Thursday, September 1, 2016

Connecting the Dots, Understanding the Odds

0 comments
Di suatu sore, saya berbincang santai-serius dengan Pak Hikmat Hardono. Berangkat dari satu pertanyaan yang menggantung sejak Mei lalu terkait sejauh apa peran pelibatan publik dalam membantu negara, saya beberapa kali kontak Pak HH untuk ajak diskusi.

Tapi barangkali karena tengah berenang-renang di lautan kesibukan, baru sempat ngobrol paska reshuffle. Telat? Well........ better than nothing, yes?

Pak HH menggambar sebuah skema dan menjelaskan pada saya. "Sederhananya kira-kira begini. Kita punya pemerintah, kita punya society. Untuk mencapai sebuah tujuan, publik membantu pemerintah agar kebijakan bisa efektif. Sementara dalam society, mereka mengorganisir diri sendiri."

Saya mulai mencerna dan mencatat.

"Kemarin, kita bekerja di dalam pemerintahan, memang sudah seharusnya melibatkan publik. Karena ada kebijakan dan anggarannya. Sekarang, kita ada di luar, mari kembali bekerja sesuai porsi masing-masing. Memang berbeda caranya."

Pikiran saya melompat acak pada berbagai 'momen gemes' di mana banyak pihak keren yang kerja sendiri-sendiri. Padahal pasti ada cara buat saling terhubung.

"Pak, mungkin nggak ya, kita terlalu sibuk bekerja, lupa bahwa kita bisa bekerja sama? Interaksi? Padahal, tujuannya sama. Tapi entah kenapa kayak nggak ketemu celah kolaborasinya. Padahal kan bisa duduk bareng, diskusi cari solusi."

"Permasalahannya, kita butuh lebih banyak orang yang bekerja. Kita nggak bisa memaksakan semua seragam. Kalau terus-terusan diskusi, kapan kerjanya? Kredibilitas seseorang akan terlihat ketika seseorang bekerja. Jadi, biarkan interaksi itu terbangun dari hasil kerja."

Saya diam dengan dahi berkerut-kerut. Masih gagal paham. Pak HH yang sepertinya bisa membaca kebingungan saya pun menutup diskusi sore itu dengan kalimat singkat, "kalau kamu jalani, nanti pelan-pelan pasti akan ngerti."

Dear Sir, what actually really bothers me is that most of times, we're too busy making dots that we forget to connect the dots. That most of times, we're too busy avoiding the odds that we forget to understand the odds. Why we pretend we're fine with this status quo?

How to not only adjust and adapt, but also connect the dots and understand the odds? How to play what role? How to awaken people that the whole is greater than the sum of its parts?

Well, should I remain those questions unanswered or like Pak HH said 'just do things you do and later on, you'll find out'?

Thursday, August 11, 2016

(Masih) Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Dari hari Minggu (07/08) lalu, jagad media mulai membicarakan wacana Mendikbud soal Full Day School (FDS). Kian ramai sampai Rabu (10/08). Sekarang? Belum tau, masih menunggu perkembangan.

Saat mendengar berita itu, reaksi pertama saya rasanya mau ngamuk. Tapi saya tahan-tahan. Tanya sana-sini, minta klarifikasi, cek berbagai media, cek opini para pegiat pendidikan, dan ikut diskusi dalam grup.

Tetap saja, saya tak bisa menipu diri sendiri. Wacana ini tidak masuk akal kalau betul akan diterapkan dalam skala nasional. Seperti postingan sebelumnya, saya bukan dalam kapasitas mengkritisi apalagi mengkaji wacana FDS.

Justru, yang mau saya kaji itu diri sendiri.

Apa saya sama reaktifnya dengan yang lainnya? Bagaimana cara saya bertanya pada orang-orang yang bisa saya minta klarifikasinya? Apakah saya benar-benar mendengar penjelasan mereka? Atau saya cuma ingin dengar pembenaran?

Bagaimana agar segera kembali berpikir jernih? Bagaimana mencoba berempati dengan teman-teman di internal Kemdikbud yang terus bekerja di tengah keriuhan? Bagaimana cara untuk terus menyemangati mereka?

Satu hal yang sebetulnya paling mengganjal: mengapa saya begitu kesal ketika saya tak bisa melakukan apa-apa?

Membayangkan di desa saya, kalau kebijakan FDS ini sudah ketok palu, anak-anak yang tiap sore berjualan wade' (kue basah khas Bugis) tak akan sempat keliling.

Atau anak-anak yang tiap sore berenang di laut, main layangan, kelereng, naik sepeda keliling desa, kapan mereka punya waktu main kalau sore-sore harus terus di sekolah?

Atau anak-anak lainnya yang harus jalan kaki naik-turun gunung. Pulang siang pun bisa sore baru sampai rumah. Apalagi sore baru pulang. Mau sampai rumah jam berapa?

Bagaimana dengan guru-guru honorer? Yang gajiannya 3 bulan sekali, dan punya pekerjaan sampingan selain mengajar. Kalau waktunya habis di sekolah, gimana cara mereka ngakalin gaji yang suka telat turun itu?

Bagaimana dengan guru-guru yang punya kebun? Punya ladang? Yang pulang sekolah masih cari ikan? Bagaimana dengan guru yang juga petani?

Lalu ruang kelas yang rusak, pengaturan kelas pagi-siang, minimnya fasilitas sekolah, daaan berbagai aspek lain yang harus dipikirkan. Saya kesal sekali mentok, clueless apa yang bisa dilakukan.

Tambah jengkel saat anak murid saya telfon, mereka bilang kegiatan-kegiatan ekskul tidak jalan.

Bayangkan, kalau FDS berlaku nasional, mau-gamau anak-anak terjebak di sekolah dengan kegiatan ekskul yang nggak jelas. Guru-guru juga terpaksa menjalani dan merasa terbebani. Masih berharap waktu ekstra di sekolah jadi solusi untuk pembentukan karakter?

Udah sih dijalani dulu yang sedang berjalan. Kalau tujuannya pembentukan karakter, kan ada pembiasaan baca buku 15 menit, nyanyi lagu patriotik, dsb. Dari semua pilihan implementasi, kenapa yang dipilih wacana FDS? Kenapa terjemahannya nonsense gitu?

Katanya mau fokus urus KIP dan vokasi? Mana bisa kerja tenang kalau 'direcokin' publik mulu kan? Kalau mau fokus dua hal itu, ya alokasikan energi dengan bijak.

Nggak usah bikin geger semua orang dengan kebijakan yang masih dalam tahap wacana dan menghabiskan energi tim untuk jadi 'pemadam kebakaran'. Hih.

Ternyata, satu posting sebagai outlet kegelisahan belum cukup. Saya yang jarang sekali telfon-telfonan (lebih suka via texting), Selasa malam akhirnya kontak Fajri, berbicara cukup lama. Hampir 2 jam. Saya 'nyampah' se-nyampah-nyampahnya.

Kalau pakai analogi "merutuk kegelapan" vs "menyalakan lilin", malam itu, saya yang sedang 'kehabisan korek' akhirnya habis-habisan merutuk kegelapan sampai puas.

Dalam kegelapan, punya teman bicara yang sama-sama 'kehabisan korek' ternyata menenangkan. Melegakan. Menyenangkan. Ternyata supporting system saya masih jadi andalan. Makasih ya, Jri!

Setelah puas numpang nyampah, tercetus lagi bahasan soal 'hal konkrit sederhana' dan kami mulai nostalgia.

Tahun lalu (saya lupa persisnya kapan), Fajri main ke desa saya. Dia mampir untuk mengisi waktu sambil menunggu dapat tumpangan kapal. Dari pagi, baru sorenya dia dapat kapal. Karena saya juga lagi malas ke mana-mana, jadilah kami berbincang panjang di teras rumah.

Dari perbincangan pagi sampai petang itu, lahirlah istilah 'hal konkrit sederhana'. Tindakan nyata apa yang bisa dilakukan untuk sumbang kontribusi?

Di situ, kami sama-sama sepakat bahwa melatih mindset untuk melakukan 'hal konkrit sederhana' ternyata sangaaattt berguna dan relevan di berbagai konteks hingga sekarang.

Optimisme bisa naik turun. Mood swing, frustrasi, marah, kecewa, itu sangat manusiawi. Kalau yang begini dibilang baperan nan sensi, menurut saya malah lebih bahaya yang denial. Menolak emosi.

Tapi kalau mau lihat sisi positifnya, segala kegelisahan ternyata efektif juga sebagai bahan bakar untuk tetap berorientasi pada hal konkrit sederhana.

Berkat telfon-telfonan Selasa malam itu, esok harinya, saya bisa lebih santai menyikapi berita walaupun masih numpang nyampah ke beberapa teman lainnya. Makasih ya, lagi-lagi, saya hutang telinga :)

Saya belum yakin saya sudah naik level, tapi senang rasanya bisa banyak belajar lagi untuk mengasah kecerdasan intra dan interpersonal. Saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan hal konkrit sederhana apa yang bisa dilakukan. Kata kuncinya: belajar.

Belajar mengenali emosi. Belajar mengakui bahwa memang sedang emosi. Belajar mengontrol emosi. Belajar berempati. Belajar mencoba melihat dari berbagai sisi. Belajar dan tak hentinya belajar. See? Belajar bukan cuma sekolah. Tepatnya, bukan cuma DI sekolah.

Dear Pak Muhadjir, semoga bapak juga belajar ya. Untuk berhati-hati membuat pernyataan ke publik. Untuk memikirkan dampak dari ucapan orang nomer 1 yang mewakili pendidikan negeri. Mulutmu harimaumu.

Mari sama-sama belajar. Hal konkrit sederhana yang siapapun bisa melakukannya.

Tuesday, August 9, 2016

Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Masih soal reshuffle. Iya, belum move on. Saya lagi gelisah, tapi nggak mau umbar galau yang yang sepotong-sepotong di media sosial. Sekalian aja dituntaskan dalam satu tulisan ini, lalu bergegas tidur. Sudah pukul setengah empat.

Jadi begini. Mau cerita sedikit, flashback masa-masa di penempatan yang situasinya mirip. Saya ingat betul, di awal April tahun lalu, ada pergantian pimpinan di SD tempat saya mengajar.

Kabar tersebut jelas mengejutkan, apalagi kepala sekolah yang ada merupakan favorit semua orang. Beliau dikenal sebagai sosok kepala sekolah yang ramah dan concern akan perbaikan fasilitas sekolah, juga mengutamakan kesejahteraan guru.

Beliau juga sangat mendukung kegiatan lomba-lomba, bahkan nombok dari uang pribadi. Selain itu, beliau merombak habis-habisan manajemen sekolah dengan menambah jumlah guru honorer dan membagi kelas menjadi 2 rombel, serta mengakali kekurangan ruangan dengan kelas pagi-siang.

Bagi kami, Pengajar Muda, beliau masuk dalam kriteria local champion ideal. Sayangnya, mungkin tidak cukup ideal untuk terus memimpin SD di tempat saya mengajar menurut kacamata Camat.

Respon guru-guru saat itu sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan turun semangat mengajarnya. Wajar, perubahan ini amat mendadak. Saya pun cukup syok, apalagi mendengar banyak asumsi, dugaan ini-itu kenapa Pak Kepsek dimutasi.

Beberapa hari, saya sibuk curhat pada PM pendahulu saya. Merasa tidak adil. Kenapa harus diganti sekarang? Kenapa Pak Kepsek? Kenapa di saat sudah ketemu ritme yang menyenangkan bekerjasama dengan pemimpin yang baik di sekolah? Kenapa? Kenapa? Kenapa???!

Tapi kata-kata PM pendahulu saya cukup menenangkan hati. Namanya Vany. Dia seumur dengan saya, tapi saya panggil dia Kak dan dia panggil saya Dek. Dia bilang begini:

"Dek, kita justru harus bersyukur. Beruntung bisa ketemu orang kayak Pak X yang satu frekuensi sama kita. Beliau dimutasi, yang dibangun bukan Tanjung Aru, bukan juga Pasir Belengkong. Yang dibangun itu Paser. Itu yang penting".

Sejak itu, saya mencoba mengubah cara pandang saya menjadi lebih optimis-realistis. Apa yang bisa saya lakukan? Hal konkrit sederhananya apa? Saya dekati guru-guru, ajak bicara, dan kasih semangat. Siapa pun pemimpinnya, yang penting harus tetap kompak.

Saya juga dekati Pak Kepsek yang baru. Biar bagaimana pun, beliau sekarang pemimpinnya. Sebagai bagian dari tim, 'hal konkrit sederhana' yang bisa dilakukan adalah mendukung dan mendorong pemimpin tim untuk terus bergerak maju.

