutkan, apalagi kepala sekolah yang ada merupakan favorit semua orang. Beliau dikenal sebagai sosok kepala sekolah yang ramah dan concern akan perbaikan fasilitas sekolah, juga mengutamakan kesejahteraan guru.

Beliau juga sangat mendukung kegiatan lomba-lomba, bahkan nombok dari uang pribadi. Selain itu, beliau merombak habis-habisan manajemen sekolah dengan menambah jumlah guru honorer dan membagi kelas menjadi 2 rombel, serta mengakali kekurangan ruangan dengan kelas pagi-siang.

Bagi kami, Pengajar Muda, beliau masuk dalam kriteria local champion i…

Anies Pamit (part 2)

Image
Seharusnya, H+1 reshuffle saya sudah nggak perlu datang ke kantor. Tapi barang-barang saya beberapa masih tertinggal. Lagipula, ada pertemuan dengan Production House yang akan presentasi video untuk tayang di bioskop (SOON! Hehe).

13.00 WIB

credit: @kawanakhdyan
Berhubung Rabu lalu Pak Anies selesai menjabat, jadi beliau sudah nggak bisa pakai lagi ruang menteri. Makanya, beliau pindah 'markas' sementara di ruang Stafsus.
Mumpung seruangan sama Pak Anies, tercetus ide spontan. Modal muka badak, saya buka percakapan. "Pak, berkenan nggak untuk tulis sedikit thank you notes buat relawan dan semua pihak yang udah bantu di HPS (Hari Pertama Sekolah) kemarin?"
Tanpa jeda berpikir, beliau mengangguk. "Ini ada pulpen warna hitam dan biru. Mau yang mana pak? Warna merah kuning hijau juga ada. Pokoknya siap semua warna" Masih kaget dengan Pak Anies yang begitu saja mengiyakan request, saya nyerocos sambil menyodorkan selembar kertas kosong dan dua buah pulpen.
Belia…

Anies Pamit (part 1)

Image
"Terus berjuang ya pak"

Campur aduk, hanya sepatah kata itu yang bisa keluar dari mulut saya. Sambil tersenyum ramah seperti biasanya, dengan tenang beliau merespon, "ohya harus. Perjalanan kita masih panjang"
Anies Rasyid Baswedan. Sosok yang santun dan bersahaja ini kemarin baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
07.30 WIB
Saya bangun kesiangan. Buka Whatsapp, banyak pesan yang masuk. Tapi kali ini, ada yang beda. Banyak yang bertanya isu reshuffle. 3 bulan yang lalu sebelum saya bergabung di Kementerian, isu reshuffle kencang berhembus, tapi tidak kejadian. Makanya, saya tenang saja.
Ah, isu lagi, pikir saya. Malah, saya sempat becanda, mungkin reshuffle ini pengalihan isu aturan plat nomer ganjil-genap di Jakarta.
Lalu pagi itu, saya mengirim pesan pada atasan saya "mas, ada isu reshuffle lagi?" Dan dijawab dengan emoticon senyum. "Nanti kita ngobrol di kantor"
Eh?!
09.30 WIB
Saya sampai kantor. Mata dan jempol…

Tentang "Kapan Kawin?"

Lebaran ini saya 'disidang' 2 keluarga besar dengan pertanyaan "kapan kawin?" Yasudahlah, memang nggak bisa menghindar, kan?

Saya sebetulnya santai, tapi lama-lama lelah juga akan tatapan aneh orang-orang saat saya bilang "aduuuh ribet. Nanti aja". Saya pun susah menjelaskan bahwa saya 'nggak mau dicariin, males nyari, dan yakin nanti juga ketemu'.

Akhirnya, saya sekalian menjabarkan:

Saya nggak mau pesta besar tapi undangannya banyak yang nggak saya kenal.Saya nggak mau keluar duit banyak cuma buat resepsi yang melelahkan di gedung.Saya nggak mau pakai adat.Saya malas meladeni permintaan gabungan 4 keluarga besar. Keluarga besar papa-mama aja udah pasti banyak maunya. Kalau harus meladeni juga permintaan camer........ :|Daripada ribet, saya mending sekalian nikah sama bule. Atau orang Indonesia yang keluarganya asik, punya pemikiran terbuka soal nikah itu tentang ikatan 2 manusia, bukan urusan beberapa kelompok besar keluarga.Saya mau pakai gaun. Ke…

Sukses Itu Proses (part 2)

Image
5. Push
Teman saya --sebut saja Bayu-- pernah bilang, mungkin life traps saya adalah unrelenting standard. Hah? Apa itu life traps? Apa itu unrelenting standard?
Singkatnya, life traps merupakan 'jebakan' di masa kecil hasil didikan orang tua yang terbawa sampai dewasa. Life traps ini dipandang sebagai sebuah masalah, makanya harus diatasi.
Sementara itu, unrelenting standard adalah salah satu bentuk life traps di mana seseorang dituntut dengan standar tinggi di masa kecil, sehingga ia tumbuh menjadi orang dewasa yang nggak pernah puas.

