Posts

Showing posts from April, 2016

Hari Kartini

Image
"Cowok tuh minder juga kalau ketemu cewek yang standarnya lebih tinggi dari dia".

Di sebuah obrolan ngalor-ngidul saat sarapan, seorang teman laki-laki mengaku alasan kenapa perempuan pintar susah dapat pasangan ya karena kaum pria keburu melipir duluan kalau si wanita lebih 'bling-bling' dari dia.

Sambil ketawa, teman perempuan saya komentar, "pantes gw susah punya pacar".

"Yang penting jangan pernah nurunin standar. Rugi. Cari pasangan mah yang selevel" saya ikut nimbrung, sadar juga status jomblo bahagia yang saya sandang ini kadang dilihat aneh sama orang-orang.

Saya mah sebetulnya santai ya ada atau nggak ada pacar, tapi di zaman modern begini, saya masih saja mendapati perempuan yang mengalah, menurunkan standar biar laku.

Kalau masyarakat suku Bugis, ada yang namanya jujuran. Jadi, pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan kalau mau melamar pihak perempuan. Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar jujurannya.…

Komitmen

"Do you have boyfriend?"

"Nope"

"Why?"

"Well, just haven't met him yet"

Dalam sebuah wawancara yang di-setting seperti sidang yang mengintimidasi, saya bisa menjawab dengan tenang, santai, dan apa adanya. Pewawancara sepertinya nggak puas karena usaha intimidasinya nggak mempan pada saya. Ia mendesak lagi.

"You're 27 this year, right? And you have no boyfriend. How come? Do you have problem with commitment?"

Alih-alih membela diri, saya malah ketawa. Dalam hati pengen jawab, "lah kalau soal cinta-cintaan, yang punya masalah sama komitmen mah bukan saya"

"Well, I won't say yes or no, but I can tell strong evidence based on my working and organization experience. After that, you may judge. Should I?"

Untungnya walaupun jawabannya sengak banget, saya berhasil nggak kepancing buat bahas masalah personal. Nggak penting juga sih.

"Ok. You may go out now. Thank you. Please call next turn"

LAH UDAH GIT…

Kaya Raya

Saya belakangan lagi terjebak dilema yang dibuat sendiri di kepala. Mengincar profit, baik? Buruk? Hitung-hitungan dan minta bayaran, baik? Buruk?

Dalam 1.5 tahun ini, mayoritas kegiatan saya adalah kegiatan sosial yang mana ya ada sih uang masuk ke rekening, tapi secukupnya aja lah. Sampai titik di mana saya melek. Sadar lagi bahwa di dunia ini, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

Kalau pakai teori Maslow, seharusnya kan bertahap. Tapi untuk special case, ketika kebutuhan self-actualization sudah terpenuhi, puasa pun rasanya kenyang. Karena memang, melakukan hal-hal yang meaningful itu membuat bahagia. Tapi apa meaningful aja cukup? Bagaimana dengan menjadi impactful?

Saya jadi terngiang-ngiang omongan seorang dokter ketika saya cerita saya 1 tahun mengajar di pedalaman. Dia bilang gini:
"You ngapain sekolah tinggi-tinggi, masih muda, jauh-jauh ke pedalaman. You kerja keras cari uang juga pengabdian. Bantu yang dekat dulu. You no money no action. So you make m…

Outgoing Introverts

Pulang seleksi intensif 4 hari kemarin bikin saya jadi pengen ngoceh banyak sama diri sendiri. Satu kegiatan yang buat saya, nggak ada matinya. Setelah 'kering' kebanyakan sosialisasi, 2 hari ini waktunya 'nge-charge'.

Maka jadilah weekend ini saya habiskan menjadi couch potato. Kemarin teman saya, Nyanya, mampir ke rumah. Dia heran rumah saya kok sepi banget. Dia takjub saya kok betah banget nggak keluar kamar, di kamar pun nggak ngapa-ngapain seharian.

Saya ngakak nanya balik, "emang lo nggak?" Dia bilang, tiap weekend dia pasti ada aja acara ke sana-sini. Saya mah suka sih jalan, cuma ada waktunya malas aja pergi ke mana-mana. Dan paling kesal kalau mama menyeruak nyeret-nyeret saya keluar dari 'goa'.

Lalu pagi ini saya blogwalking dan menemukan tulisan Miund yang momennya pas banget.
"It's quite all right. I just adore my own company"
Ya kira-kira begitu. Girang banget rasanya tiap nemu tulisan yang mewakili kondisi dengan super tepa…

Tentang Meminta Feedback

Setelah 2 bulan kerja di kantor Indonesia Mengajar, saya meminta feedback dari teman-teman satu divisi tentang kinerja saya selama ini. Mereka ketawa. Heran.

"Del, lo minta feedback mulu, lo bukan manusia ya? Kan ada penelitian bahwa manusia itu resisten terhadap kritik"

Lalu Brian --pendamping Pengajar Muda di Paser tahun lalu-- cerita bahwa ia sering dengar dari anak-anak Paser bahwa saya Ratu Feedback. Giliran saya yang ketawa.

Iya, saya suka minta feedback. Selama di pelatihan, saya rajin bertanya pada teman-teman Pengajar Muda tentang pandangan mereka terhadap saya.

Di penempatan pun, saya sering iseng tanya guru, minta feedback. Bahkan menjelang pamitan, saya suka mampir ke rumah guru atau sekadar nongkrong cari cemilan sambil minta kritik dan masukan dari mereka tentang kinerja saya selama jadi PM.

Awalnya sih memang karena saya kesal dengan pendekatan Appreciative Inquiry. Saya jadi nggak tahu kurangnya saya apa karena keluarannya selalu positif. Makanya saya minta m…

About Being Humble

"Jri, gimana caranya sih biar humble?"

