Sunday, March 27, 2016

Takaran Bahagia

0 comments
Tadi siang, teman saya share tulisan PM tentang cerita di penempatan. Saya nggak tahu siapa yang nulis, tapi sedikit banyak kebayang. Intinya, dia cerita tentang 'keseruan' di penempatan seperti tidur lesehan, melakukan perjalanan di atas truk pengangkut pasir, ayam, kambing, dan seisinya, balada cucian baju, dsb.

Saya tertegun. Mendadak, saya merasa kehidupan saya di penempatan sangat mewah.

Walaupun kamar seperti goa karena gelap banget (lampu cuma nyala kalau malam), setidaknya saya tidur di atas spring bed. Walaupun bayar mahal, setidaknya acil (tante) depan rumah buka usaha laundry. Walaupun tinggal di ujung pulau nun jauh dari mana pun, setidaknya saya nggak bepergian bareng kambing.

Lalu sempat ada sahut-sahutan seputar 'spring bed panas' dan teman saya nyeletuk, "Della emang nggak pernah bersyukur" LAH? Justruuu.. saya jadi merasa super bersyukur. Dengan segala keterbatasan, standar mewah jadi turun drastis, haha.

Tapi barangkali, mewah memang bukan jadi takaran bahagia.

Saturday, March 19, 2016

(Masih tentang) Mudah dan Murah

0 comments
Kalau mau membuka percakapan, mungkin akan gampang sekali membuat saya tertarik untuk membahas panjang masalah satu ini: transportasi umum.

Kemarin malam, saya tatap muka dengan teman saya yang melempar isu tentang ini. Kami ngobrol singkat, berkelakar tentang diskusi seru di grup kala itu.

"Gw sengaja, Kak. Nggak seru kalau pro semua," ujarnya sambil cengengesan. Minta dijitak. Tapi sudahlah, saya memang seharusnya berterima kasih karena berkat dia, saya jadi mencari kebenaran dari berbagai pembenaran.


Dalam artikel tersebut, intinya, orang kota yang bawa mobil justru aneh. Mereka harus bayar sewa parkir yang haganya selangit. Belum lagi repot cuci mobil, karena di sana car wash jadi barang langka. Lagipula, kenapa harus bawa mobil kalau hampir seluruh lokasi bisa dijangkau oleh kereta?

Bandingkan dengan di Jakarta. Kalau bisa pakai mobil, kenapa harus naik kereta? Makanya Grab Car dan Uber jadi bisnis yang laris manis. Sebetulnya ini sudah ada kemajuan. Contohnya papa saya sendiri.

Dulu, papa mana mau disuruh naik kendaraan umum. Bener-bener deh, kalau bahas soal balada kereta dan alasan saya selalu pulang larut, jawabannya "makanya bawa mobil".

Tapi sekarang, papa jawabnya "naik Uber dong!" Dan dampaknya memang sangat signifikan. Papa sekarang sudah macam duta Uber, membombardir saya dengan berbagai keunggulan jasa supir online ini, bahkan bersedia pakai Uber.

Indikator perubahan perilaku tercapai. Yang tadinya pakai kendaraan pribadi, sekarang pakai kendaraan pribadi orang lain. Kedengaran 'ganjil'? Ya itu saja sudah kabar baik sih menurut saya.

Apa Grab Car dan Uber menyelesaikan masalah macet? Tidak. Ini hanya alternatif, sifatnya sementara. Mobil pribadi tetap banyak, hanya beralih fungsi saja. Memang yang paling ideal adalah membenahi infrastruktur dan mengintegrasi transportasi umum.

Saya pernah ke beberapa negara yang rapi sekali sistem transportasinya. Saya saja yang buta jalan bisa dengan mudah berkelana. Bahkan, waktu di Hongkong, saya berhasil menjebak keluarga saya untuk mencoba semua transportasi darat dan air. Seru!