Bayu bilang, saya yang workaholic, ambisius, dan perfeksionis ini masuk kategori unrelenting standard. Bukan tanpa alasan sebetulnya dia bilang gitu, soalnya saya memang sering banget ngomongin kerjaan. Suka aja bahas berjam-jam, bahkan dalam pertemuan kasual.

Saya sendiri sih nggak merasa saya workaholic. Cuma workafrolic. Hahaha. Makanya, saya bergidik nggak nyaman dengan judgement itu, lalu protes ke Bayu.

Dia bilang, selama kita nggak ngera…

Sukses Itu Proses (part 1)

Sukses itu proses. Yaelah. Klasik.

Jadi begini. Selama libur lebaran ini, saya lagi seneng-senengnya nonton video Ted X dan "Satu Jam Bersama"-nya RTV. Tanpa saya sadar, saya sedang mempelajari bagaimana pemimpin bertindak, juga bagaimana speakers Ted X membocorkan rahasia pemimpin sukses.

Tanpa sadar? Ah masa? Iya, saya nggak berintensi untuk mencari tips sukses. Random aja. Sesuatu yang belakangan langka saya lakukan padahal dulu tiap saat me-random.
Ada satu video Ted X yang menjadi penghubung antara refleksi dan teori, judulnya "8 Secrets of Success" dengan keynote speaker bernama Richard St. John. Setelah 500 interview selama 7 tahun, ia meramu apa yang menjadi kunci sukses.
Berhubung ini judulnya "Sukses Itu Proses", jadi saya mau refleksi aja proses menuju sukses (aamiin). Mungkin ini akan jadi post yang panjang, yang sebetulnya tujuannya bukan buat dibaca orang lain, tapi buat saya baca lagi di kemudian hari.
1. Passion
Kali terakhir saya bahas pas…

Toleransi

Saya ingat zaman sekolah dulu, dalam pelajaran PPKN selalu ditekankan soal toleransi umat beragama. Toleransi pada orang yang sedang beribadah. Misalnya, kecilkan volume TV saat orang lagi shalat. Nggak berisik saat orang lagi berdoa. Nggak makan-minum di depan orang berpuasa.

Bertahun-tahun kemudian, di bulan Ramadhan, topik toleransi muncul kembali. Bedanya, kalau dulu keluar di ulangan, sekarang keluar di berita dan diulang-ulang.

Siapa sih yang nggak tau kasus Perda Serang dan penggrebekan rumah makan Bu Saeni oleh satpol PP? Media terlalu over mem-blow up berita itu.

Kalau saya sih nggak peduli ya. Puasa ya puasa aja. Nggak usah protes kalau ada yang nggak puasa dan makan-minum. Yang nggak puasa juga sadar diri aja. Nggak usah juga protes kalau ada yang meminta mereka untuk nggak makan-minum di depan yang berpuasa.

Tahun lalu, 2 orang teman saya yang non-muslim bahkan ikut sahur, puasa, dan buka di bulan Ramadhan. Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada juga yang melarang. Dan nggak p…

Paid Off

Image
Saya nggak bisa tidur. Overdosis kafein. Mau numpang ngoceh aja di sini.
Jadi, akhir April lalu, saya masuk kantor baru. Dibajak, tepatnya. Baru masuk, saya udah dicemplungin dalam satu kegiatan yang durasinya cukup panjang. Sebulan, dengan persiapan cuma seminggu. Wakwaw.
Karena saya tau saya nggak bisa gerak sendiri, saya minta bala bantuan dan bawel nanya ini-itu ke mana-mana. Modal saya cuma muka badak minta persetujuan untuk inisiatif mengelola relawan walaupun saat itu masih clueless belum tau harus ngapain.

