Posts

Showing posts from March, 2016

Takaran Bahagia

Tadi siang, teman saya share tulisan PM tentang cerita di penempatan. Saya nggak tahu siapa yang nulis, tapi sedikit banyak kebayang. Intinya, dia cerita tentang 'keseruan' di penempatan seperti tidur lesehan, melakukan perjalanan di atas truk pengangkut pasir, ayam, kambing, dan seisinya, balada cucian baju, dsb.

Saya tertegun. Mendadak, saya merasa kehidupan saya di penempatan sangat mewah.

Walaupun kamar seperti goa karena gelap banget (lampu cuma nyala kalau malam), setidaknya saya tidur di atas spring bed. Walaupun bayar mahal, setidaknya acil (tante) depan rumah buka usaha laundry. Walaupun tinggal di ujung pulau nun jauh dari mana pun, setidaknya saya nggak bepergian bareng kambing.

Lalu sempat ada sahut-sahutan seputar 'spring bed panas' dan teman saya nyeletuk, "Della emang nggak pernah bersyukur" LAH? Justruuu.. saya jadi merasa super bersyukur. Dengan segala keterbatasan, standar mewah jadi turun drastis, haha.

Tapi barangkali, mewah memang bukan j…

(Masih tentang) Mudah dan Murah

Kalau mau membuka percakapan, mungkin akan gampang sekali membuat saya tertarik untuk membahas panjang masalah satu ini: transportasi umum.

Kemarin malam, saya tatap muka dengan teman saya yang melempar isu tentang ini. Kami ngobrol singkat, berkelakar tentang diskusi seru di grup kala itu.
"Gw sengaja, Kak. Nggak seru kalau pro semua," ujarnya sambil cengengesan. Minta dijitak. Tapi sudahlah, saya memang seharusnya berterima kasih karena berkat dia, saya jadi mencari kebenaran dari berbagai pembenaran.
Lalu, saya menemukan tulisan ini: Anomali Jepang: Memiliki Mobil Adalah Ciri Khas Orang Kampung
Dalam artikel tersebut, intinya, orang kota yang bawa mobil justru aneh. Mereka harus bayar sewa parkir yang haganya selangit. Belum lagi repot cuci mobil, karena di sana car wash jadi barang langka. Lagipula, kenapa harus bawa mobil kalau hampir seluruh lokasi bisa dijangkau oleh kereta?
Bandingkan dengan di Jakarta. Kalau bisa pakai mobil, kenapa harus naik kereta? Makanya Grab C…

Mudah dan Murah

2 hari yang lalu, berita demo Grab dan Uber menghiasi layar telepon seluler saya. Ditambah, seorang teman di grup Whatsapp mengangkat isu tersebut.

Saya, yang notabene pengguna transportasi umum garis keras, aktif berceloteh. Di mata konsumen, menjadi loyal bukan pilihan. Apalagi menjadi idealis yang selalu koar-koar soal keadilan. Kalau ada alternatif pilihan yang menawarkan kualitas, kepraktisan, pelayanan yang memuaskan, juga harga ekonomis, siapa juga sih yang peduli soal tetek-bengek perizinan?

Lagipula, apa adil ketika kami sungguh loyal pada Kopaja ugal-ugalan yang diragukan keamanannya, apalagi kenyamanannya? Apa adil ketika kami dipaksa dan terpaksa memakai taksi mahal tapi kurang perhatian pada komplain pelanggan?

Coba, definisikan kembali makna keadilan. Saya mau dengar.

Well, jadi wajar ketika pengusaha jasa transportasi kelabakan karena kehilangan pelanggan. Atau supir taksi mengeluh pendapatan jadi berkurang belakangan.

Tapi itu hukum alam, sayang. Inovasi atau mati.

Say…

Realita

Kau tau kenapa aku cerewet bukan main?
Karena optimismeku lebih besar dari idealismemu.

Kau tau kenapa aku jengkel luar biasa? Karena potensimu lebih besar dari usahamu.
Kau tau apa yang bahaya? Ketika idealisme itu buta.
Ya. Idealisme juga bisa buta. Seperti mata. Atau cinta. Ah, aku rasa kau sudah tau itu. Hanya mungkin lupa. Porsiku, mengingatkan.
Ketika cinta lebih besar dari cita-cita, aku rasa kita juga bisa lebih dari sekedar berusaha.

Menjadi Galuhers

Image
Setahun menjadi Pengajar Muda itu sangat menyenangkan.

Untuk alasan yang terdengar mulia, saya senang melihat berbagai kemajuan yang ada di Paser. Bahagia menyaksikan para penggerak daerah berkolaborasi. Girang sekali ketika anak murid berprestasi.

Tapi untuk alasan yang egois, saya senang merasa dibutuhkan. Menikmati memiliki pengaruh. Sumringah mendapat banyak pujian dan tepuk tangan.

Bagi saya, alih-alih diuji karena tantangan geografis, keterbatasan akses, fasilitas, dan sebagainya, menjadi Pengajar Muda sebenarnya adalah ujian sikap rendah hati.

Ya, jadi PM rentan menjadi arogan karena overrated image 'pemuda-pemudi terbaik bangsa yang memiliki kompentensi global sekaligus pemahaman akar rumput'. Dan kalau mau ditelusuri sebenarnya masuk akal, karena memang ada buktinya. Tuh kan -_-

Sepulang dari sana, realita di depan mata. Kalau kata Fajri sih, realita itu ya di sana, di kampung halaman kedua para Pengajar Muda. Ibu kota itu dunia fana. Haha, iya sih bener juga. Tapi ma…