Di Jepang pun begitu. Sebelum berangkat, yang saya dan Karina --teman traveling-- persiapkan dengan sangat matang adalah rute transportasi. Khawatir sampai sana nggak bisa baca peta. Nyatanya, semua secara cepat bisa ditelusuri. Senyasar-nyasarnya, akan tetap ketemu stasiun.

Di sini? Masih butuh proses panjang menjadi secanggih Jepang. Tapi yang saya amati sebagai pengguna transportasi umum, commuter sekarang jelas jauuuh lebih baik dibanding dulu.

Ternyata rusuh-rusuh penertiban PKL di sepanjang peron dulu kala itu menemukan jalannya sendiri. Mereka pindah jualan dan tidak kehilangan pelanggan setia. Hanya saja, butuh usaha sedikit jalan keluar stasiun. Setelah terbiasa, ternyata no problemo sih nggak bisa nyemil sambil nunggu kereta.

Selain itu, walaupun masih saja ada balada kereta gangguan, tidak sebanyak dulu keluhannya. Masyarakat juga sama. Walaupun mental gerobak (hobinya dorong-dorongan) tetap belum hilang, setidaknya, makin ke sini makin manusiawi karena armadanya ditambah.

Secara umum, saya sih tidak percaya pesimisme "ah percuma sistem rapi kalau mental masyarakatnya tetap kampungan". Yang saya percaya, kalau masyarakat masih belum tertib, berarti masih ada yang salah dalam sistem. Entah dalam perancangan maupun eksekusi di lapangan.

Karena ya walaupun bisa-bisa saja mengakali sistem, akan habis energi kalau terus-terusan berusaha menerobos sistem yang kokoh. Mau tak mau harus nurut sistem. Siapa yang buat sistem? Kalau jawabannya pemerintah, barangkali kurang tepat.

Menurut saya ya, yang seharusnya buat sistem itu para akademisi. Pemerintah sebagai kontrol, sipil sebagai pengguna. Idealnya memang seperti itu. Tapi ya kita semua harus paham lah, mana ada sih yang ideal di dunia ini? Sekeren-kerennya Jepang pun banyak anomalinya.

Lagian, memang gada yang benar-benar tahu, seberapa ideal, ideal itu. Kan? Setidaknya rumus pakem 'mudah dan murah' masih belum kadaluarsa.

Wednesday, March 16, 2016

Mudah dan Murah

0 comments
2 hari yang lalu, berita demo Grab dan Uber menghiasi layar telepon seluler saya. Ditambah, seorang teman di grup Whatsapp mengangkat isu tersebut.

Saya, yang notabene pengguna transportasi umum garis keras, aktif berceloteh. Di mata konsumen, menjadi loyal bukan pilihan. Apalagi menjadi idealis yang selalu koar-koar soal keadilan. Kalau ada alternatif pilihan yang menawarkan kualitas, kepraktisan, pelayanan yang memuaskan, juga harga ekonomis, siapa juga sih yang peduli soal tetek-bengek perizinan?

Lagipula, apa adil ketika kami sungguh loyal pada Kopaja ugal-ugalan yang diragukan keamanannya, apalagi kenyamanannya? Apa adil ketika kami dipaksa dan terpaksa memakai taksi mahal tapi kurang perhatian pada komplain pelanggan?

Coba, definisikan kembali makna keadilan. Saya mau dengar.

Well, jadi wajar ketika pengusaha jasa transportasi kelabakan karena kehilangan pelanggan. Atau supir taksi mengeluh pendapatan jadi berkurang belakangan.

Tapi itu hukum alam, sayang. Inovasi atau mati.

Saya paham sih, rasanya kurang adil bagi orang-orang yang kesannya tertindas, untuk mengiba dengan cerita kurangnya nafkah bagi keluarga. Tapi dengan cara berdemonstrasi alih-alih berusaha beradaptasi dan/atau mencari solusi? Maaf deh, saya sih sudah lama kebal dengan itu.

Dear, pada demonstran,

Demo kalian salah sasaran, sayang. Berdemolah dengan strategis. Sasar atasan kalian, perusahaan yang sudah terlalu nyaman berjalan tanpa memikirkan masukan konsumen. Ketika ada yang menawarkan kebaruan, mereka kebakaran jenggot.