Tiap mentok, saya ingat lagi kata-kata Kak Vany: "yang dibangun itu Paser".

Saat reshuffle pada 27 Juli lalu, saya seperti De Javu. Bisa-bisanya situasi serupa terulang lagi dalam skala yang lebih besar: negara. Walaupun tidak persis sama, Pak Anies berbicara hal yang senada dengan Kak Vany.

"Yang dibangun itu Indonesia".

Saat itu, saya merasa sangat beruntung pernah diberi kesempatan menghadapi 'miniatur reshuffle' di penempatan. Saya memang bertugas seorang diri di desa selama satu tahun. Tapi saya tidak sendirian. Saya punya supporting system dengan perannya masing-masing. Tim Paserangers. Tim guru di sekolah. PM-PM sebelum saya. Juga Pak Kepsek baru.

Saya juga bersyukur latihan pembiasaan memandang sesuatu sebagai lahan kontribusi. Apa yang bisa dibantu? Apa hal konkrit sederhana yang bisa dilakukan? Setidaknya, saya nggak ikut-ikutan protes doang tanpa tindakan.

Tapi sepertinya kalau di game, saya sedang masuk level baru. Atau malah ulang check point? Entah.

Baca berita tentang pendidikan yang isinya pernyataan-pernyataan 'ajaib' Mendikbud baru, telusuri komentar netizen dan meme-meme yang tak kalah 'ajaib' nya, dan terlibat dalam bahasan yang ramai terus di grup Whatsapp membuat saya bolak-balik menghela napas.

Semua orang menyayangkan Pak Anies di-reshuffle. Bertanya kenapa. Menganalisa praduga. Mendadak jadi detektif. Puncaknya, soal wacana Full Day School.

Dari berbagai sisi, apabila wacana ini betul dijalankan, jelas akan merugikan. Baik dari sisi siswa, guru, maupun orang tua. Bahkan sudah ada petisinya segala. Tapi yasudahlah, saya tidak punya kapasitas menyoroti hal ini. Biarlah porsi kajian serahkan pada ahlinya.

Yang membuat saya menghela napas dan gelisah uring-uringan sendiri adalah saya jadi tidak yakin. Memang, beberapa hal konkrit sederhana yang saya rasa bisa lakukan sedang dalam proses.

Saya juga berusaha tetap berpikir besar, bahwa yang sedang dibangun adalah Indonesia, tak peduli siapa menterinya bahkan presidennya. Tak peduli perannya sebagai sipil, militer, swasta, ataupun aparatur negara.

Tapi belakangan, saya jadi bertanya-tanya. Apakah menjalankan hal konkrit sederhana itu cukup? Apakah butuh lebih banyak hal abstrak rumit yang harus dilakukan? Bagaimana kalau bukan dalam kapasitas untuk mengerjakan hal-hal rumit? Apa yang bisa dilakukan?

Saya juga mulai lelah dengan 'kalau nggak ada yang inisiatif, ngga gerak'. Sama. Saya juga bosan menunggu dan maunya partisipasi aktif. Kalau istilahnya Pak Anies "daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin".

Tapi kalau terus-terusan 'cari korek', saya jadi ragu. Apakah saya masih punya supporting system yang bisa diandalkan? Apakah menjadi optimis masih masuk akal? Apakah saya boleh sesekali ikut merutuk kegelapan? Mengeluh?

Apa mungkin saya butuh istirahat? Atau malah, cuma butuh sabar?

Friday, July 29, 2016

Anies Pamit (part 2)

0 comments
Seharusnya, H+1 reshuffle saya sudah nggak perlu datang ke kantor. Tapi barang-barang saya beberapa masih tertinggal. Lagipula, ada pertemuan dengan Production House yang akan presentasi video untuk tayang di bioskop (SOON! Hehe).

13.00 WIB

credit: @kawanakhdyan

Berhubung Rabu lalu Pak Anies selesai menjabat, jadi beliau sudah nggak bisa pakai lagi ruang menteri. Makanya, beliau pindah 'markas' sementara di ruang Stafsus.

Mumpung seruangan sama Pak Anies, tercetus ide spontan. Modal muka badak, saya buka percakapan. "Pak, berkenan nggak untuk tulis sedikit thank you notes buat relawan dan semua pihak yang udah bantu di HPS (Hari Pertama Sekolah) kemarin?"

Tanpa jeda berpikir, beliau mengangguk. "Ini ada pulpen warna hitam dan biru. Mau yang mana pak? Warna merah kuning hijau juga ada. Pokoknya siap semua warna" Masih kaget dengan Pak Anies yang begitu saja mengiyakan request, saya nyerocos sambil menyodorkan selembar kertas kosong dan dua buah pulpen.

Beliau nyengir. "Yang ini saja" lalu dikeluarkanlah pulpen andalannya sendiri.

Saya juga menaruh selembar kertas yang sudah ada wordingnya untuk memudahkan Pak Anies dalam menulis. Biar tinggal salin, pikir saya. Ini saja sudah merepotkan, minta tulis thank you notes di tengah kesibukannya urus berbagai dokumen di meja. Nggak usah tambah bikin repot beliau.

"Bisa carikan kertas bergaris? Khawatir tulisan saya berombak-ombak. Tulisan saya jelek, nanti makin sulit teman-teman bacanya" Dalam hati: pak, bersedia direpotin begini aja udah sukur. Hahaha.

Singkat cerita, disambi pertemuan ini-itu, tandatangan dokumen ini-itu, request thank you notes akhirnya selesai juga. Saat saya baca, ternyata betul-betul beda dari wording yang sudah saya siapkan.

Respek saya untuk bapak satu ini. He's busy, yet still makes time to personalize his notes. Bahkan saya nggak bisa sebut itu notes karena lumayan panjang. Lebih cocok disebut sebagai surat. Ucapan terima kasih dan apresiasi yang beliau tunjukkan, itu sungguhan.


15.00 WIB


Dua jam ada di ruangan yang sama dengan (mantan) Menteri ternyata bikin mati gaya juga. Apalagi saya nggak bawa laptop karena niatnya cuma mau ketemu orang PH.

Untuk mengusir bosan, saya secara lekat mengamati cara beliau berinteraksi dengan orang-orang yang ada di ruangan. Sebetulnya kalau interaksi saja mah sudah sering lihat, tapi baru kali ini sambil duduk semeja. Santai, tak berjarak, dan bukan dalam rapat serius.

Orang-orang yang bertandang dilayani semua dengan hangat dan senyuman yang khas. Baik yang butuh tanda tangan dokumen, sekedar mengucap pamit, maupun diskusi intens. Melihat ini semua, nggak heran kalau Pak Anies jadi menteri favorit banyak orang.

16.00 WIB


"Maaf lama. Setelah sekian lama dibantu tim Patwal, baru sadar lagi, oh iya, Jakarta macet" kelakar Pak Anies sesampainya di kantor PH. Paska reshuffle, tak ada lagi fasilitas 4 riders yang mengawal beliau untuk buka jalan supaya cepat sampai tujuan.

Singkat cerita, presentasi pun dimulai. Pak Anies kembali melempar kelakar, "seharusnya saya buat kata-kata di videonya kemarin. Tapi kena reshuffle".

Jadi begini. Mau spoiler dikit. Di video bioskop ini, yang tulis copywritingnya Pak Anies. Beliau mau kata-katanya 'berotot' dan menjanjikan diserahkan saat itu. Tapi karena reshuffle, banyak hal yang harus diurus dan tidak sempat mengerjakan copywriting sesuai tenggat.

Selesai pertemuan dengan PH, foto-foto, kami pulang. Atasan saya mengajak ngopi-ngopi. Ternyata menyenangkan juga bisa santai sejenak seperti ini. Hikmah di balik reshuffle, hahaha.

19.00 WIB


Atasan saya pulang, sementara saya kembali ke kantor. Di ruangan, ternyata Pak Chozin dan tim lagi sibuk 'mainan' paper shredder. Dokumennya luar biasa banyak. Satu troli sendiri. Mungkin sebetulnya lebih :))

21.30 WIB

Setelah seru-seruan main paper shredder, waktunya pulang! Di perjalanan, saya buka link ini: https://madeandi.com/2016/07/28/anies/

"...kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar."

Aih. Pak Made, buka pendaftaran klub #cemenwithpride kah? Saya mau gabung :')

Thursday, July 28, 2016

Anies Pamit (part 1)

5 comments

"Terus berjuang ya pak"

Campur aduk, hanya sepatah kata itu yang bisa keluar dari mulut saya. Sambil tersenyum ramah seperti biasanya, dengan tenang beliau merespon, "ohya harus. Perjalanan kita masih panjang"

Anies Rasyid Baswedan. Sosok yang santun dan bersahaja ini kemarin baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

07.30 WIB

Saya bangun kesiangan. Buka Whatsapp, banyak pesan yang masuk. Tapi kali ini, ada yang beda. Banyak yang bertanya isu reshuffle. 3 bulan yang lalu sebelum saya bergabung di Kementerian, isu reshuffle kencang berhembus, tapi tidak kejadian. Makanya, saya tenang saja.

Ah, isu lagi, pikir saya. Malah, saya sempat becanda, mungkin reshuffle ini pengalihan isu aturan plat nomer ganjil-genap di Jakarta.

Lalu pagi itu, saya mengirim pesan pada atasan saya "mas, ada isu reshuffle lagi?" Dan dijawab dengan emoticon senyum. "Nanti kita ngobrol di kantor"

Eh?!

09.30 WIB

Saya sampai kantor. Mata dan jempol tak lepas dari HP, melayani pertanyaan yang masuk dan sibuk berasumsi sendiri.

"Pucet banget mbak" tanya salah seorang anak magang. "Kepikiran reshuffle sampai lupa pakai lipstik" sahut saya sekenanya. Di benak saya, masih banyak peer yang harus dikerjakan. Masih banyak inisiatif yang mau dilakukan. Kalau betulan di-reshuffle, ini nasibnya gimanaaa???!

Barangkali, pun dengan pulasan lipstik, raut pucat saya kala itu tetap terlihat.

Padahal, 2 hari yang lalu saya sempat mengutarakan keinginan perpanjang kontrak pada atasan saya. Beliau hanya tersenyum maklum saat saya bilang penasaran mau bantu gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah lagi tahun depan. Tapi ternyata, hidup memang penuh kejutan.

11.00 WIB

Saya sedang berusaha menyelesaikan laporan bulanan saat Metro TV menyiarkan pengumuman reshuffle. Jadi fix nih ya? Setelah benar-benar sadar apa yang sedang terjadi, saya dan teman-teman satu tim bergegas menuju ruang rapat. Di sana sedang digelar pertemuan kecil antar pimpinan.

Saat Pak Anies mulai keliling dan berjabatan, segera saya sadar, ini akan jadi hari yang panjang dan emosional.

Sekembalinya dari ruang rapat, sudah hilang mood untuk membuat laporan. Staf Khusus Menteri mulai berkemas. Saya, yang notabene tergabung dalam tim, ikut juga bergegas. Aturannya memang seperti itu. Staf Khusus ditunjuk langsung. Ring 1 Menteri harus ikut undur diri ketika Menterinya selesai menjabat.

Hari yang panjang itu kemudian diisi diskusi dan pamitan sana-sini.

15.00 WIB




Pak Anies bersama keluarganya memberikan pidato perpisahan di aula gedung kementerian. Berbondong-bondong orang datang. Mereka menangis terharu, merasakan betul dampak hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia.

Setelah keluarga dan ibunda, yang pertama kali disebut Pak Anies adalah ajudan dan supirnya, lalu para stafnya. "Mereka ini bekerja lebih lama dari saya. Kalau saya bekerja 16 jam, mereka 20 jam. Saya berangkat jam 6, mereka jam 4. Saya pulang jam 10 malam, mereka jam 12 malam."

Singkat cerita, sesi pamitan itu ditutup dengan salam-salaman. Saya yang mulai pusing dengan keriuhan massa kemudian melipir, memilih acak teman bicara dan berkenalan dengan seorang wanita paruh baya berkerudung kuning.

Lirih ia berkata, "sepanjang saya bekerja di sini, baru kali ini saya ketemu menteri kayak gini. Bukan cuma dicintai, tapi juga dibutuhkan" Saya pun menghela napas dan menepuk pundaknya. Merasakan patah hati yang sama.

17.00 WIB


Sesi serah terima jabatan yang dihadiri oleh para eselon. Saat itu, pandangan saya menangkap sosok wanita paruh baya berkerudung kuning sedang berdiri sendiri di pojokan. Ibu itu lagi. Menyadari kehadiran saya, ia melambaikan tangan. Saya melangkah menghampiri.

