Menjadi Galuhers

Setahun menjadi Pengajar Muda itu sangat menyenangkan.

Untuk alasan yang terdengar mulia, saya senang melihat berbagai kemajuan yang ada di Paser. Bahagia menyaksikan para penggerak daerah berkolaborasi. Girang sekali ketika anak murid berprestasi.

Tapi untuk alasan yang egois, saya senang merasa dibutuhkan. Menikmati memiliki pengaruh. Sumringah mendapat banyak pujian dan tepuk tangan.

Bagi saya, alih-alih diuji karena tantangan geografis, keterbatasan akses, fasilitas, dan sebagainya, menjadi Pengajar Muda sebenarnya adalah ujian sikap rendah hati.

Ya, jadi PM rentan menjadi arogan karena overrated image 'pemuda-pemudi terbaik bangsa yang memiliki kompentensi global sekaligus pemahaman akar rumput'. Dan kalau mau ditelusuri sebenarnya masuk akal, karena memang ada buktinya. Tuh kan -_-

Sepulang dari sana, realita di depan mata. Kalau kata Fajri sih, realita itu ya di sana, di kampung halaman kedua para Pengajar Muda. Ibu kota itu dunia fana. Haha, iya sih bener juga. Tapi mau dunia fana atau realita, saya tetap harus kembali ke Jakarta.

Dari banyak hal yang saya ingin lakukan di tahun ini, 2 hal yang mau saya fokuskan adalah menuntaskan rasa penasaran jadi relawan Tasikoki dan ikut SSEYAP.

Tapi semesta memang maha lucu. Tau-tau saya ditawarkan bekerja jadi Galuhers --sebutan untuk officer di kantor Indonesia Mengajar--, dan saya iyakan saja tanpa pikir panjang.

Menjadi Galuhers membuka mata saya.

Yang bawa virus gerakan pendidikan ada di sini. Yang mencetak so-called 'pemuda-pemudi terbaik bangsa yang memiliki kompentensi global sekaligus pemahaman akar rumput' ya mereka ini. Yang ngurusin belasan ribu relawan yang tersebar di penjuru Nusantara ternyata cuma 20an orang.

Gila. Seharusnya yang ada di belakang layar inilah yang dapat tepuk tangan paling meriah. Tapi tipikal Galuhers justru nggak suka tampil. Bahkan ada yang bikin pernyataan "gw nggak suka dipuji. Mending lo kasih tau aja gw kurang apa, nggak usah sok AI"

Setelah gumoh dicekokin Appreciative Inquiry selama pelatihan 2 bulan dan mempraktekkannya di penempatan selama setahun sampai akhirnya mental AI merasuk sampai ke nadi, eh malah pelaku kriminalnya nggak suka di-AI-in. Lah cemana.

Menjadi Galuhers, saya banyak belajar.

Gimana nggak. Hari pertama saya dipanggil ke Galuh untuk wawancara, nggak pakai babibu saya langsung TTD kontrak dan diminta mulai kerja. Dan saya iyakan aja. Entah siapa yang sebetulnya gila.

Seminggu kerja, saya selalu pulang larut malam. Bukan karena disuruh lembur, tapi ya saya pengen aja masih kerja. Bahkan udah nitipin detail list workplan 2 minggu karena saya izin ke Tasikoki.

Di Tasikoki kerja juga. Mainnya fisik banget, dari subuh sampai sore naik-turun bukit ngurusin hewan. Capek-capek pulang kerja pun masih buka email kantor, masih diskusi via Whatsapp, dan mikir ide. Jadi sebetulnya capek fisik sekaligus otak. Seru!

Pulang dari Tasikoki, seminggu kerjaan saya nongkrong di Senayan City buat ikut workshop Social Media Week, ketemu para profesional yang ahli strategi dan malang-melintang di dunia digital, ajak diskusi lebih lanjut, belajar analytic tools ini-itu, sambil tetep beresin kerjaan utama.

Kalau saya nggak menikmati, mungkin udah stres sendiri loadnya se-super ini. Haha. Dan sebetulnya nggak ada yang nyuruh. Saya sendiri yang inisiatif kerja lebih dan memang niat mau banyak belajar.

Di minggu berikutnya, karena belum ada banyak follow up dari orang-orang yang saya incar buat diskusi cari ilmu, saya nongkrong aja di kantor, dan kerjaan saya secara teknis udah selesai sampai 2 minggu ke depan. Iya, saya se-ambi itu.

Saya ingat waktu OPP, saya pernah bilang saya nggak punya tujuan karir yang spesifik karena terlalu banyak, tapi saya mau bekerja bareng orang-orang yang mencintai pekerjaannya sepenuh hati dan harus punya ruang gerak yang luas untuk eksplorasi ini-itu.

Buat saya, energi itu mantul. Jadi saya nggak perlu pusing mikirin passion, saya cuma perlu serap energi dari orang-orang yang passionate. Mengelilingi dan dikelilingi orang-orang keren biar ketularan keren. Itu trik licik saya.

Dan beruntungnya, saya nggak pernah kehabisan energi itu dari para Galuhers, seperti tahun lalu saya juga selalu terpapar energi maha besar dari anak-anak super lincah, para penggerak daerah yang semangatnya tinggi, juga keluarga Paserangers yang jago bikin kolaborasi.

Menjadi Galuhers, bekerja itu seperti sekolah yang dibayar. Menyenangkan!

Foto setelah raker 2 hari irit tidur :))

2 comments:

Lintang Emiliana said...

Kak Della, saya Lintang yg pernah ikut talkshow IM GTC di UI yg pembicaranya kaka.. Saya setuju banget deh sama energi yang mantul itu dan akan ikutin jejak kaka sepertinya soal energi itu hehe.. Semoga energi itu terus bersama kaka yaa!

fidella anandhita savitri said...

Aw, thank you, Lintang. Doa yang sama buatmu. Semoga selalu mengelilingi dan dikelilingi energi positif. Good luck yah :D

Powered by Blogger.