Modal tambahan: tekad dan nekat.
Singkat cerita, sebulan berlalu. Pilot project yang jelasss.. banyak kekurangan di sana-sini, semangat naik-turun, dan bukan sekali-dua kali rasanya pengen buru-buru udahan. Mengelola relawan di tengah birokrasi yang kental itu susah-susah-gampang.
Sempat iri ke teman saat dia cerita betapa menyenangkannya ketika acaranya sukses dan semua senang. "Gw pengen ngerasain paid off juga deh. Kapan ya?" keluh saya yang saat itu udah super…

Oxymoron

Saya nggak tau kutukan macam apa, tapi dari dulu, ketika sudah melibatkan hati, ilmu 'yaudalah ya' jadi level tertinggi yang harus dikuasai. Peduli itu melelahkan, tapi menjadi apatis bukan pilihan.

Meyebalkan, jelas. Gemas, pasti. Tapi biar bagaimana pun, apa yang sudah terpatri akan sulit dicabut kembali. Untuk itu, saya berhutang budi. Juga keki setengah mati.

'Benci-benci-cinta' mungkin istilah paling hoek yang bisa digunakan, tapi paling tepat menggambarkan. Saya dan beberapa teman sepakat melabelinya 'cerita setan'. Cerita yang dihindari, sekaligus tak terhindarkan. Bikin sewot "udah. Nggak usah dibahas" tapi tanpa sadar terus dibahas.

No matter what, you're still dear to my heart. And for that, I hate you :)

Serius Amat, Neng!

Akhir-akhir ini saya lagi hobi serius. Mencerna regulasi, membaca strategi, dan menghadapi birokrasi. Hal-hal yang dulu bikin saya alergi. Sekarang?

Seharian ini, diskusi seru tentang Perda Serang dan kasus penggrebekan rumah makan. Sebelumnya, terkait pelayanan publik yang payah. Sebelumnya lagi, tentang hijab dan aturan seragam sekolah --yang kemudian malah panjang bahas keyakinan--.

Paralel juga bahas Indeks Integritas Ujian Nasional, Neraca Pendidikan Daerah, Uji Kompetensi Guru, kurikulum, matriks pemetaan, peta capaian, regulasi kebijakan, dan yang paling bikin patah hati: kekerasan di sekolah.

Baca, dengar, mencoba empati, dan mungkin karena terlalu menghayati, rasanya sampai nyeri. Itu baru yang saya tau dari teman-teman yang mengalami dan cari tau dari media saat ini. Nggak tahu deh berapa banyak lagi yang belum saya tau. Pengennya malah nggak mau tau.

Jumat kemarin saya nggak masuk kantor. Badan super lemas, kepala pusing, flu berat, sariawan, radang tenggorokan, dan tipikal…

Tentang Hijab dan Aturan Seragam Sekolah

Saya benci guru-guru saya saat SMA. JENG JENG! Terlalu kasar nggak pembukanya?

Sebetulnya nggak semuanya sih. Jadi begini ceritanya. Alkisah, di sebuah sekolah, terdapatlah seorang guru biasa yang awalnya biasa saja. Tapi semua berubah di suatu Jumat siang yang gerah ketika saya menggulung lengan kemeja panjang yang jadi seragam wajib seminggu sekali.

Rasa bosan, lelah, dan ngantuk, membuat saya mulai nggak fokus dan bisik-bisik ngobrol dengan teman. Melihat kami asik sendiri, guru itu marah dan membentak kami "heh kalian ngobrol terus! Kamu lagi. Baju digulung-gulung. Mau jadi perempuan macam apa kamu hah?!"

Saat itu, saya nurut aja biar cepet. Kalau ada yang bilang lebay, ya mungkin memang. Saya benar-benar tersinggung ketika dibilang "mau jadi perempuan macam apa kamu?!"

Maksudnya apa sih? Gara-gara gulung lengan kemeja terus jadi seks bebas gitu? Nonsense. Saya gulung lengan juga karena lipatan siku dalam merah-merah. Gerah. Elah.

Ada lagi, guru yang suka jamb…

Karetnya Dua

Entah kenapa saya ingin menulis tentang teman saya satu ini. Namanya Meiliani Fauziah, panggilannya Sarah. Jangan tanya saya kenapa jauh betul panggilan dan nama panjangnya. Tanya langsung saja.