"Ibu kok di sini? Maju aja, liat dari deket" Saya membuka percakapan. "Nggak enak. Itu eselon semua. Saya cuma pengen liat sampai Pak Anies nggak jadi menteri lagi"

Mencelos. Sedemikian membekasnya sosok mantan Mendikbud ini di hati para stafnya. Ah, memang ya. Kalau bekerja pakai hati, terbukti pasti sampai ke hati.

19.00 WIB


Malam ini terasa sangat spesial. Setelah hari yang sebagian besarnya dihabiskan dengan pamitan dan beberes, tim Staf Khusus Menteri Bidang Pemangku Kepentingan beserta anak-anak magang berkumpul. Kami merapat di satu meja besar dengan sejumlah kursi, bercanda dan bercerita.

Ada hangat yang menjalar ketika Pak Chozin selaku Staf Khusus berkisah soal politik baik, kejujuran, dan integritas.

"Dari dulu, semangatnya PM --Pak Menteri, sebutan orang-orang Kemdikbud untuk Pak Anies-- adalah orang baik jangan diam dan mendiamkan. Ilustrasinya begini. Ketika dalam satu tim ada 10 orang jahat dan yang baik diam, kejahatan akan merajalela. Tapi ketika orang-orang baik memilih turun tangan, setidaknya bisa mencegah mereka yang berniat jahat"

Beliau juga cerita alasan kenapa UN tidak dijadikan syarat kelulusan. Ketika titik berat kelulusan ditentukan oleh ujian, maka akan terjadi kecurangan yang sistemik. Itulah yang ingin dicegah.

Lalu beliau juga menjabarkan alasan ruangannya yang luas menjadi ruang publik dengan pintu yang tak pernah dikunci. Menurutnya, dengan banyaknya orang seliweran, orang yang punya niat memberi amplop 'uang pelicin' akan sungkan bertindak. Beliau menjaga dirinya sendiri dari peluang lunturnya integritas.

"Manusia itu kan kadang khilaf. Dan kita sukanya bikin pembenaran kalau kepepet. Bisa aja kita terima amplop sambil janji sama diri sendiri nanti-nanti nggak lagi. Tapi malah jadi yang kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya terbiasa. Itu yang berat. Makanya harus dijaga jangan sampai ada celah."

Mendengar penuturan beliau yang sungguh-sungguh menjaga integritas, saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Walau menjadi baik saja belum cukup, setidaknya, obrolan spesial malam itu menjadi bukti bahwa kita masih punya sejuta alasan untuk terus optimis.

Sunday, July 10, 2016

Tentang "Kapan Kawin?"

4 comments
Lebaran ini saya 'disidang' 2 keluarga besar dengan pertanyaan "kapan kawin?" Yasudahlah, memang nggak bisa menghindar, kan?

Saya sebetulnya santai, tapi lama-lama lelah juga akan tatapan aneh orang-orang saat saya bilang "aduuuh ribet. Nanti aja". Saya pun susah menjelaskan bahwa saya 'nggak mau dicariin, males nyari, dan yakin nanti juga ketemu'.

Akhirnya, saya sekalian menjabarkan:

  1. Saya nggak mau pesta besar tapi undangannya banyak yang nggak saya kenal.
  2. Saya nggak mau keluar duit banyak cuma buat resepsi yang melelahkan di gedung.
  3. Saya nggak mau pakai adat.
  4. Saya malas meladeni permintaan gabungan 4 keluarga besar. Keluarga besar papa-mama aja udah pasti banyak maunya. Kalau harus meladeni juga permintaan camer........ :|
  5. Daripada ribet, saya mending sekalian nikah sama bule. Atau orang Indonesia yang keluarganya asik, punya pemikiran terbuka soal nikah itu tentang ikatan 2 manusia, bukan urusan beberapa kelompok besar keluarga.
  6. Saya mau pakai gaun. Kebaya gpp, tapi nggak mau paes-paesan dan cukur alis sampai botak terus bisa liat tuyul.
  7. Saya mau calonnya bisa memastikan anggaran buat ART selama setahun, aman. Gpp deh tinggal kontrak sepetak. Most important thing is someone has to help us doing house chores.

Saya bahkan menambahkan, untuk memastikan bahwa undangan yang datang adalah benar-benar orang terpilih, saya maunya di luar kota atau luar negeri sekalian. Nggak perlu juga pakai ada 'beban kolektif' piala-piala bergilir segala. Nggak penting.

Di pinggir pantai, bisa bebas berkeliaran nggak cuma duduk anteng di pelaminan. Itung-itungan duitnya nanti dipikirin kalau udah ada calonnya.

Adek saya sinis. Ngayal, katanya. Bodo amat. Apa salahnya berkhayal? Kalau semua orang kayaknya mau tau banget kapan saya nikah, sekalian saya kasih tau aja kenapa saya malas bahas nikah. Karena tau banget 7 poin di atas hampir mustahil. Khayal babu.

Ya tapi kalau ada yang mau lamar saya dan bisa meyakinkan saya bahwa 7 poin di atas bisa benar-benar terwujud, I'm all yours! Just pick a date. That's it. Puas?

So if anyone come to me and ask that 'when' question again, the answer is when there's someone that can assure me I'm happier together than being single. A leap of faith.

Satu catatan penting: saya nggak mudah diyakinkan. Just don't waste your time.

Friday, July 8, 2016

Sukses Itu Proses (part 2)

0 comments
5. Push

Teman saya --sebut saja Bayu-- pernah bilang, mungkin life traps saya adalah unrelenting standard. Hah? Apa itu life traps? Apa itu unrelenting standard?

Singkatnya, life traps merupakan 'jebakan' di masa kecil hasil didikan orang tua yang terbawa sampai dewasa. Life traps ini dipandang sebagai sebuah masalah, makanya harus diatasi.

Sementara itu, unrelenting standard adalah salah satu bentuk life traps di mana seseorang dituntut dengan standar tinggi di masa kecil, sehingga ia tumbuh menjadi orang dewasa yang nggak pernah puas.

Bayu bilang, saya yang workaholic, ambisius, dan perfeksionis ini masuk kategori unrelenting standard. Bukan tanpa alasan sebetulnya dia bilang gitu, soalnya saya memang sering banget ngomongin kerjaan. Suka aja bahas berjam-jam, bahkan dalam pertemuan kasual.

Saya sendiri sih nggak merasa saya workaholic. Cuma workafrolic. Hahaha. Makanya, saya bergidik nggak nyaman dengan judgement itu, lalu protes ke Bayu.

Dia bilang, selama kita nggak ngerasa itu masalah ya gpp. Buat dia, dengan mengetahui apa life traps nya, justru membantunya untuk keluar dari situ. Good for him then, but not for me.

Buat saya, dengan takaran yang pas, nggak pernah puas itu justru bisa jadi kekuatan. Yes true, I tend to push myself hard and never can really be satisfied. But then I realize, ain't life boring when you're easily satisfied?

6. Serve

Ini yang baru saya sadari belakangan. Kita boleh nggak puas dan terus mendorong diri sendiri untuk jadi lebih baik, tapi harus ingat juga, jangan melakukan sesuatu cuma untuk diri sendiri aja. Kalau 'mantra' yang bolak-balik ditekankan di IM:

"It's not about me. It's about them"

Saya memang nggak pernah puas, tapi ketika melakukan sesuatu dengan ikhlas, membuat orang lain tersenyum puas, rasanya semua kerja keras terbayar lunas.

'Puas' ketika berusaha dan 'puas' ketika berbuat baik sama orang lain itu rasanya bisa beda jauh. Karena susah jelasinnya, mari anggep aja apa pun yang kita lakukan, kita sebenarnya sedang melepaskan energi.

Pada prinsipnya, energi itu kekal. Energi nggak bisa musnah, hanya berpindah. Jadi ketika orientasinya hanya diri sendiri, energinya akan muter di situ-situ aja. Tapi ketika kita memberikan pelayanan, berbuat kebaikan, kita sedang melakukan 'donor energi'.

Walaupun saya takut disuntik dan nggak pernah donor darah, tapi saya dapat cerita dari teman-teman pendonor. Mereka bilang, donor darah itu nagih karena rasanya segar sehabis mendonor. Charging.

That's the exact same thing when you serve. You'll feel refreshed like your energy recharged. It feels good when deed is good. It feels.......... meaningful :)

7. Ideas


Persis! Balada badai otak yang selalu dipenuhi ide. Kadang suka frustrasi sih ketika sebuah ide yang diungkapkan sulit dieksekusi. Padahal, katanya kan sebaik-baiknya ide adalah yang dieksekusi. Tapi boro-boro, saya sendiri suka kebingungan menyampaikan ide saking banyaknya 'tab'.

Prosesnya gini: punya ide, merenung, diskusi, eksekusi, revisi, ketemu ide baru, kembali merenung, kembali diskusi, kembali eksekusi, kembali revisi, dan bingung sendiri. Hahaha.  Selalu begitu, dan ya mungkin prosesnya memang begitu.

Makanya, sebagai outletnya, menulis menjadi ajang latihan buat saya untuk menyampaikan gagasan secara jernih dan terstruktur. Tantangannya, gimana realisasinya? Balik lagi ke situ :))

8. Persist

Saya ingat, dulu saya suka tanya sama mantan saya --sebut saja Budi-- tiap kali insecure. Apa sih kelebihan saya? Si Budi selalu bilang saya ini anaknya persisten. Dulu, saya nggak puas dengan jawabannya. Nggak jelas juga sebenarnya jawaban apa yang saya harapkan.

Sekarang, saya jadi bersyukur punya 'modal' persisten. Pokoknya selama keinginan masih ada, motivasi masih kuat, hambatan belum mentok, hajar lah!

Dari 8 poin di atas, seperti tujuan saya nulis untuk diri sendiri di masa depan, saya cuma pengen ngingetin Della sekian tahun lagi:

"Hey dear, keep all of these secret ingredients in mind, and you're on your way! Don't ever worry about temporary failures. Success never lies in results. Success is actually process. Promise me to keep going no matter what"

Sukses Itu Proses (part 1)

0 comments
Sukses itu proses. Yaelah. Klasik.

Jadi begini. Selama libur lebaran ini, saya lagi seneng-senengnya nonton video Ted X dan "Satu Jam Bersama"-nya RTV. Tanpa saya sadar, saya sedang mempelajari bagaimana pemimpin bertindak, juga bagaimana speakers Ted X membocorkan rahasia pemimpin sukses.

Tanpa sadar? Ah masa? Iya, saya nggak berintensi untuk mencari tips sukses. Random aja. Sesuatu yang belakangan langka saya lakukan padahal dulu tiap saat me-random.

Ada satu video Ted X yang menjadi penghubung antara refleksi dan teori, judulnya "8 Secrets of Success" dengan keynote speaker bernama Richard St. John. Setelah 500 interview selama 7 tahun, ia meramu apa yang menjadi kunci sukses.

Berhubung ini judulnya "Sukses Itu Proses", jadi saya mau refleksi aja proses menuju sukses (aamiin). Mungkin ini akan jadi post yang panjang, yang sebetulnya tujuannya bukan buat dibaca orang lain, tapi buat saya baca lagi di kemudian hari.

1. Passion

Kali terakhir saya bahas passion adalah ketika OPP. Saya bilang, saya nggak tau apa passion apa. Saya nggak tau secara spesifik saya mau ke mana. Yang saya tau, saya ingin berkarir di tempat di mana saya mengelilingi dan dikelilingi orang-orang keren. Seperti lagunya One Direction:

"You don't know you're beautiful. That's what makes you beautiful"

Sama halnya dengan orang keren. Mungkin kalau dipuji, mereka akan dengan rendah hati bilang "ini memang tugas saya kok" kayak beberapa tokoh seperti Anies Baswedan, Jokowi, Ridwan Kamil yang saya tonton dalam "Satu Jam Bersama"-nya RTV.

Satu kesamaan, mereka semua konkrit. Mereka nggak mencari passion, tapi memilih passion dan segera action. Mereka nggak tau mereka keren. Mungkin nggak peduli keren-kerenan. Padahal, itulah yang bikin mereka keren.

2. Work

Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas -Ridwan Kamil

Kerja kerja kerja -Jokowi

Kerjaku, kerjamu, kerja kita -Madah Bahana in Concert 2

Berdaya karena bekerja -Indonesia Mengajar

"Kerja" sebagai kata kunci dari tokoh yang saya amati serta organisasi yang pernah saya ikuti. Tokoh yang memberi bukti. Organisasi yang lebih mementingkan aksi ketimbang menghabiskan waktu untuk diskusi kosong tanpa solusi.