Di suatu Sabtu yang malas, saya curhat ke teman sepenempatan waktu di Paser. Namanya Fajri. Dia ini salah satu partner favorit untuk ngobrol random deep thought.

Dulu, di penempatan, tiap kami janjian ke kabupaten ataupun balik dari kabupaten, di sepanjang jalan pasti topik obrolannya sebetulnya berat tapi bisa dibawakan dengan kasual. Padahal, awalnya Fajri ini yang paling nggak saya 'lirik'. Untuk diajak ngobrol maksudnya.

Dia bukan 'anak panggung', malah cenderung menghindari spotlight. Tapi ya ibarat langit, nggak perlu koar-koar dia tinggi, semua orang udah tau. Fajri tipe orang yang seperti itu. Saya benar-benar tertipu sama penampilan yang sederhana dan nggak menonjol, padahal aslinya dia ketua di mana-mana. Orang berpengaruh di organisasinya. Ngeri lah pokoknya.

Hal tersebut ternyata terulang lagi. Saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata super keren, sebut saja X. Dia yang bolak-balik bilang kagum sama…

Seleksi PPAN Banten (Part 3)

Hari Pertama Seleksi Provinsi Banten

Akan ada 3 orang yang dipilih untuk mewakili Banten dalam program ke Jepang, India, dan Cina. Total peserta ada 40 orang, dan proses seleksi berlangsung selama 4 hari di Anyer. Yeay ke pantai! Eits, jangan seneng dulu. Ini bukan liburan, ini seleksi.

Di hari pertama, setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari Serpong ke Serang, tanpa diberi waktu istirahat, kami langsung seleksi wawancara. Pokoknya selama 4 hari itu, nggak lain nggak bukan, acaranya wawancara doang.

Wawancara di hari pertama adalah tentang seni-budaya, agama, psikologi, dan bahasa Inggris. Karena ada 37 orang yang harus diwawancara (harusnya 40 orang tapi 3 orang mengundurkan diri), jadi memang perlu waktu lama. Jadi........

SELAMAT DATANG PEKAN BEGADANG!

Saya selalu suka momen 'celeng' di atas jam 2 malam. Dalam keadaan setengah sadar, biasanya karakter asli seseorang mudah dikenali. Jadi, secara garis besar, saya super menikmati rangkaian seleksi Banten ini.

Hari Kedua …

Seleksi PPAN Banten (Part 2)

Pembekalan di Tingkat Kota Tangerang Selatan

Dispora Tangsel ini cukup modal. Kami, para kandidat, cukup beruntung ikut seleksi di Tangsel. Nggak semua kota/kabupaten kasih pembekalan seniat Tangsel, bahkan sampai menginap 3 hari segala di Puncak. Kurang totalitas apa coba?
Di acara pembekalan itu, kandidat PPAN campur dengan kandidat BPAP dan KPN. Apa itu BPAP dan KPN? BPAP singkatan dari Bakti Pemuda Antar Provinsi, dan KPN adalah Kapal Pemuda Nusantara.
Saya nggak akan bahas tentang BPAP dan KPN ini, tapi secara garis besar, program ini mencakup pertukaran pemuda se-Indonesia.
Karena pembekalannya digabung, saya jadi kenalan dengan 14 teman baru dari Kota Tangsel. Apa saja pembekalannya? Pengetahuan umum tentang Banten dan gambaran program dari alumni. Karena alumni PPAN baru hadir di malam kedua, jadi nggak cukup banyak info PPAN yang tergali.
Tapi itu mah nggak jadi alasan buat nggak usaha. Kami berlima, kandidat dari Tangsel, sepakat ketemu lagi sama alumni di luar pembekalan. B…

Seleksi PPAN Banten (Part 1)

Beberapa pekan ini, saya berjibaku dengan seleksi PPAN Banten. Ohya, sebelum lebih jauh membahas seleksinya, saya mau cerita sedikit tentang PPAN.

Tentang PPAN

Seperti namanya, PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) merupakan program pengiriman delegasi Indonesia ke luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Menpora). Ke mana saja? Jepang, India, Cina, Malaysia, Kanada (sekarang udah nggak ada), dan Australia.

Tiap provinsi diberi kuota yang berbeda-beda, rata-rata 5-6 orang delegasi. Tahun ini Banten cuma kebagian kuota 3 orang. 1 orang laki-laki untuk program ke Cina, 1 orang perempuan untuk program ke India, dan 1 orang perempuan untuk program ke Jepang.

Awal mula ketertarikan

Saya baru tahu ada pertukaran seperti ini dari teman 2 tahun yang lalu saat pelatihan Pengajar Muda. Ia ikut program ke Jepang. Telat banget emang. Tapi katanya, masih bisa coba sampai umur 30 tahun. Okelah, sepulang dari penempatan saya mau ikutan.

Tentang SSEAYP

Jujur, saya akui saya …

Future Letter to My Lifetime Roommate

I don't know if this is necessary but I have the urge to say this to you, whom I have no idea when you'll exist in my future.

I always thought that love is like a room. There would be too spacey to fill it only with one person. Like one of my favorite line from my favorite song said, "I don't have time to be in love".

In all my life, I never pursue love. I already have plenty to share anyway. To family, friends, pets, units, even to life itself. And vice versa. So if love were a room, who said that I couldn't life without roommate?

But that's before I met you. Yeah sounds cheesy I know. But let me be cheesy once in blue moon.

If again, love were a room and you were my roommate, I would change my mind. It wouldn't be too spacey when you were there. Because of course, it wouldn't be only you there. Our beloved ones were already there even before we met.

Ain't we'd agreed that we don't have to be always together? I can go out to do my own…