Thursday, April 21, 2016

Hari Kartini

1 comments
"Cowok tuh minder juga kalau ketemu cewek yang standarnya lebih tinggi dari dia".

Di sebuah obrolan ngalor-ngidul saat sarapan, seorang teman laki-laki mengaku alasan kenapa perempuan pintar susah dapat pasangan ya karena kaum pria keburu melipir duluan kalau si wanita lebih 'bling-bling' dari dia.

Sambil ketawa, teman perempuan saya komentar, "pantes gw susah punya pacar".

"Yang penting jangan pernah nurunin standar. Rugi. Cari pasangan mah yang selevel" saya ikut nimbrung, sadar juga status jomblo bahagia yang saya sandang ini kadang dilihat aneh sama orang-orang.

Saya mah sebetulnya santai ya ada atau nggak ada pacar, tapi di zaman modern begini, saya masih saja mendapati perempuan yang mengalah, menurunkan standar biar laku.

Kalau masyarakat suku Bugis, ada yang namanya jujuran. Jadi, pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan kalau mau melamar pihak perempuan. Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar jujurannya. Makanya, kalau di desa saya, jarang perempuan yang sekolah tinggi-tinggi biar nggak susah cari pasangan.

Duh. Rasanya pengen geleng-geleng gagal paham, tapi ya begitulah realitanya. Laki-lakinya juga membenarkan. Mending cari perempuan yang lulus SMA mau dipinang ketimbang nunggu sampai jadi sarjana.

Padahal, Kartini dulu memperjuangkan emansipasi wanita ya biar puluhan tahun kemudian hal-hal patriarkis perlahan luntur. Selain itu, menurut penelitian, gen anak pintar itu turunan ibunya. Makanya jadi cewek ya harus pintar dong. Investasi masa depan.

Banyak lah contoh lainnya.

Misalnya hal sepele seperti cap "dasar cewek kelamaan dandan". Dulu, karena nggak mau dicap tukang dandan, saya usahakan 'seremonial' setelah mandi ya seminimal mungkin. Ya sih saya akui memang teman-teman saya yang lain sedikit lebih lama karena dandan dulu sementara saya sisiran pun nggak.

Saya selesai duluan untuk menghindari cap cewek lelet kelamaan dandan. Ya terlepas dari saya anaknya emang males dandan juga sih. Kalau lagi mood atau tuntutan image aja, HAHA.

Makin dewasa, saya jadi sadar. Sebetulnya yang sering telat itu justru cowok-cowoknya. Nggak tau deh mereka ngapain aja. Bahkan cewek-ceweknya udah rapi, wangi, ngeringin rambut atau bahkan catokan, lukis alis sampai jadi gunung berapi, mereka belum kelar juga.

Ketika kami udah selesai sarapan, mereka baru nongol dengan baju kusut, rambut acak-acakan, dan sendal jepit. Kalau protes, mereka bilangnya "ya wajar dong. Cewek kan lama dandan dulu. Kita mah bentar juga kelar"

ISH! Padahal mereka yang lelet, tetep yang keluar cap 'dandan'. Lah justru canggih dong manajemen waktunya cewek-cewek. Biar ribet tetep bisa on time. Lah elu ngapain? Dandan kagak, telat iya.

Pernah tuh, kami, sekumpulan cewek udah rapi semua. Acara telat karena nungguin cowok-cowoknya. Kebetulan kami ada grup Whatsapp, dan salah satu teman saya minta cowok-cowoknya segera bergegas. Alih-alih minta maaf, ada yang kirim gambar ini:


AUK AH!

Kalau kata Kartini:
"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri"

Nyambung? Nggak nyambung? Saya nggak peduli. Di Hari Kartini ini, cuma pengen nitip pesen gini ke semua cewek yang hobi dandan:

So girls, keep being awesome, fabulous, and on time, no matter how long you take to look pretty. And boys, please hurry!