3. Good

"Be so good they can't ignore you" -Steve Martin

Satu hal, saya cuma ingin saya menyelesaikan dengan baik apa yang saya kerjakan. Beruntung, pekerjaan saya sekarang membuka peluang untuk saya punya banyak mentor. Sampai saya suka diledek "Del, bos lo yang mana sih?" Biasanya saya suka menyahut asal, "yang mana aja boleh" Haha.

Buat saya, nggak masalah sih 'ngekor' sana-sini. Jadi, ketika saya bingung, butuh masukan dan arahan, ada mereka dengan senang hati saya 'recokin', bahkan tengah malam atau saat libur lebaran sekalipun. Maaf ya mas, pak, mbak, bu, hehehe.

Mereka merespon dengan baik apa yang saya tanya. Mereka membiarkan saya berbuat kesalahan, sadar sendiri, dan berusaha memperbaiki. Mereka betul-betul kasih saya ruang gerak yang luas buat eksplorasi ini-itu.

I feel like a kid one more time, supervised by cool adults that allow me to play to learn something. In return, I contribute by being better day by day.

4. Focus

Kayanya sih ini udah berkali-kali saya tulis. Saya 'tersiksa' ketika cuma harus fokus pada satu hal. Lebih suka berpindah fokus untuk mengerjakan hal-hal baru, eksplorasi banyak sudut pandang, dan mencoba beragam bidang.

Dulu, saya suka merasa insecure menjadi "jack of all trades, master of none". Tapi setelah bolak-balik refleksi, introspeksi, dan evaluasi diri, juga di-aamiin-i video Ted X berjudul "Why Some of Us Don't Have One True Calling" oleh Emilie Wapnick, saya jadi lega. Saya nggak sendirian.

Well maybe my focus is being jack of all trades. Perhaps, mastering some. Aamiin.

Saturday, June 18, 2016

Toleransi

0 comments
Saya ingat zaman sekolah dulu, dalam pelajaran PPKN selalu ditekankan soal toleransi umat beragama. Toleransi pada orang yang sedang beribadah. Misalnya, kecilkan volume TV saat orang lagi shalat. Nggak berisik saat orang lagi berdoa. Nggak makan-minum di depan orang berpuasa.

Bertahun-tahun kemudian, di bulan Ramadhan, topik toleransi muncul kembali. Bedanya, kalau dulu keluar di ulangan, sekarang keluar di berita dan diulang-ulang.

Siapa sih yang nggak tau kasus Perda Serang dan penggrebekan rumah makan Bu Saeni oleh satpol PP? Media terlalu over mem-blow up berita itu.

Kalau saya sih nggak peduli ya. Puasa ya puasa aja. Nggak usah protes kalau ada yang nggak puasa dan makan-minum. Yang nggak puasa juga sadar diri aja. Nggak usah juga protes kalau ada yang meminta mereka untuk nggak makan-minum di depan yang berpuasa.

Tahun lalu, 2 orang teman saya yang non-muslim bahkan ikut sahur, puasa, dan buka di bulan Ramadhan. Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada juga yang melarang. Dan nggak perlu juga dibahas.

Toleransi itu diwujudkan dalam tindakan, bukan cuma ucapan apalagi jawaban ulangan.

Saya ingat waktu liburan ke Banjarmasin bareng Rifat, saya sedang nggak puasa. Sama seperti di Serang, di sana juga rumah makan tutup semua, dan saya nggak tau itu. Saya lapar dan haus setengah mati karena dari malam sebelumnya juga belum makan.

Mungkin karena super kelaparan, saya jengkel berat akan kota santri ini. Mikir apa sih pemerintahnya bikin peraturan konyol begini? Saat saya tanya warga sekitar, mereka menerima tanpa syarat. "Ya aturannya memang begitu". Bikin makin dongkol.

Aturan buat siapa sih larang-larang restoran buka? Aturan buat anak SD yang lagi belajar puasa? Yang belum bisa tahan iman liat jajanan? Gitu?

Sambil misuh-misuh sendiri, saya akhirnya ke supermarket beli roti dan air mineral, lalu makan-minum di toilet. Sempat juga di dalam ATM. Saat Rifat merekam kelakuan ajaib kala itu, luntur sudah segala kekesalan, berganti dengan kenyang ketawa.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meski masih nggak habis pikir, karena saya ada di daerah orang, ya mau nggak mau harus ikut aturan. Dan ini jadi menarik ketika seorang teman mencoba menjelaskan dari sudut pandang hukum. Ia berargumen bahwa peraturan harus ditegakkan.

Mari lepas atribut keagamaan. Misalnya kasus Perda Serang itu. Ketika Netizen berinisiatif memberi donasi pada Bu Saeni, itu sama saja mendukung pelanggaran hukum, walaupun atas nama simpati dan bentuk keprihatinan.

Saya sendiri, saat ada di Banjarmasin dan sedang nggak puasa, ketika makan di dalam ATM, saya merasa seperti buronan. Aneh banget rasanya. Padahal sebetulnya saya nggak salah. Lah ya memang nggak puasa kok.

Tapi jujur ya. Kasus Perda Serang ini bikin saya mikir. Kenapa sih nggak sekalian aja dikasih satu spot khusus di mana pedagang boleh berjualan makanan dan minuman di situ? Atau alternatif solusi lain, kenapa sih nggak memperbolehkan restoran untuk delivery/take away?

Intinya tetap nggak makan di situ kan?

Lelah ih semua orang koar-koar soal toleransi. Alih-alih duduk bareng memikirkan solusi, kenapa sih semua orang saling lempar komen, ramai-ramai minta dihormati?

Situ bendera?

Paid Off

0 comments
Saya nggak bisa tidur. Overdosis kafein. Mau numpang ngoceh aja di sini.

Jadi, akhir April lalu, saya masuk kantor baru. Dibajak, tepatnya. Baru masuk, saya udah dicemplungin dalam satu kegiatan yang durasinya cukup panjang. Sebulan, dengan persiapan cuma seminggu. Wakwaw.

Karena saya tau saya nggak bisa gerak sendiri, saya minta bala bantuan dan bawel nanya ini-itu ke mana-mana. Modal saya cuma muka badak minta persetujuan untuk inisiatif mengelola relawan walaupun saat itu masih clueless belum tau harus ngapain.

Modal tambahan: tekad dan nekat.

Singkat cerita, sebulan berlalu. Pilot project yang jelasss.. banyak kekurangan di sana-sini, semangat naik-turun, dan bukan sekali-dua kali rasanya pengen buru-buru udahan. Mengelola relawan di tengah birokrasi yang kental itu susah-susah-gampang.

Sempat iri ke teman saat dia cerita betapa menyenangkannya ketika acaranya sukses dan semua senang. "Gw pengen ngerasain paid off juga deh. Kapan ya?" keluh saya yang saat itu udah super capek. Baik fisik maupun mental karena 'baterai sosial' abis.

Selasa lalu (14/06), akhirnya momen paid-off yang dinanti terwujud juga. Buka puasa bersama Pak Anies sekaligus penutupan relawan. Rasanya bangga punya tim yang dibentuk dalam waktu singkat, tapi perkembangannya signifikan.

Terlintas di benak saya kata-kata untuk kalender 2016 Paser:
"Belajar itu paling enak. Kalau sukses, ya karena belajar. Kalau gagal, ya namanya juga belajar"
Beberapa hari sebelumnya, saya sibuk mengumpulkan cerita mereka sebagai bahan laporan. Karena bingung formatnya, saya buat saja dengan konsep refleksi sederhana. Apa yang dikerjakan? Apa kendalanya? Apa yang dipelajari? Apa yang bisa ditingkatkan?

Membaca dan mendengar cerita mereka, saya bisa menyimpulkan bahwa sebulan kemarin memang kami semua sedang belajar, dan semoga nggak akan pernah berhenti belajar. Selalu ada pertama kali dalam hal apa pun.

Life is such a never ending learning process. To live is to learn. And those who stop learning, stop living. So yeah, now I can say it's finally paid off! At least we all learn something and give meaning to it. Good job, guys!

"Mengalami itu mengambil hikmah dari yang dijalani" -Anies Baswedan

Video buka puasa bersama Mendikbud dan relawan bisa dilihat di sini

Oxymoron

0 comments
Saya nggak tau kutukan macam apa, tapi dari dulu, ketika sudah melibatkan hati, ilmu 'yaudalah ya' jadi level tertinggi yang harus dikuasai. Peduli itu melelahkan, tapi menjadi apatis bukan pilihan.

Meyebalkan, jelas. Gemas, pasti. Tapi biar bagaimana pun, apa yang sudah terpatri akan sulit dicabut kembali. Untuk itu, saya berhutang budi. Juga keki setengah mati.

'Benci-benci-cinta' mungkin istilah paling hoek yang bisa digunakan, tapi paling tepat menggambarkan. Saya dan beberapa teman sepakat melabelinya 'cerita setan'. Cerita yang dihindari, sekaligus tak terhindarkan. Bikin sewot "udah. Nggak usah dibahas" tapi tanpa sadar terus dibahas.

No matter what, you're still dear to my heart. And for that, I hate you :)

Monday, June 13, 2016

Serius Amat, Neng!

0 comments
Akhir-akhir ini saya lagi hobi serius. Mencerna regulasi, membaca strategi, dan menghadapi birokrasi. Hal-hal yang dulu bikin saya alergi. Sekarang?

Seharian ini, diskusi seru tentang Perda Serang dan kasus penggrebekan rumah makan. Sebelumnya, terkait pelayanan publik yang payah. Sebelumnya lagi, tentang hijab dan aturan seragam sekolah --yang kemudian malah panjang bahas keyakinan--.

Paralel juga bahas Indeks Integritas Ujian Nasional, Neraca Pendidikan Daerah, Uji Kompetensi Guru, kurikulum, matriks pemetaan, peta capaian, regulasi kebijakan, dan yang paling bikin patah hati: kekerasan di sekolah.

Baca, dengar, mencoba empati, dan mungkin karena terlalu menghayati, rasanya sampai nyeri. Itu baru yang saya tau dari teman-teman yang mengalami dan cari tau dari media saat ini. Nggak tahu deh berapa banyak lagi yang belum saya tau. Pengennya malah nggak mau tau.

Jumat kemarin saya nggak masuk kantor. Badan super lemas, kepala pusing, flu berat, sariawan, radang tenggorokan, dan tipikal tepar ala pancaroba. Hari ini pun masih. Mungkin badan ngambek saya terlalu serius kerja, lupa istirahat. Haha.

Tapi istirahat fisik nggak ada hubungannya sama istirahat otak.

Makin banyak saya baca, analisa, diskusi, tanya sana-sini, dengar berbagai cerita, otak saya makin nggak berhenti mencerna. Dari bangun sampai (ke)tidur(an), ada aja yang bikin kepikiran. Dan seperti gatal, rasanya mengganggu kalau nggak digaruk.

Sampai barusan, saya memutuskan untuk tidur nyenyak tanpa mikir apa pun. Saya matikan lampu kamar, putar playlist di Spotify, dan lagu-lagu instrumental pengantar tidur pun mengalun.

Tapi tak berapa lama, setengah auto-pilot, saya buka laptop, mengetik tulisan ini, dan kilasan-kilasan pembahasan topik berat terputar acak di otak. Seperti waktu saya ngoceh semalaman ke Bayu cuma untuk numpang self-test, seberapa dalam saya paham analisa data. Zzz.

Serius amat, Neng! Nonton Teletubbies dulu lah.

Saturday, June 11, 2016

Tentang Hijab dan Aturan Seragam Sekolah

3 comments
Saya benci guru-guru saya saat SMA. JENG JENG! Terlalu kasar nggak pembukanya?

Sebetulnya nggak semuanya sih. Jadi begini ceritanya. Alkisah, di sebuah sekolah, terdapatlah seorang guru biasa yang awalnya biasa saja. Tapi semua berubah di suatu Jumat siang yang gerah ketika saya menggulung lengan kemeja panjang yang jadi seragam wajib seminggu sekali.

Rasa bosan, lelah, dan ngantuk, membuat saya mulai nggak fokus dan bisik-bisik ngobrol dengan teman. Melihat kami asik sendiri, guru itu marah dan membentak kami "heh kalian ngobrol terus! Kamu lagi. Baju digulung-gulung. Mau jadi perempuan macam apa kamu hah?!"

Saat itu, saya nurut aja biar cepet. Kalau ada yang bilang lebay, ya mungkin memang. Saya benar-benar tersinggung ketika dibilang "mau jadi perempuan macam apa kamu?!"