Anak bungsu dari almarhum jurnalis legendaris, Ersa Siregar. Anak bungsu yang merasa jadi kakak kami semua selama setahun di Paser. Padahal, saya sih menganggapnya tetap paling bungsu. Bahkan Rifat saja --yang 4 tahun lebih muda-- lebih 'sulung' dari Sarah. Mungkin karena memang menjadi sulung ataupun bungsu tidak ada hubungannya dengan umur. Ah sudahlah.

Awal pertemuan saya dengan Sarah adalah saat kopdar Calon Pengajar Muda 9 di Eatology. Sarah yang cerita dengan hebohnya tentang seorang laki-laki yang datang melamarnya dan mau memboyongnya ke Papua. Sarah yang tulisannya bagus. Sarah yang ketika betul-betul bertemu langsung........ ondeee mandeee. Ultrasonik.

Kali kedua kami bertemu adalah ketika di pelatihan, tepatnya hari pertama pelatihan. Ada kejadian super epic saat itu. Ia tid…

Tentang Merespon Feedback

Image
Beberapa hari ini, saya sedang baca buku judulnya "Thanks for the Feedback" Well.. baru part prolog beberapa lembar sih. Tapi saya tahu, ini akan jadi bacaan yang seru!

Jadi, buku ini pemberian teman saya. Kado katanya. Tadinya dia kasih pilihan, mau buku tentang feedback atau buku sejarah. Saya ngakak. You don't say. Jelas sekali mana buku yang akan saya pilih.

Orang yang mengenal saya pasti paham betul bahwa saya suka sekali feedback. Saking sukanya, saya sempat bingung bagaimana saya harus merespon suatu feedback agar mendapat feedback lebih banyak (HAHA). Karena belum pernah baca konsep/teori/apapun tentang feedback, akhirnya saya bagi saja jadi 3: ApresiasiKomentarMasukan yang membangun 1. Apresiasi
Ketika seseorang memberi apresiasi, saya sebisa mungkin berterima kasih dengan sopan dan merespon secukupnya, berusaha untuk nggak cepat puas.
Jujur, dipuji itu menyenangkan. Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai adiktif. You do things to express, not to impress. You d…

Hari Kartini

Image
"Cowok tuh minder juga kalau ketemu cewek yang standarnya lebih tinggi dari dia".

Di sebuah obrolan ngalor-ngidul saat sarapan, seorang teman laki-laki mengaku alasan kenapa perempuan pintar susah dapat pasangan ya karena kaum pria keburu melipir duluan kalau si wanita lebih 'bling-bling' dari dia.

Sambil ketawa, teman perempuan saya komentar, "pantes gw susah punya pacar".

"Yang penting jangan pernah nurunin standar. Rugi. Cari pasangan mah yang selevel" saya ikut nimbrung, sadar juga status jomblo bahagia yang saya sandang ini kadang dilihat aneh sama orang-orang.

Saya mah sebetulnya santai ya ada atau nggak ada pacar, tapi di zaman modern begini, saya masih saja mendapati perempuan yang mengalah, menurunkan standar biar laku.

Kalau masyarakat suku Bugis, ada yang namanya jujuran. Jadi, pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan kalau mau melamar pihak perempuan. Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar jujurannya.…

Komitmen

"Do you have boyfriend?"

"Nope"

"Why?"

"Well, just haven't met him yet"

Dalam sebuah wawancara yang di-setting seperti sidang yang mengintimidasi, saya bisa menjawab dengan tenang, santai, dan apa adanya. Pewawancara sepertinya nggak puas karena usaha intimidasinya nggak mempan pada saya. Ia mendesak lagi.

"You're 27 this year, right? And you have no boyfriend. How come? Do you have problem with commitment?"

Alih-alih membela diri, saya malah ketawa. Dalam hati pengen jawab, "lah kalau soal cinta-cintaan, yang punya masalah sama komitmen mah bukan saya"

"Well, I won't say yes or no, but I can tell strong evidence based on my working and organization experience. After that, you may judge. Should I?"

Untungnya walaupun jawabannya sengak banget, saya berhasil nggak kepancing buat bahas masalah personal. Nggak penting juga sih.

"Ok. You may go out now. Thank you. Please call next turn"

LAH UDAH GIT…

Kaya Raya

Saya belakangan lagi terjebak dilema yang dibuat sendiri di kepala. Mengincar profit, baik? Buruk? Hitung-hitungan dan minta bayaran, baik? Buruk?