Alih-alih mengeluh, barangkali perlu dikaji. Seberapa maksimal usaha perusahaan dalam mensejahterakan karyawan? Seberapa maksimal usaha perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik? Seberapa kreatif perusahaan berinovasi? Coba refleksi lagi.

Lagipula, kalian yang rugi kan? Konsumen justru makin antipati dengan aksi demo yang niat awalnya ingin mencari simpati.

Jangan salahkan kami yang tidak setia. Bukan rahasia umum bahwa kata kunci 'laku keras' adalah mudah dan murah. Kalau ini ternyata dihambat oleh pemerintah atas nama peraturan lewat jalur pemblokiran, percayalah, kita sama-sama rugi.

Birokrasi itu seperti benda padat. Kaku dan bentuknya tetap. Sementara pengusaha itu layaknya benda cair. Dinamis dan selalu bisa menyesuaikan diri tergantung tempat. Kalau perusahaan jasa transportasi tetap seperti benda padat, yaaa.. malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.

Ayolah, tak usah terlalu naif. Kalau dirunut akar masalahnya, memang solusinya adalah perbaikan infrastruktur. Tapi itu butuh waktu, sementara hidup tak bisa menunggu. Iya, kami memang tidak sabaran. Kami butuh cepat. Dan itu terfasilitasi oleh mereka yang berinovasi.

Barangkali, ketika MRT sudah jadi dan segala transportasi publik saling terintegrasi, kami juga akan pensiun pakai jasa ilegal. Atau barangkali, yang seharusnya dilegalkan adalah kolaborasi. Zaman sekarang, sekedar kompetisi belum cukup memenangkan pasar, sayang.

Salam damai,
Kami yang setia pada yang mudah dan murah

Saturday, March 12, 2016

Realita

0 comments
Kau tau kenapa aku cerewet bukan main?
Karena optimismeku lebih besar dari idealismemu.

Kau tau kenapa aku jengkel luar biasa?
Karena potensimu lebih besar dari usahamu.

Kau tau apa yang bahaya?
Ketika idealisme itu buta.

Ya. Idealisme juga bisa buta. Seperti mata. Atau cinta. Ah, aku rasa kau sudah tau itu. Hanya mungkin lupa. Porsiku, mengingatkan.

Ketika cinta lebih besar dari cita-cita, aku rasa kita juga bisa lebih dari sekedar berusaha.

Saturday, March 5, 2016

Menjadi Galuhers

2 comments
Setahun menjadi Pengajar Muda itu sangat menyenangkan.

Untuk alasan yang terdengar mulia, saya senang melihat berbagai kemajuan yang ada di Paser. Bahagia menyaksikan para penggerak daerah berkolaborasi. Girang sekali ketika anak murid berprestasi.

Tapi untuk alasan yang egois, saya senang merasa dibutuhkan. Menikmati memiliki pengaruh. Sumringah mendapat banyak pujian dan tepuk tangan.

Bagi saya, alih-alih diuji karena tantangan geografis, keterbatasan akses, fasilitas, dan sebagainya, menjadi Pengajar Muda sebenarnya adalah ujian sikap rendah hati.

Ya, jadi PM rentan menjadi arogan karena overrated image 'pemuda-pemudi terbaik bangsa yang memiliki kompentensi global sekaligus pemahaman akar rumput'. Dan kalau mau ditelusuri sebenarnya masuk akal, karena memang ada buktinya. Tuh kan -_-

Sepulang dari sana, realita di depan mata. Kalau kata Fajri sih, realita itu ya di sana, di kampung halaman kedua para Pengajar Muda. Ibu kota itu dunia fana. Haha, iya sih bener juga. Tapi mau dunia fana atau realita, saya tetap harus kembali ke Jakarta.

Dari banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun ini, 2 hal yang mau saya fokuskan adalah menuntaskan rasa penasaran jadi relawan Tasikoki dan ikut SSEYAP.