Maksudnya apa sih? Gara-gara gulung lengan kemeja terus jadi seks bebas gitu? Nonsense. Saya gulung lengan juga karena lipatan siku dalam merah-merah. Gerah. Elah.

Ada lagi, guru yang suka jambak rambut murid perempuan kalau ketahuan pakai hijab asal-asalan, apalagi nggak pakai sama sekali.

Saya memang malas pakai hijab karena lipatan dagu suka gatal-gatal lalu lecet perih kena gesekan peniti. Mending nggak usah sekalian daripada nanggung-nanggung.

Ohya, waktu itu hijabnya masih yang model kerudung segiempat klasik, bahannya bikin gerah, dan ada renda di bordernya. Model bergo yang bahannya adem baru keluar waktu saya kelas 3.

Lalu soal belahan rok panjang. Kenapa lagi sih gitu aja diributin?

Berhubung saya hobi datang ke sekolah mepet bel, jadi rok harus nyaman dipakai lari. Kalau nggak ada belahan, rok panjang ribet. Suka bikin keserimpet. Lagian di belakang juga kok, bukan di depan ala pramugari. Kalau itu, ya monggoh lah dibilang pamer paha.

Tapi guru mah mana mau tahu. Kesal karena aturan yang kolot dan nggak ada teman diskusi, akhirnya saya berontak. Kalau dipikir-pikir sih, semua aturan jadi terasa konyol karena:
  1. Emosi saya masih labil. Maklum, ABG.
  2. Rules are given unconditionally. No one can explain clearly WHY. Thus, either they obey it or ignore it.

Aksi berontak yang saya lakukan tiap Jumat adalah saya pakai kaos lengan pendek. Seragam kemeja putih lengan panjang dan kerudung saya pakai kalau lagi ada pelajaran saja.

Selebihnya, sebisa mungkin menghindari kantin supaya nggak perlu bawa kemeja in case ada guru keliaran, nggak perlu ketemu guru tukang jambak, nggak perlu ketemu guru yang suka judging sembarangan, juga nggak perlu ketemu guru yang suka negur soal belahan rok.

Belum lagi aturan konyol soal kaos kaki. Walaupun yang ini peraturannya nggak ketat-ketat amat, saya pernah bercanda --padahal sebenarnya serius-- sama teman saya "kalau gw kepilih jadi Ketua OSIS, gw mau kita boleh pakai kaos kaki pendek".

Oh ya, balada pemilihan Ketua OSIS di SMA saya juga absurd. Apalagi pemilihan Ketua Rohis. Ah sudahlah.

Kembali ke seragam.

Baca link yang dikasih sama bokap ini, saya senyum 'menang'. Coba taunya dari dulu ih!

Salah satu alasan saya kekeuh nggak pakai hijab walaupun se-antero desa mempertanyakan "kok Bu Della nggak jilbaban?" adalah saya nggak mau terpaksa pakai hijab hanya karena semua orang pakai.

Adaptasi sih adaptasi. Tapi kadang kita harus pinter-pinter memainkan peran kapan ikut arus dan kapan jadi diri sendiri.

Ya saya tau sih, dalam Islam, pakai hijab adalah kewajiban. Tapi buat saya, kewajiban = keterpaksaan ketika saya sebetulnya punya pilihan namun nggak boleh memilih.

Bagi saya, aturan Islam nggak sekaku semua-wajib-pakai-hijab-kecuali-laki-laki, walaupun saya tetap respek pada teman-teman yang berhijab dan nggak akan mendebat soal menutup aurat itu ya untuk melindungi diri juga.

Saya pun nggak masalah ketika lihat teman yang pasang-copot hijab. Ya pilihan dia lah. Kenapa jadi situ yang repot? Well, walaupun suka 'yaelah sist' juga sih kalau lihat perempuan pakai hijab tapi kelakuannya minus. Tapi yaudalah. Minus mah minus aja, nggak ada hubungannya sama hijab.

Tapi di sekolah, tiap hari Jumat itu wajib berhijab. Belum lagi gunungan aturan lain yang bikin saya merasa terkekang. Padahal itu sekolah umum, bukan pesantren. Hih heran!

Lalu seperti hukum karma, saya dapat kesempatan jadi guru dan menghadapi murid dengan beragam tingkah laku. Ke sekolah pakai sandal lah, pakai baju bola lah, seragam atasan-bawahan nggak nyambung lah, dsb.

Memang menyebalkan. Akhirnya saya paham kenapa guru sering marah kalau muridnya pakai seragam nggak karuan.

Beruntungnya, saya sempat diajarkan tentang disiplin positif di pelatihan. Walaupun super gemes, saya punya 'amunisi' yang lebih menyenangkan dari sekedar bikin aturan atau hukuman konyol.

Saat ada murid yang nggak pakai sepatu, saya bikin permainan yang bikin dia malu sendiri, ngaku salah karena cuma dia yang pakai sendal. Padahal, tiap pelajaran olahraga, sepatunya kinclong bro!

Soal murid yang ke sekolah pakai baju bola, biasanya dia nggak berani pakai pas upacara bendera hari Senin. Mendadak cakep lah pokoknya! Rapi, pakai minyak rambut yang klimisnya sampai sore, dan atribut lengkap.

Nah, pas lagi ganteng-gantengnya, saya puji, walaupun memang perubahannya nggak bisa instan.

Rumus doktrinnya mah gampang. Ke sekolah rapi = ganteng. Prakteknya yang susah. Butuh 1 semester sampai akhirnya anak ini ke sekolah tiap hari pakai seragam rapi. Padahal saya hampir nyerah ikut kebawa labeling "yaudalah. Anak Hulu emang begitu. Yang penting ngga ganggu temennya yang mau belajar aja". Eh ternyata, mau juga tuh dia berubah, hihi.

Sebetulnya saya nggak peduli seragam-seragaman. Bahkan saya pun nggak peduli soal nilai kognitif mereka. Anjlok yaudalah. Ya ada aja kan anak yang jago bikin puisi tapi lemah di matematika. Ada juga yang super kreatif bikin kerajinan tangan, pinter gambar, tapi nge-hang ketika ditanya hapalan IPS.

Baju udah seragam, masa standar kognitif anak juga harus seragam? Masalahnya, sekolah peduli.

Makanya, mau nggak mau, saya harus cari 1001 cara supaya anak-anak nggak sekedar menaati peraturan, tapi menjalaninya tanpa terpaksa. Idealnya sih gitu. Kenyataannya? Mungkin lebih mudah mindahin Gunung Fuji ke Bali kali ketimbang bikin semua anak mau nurut dengan senang hati.

Tapi tiap kali saya mau marah dan yaudah deh nggak mau tau, saya ingat betapa menyebalkannya dikekang banyak aturan dan nggak bisa protes. Makanya, giliran jadi guru, saya nggak mau melakukan hal yang sama ke murid-murid. Itu aja sih.

EHEM. Kembali soal hijab.

Saya ingin sedikit mengutip potongan kalimat dalam Detik News Jumat (10/06):
Dalam Permen itu diatur, bagi siswi yang hendak menggunakan hijab, maka ada desainnya. Begitu juga dengan siswi yang tidak bersedia mengenakan hijab. "Tidak ada aturan yang harus pakai dan tidak ada aturan yang tidak boleh pakai. Karena itu pilihan pribadi," ujar Anies.

Asli, saya makin kagum dengan Pak Menteri ini. Kebijakan yang diambil terasa sekali dilandasi argumen kuat. Terbukti bahwa beliau memang sudah malang-melintang terjun di dunia pendidikan, jadi paham betul kondisi lapangan.

He knows what he's doing.

Murid saya dulu sering tanya "Bu Della nggak pakai jilbab kah?" Selama setahun, saya berhasil ngeles dengan tanya balik "emang kenapa?" Mereka biasanya dengan polosnya menyahut "kan cantik je bu kalau pakai jilbab" Lalu saya balikin "emang sekarang nggak cantik?"

Kemudian mereka senyum-senyum doang, dan pembahasan berhenti sampai di situ.

Ada juga anak-anak yang lebih kritis. "Kan di Islam wajib pakai jilbab Bu" Kalau dapat jawaban seperti ini, gantian saya yang senyum "iya Ibu tau kok. Makasih ya ngingetin Ibu" Kelar. Selama setahun, nggak ada sih yang bertanya lebih jauh.

Padahal, kalau mereka masih tanya juga, saya mau jelasin bahwa pakai hijab itu memang kewajiban muslimah, tapi bukan pakai karena terpaksa.

Tapi saya sih membayangkan, kalau beneran saya bilang begitu, waaah, bisa digetok wali murid karena nggak salah juga sebetulnya argumen "pakai jilbab itu soal pembiasaan".

Ada satu cerita menarik tentang anak murid saya.

Sebut saja Tiara. Gadis tomboy yang berprestasi di bidang olahraga. Sepanjang mengajar, saya nggak pernah lihat dia pakai hijab. Di hari Jumat pun bahkan dia nggak pakai baju muslim.

Seragam sehari-harinya adalah kemeja lengan pendek dan rok di atas lutut yang memudahkan dia main bola sama murid laki-laki. Bahkan saya sering lihat dia seharian pakai baju olahraga walaupun pelajaran olahraga udah kelar :))

Kalau soal pakai sendal atau baju bola ke sekolah, yang pakai sendal saya suruh ke pasar, yang pakai baju bola saya suruh ke lapangan --> pernah dicoba dan nggak mempan, haha.

Tapi buat kasus 'unik' seperti Tiara ini, agak dilematis juga. Mau nyuruh pakai, lah wong saya sendiri nggak pakai kok! Nggak adil dan nggak konsisten sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Sebetulnya saya tuh gatel banget usil nyuruh Tiara pakai baju koko terus berangkat shalat Jumat, cuma kalau beneran diturutin kan gawat juga. Haha. Jadi paling saya sambil santai bilang "Ibu mau liat dong kamu pakai gamis perempuan. Penasaran. Pasti cantik deh"

Terus dia protes "Ibu Della jeee.. susah saya nanti main bola" Duh, kangen ih jadinya :')

Anyway, dengan adanya pernyataan Mendikbud soal seragam, saya jadi lega. Seenggaknya, saya melakukan hal yang benar pada Tiara, bahwa keputusan berhijab atau nggak adalah pilihan. Toh udah ditegaskan sama Menteri nya sendiri bahwa memang nggak ada aturannya sekolah mewajibkan maupun melarang siswi pakai hijab.

Dear high school teachers, give me back my Friday uniform rights!

Monday, May 30, 2016

Karetnya Dua

3 comments
Entah kenapa saya ingin menulis tentang teman saya satu ini. Namanya Meiliani Fauziah, panggilannya Sarah. Jangan tanya saya kenapa jauh betul panggilan dan nama panjangnya. Tanya langsung saja.

Anak bungsu dari almarhum jurnalis legendaris, Ersa Siregar. Anak bungsu yang merasa jadi kakak kami semua selama setahun di Paser. Padahal, saya sih menganggapnya tetap paling bungsu. Bahkan Rifat saja --yang 4 tahun lebih muda-- lebih 'sulung' dari Sarah. Mungkin karena memang menjadi sulung ataupun bungsu tidak ada hubungannya dengan umur. Ah sudahlah.

Awal pertemuan saya dengan Sarah adalah saat kopdar Calon Pengajar Muda 9 di Eatology. Sarah yang cerita dengan hebohnya tentang seorang laki-laki yang datang melamarnya dan mau memboyongnya ke Papua. Sarah yang tulisannya bagus. Sarah yang ketika betul-betul bertemu langsung........ ondeee mandeee. Ultrasonik.

Kali kedua kami bertemu adalah ketika di pelatihan, tepatnya hari pertama pelatihan. Ada kejadian super epic saat itu. Ia tidak sengaja membuat kepala saya berdarah karena terantuk ujung lemari. Kami langsung bergegas lapor ke fasilitator dan minta Betadine. Sambil meneteskan obat luka ke kepala, ia bolak-balik minta maaf dan saya bolak-balik ketawa.

Apa yang lebih berkesan dari penyiksaan perkenalan pertama dengan tetesan Betadine di kepala? Semenjak saat itu, entah anugerah atau kutukan, saya sekelompok terus sama Sarah, bahkan satu penempatan.

Berteman dengan Sarah sama dengan kuat-kuatan mental. Ratu sepet sejagat, nomer dua setelah Cune. Hahaha. Basa-basi basi tidak pernah ada dalam kamusnya. Peraturan pertama berhadapan dengan Sarah adalah buang jauh-jauh baper. Rugi. Lo sakit hati, dia bodo amat. Bikin dia sakit hati? Yang pasti nggak mempan kalau caranya adalah nyepet balik.