Dalam 1.5 tahun ini, mayoritas kegiatan saya adalah kegiatan sosial yang mana ya ada sih uang masuk ke rekening, tapi secukupnya aja lah. Sampai titik di mana saya melek. Sadar lagi bahwa di dunia ini, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

Kalau pakai teori Maslow, seharusnya kan bertahap. Tapi untuk special case, ketika kebutuhan self-actualization sudah terpenuhi, puasa pun rasanya kenyang. Karena memang, melakukan hal-hal yang meaningful itu membuat bahagia. Tapi apa meaningful aja cukup? Bagaimana dengan menjadi impactful?

Saya jadi terngiang-ngiang omongan seorang dokter ketika saya cerita saya 1 tahun mengajar di pedalaman. Dia bilang gini:
"You ngapain sekolah tinggi-tinggi, masih muda, jauh-jauh ke pedalaman. You kerja keras cari uang juga pengabdian. Bantu yang dekat dulu. You no money no action. So you make m…

Outgoing Introverts

Pulang seleksi intensif 4 hari kemarin bikin saya jadi pengen ngoceh banyak sama diri sendiri. Satu kegiatan yang buat saya, nggak ada matinya. Setelah 'kering' kebanyakan sosialisasi, 2 hari ini waktunya 'nge-charge'.

Maka jadilah weekend ini saya habiskan menjadi couch potato. Kemarin teman saya, Nyanya, mampir ke rumah. Dia heran rumah saya kok sepi banget. Dia takjub saya kok betah banget nggak keluar kamar, di kamar pun nggak ngapa-ngapain seharian.

Saya ngakak nanya balik, "emang lo nggak?" Dia bilang, tiap weekend dia pasti ada aja acara ke sana-sini. Saya mah suka sih jalan, cuma ada waktunya malas aja pergi ke mana-mana. Dan paling kesal kalau mama menyeruak nyeret-nyeret saya keluar dari 'goa'.

Lalu pagi ini saya blogwalking dan menemukan tulisan Miund yang momennya pas banget.
"It's quite all right. I just adore my own company"
Ya kira-kira begitu. Girang banget rasanya tiap nemu tulisan yang mewakili kondisi dengan super tepa…

Tentang Meminta Feedback

Setelah 2 bulan kerja di kantor Indonesia Mengajar, saya meminta feedback dari teman-teman satu divisi tentang kinerja saya selama ini. Mereka ketawa. Heran.

"Del, lo minta feedback mulu, lo bukan manusia ya? Kan ada penelitian bahwa manusia itu resisten terhadap kritik"

Lalu Brian --pendamping Pengajar Muda di Paser tahun lalu-- cerita bahwa ia sering dengar dari anak-anak Paser bahwa saya Ratu Feedback. Giliran saya yang ketawa.

Iya, saya suka minta feedback. Selama di pelatihan, saya rajin bertanya pada teman-teman Pengajar Muda tentang pandangan mereka terhadap saya.

Di penempatan pun, saya sering iseng tanya guru, minta feedback. Bahkan menjelang pamitan, saya suka mampir ke rumah guru atau sekadar nongkrong cari cemilan sambil minta kritik dan masukan dari mereka tentang kinerja saya selama jadi PM.

Awalnya sih memang karena saya kesal dengan pendekatan Appreciative Inquiry. Saya jadi nggak tahu kurangnya saya apa karena keluarannya selalu positif. Makanya saya minta m…

About Being Humble

"Jri, gimana caranya sih biar humble?"

Di suatu Sabtu yang malas, saya curhat ke teman sepenempatan waktu di Paser. Namanya Fajri. Dia ini salah satu partner favorit untuk ngobrol random deep thought.

Dulu, di penempatan, tiap kami janjian ke kabupaten ataupun balik dari kabupaten, di sepanjang jalan pasti topik obrolannya sebetulnya berat tapi bisa dibawakan dengan kasual. Padahal, awalnya Fajri ini yang paling nggak saya 'lirik'. Untuk diajak ngobrol maksudnya.

Dia bukan 'anak panggung', malah cenderung menghindari spotlight. Tapi ya ibarat langit, nggak perlu koar-koar dia tinggi, semua orang udah tau. Fajri tipe orang yang seperti itu. Saya benar-benar tertipu sama penampilan yang sederhana dan nggak menonjol, padahal aslinya dia ketua di mana-mana. Orang berpengaruh di organisasinya. Ngeri lah pokoknya.

Hal tersebut ternyata terulang lagi. Saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata super keren, sebut saja X. Dia yang bolak-balik bilang kagum sama…