Sunday, April 17, 2016

Komitmen

0 comments
"Do you have boyfriend?"

"Nope"

"Why?"

"Well, just haven't met him yet"

Dalam sebuah wawancara yang di-setting seperti sidang yang mengintimidasi, saya bisa menjawab dengan tenang, santai, dan apa adanya. Pewawancara sepertinya nggak puas karena usaha intimidasinya nggak mempan pada saya. Ia mendesak lagi.

"You're 27 this year, right? And you have no boyfriend. How come? Do you have problem with commitment?"

Alih-alih membela diri, saya malah ketawa. Dalam hati pengen jawab, "lah kalau soal cinta-cintaan, yang punya masalah sama komitmen mah bukan saya"

"Well, I won't say yes or no, but I can tell strong evidence based on my working and organization experience. After that, you may judge. Should I?"

Untungnya walaupun jawabannya sengak banget, saya berhasil nggak kepancing buat bahas masalah personal. Nggak penting juga sih.

"Ok. You may go out now. Thank you. Please call next turn"

LAH UDAH GITU DOANG?! Padahal saya udah nyiapin cerita. Yaudah lanjut di sini aja. Flashback 'tabungan' pengalaman yang bikin saya jadi seperti sekarang. Iya juga sih, kalau dipikir-pikir, saya dulu memang bermasalah sama komitmen.

Dari zaman SD sampai kuliah saya hobi gonta-ganti kegiatan ekstra. Semua dicobain. Mention it. Nari tradisional. Lomba Lasy (semacam Lego). Main gitar. Piano. Les bahasa. Gambar. Pramuka. Drum band. Silat. Basket. Renang. Komputer. Drama. Macem-macem, dan satu pun nggak ada yang serius ditekuni.

Yang paling parah waktu tahun 2007-2009. 3 tahun pertama kuliah.

Mulai ikut UKM tari tradisional Liga Tari (Litar), UKM pers mahasiswa Suara Mahasiswa (SUMA), UKM marching band Madah Bahana UI (MBUI), les design, les jazz ballet, les bahasa Jepang, panitia acara kampus, volunteer ini-itu, sampai jaga warnet shift malem hingga subuh.

Sering saya setengah mati memaksakan diri. Kuliah ngantuk. Pulang kuliah bukannya sosialisasi main dulu sama temen-temen di kantin, saya memilih balik ke kosan buat mandi dan tidur sebentar. Kuliah lagi, pulang langsung latihan MB. Pulang MB ngebut deadline kerjaan organisasi dan tugas kuliah yang menumpuk. Kelar, cus ke warnet. Begadang. Kuliah ngantuk. And fucking repeat.

Hari Jumat-Minggu lebih parah lagi.

Jumat pulang kuliah, kalau sempet, setor muka dulu ke sekre SUMA. Seringnya sih nggak ikutan rapat redaksi karena harus ngejar les jazz ballet di Bintaro. Sampai saya dapat SP-sekian. Untungnya masih kekejar tanggung jawab bikin layout buletin.

Sabtu pagi les bahasa Jepang di Kebayoran, abis itu cabut ke Depok buat latihan MB. Minggu pagi ke Salemba buat latihan Litar, terus pulang ke Bintaro. Tapi Litar ini nggak lama karena saya bisa jadi zombie kalau harus menjalani rutinitas weekend padat dengan rute Depok-Salemba-Bintaro.

Gila sih, Del.

Nah, di tahun 2010 saya mulai sadar diri. Jadwal saya kelewat nggak masuk akal. Kalau semua diturutin terus, hasilnya nggak akan maksimal. Ketika dihadapkan pada banyak tanggung jawab yang merongrong minta didahulukan, mau nggak mau kepentingan pribadi jadi prioritas ke-sekian.