Apa pun yang lo lakukan untuk 'balas dendam', tetap lo yang rugi kalau baperan, karena ia pun tak pernah take it personal. Kalau kata Adam, "titah Kak Sarah selalu benar". Entah memang benar titah atau simply pasrah.

Menghadapi Sarah, banyak orang lebih memilih menghindari konflik. Jelas, karena malas sakit hati. Tapi buat saya sendiri, entah kebal atau bagaimana, selama setahun, satu-satunya yang membuat saya sebal dari Sarah hanya menjelang kepulangan. Saya bahkan lupa detailnya, yang jelas soal packing.

Selebihnya, bagi saya sih biasa saja. Saya justru sangat senang ketika bekerja bersama Sarah. Profesional, gercep, dan terus terang dalam memberi feedback. Biasanya, orang sungkan memberi feedback sehingga lebih banyak 'hiasan' kalimat penghiburan daripada inti masukannya. Takut menyakiti perasaan, mungkin.

Sementara Sarah? Babat habis. Makanya, dunia ini butuh orang-orang tegaan seperti Sarah, tapi jangan banyak-banyak :))

Pernah ada kejadian HP saya terbawa Sarah sampai Derawan. Belum sempat saya komen, malah saya yang diomeli. "Siapa suruh lo taro di daerah teritori gw", begitu pembelaannya. Saya dan teman-teman lainnya bengong. Lah mana kita tau di mana teritorinya. Ajaib memang manusia satu itu.

Tapi biar bagaimanapun, di balik mulut karet duanya, harus saya akui Sarah ini punya daya tarik tersendiri. Entah apa. Mungkin menjadi ketus adalah caranya memberitahu orang-orang di sekelilingnya bahwa yang bisa menyelamatkan diri mereka adalah mereka sendiri.

Istilahnya "kalau lo berharap gw akan menolong lo saat tenggelam di laut, bye. Sebelum lo nyemplung, gw udah bilang berkali-kali, laut itu bahaya. Ati-ati. Belajar renang. Bawa pelampung. Lo nekat, tanggung sendiri resikonya." Tapi ujung-ujungnya ditolongin juga.

Intinya, justru kalau Sarah berhenti ngomel, tandanya dia udah nggak peduli. Selama masih berkaret dua, tiga, sejuta, percayalah, dia masih peduli, dan bentuk kepeduliannya tercermin dari hal-hal kecil. Pernah suatu hari, saya marah sama Adam. Alasan saya marah biarlah tertinggal di Paser. Sarah tahu yang salah itu jelas-jelas si Adam. Adam diomelin Sarah, dan saya dibelikan cokelat *anaknya cetek.

Selain kepribadiannya yang nyentrik, keputusan dia dalam berkarir pun tidak kalah nyentrik. Setelah mapan di Republika, ia blusukan jadi Pengajar Muda. Sekarang, malah magang di Salihara yang 'uang saku' nya nggak lebih banyak dari biaya perawatan James dan Bona --motor inventaris di Paser-- tiap bulan. Tapi saya paham betul, rezeki tidak melulu soal uang.

Salihara gudangnya seniman, budayawan, dan penulis kawakan. Sejalan dengan keinginannya untuk terus hidup dari menulis. Sikat lah!

Ah, tak ada habisnya kalau membahas teman-teman saya yang super menarik ini. Suatu saat nanti saya akan melunasi hutang untuk menulis tentang mereka satu per satu. Beberapa waktu lalu, Fajri sudah. Sekarang Sarah. Habis ini, siapa lagi ya?

Anyway, good luck with other quirky decisions you'll make in the future, Sar!

Sunday, May 15, 2016

Tentang Merespon Feedback

0 comments

Beberapa hari ini, saya sedang baca buku judulnya "Thanks for the Feedback" Well.. baru part prolog beberapa lembar sih. Tapi saya tahu, ini akan jadi bacaan yang seru!

Jadi, buku ini pemberian teman saya. Kado katanya. Tadinya dia kasih pilihan, mau buku tentang feedback atau buku sejarah. Saya ngakak. You don't say. Jelas sekali mana buku yang akan saya pilih.

Orang yang mengenal saya pasti paham betul bahwa saya suka sekali feedback. Saking sukanya, saya sempat bingung bagaimana saya harus merespon suatu feedback agar mendapat feedback lebih banyak (HAHA). Karena belum pernah baca konsep/teori/apapun tentang feedback, akhirnya saya bagi saja jadi 3:
  1. Apresiasi
  2. Komentar
  3. Masukan yang membangun
1. Apresiasi

Ketika seseorang memberi apresiasi, saya sebisa mungkin berterima kasih dengan sopan dan merespon secukupnya, berusaha untuk nggak cepat puas.

Jujur, dipuji itu menyenangkan. Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai adiktif. You do things to express, not to impress. You do things for self improvement, not for people's compliment.

Ketika motivasi berusaha maksimal datang dari ngarepin pujian, ya siap-siap demotivasi aja. Saya sih nggak mau lagi bergantung sama manusia untuk urusan minta apresiasi. Capek. Kalau saya gas pol menghidangkan hasil kerja terbaik, ya itu karena saya nggak mau nyesel "tau gitu gw lebih usaha lagi". That's it.

2. Komentar

Ini nih yang pualing buanyak beredar. Biasanya kayak Jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Respon paling wajar adalah "gw nggak minta komen lo, kenapa lo yang repot ngurusin urusan gw?"

Kalau saya dikomen orang, saya berusaha untuk terima dengan anggukan dan nggak baper. Rugi. Soalnya yang saya coba pahami, kebanyakan orang berkomentar karena ingin didengar.

Jadi, berprasangka baiklah. Kalau memang mau klarifikasi, dengarkan dulu sampai selesai, baru jelaskan apabila dipersilakan.

Kalau saya sih, untuk komentar yang sifatnya semu (aka nggak jelas maksudnya apa), kalau masih ada waktu bertanya, akan saya 'kejar'. Misal:

"Ih jelek posternya"
"Jeleknya di bagian mana? Warna? Komposisi? Jenis font? Atau apa?"

Kalau dia cuma bales "ya pokoknya jelek aja" yaudah kelar. Nggak usah diladenin. Emang komen doang. Kalau dia kasih rincian, saya hargai itu dan akan anggap komentarnya sebagai bagian yang ketiga.

3. Masukan yang membangun

Masukan yang membangun pun nggak selalu keluar dari komentar negatif yang kita minta perjelas. Bisa juga dari apresiasi. Misal:

"Ide lo oke. Keren banget bisa mikir sampai ke sana"
"Mikir sampai ke mana? Ada yang mau ditambahkan ngga? Atau mungkin perlu diperbaiki?"
"Hmm.. coba dibeginikan begitukan bla bla bla"

Bagi saya, ini jauh lebih menyenangkan dan berguna daripada sekedar pujian.

Saya selalu terngiang-ngiang ucapan Pak Anies "dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang" tiap kali merespon feedback, walaupun setelahnya kadang emang bikin kepikiran.

Pun kesal dan nggak terima, biasanya saya numpang nyampah aja pada orang-orang terpercaya, karena debat kusir dengan lawan bicara yang niatnya cuma ingin komentar itu percuma. Buang-buang waktu.

Jadi, untuk kalian yang sudah berbaik hati meminjamkan kedua telinga, maaf dan terima kasih banyak. Tenang, saya belum butuh bahu untuk bersandar. Tapi uluran tangan untuk memijat bahu saya yang pegal mah boleh banget, hahaha.

Thursday, April 21, 2016

Hari Kartini

1 comments
"Cowok tuh minder juga kalau ketemu cewek yang standarnya lebih tinggi dari dia".

Di sebuah obrolan ngalor-ngidul saat sarapan, seorang teman laki-laki mengaku alasan kenapa perempuan pintar susah dapat pasangan ya karena kaum pria keburu melipir duluan kalau si wanita lebih 'bling-bling' dari dia.

Sambil ketawa, teman perempuan saya komentar, "pantes gw susah punya pacar".

"Yang penting jangan pernah nurunin standar. Rugi. Cari pasangan mah yang selevel" saya ikut nimbrung, sadar juga status jomblo bahagia yang saya sandang ini kadang dilihat aneh sama orang-orang.

Saya mah sebetulnya santai ya ada atau nggak ada pacar, tapi di zaman modern begini, saya masih saja mendapati perempuan yang mengalah, menurunkan standar biar laku.

Kalau masyarakat suku Bugis, ada yang namanya jujuran. Jadi, pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan kalau mau melamar pihak perempuan. Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar jujurannya. Makanya, kalau di desa saya, jarang perempuan yang sekolah tinggi-tinggi biar nggak susah cari pasangan.

Duh. Rasanya pengen geleng-geleng gagal paham, tapi ya begitulah realitanya. Laki-lakinya juga membenarkan. Mending cari perempuan yang lulus SMA mau dipinang ketimbang nunggu sampai jadi sarjana.

Padahal, Kartini dulu memperjuangkan emansipasi wanita ya biar puluhan tahun kemudian hal-hal patriarkis perlahan luntur. Selain itu, menurut penelitian, gen anak pintar itu turunan ibunya. Makanya jadi cewek ya harus pintar dong. Investasi masa depan.

Banyak lah contoh lainnya.

Misalnya hal sepele seperti cap "dasar cewek kelamaan dandan". Dulu, karena nggak mau dicap tukang dandan, saya usahakan 'seremonial' setelah mandi ya seminimal mungkin. Ya sih saya akui memang teman-teman saya yang lain sedikit lebih lama karena dandan dulu sementara saya sisiran pun nggak.

Saya selesai duluan untuk menghindari cap cewek lelet kelamaan dandan. Ya terlepas dari saya anaknya emang males dandan juga sih. Kalau lagi mood atau tuntutan image aja, HAHA.

Makin dewasa, saya jadi sadar. Sebetulnya yang sering telat itu justru cowok-cowoknya. Nggak tau deh mereka ngapain aja. Bahkan cewek-ceweknya udah rapi, wangi, ngeringin rambut atau bahkan catokan, lukis alis sampai jadi gunung berapi, mereka belum kelar juga.

Ketika kami udah selesai sarapan, mereka baru nongol dengan baju kusut, rambut acak-acakan, dan sendal jepit. Kalau protes, mereka bilangnya "ya wajar dong. Cewek kan lama dandan dulu. Kita mah bentar juga kelar"

ISH! Padahal mereka yang lelet, tetep yang keluar cap 'dandan'. Lah justru canggih dong manajemen waktunya cewek-cewek. Biar ribet tetep bisa on time. Lah elu ngapain? Dandan kagak, telat iya.

Pernah tuh, kami, sekumpulan cewek udah rapi semua. Acara telat karena nungguin cowok-cowoknya. Kebetulan kami ada grup Whatsapp, dan salah satu teman saya minta cowok-cowoknya segera bergegas. Alih-alih minta maaf, ada yang kirim gambar ini:


AUK AH!

Kalau kata Kartini:
"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri"

Nyambung? Nggak nyambung? Saya nggak peduli. Di Hari Kartini ini, cuma pengen nitip pesen gini ke semua cewek yang hobi dandan:

So girls, keep being awesome, fabulous, and on time, no matter how long you take to look pretty. And boys, please hurry!

Sunday, April 17, 2016

Komitmen

0 comments
"Do you have boyfriend?"

"Nope"

"Why?"

"Well, just haven't met him yet"

Dalam sebuah wawancara yang di-setting seperti sidang yang mengintimidasi, saya bisa menjawab dengan tenang, santai, dan apa adanya. Pewawancara sepertinya nggak puas karena usaha intimidasinya nggak mempan pada saya. Ia mendesak lagi.

"You're 27 this year, right? And you have no boyfriend. How come? Do you have problem with commitment?"

Alih-alih membela diri, saya malah ketawa. Dalam hati pengen jawab, "lah kalau soal cinta-cintaan, yang punya masalah sama komitmen mah bukan saya"

"Well, I won't say yes or no, but I can tell strong evidence based on my working and organization experience. After that, you may judge. Should I?"

Untungnya walaupun jawabannya sengak banget, saya berhasil nggak kepancing buat bahas masalah personal. Nggak penting juga sih.

"Ok. You may go out now. Thank you. Please call next turn"

LAH UDAH GITU DOANG?! Padahal saya udah nyiapin cerita. Yaudah lanjut di sini aja. Flashback 'tabungan' pengalaman yang bikin saya jadi seperti sekarang. Iya juga sih, kalau dipikir-pikir, saya dulu memang bermasalah sama komitmen.