Tapi semesta memang maha lucu. Tau-tau saya ditawarkan bekerja jadi Galuhers --sebutan untuk officer di kantor Indonesia Mengajar--, dan saya iyakan saja tanpa pikir panjang.

Menjadi Galuhers membuka mata saya.

Yang bawa virus gerakan pendidikan ada di sini. Yang mencetak so-called 'pemuda-pemudi terbaik bangsa yang memiliki kompentensi global sekaligus pemahaman akar rumput' ya mereka ini. Yang ngurusin belasan ribu relawan yang tersebar di penjuru Nusantara ternyata cuma 20an orang.

Gila. Seharusnya yang ada di belakang layar inilah yang dapat tepuk tangan paling meriah. Tapi tipikal Galuhers justru nggak suka tampil. Bahkan ada yang bikin pernyataan "gw nggak suka dipuji. Mending lo kasih tau aja gw kurang apa, nggak usah sok AI"

Setelah gumoh dicekokin Appreciative Inquiry selama pelatihan 2 bulan dan mempraktekkannya di penempatan selama setahun sampai akhirnya mental AI merasuk sampai ke nadi, eh malah pelaku kriminalnya nggak suka di-AI-in. Lah cemana.

Menjadi Galuhers, saya banyak belajar.

Gimana nggak. Hari pertama saya dipanggil ke Galuh untuk wawancara, nggak pakai babibu saya langsung TTD kontrak dan diminta mulai kerja. Dan saya iyakan aja. Entah siapa yang sebetulnya gila.

Seminggu kerja, saya selalu pulang larut malam. Bukan karena disuruh lembur, tapi ya saya pengen aja masih kerja. Bahkan udah nitipin detail list workplan 2 minggu karena saya izin ke Tasikoki.

Di Tasikoki kerja juga. Mainnya fisik banget, dari subuh sampai sore naik-turun bukit ngurusin hewan. Capek-capek pulang kerja pun masih buka email kantor, masih diskusi via Whatsapp, dan mikir ide. Jadi sebetulnya capek fisik sekaligus otak. Seru!

Pulang dari Tasikoki, seminggu kerjaan saya nongkrong di Senayan City buat ikut workshop Social Media Week, ketemu para profesional yang ahli strategi dan malang-melintang di dunia digital, ajak diskusi lebih lanjut, belajar analytic tools ini-itu, sambil tetep beresin kerjaan utama.

Kalau saya nggak menikmati, mungkin udah stres sendiri loadnya se-super ini. Haha. Dan sebetulnya nggak ada yang nyuruh. Saya sendiri yang inisiatif kerja lebih dan memang niat mau banyak belajar.

Di minggu berikutnya, karena belum ada banyak follow up dari orang-orang yang saya incar buat diskusi cari ilmu, saya nongkrong aja di kantor, dan kerjaan saya secara teknis udah selesai sampai 2 minggu ke depan. Iya, saya se-ambi itu.

Saya ingat waktu OPP, saya pernah bilang saya nggak punya tujuan karir yang spesifik karena terlalu banyak, tapi saya mau bekerja bareng orang-orang yang mencintai pekerjaannya sepenuh hati dan harus punya ruang gerak yang luas untuk eksplorasi ini-itu.

Buat saya, energi itu mantul. Jadi saya nggak perlu pusing mikirin passion, saya cuma perlu serap energi dari orang-orang yang passionate. Mengelilingi dan dikelilingi orang-orang keren biar ketularan keren. Itu trik licik saya.

Dan beruntungnya, saya nggak pernah kehabisan energi itu dari para Galuhers, seperti tahun lalu saya juga selalu terpapar energi maha besar dari anak-anak super lincah, para penggerak daerah yang semangatnya tinggi, juga keluarga Paserangers yang jago bikin kolaborasi.

Menjadi Galuhers, bekerja itu seperti sekolah yang dibayar. Menyenangkan!

Foto setelah raker 2 hari irit tidur :))