Mudah dan Murah

2 hari yang lalu, berita demo Grab dan Uber menghiasi layar telepon seluler saya. Ditambah, seorang teman di grup Whatsapp mengangkat isu tersebut.

Saya, yang notabene pengguna transportasi umum garis keras, aktif berceloteh. Di mata konsumen, menjadi loyal bukan pilihan. Apalagi menjadi idealis yang selalu koar-koar soal keadilan. Kalau ada alternatif pilihan yang menawarkan kualitas, kepraktisan, pelayanan yang memuaskan, juga harga ekonomis, siapa juga sih yang peduli soal tetek-bengek perizinan?

Lagipula, apa adil ketika kami sungguh loyal pada Kopaja ugal-ugalan yang diragukan keamanannya, apalagi kenyamanannya? Apa adil ketika kami dipaksa dan terpaksa memakai taksi mahal tapi kurang perhatian pada komplain pelanggan?

Coba, definisikan kembali makna keadilan. Saya mau dengar.

Well, jadi wajar ketika pengusaha jasa transportasi kelabakan karena kehilangan pelanggan. Atau supir taksi mengeluh pendapatan jadi berkurang belakangan.

Tapi itu hukum alam, sayang. Inovasi atau mati.

Saya paham sih, rasanya kurang adil bagi orang-orang yang kesannya tertindas, untuk mengiba dengan cerita kurangnya nafkah bagi keluarga. Tapi dengan cara berdemonstrasi alih-alih berusaha beradaptasi dan/atau mencari solusi? Maaf deh, saya sih sudah lama kebal dengan itu.

Dear, pada demonstran,

Demo kalian salah sasaran, sayang. Berdemolah dengan strategis. Sasar atasan kalian, perusahaan yang sudah terlalu nyaman berjalan tanpa memikirkan masukan konsumen. Ketika ada yang menawarkan kebaruan, mereka kebakaran jenggot.

Alih-alih mengeluh, barangkali perlu dikaji. Seberapa maksimal usaha perusahaan dalam mensejahterakan karyawan? Seberapa maksimal usaha perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik? Seberapa kreatif perusahaan berinovasi? Coba refleksi lagi.

Lagipula, kalian yang rugi kan? Konsumen justru makin antipati dengan aksi demo yang niat awalnya ingin mencari simpati.

Jangan salahkan kami yang tidak setia. Bukan rahasia umum bahwa kata kunci 'laku keras' adalah mudah dan murah. Kalau ini ternyata dihambat oleh pemerintah atas nama peraturan lewat jalur pemblokiran, percayalah, kita sama-sama rugi.

Birokrasi itu seperti benda padat. Kaku dan bentuknya tetap. Sementara pengusaha itu layaknya benda cair. Dinamis dan selalu bisa menyesuaikan diri tergantung tempat. Kalau perusahaan jasa transportasi tetap seperti benda padat, yaaa.. malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.

Ayolah, tak usah terlalu naif. Kalau dirunut akar masalahnya, memang solusinya adalah perbaikan infrastruktur. Tapi itu butuh waktu, sementara hidup tak bisa menunggu. Iya, kami memang tidak sabaran. Kami butuh cepat. Dan itu terfasilitasi oleh mereka yang berinovasi.

Barangkali, ketika MRT sudah jadi dan segala transportasi publik saling terintegrasi, kami juga akan pensiun pakai jasa ilegal. Atau barangkali, yang seharusnya dilegalkan adalah kolaborasi. Zaman sekarang, sekedar kompetisi belum cukup memenangkan pasar, sayang.

Salam damai,
Kami yang setia pada yang mudah dan murah

No comments:

Powered by Blogger.