(Masih tentang) Mudah dan Murah

Kalau mau membuka percakapan, mungkin akan gampang sekali membuat saya tertarik untuk membahas panjang masalah satu ini: transportasi umum.

Kemarin malam, saya tatap muka dengan teman saya yang melempar isu tentang ini. Kami ngobrol singkat, berkelakar tentang diskusi seru di grup kala itu.

"Gw sengaja, Kak. Nggak seru kalau pro semua," ujarnya sambil cengengesan. Minta dijitak. Tapi sudahlah, saya memang seharusnya berterima kasih karena berkat dia, saya jadi mencari kebenaran dari berbagai pembenaran.


Dalam artikel tersebut, intinya, orang kota yang bawa mobil justru aneh. Mereka harus bayar sewa parkir yang haganya selangit. Belum lagi repot cuci mobil, karena di sana car wash jadi barang langka. Lagipula, kenapa harus bawa mobil kalau hampir seluruh lokasi bisa dijangkau oleh kereta?

Bandingkan dengan di Jakarta. Kalau bisa pakai mobil, kenapa harus naik kereta? Makanya Grab Car dan Uber jadi bisnis yang laris manis. Sebetulnya ini sudah ada kemajuan. Contohnya papa saya sendiri.

Dulu, papa mana mau disuruh naik kendaraan umum. Bener-bener deh, kalau bahas soal balada kereta dan alasan saya selalu pulang larut, jawabannya "makanya bawa mobil".

Tapi sekarang, papa jawabnya "naik Uber dong!" Dan dampaknya memang sangat signifikan. Papa sekarang sudah macam duta Uber, membombardir saya dengan berbagai keunggulan jasa supir online ini, bahkan bersedia pakai Uber.

Indikator perubahan perilaku tercapai. Yang tadinya pakai kendaraan pribadi, sekarang pakai kendaraan pribadi orang lain. Kedengaran 'ganjil'? Ya itu saja sudah kabar baik sih menurut saya.

Apa Grab Car dan Uber menyelesaikan masalah macet? Tidak. Ini hanya alternatif, sifatnya sementara. Mobil pribadi tetap banyak, hanya beralih fungsi saja. Memang yang paling ideal adalah membenahi infrastruktur dan mengintegrasi transportasi umum.

Saya pernah ke beberapa negara yang rapi sekali sistem transportasinya. Saya saja yang buta jalan bisa dengan mudah berkelana. Bahkan, waktu di Hongkong, saya berhasil menjebak keluarga saya untuk mencoba semua transportasi darat dan air. Seru!

Di Jepang pun begitu. Sebelum berangkat, yang saya dan Karina --teman traveling-- persiapkan dengan sangat matang adalah rute transportasi. Khawatir sampai sana nggak bisa baca peta. Nyatanya, semua secara cepat bisa ditelusuri. Senyasar-nyasarnya, akan tetap ketemu stasiun.

Di sini? Masih butuh proses panjang menjadi secanggih Jepang. Tapi yang saya amati sebagai pengguna transportasi umum, commuter sekarang jelas jauuuh lebih baik dibanding dulu.

Ternyata rusuh-rusuh penertiban PKL di sepanjang peron dulu kala itu menemukan jalannya sendiri. Mereka pindah jualan dan tidak kehilangan pelanggan setia. Hanya saja, butuh usaha sedikit jalan keluar stasiun. Setelah terbiasa, ternyata no problemo sih nggak bisa nyemil sambil nunggu kereta.

Selain itu, walaupun masih saja ada balada kereta gangguan, tidak sebanyak dulu keluhannya. Masyarakat juga sama. Walaupun mental gerobak (hobinya dorong-dorongan) tetap belum hilang, setidaknya, makin ke sini makin manusiawi karena armadanya ditambah.

Secara umum, saya sih tidak percaya pesimisme "ah percuma sistem rapi kalau mental masyarakatnya tetap kampungan". Yang saya percaya, kalau masyarakat masih belum tertib, berarti masih ada yang salah dalam sistem. Entah dalam perancangan maupun eksekusi di lapangan.

Karena ya walaupun bisa-bisa saja mengakali sistem, akan habis energi kalau terus-terusan berusaha menerobos sistem yang kokoh. Mau tak mau harus nurut sistem. Siapa yang buat sistem? Kalau jawabannya pemerintah, barangkali kurang tepat.

Menurut saya ya, yang seharusnya buat sistem itu para akademisi. Pemerintah sebagai kontrol, sipil sebagai pengguna. Idealnya memang seperti itu. Tapi ya kita semua harus paham lah, mana ada sih yang ideal di dunia ini? Sekeren-kerennya Jepang pun banyak anomalinya.

Lagian, memang gada yang benar-benar tahu, seberapa ideal, ideal itu. Kan? Setidaknya rumus pakem 'mudah dan murah' masih belum kadaluarsa.

No comments:

Powered by Blogger.