Dari zaman SD sampai kuliah saya hobi gonta-ganti kegiatan ekstra. Semua dicobain. Mention it. Nari tradisional. Lomba Lasy (semacam Lego). Main gitar. Piano. Les bahasa. Gambar. Pramuka. Drum band. Silat. Basket. Renang. Komputer. Drama. Macem-macem, dan satu pun nggak ada yang serius ditekuni.

Yang paling parah waktu tahun 2007-2009. 3 tahun pertama kuliah.

Mulai ikut UKM tari tradisional Liga Tari (Litar), UKM pers mahasiswa Suara Mahasiswa (SUMA), UKM marching band Madah Bahana UI (MBUI), les design, les jazz ballet, les bahasa Jepang, panitia acara kampus, volunteer ini-itu, sampai jaga warnet shift malem hingga subuh.

Sering saya setengah mati memaksakan diri. Kuliah ngantuk. Pulang kuliah bukannya sosialisasi main dulu sama temen-temen di kantin, saya memilih balik ke kosan buat mandi dan tidur sebentar. Kuliah lagi, pulang langsung latihan MB. Pulang MB ngebut deadline kerjaan organisasi dan tugas kuliah yang menumpuk. Kelar, cus ke warnet. Begadang. Kuliah ngantuk. And fucking repeat.

Hari Jumat-Minggu lebih parah lagi.

Jumat pulang kuliah, kalau sempet, setor muka dulu ke sekre SUMA. Seringnya sih nggak ikutan rapat redaksi karena harus ngejar les jazz ballet di Bintaro. Sampai saya dapat SP-sekian. Untungnya masih kekejar tanggung jawab bikin layout buletin.

Sabtu pagi les bahasa Jepang di Kebayoran, abis itu cabut ke Depok buat latihan MB. Minggu pagi ke Salemba buat latihan Litar, terus pulang ke Bintaro. Tapi Litar ini nggak lama karena saya bisa jadi zombie kalau harus menjalani rutinitas weekend padat dengan rute Depok-Salemba-Bintaro.

Gila sih, Del.

Nah, di tahun 2010 saya mulai sadar diri. Jadwal saya kelewat nggak masuk akal. Kalau semua diturutin terus, hasilnya nggak akan maksimal. Ketika dihadapkan pada banyak tanggung jawab yang merongrong minta didahulukan, mau nggak mau kepentingan pribadi jadi prioritas ke-sekian.

Makanya, kuliah jadi korban. IP saya terjun bebas. Itulah yang jadi titik balik saya untuk break MB dan fokus kuliah. Transisi 2009 ke 2010 bisa dibilang salah satu check point paling signifikan sepanjang track record pengalaman organisasi dan kegiatan ekstra saya.

Kembali ke masalah komitmen, sejak 2010 saya berikrar pada diri saya sendiri 3 hal ini:
  1. Selesaikan apa yang sudah dimulai
  2. Kalau ada waktu ngeluh, pakailah buat usaha
  3. "If you can't you must. If you must you can" -NAC
Alhamdulillah sampai sekarang walaupun pasang-surut, saya bisa konsisten dan persisten memegang ikrar itu. Ya ada kalanya sih ngeluh. Namanya juga manusia kan. Ada kalanya juga saya sekedar selesai. Tapi yang pasti, saya jadi banyak pertimbangan sebelum ikut ini-itu.

Jadwal yang kayak setan itu benar-benar jadi pembelajaran penting buat saya. Nggak mau kejadian gagal manajemen waktu kembali terulang. Saya nggak boleh serakah. I may pursue all things I want, but not all AT ONCE.

Bukan berarti nggak ada ujian. Tahun 2011-2013 mah kenyang deh sama drama dan patah hati. Kalau kata Coldplay, "when you try your best but you don't succeed". Banyak lah kejadian.

Mulai dari pacaran pertama kali, putus, lamaran kerjaan gagal berkali-kali, sakit DB saat lagi ngerjain tugas akhir, kecelakaan, patah kaki, gagal jadi pasukan guard, gagal pentas, gagal volunteer-an, bermasalah sama temen, daaan.. masih banyak lagi.

Tapi segala hal yang terjadi di luar kontrol saya saat itu sebetulnya menguji komitmen saya.

Seberapa besar usaha lo buat menyelesaikan tugas akhir dalam kondisi apa pun? Seprofesional apa lo menghadapi tanggung jawab organisasi di saat lo terlalu patah hati buat berkontribusi? Apa yang lo lakukan ketika rasanya pengen nyerah tapi nggak bisa?

Gimana lo meyakinkan orang tua bahwa setelah lulus lo nggak jadi beban negara karena pengangguran terlalu lama? Gimana lo memutuskan untuk terpaksa menyelesaikan apa yang udah lo mulai di tengah jalan karena lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya? Atau sebaliknya, gimana lo tetap ngotot selesai sampai akhir sebagai wujud profesionalitas se-terseok-seok apa pun jalannya?

Nggak mudah. Serius. Pegang teguh komitmen itu jangan dikira seenteng sepik di awal. Mungkin kalau pertanyaannya dilontarkan jam 3 pagi, saya bisa sesenggukan nyeritainnya. Untung aja saat itu masih terjaga. Masih sekitar jam 10an malam. Masih aman. Belum celeng dan 'mabok'.

Makanya, kalau sampai sekarang saya belum punya pacar mah nggak ada hubungannya atuh sama komitmen. Ya emang belum ketemu aja sih, haha.

Kaya Raya

0 comments
Saya belakangan lagi terjebak dilema yang dibuat sendiri di kepala. Mengincar profit, baik? Buruk? Hitung-hitungan dan minta bayaran, baik? Buruk?

Dalam 1.5 tahun ini, mayoritas kegiatan saya adalah kegiatan sosial yang mana ya ada sih uang masuk ke rekening, tapi secukupnya aja lah. Sampai titik di mana saya melek. Sadar lagi bahwa di dunia ini, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

Kalau pakai teori Maslow, seharusnya kan bertahap. Tapi untuk special case, ketika kebutuhan self-actualization sudah terpenuhi, puasa pun rasanya kenyang. Karena memang, melakukan hal-hal yang meaningful itu membuat bahagia. Tapi apa meaningful aja cukup? Bagaimana dengan menjadi impactful?

Saya jadi terngiang-ngiang omongan seorang dokter ketika saya cerita saya 1 tahun mengajar di pedalaman. Dia bilang gini:
"You ngapain sekolah tinggi-tinggi, masih muda, jauh-jauh ke pedalaman. You kerja keras cari uang juga pengabdian. Bantu yang dekat dulu. You no money no action. So you make money make action"

Ouch. Menohok betul ih pak dokter.

Sebagian saya nggak sepakat. Jadi Pengajar Muda, setahun di Kalimantan, banyak banget yang saya dapat. Memang nggak kaya raya, tapi ungkapan "hidup secukupnya aja udah cukup" itu benar-benar saya rasakan.

Duh, emang harus ngerasain sendiri sih. Susah dijelasin. Kayak apa yaaa.. patah semua deh balada kekotaan seperti orang cuek, basa-basi ala kadarnya, hidup keras, dsb.

There, all small talks are so sincere and pure. Mereka nanya kabar, udah punya pacar apa belum, udah mandi apa belum, udah makan apa belum, itu bukan basa-basi basi. Mereka tulus berinteraksi tanpa agenda tertentu. Mereka tulus menyapa, ajak mampir, dan sungguhan menyuguhkan makanan.

Apalagi anak-anak. Duh, meleleh lah tiap mereka doain gw buat pakai jilbab, rajin ngaji, dan rajin shalat (walaupun pada kenyataannya nggak juga, haha). Mereka juga nggak malu-malu bilang sayang, peluk saya, dan ungkapan kasih sayang lainnya. Malah saya nya yang salah tingkah karena nggak terbiasa.

Lalu soal 'hidup secukupnya aja udah cukup' karena ya begitulah mereka. Bahkan di saat kekeringan, panceklik, bencana asap, dan susah ikan padahal di wilayah pesisir, mereka nggak keliatan terbebani sama hidup. Dijalani aja. Seadanya, secukupnya.

Ini asli beneran saya alami sendiri. Saya orang kota, seumur-umur nggak pernah ngerasain hidup susah, sekalinya ke desa, ternyata nggak hidup susah juga tuh. Suka lebay sih media koar-koar soal kemiskinan. Sotoy. Mereka tuh bukan miskin, cuma beda aja gaya hidupnya.

Bahkan menurut saya, mereka justru kaya raya. Indonesia ini kaya raya. Lalala, bisa baper nih kalau diterusin. Intinya, beda lah hidup di kota sama di desa mah. Kadar mewahnya nggak apple to apple. Nggak bisa diukur dengan indikator daya beli dan aset kepemilikan tangible.

Nah, sekembalinya ke kota, terpapar lagi lah saya sama 'segalanya butuh uang' dan urusannya balik ke perut. Idealis masih, realistis masih (di desa juga bisa realistis kok), tapi mulai bisa paham banyak sudut pandang.

Mungkin ini juga sih tujuan IM mengirimkan PM: pemahaman akar rumput. Alhamdulillah iya bener jadi paham. Jadi kalau waktu itu saya mau ngotot-ngototan sama Pak Dokter mah bisa-bisa aja.

Tapi nggak saya lakukan karena ada juga sebagian kebenaran dari perkataan Pak Dokter. Jadilah kaya raya biar bisa menolong sesama. Kalau perut kenyang, bantuin orang mah tenang.

Nah masalahnya, biasanya tuh, setelah berada di jalan penuh pengorbanan yang ramai tepuk tangan terus hijrah ke jalan penuh lempar batu sembunyi tangan demi beragam keuntungan, kesannya jadi nggak konsisten.

Pasti ada aja deh yang nyinyir "yaelah alumni PM balik dari penempatan juga paling kerja lagi di korporat". Atau kalau alumni PM kerja di pemerintahan, bilangnya "pantesss.. menterinya kan di situ. Ada link".

Lah ya terus kenapa? Salah cari duit? Salah mengambil keuntungan dari jejaring?

Terus random lagi ingat isu Panama Papers. Misal nih misal. Ada koruptor yang cuci uang lewat donasi besar ke yayasan Y misalnya. Haram sih uangnya, tapi digunakan untuk hal yang bermanfaat. Itu benar apa salah?

Atau dibalik. Yayasan sosial Y yang korupsi. Jahat sih, tapi kan orang-orang yang berdonasi itu niatnya baik. Lagian orang-orang di yayasan Y juga masih tercukupi kebutuhannya. Nggak segitunya terlantar. Itu benar apa salah?

Saya kalau mikir begini suka jadi serba salah. Alasan itu pembenaran apa kebenaran?

Buat saya sendiri sih, orientasi saya sekarang cari uang. Nggak salah toh komersil? Lagian, walaupun sepakat relawan nggak dibayar karena sangat berharga, tapi profesional kan dibayar mahal karena punya harga. Cari uangnya halal kok.

Kalau pun saya mau kontribusi, masalah dikorupsi ya dosanya si koruptor. Walaupun ranah concern saya, itu bukan ranah kontrol saya. Itu ranahnya hukum. Iya dong?

Eh saya nggak lagi ngomongin IM ya. Ini murni berandai-andai doang. Kalau IM mah, angkat topi lah. Terlalu luar biasa karena bisa konsisten mempertahankan idealisme dari 6 tahun yang lalu dan benar-benar terbukti, IM berdaya karena terus bekerja. Salut.

Tapi yaaa.. balik lagi ke kata-kata Pak Dokter, "you make money make action". Jadi, nggak ada yang salah dengan ingin kaya raya, sist. Nggak usah takut kesannya shallow. Lebih shallow mereka yang kerjaannya nyinyir doang padahal nggak ngapa-ngapain.

Ah, jadi pengen makan marshmallow. Random.

Outgoing Introverts

0 comments
Pulang seleksi intensif 4 hari kemarin bikin saya jadi pengen ngoceh banyak sama diri sendiri. Satu kegiatan yang buat saya, nggak ada matinya. Setelah 'kering' kebanyakan sosialisasi, 2 hari ini waktunya 'nge-charge'.

Maka jadilah weekend ini saya habiskan menjadi couch potato. Kemarin teman saya, Nyanya, mampir ke rumah. Dia heran rumah saya kok sepi banget. Dia takjub saya kok betah banget nggak keluar kamar, di kamar pun nggak ngapa-ngapain seharian.

Saya ngakak nanya balik, "emang lo nggak?" Dia bilang, tiap weekend dia pasti ada aja acara ke sana-sini. Saya mah suka sih jalan, cuma ada waktunya malas aja pergi ke mana-mana. Dan paling kesal kalau mama menyeruak nyeret-nyeret saya keluar dari 'goa'.

Lalu pagi ini saya blogwalking dan menemukan tulisan Miund yang momennya pas banget.
"It's quite all right. I just adore my own company"

Ya kira-kira begitu. Girang banget rasanya tiap nemu tulisan yang mewakili kondisi dengan super tepat. Kayak nemu harta karun.

Kutipan lainnya yang juga mewakili:
"Sisi negatifnya, yang nggak kenal-kenal amat sama saya seringnya langsung berkesimpulan kalau saya emang 'rame', ekstrovert, up for anything under the sun dan mudah beradaptasi dalam segala suasana. Semua karena image saya yang emang suka bercanda di media sosial dan senang mengomentari banyak hal. Padahal gak tau aja kan, kalau lagi cerewet di Twitter itu tandanya saya lagi nggak sama orang lain yang bisa diajak ngobrol atau ya emang lagi mojok aja dan nggak pengen ngobrol dua arah, layaknya orang introvert. Egois banget, memang. Ih."

 2 bulan di Galuh, saya pegang medsos. Dan tanpa saya sangka, saya sangat menikmatinya. Saya melakukan lebih dari yang diminta. Hasilnya juga terlihat karena saya rajin melakukan monev. Biasanya, kalau sudah kerja, saya butuh konsentrasi tinggi dan akan diam seribu bahasa. Padahal di media sosial yang saya pegang, saya lagi bawel-bawelnya.

Sementara itu, teman saya, Sarah, anaknya kalau ngomong kaya toa. Berisik banget, haha. Belum lagi celetukan-celetukan lain dari teman-teman seruangan. Ditambah orang-orang yang entah kenapa betah banget nongkrong di ruangan divisi kami.

Kalau lagi begitu, pilihannya dua: ikut nimbrung dan menutup tab media sosial atau pindah tempat ke ruang meeting yang lagi kosong biar bisa fokus meramaikan medsos.

Kontras banget yah. Media sosial memang bising, tapi mereka bising dalam diam. Itu yang saya nikmati, walaupun saya pun menikmati banyaknya distraksi keceriaan dari teman-teman satu divisi. Yaaah, hanya perkara menyeimbangkan hidup sih.

Tapi nggak jarang juga saya fed up sama media sosial. Pengen gumoh rasanya nyentuh Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Path. Biasanya karena kelamaan mantengin pergerakan akun media sosial kantor yang sedang saya pegang atau berkutat dengan laporan monev.

Saya jadi ingat kemarin ketika sesi wawancara, teman saya ditanya apa kelemahan dan kelebihan saya. Dia bilang saya bisa bekerja sama dengan baik dalam tim, gampang beradaptasi dan menyesuaikan diri, tapi kadang saya terlalu mandiri dan suka menyendiri.

Kalau kata 'Geng Cetek' --sebutan untuk ring 2 pertemanan antar Pengajar Muda setelah Paserangers-- saya ini hobi sekali menggelembung. Mayoritas Geng Cetek itu anak-anak ekstrovert yang bisa ngambek kalau nggak diajak jalan. Yang gelisah kalau sendirian. Pokoknya memang tipe people-person banget.

Dikelilingi anak-anak populer bling-bling seperti mereka, saya ya jadi kecipratan label outgoing juga. Untungnya mereka bisa paham tiap saya tiba-tiba menggelembung. Paling diledekin aja, dan diseret-seret kalau udah kelamaan.

Kadang bikin jengkel juga sih, persis mama. Tapi yaaah.. anak introvert emang harus main sih sama anak ekstrovert biar nggak terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri.

Ini nyata terjadi ketika saya menghabiskan waktu libur semester bareng Fajri, Bayu, dan Rifat di Paser. Ketika geng anak introvert kumpul, kerjaan kami cuma tidur-tiduran, baca buku, bengong, dan intensif ngobrol hal-hal personal kalau lagi mood aja. Lalu tidur-tiduran lagi, baca buku lagi, dan bengong lagi. Begitu terus siklusnya berhari-hari.

Seru? Nggak seru? Sekali lagi, hanya perkara menyeimbangkan hidup.

Tentang Meminta Feedback

0 comments
Setelah 2 bulan kerja di kantor Indonesia Mengajar, saya meminta feedback dari teman-teman satu divisi tentang kinerja saya selama ini. Mereka ketawa. Heran.

"Del, lo minta feedback mulu, lo bukan manusia ya? Kan ada penelitian bahwa manusia itu resisten terhadap kritik"

Lalu Brian --pendamping Pengajar Muda di Paser tahun lalu-- cerita bahwa ia sering dengar dari anak-anak Paser bahwa saya Ratu Feedback. Giliran saya yang ketawa.

Iya, saya suka minta feedback. Selama di pelatihan, saya rajin bertanya pada teman-teman Pengajar Muda tentang pandangan mereka terhadap saya.

Di penempatan pun, saya sering iseng tanya guru, minta feedback. Bahkan menjelang pamitan, saya suka mampir ke rumah guru atau sekadar nongkrong cari cemilan sambil minta kritik dan masukan dari mereka tentang kinerja saya selama jadi PM.

Awalnya sih memang karena saya kesal dengan pendekatan Appreciative Inquiry. Saya jadi nggak tahu kurangnya saya apa karena keluarannya selalu positif. Makanya saya minta masukan untuk perbaikan.

Saya sih mikirnya gini. Saya bukannya resisten terhadap kritik. Rasanya tetap pedih dan menusuk ketika ada saja orang yang asal nyeplos.

Tapi bedanya, kalau saya yang minta, saya sudah siap duluan. Kalau tiba-tiba saya dicegat di jalan dan dikritik orang, jadi wajar ketika kritik itu mental. Karena saya nggak siap.

Padahal, bisa jadi kritiknya membangun, tapi cara menyampaikannya aja yang nggak enak, sehingga sayanya jadi ofensif. Sayang kan, padahal ladang emas tuh. Kalau di-maintain dengan baik, bisa jadi penasehat tajam yang loyal.

Jadi, enaknya minta feedback duluan, ibaratnya, saya bisa sedia 'air minum', in case kritik yang dilontarkan kelewat pedas karena karetnya dua atau pujiannya terlalu manis kayak kamu, kang.

Kan yang paling penting kalau kata Pak Anies "dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang". Makanya perlu latihan juga dengan sering-sering minta masukan. Kalau sudah terlatih kan enak.

Lucunya, ketika saya minta feedback, seringnya yang nggak siap justru yang diminta feedback. Bingung, gelagapan harus bilang apa. Ya salah sih kalau pertanyaan yang dilontarkan terlalu general seperti "minta feedback dong!"

Harusnya lebih spesifik, misal "minta feedback dong! Sepanjang 2 bulan terakhir, menurut lo apa sih hal yang paling membantu selama gw ada di sini?" atau "kejadian apa yang bikin lo bete ketika ada gw?"

Nah, biasanya kalau pertanyaannya model begini, walaupun bisa jadi orang yang ditanya masih bingung, seenggaknya dia jadi mikir buat cari evidence. Selama dia mikir, saya sambil siapin hati agar nggak tumbang ketika dicaci dan nggak terbang ketika dipuji.

Jadi memang dalam bertanya tuh ada seninya. Seru kaaan? Itulah kenapa diskusi soal feedback menjadi salah satu topik obrolan favorit saya. Gpp deh dibilang Ratu Feedback. Emang iya kok.

Saturday, April 16, 2016

About Being Humble

3 comments
"Jri, gimana caranya sih biar humble?"

Di suatu Sabtu yang malas, saya curhat ke teman sepenempatan waktu di Paser. Namanya Fajri. Dia ini salah satu partner favorit untuk ngobrol random deep thought.

Dulu, di penempatan, tiap kami janjian ke kabupaten ataupun balik dari kabupaten, di sepanjang jalan pasti topik obrolannya sebetulnya berat tapi bisa dibawakan dengan kasual. Padahal, awalnya Fajri ini yang paling nggak saya 'lirik'. Untuk diajak ngobrol maksudnya.

Dia bukan 'anak panggung', malah cenderung menghindari spotlight. Tapi ya ibarat langit, nggak perlu koar-koar dia tinggi, semua orang udah tau. Fajri tipe orang yang seperti itu. Saya benar-benar tertipu sama penampilan yang sederhana dan nggak menonjol, padahal aslinya dia ketua di mana-mana. Orang berpengaruh di organisasinya. Ngeri lah pokoknya.

Hal tersebut ternyata terulang lagi. Saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata super keren, sebut saja X. Dia yang bolak-balik bilang kagum sama saya ternyata punya potensi luar biasa. Pusing ih tiap ketemu orang yang macem begini.

I got tricked again and again.

Saya sih nggak munafik. Kalau dipuji dengan tulus pastilah saya senang. Tapi yang saya salut, orang-orang macem Fajri dan X ini, mereka selalu menjadi yang pertama memberi pujian tulus, padahal merekalah yang lebih pantas dipuji.

Sementara saya, walaupun niat awalnya dengerin cerita, seringkali jadi orang yang mendominasi percakapan tanpa saya sadar. Saya serius berusaha menjadi pendengar dengan baik, tapi ketika saya ditanya tentang sesuatu yang memang saya sukai, bisa dari Jakarta ke Tanjung Aru nggak selesai ngoceh. So yeah, I'm that talkative, and I still learn to control that.

Mereka ini udah bisa sampai pada fase itu: self control. Orang-orang yang tenang, diplomatis, dan cemerlang. Itu yang saya kagumi dari orang-orang humble. They listen more, respect more, and as result, they gain more respect.

Saya bukannya gila hormat, tapi saya lagi gemes banget sama keambian yang makin menjadi-jadi. Kalau mau yang itu, ya itu. Titik. Saya bakal usaha apa pun untuk mendapatkannya. Kadang, kalau ketemu orang yang sama-sama keras, saya bisa makin ambi membuktikan. Ngeselin deh pokoknya.

Makanya saya curhat panjang lebar ke Fajri. Mau belajar jadi lebih humble. Serius ini, bukannya gimana-gimana, saya beneran gelisah. Nggak mau kalau keinginan mengasah keambian malah jadi bumerang. Harus bisa dikontrol.

Kenal sama Fajri setahun ini, dia bisa banget nggak ngoyo tapi apa yang dia mau tetap didapat dengan cara diplomatis. Saya mana bisa. Sradak-srudukan dulu baru berhasil. Makanya saya mau curi ilmu itu dari dia.

"Jadi humble itu nggak simpel, Del. Itu ilmu tingkat tinggi. Lo nanya cara humble, gw bingung. Emang iya ya?"

Gw cerita buktinya dengan evidence kuat pakai konsep STAR (situation, task, action, result). Bercerita secara runut ini memang pembiasaan yang diajarkan saat pelatihan PM, dan ternyata kebiasaan menguntungkan itu terbawa terus sampai sekarang.

Lalu Fajri pun membalas dengan cerita juga. Cerita kami nggak saya share di sini, tapi intinya, dia bilang jadi humble itu nggak simpel karena harus mengalahkan diri sendiri. Rendahkan hati, jangan pernah menganggap remeh orang lain, dan selalu respek dengan mendengarkan lawan bicara.

Kedengarannya basi, tapi pada prakteknya emang susah banget. Kalau ada orang belagu kelampau idiot nan sotoy, bawaannya gatel kan pengen nyepet. Setahun tetanggaan desa sama Fajri, harus diakui levelnya emang udah setara Master Oogway dalam menghadapi tipe orang kaya begitu.

Begitu juga dengan X. Walaupun belum lama kenal, kalau saya amati gerak-geriknya, dia memang duh, gimana ya jelasinnya? Keren pokoknya.

Pekerja keras tapi selalu merendah ketika dipuji. Punya kemauan kuat, tapi meredam ambisinya agar nggak terlalu keciri. Pembicara yang baik, tapi seringkali lebih memilih menjadi pendengar yang baik.

Saya rasa, orang-orang seperti Fajri dan X ini ditakdirkan ada di sekeliling saya sebagai penyeimbang. Pengingat bahwa hidup kadang nggak perlu diburu-buru. Mungkin selamanya saya nggak akan bisa seperti mereka, tapi setidaknya, saya bisa banyak belajar dari mereka.

So... about being humble, I guess, those who never realize they are, actually the most humble one. Then well, maybe I don't have to be very ambitious in being more humble. Or maybe in everything. Just chill, even earth never be too ambitious to spin faster than the other planet.

Easy girl, easy ;)