Makanya, kuliah jadi korban. IP saya terjun bebas. Itulah yang jadi titik balik saya untuk break MB dan fokus kuliah. Transisi 2009 ke 2010 bisa dibilang salah satu check point paling signifikan sepanjang track record pengalaman organisasi dan kegiatan ekstra saya.

Kembali ke masalah komitmen, sejak 2010 saya berikrar pada diri saya sendiri 3 hal ini:
  1. Selesaikan apa yang sudah dimulai
  2. Kalau ada waktu ngeluh, pakailah buat usaha
  3. "If you can't you must. If you must you can" -NAC
Alhamdulillah sampai sekarang walaupun pasang-surut, saya bisa konsisten dan persisten memegang ikrar itu. Ya ada kalanya sih ngeluh. Namanya juga manusia kan. Ada kalanya juga saya sekedar selesai. Tapi yang pasti, saya jadi banyak pertimbangan sebelum ikut ini-itu.

Jadwal yang kayak setan itu benar-benar jadi pembelajaran penting buat saya. Nggak mau kejadian gagal manajemen waktu kembali terulang. Saya nggak boleh serakah. I may pursue all things I want, but not all AT ONCE.

Bukan berarti nggak ada ujian. Tahun 2011-2013 mah kenyang deh sama drama dan patah hati. Kalau kata Coldplay, "when you try your best but you don't succeed". Banyak lah kejadian.

Mulai dari pacaran pertama kali, putus, lamaran kerjaan gagal berkali-kali, sakit DB saat lagi ngerjain tugas akhir, kecelakaan, patah kaki, gagal jadi pasukan guard, gagal pentas, gagal volunteer-an, bermasalah sama temen, daaan.. masih banyak lagi.

Tapi segala hal yang terjadi di luar kontrol saya saat itu sebetulnya menguji komitmen saya.

Seberapa besar usaha lo buat menyelesaikan tugas akhir dalam kondisi apa pun? Seprofesional apa lo menghadapi tanggung jawab organisasi di saat lo terlalu patah hati buat berkontribusi? Apa yang lo lakukan ketika rasanya pengen nyerah tapi nggak bisa?

Gimana lo meyakinkan orang tua bahwa setelah lulus lo nggak jadi beban negara karena pengangguran terlalu lama? Gimana lo memutuskan untuk terpaksa menyelesaikan apa yang udah lo mulai di tengah jalan karena lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya? Atau sebaliknya, gimana lo tetap ngotot selesai sampai akhir sebagai wujud profesionalitas se-terseok-seok apa pun jalannya?

Nggak mudah. Serius. Pegang teguh komitmen itu jangan dikira seenteng sepik di awal. Mungkin kalau pertanyaannya dilontarkan jam 3 pagi, saya bisa sesenggukan nyeritainnya. Untung aja saat itu masih terjaga. Masih sekitar jam 10an malam. Masih aman. Belum celeng dan 'mabok'.

Makanya, kalau sampai sekarang saya belum punya pacar mah nggak ada hubungannya atuh sama komitmen. Ya emang belum ketemu aja sih, haha.

Kaya Raya

0 comments
Saya belakangan lagi terjebak dilema yang dibuat sendiri di kepala. Mengincar profit, baik? Buruk? Hitung-hitungan dan minta bayaran, baik? Buruk?

Dalam 1.5 tahun ini, mayoritas kegiatan saya adalah kegiatan sosial yang mana ya ada sih uang masuk ke rekening, tapi secukupnya aja lah. Sampai titik di mana saya melek. Sadar lagi bahwa di dunia ini, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

Kalau pakai teori Maslow, seharusnya kan bertahap. Tapi untuk special case, ketika kebutuhan self-actualization sudah terpenuhi, puasa pun rasanya kenyang. Karena memang, melakukan hal-hal yang meaningful itu membuat bahagia. Tapi apa meaningful aja cukup? Bagaimana dengan menjadi impactful?

Saya jadi terngiang-ngiang omongan seorang dokter ketika saya cerita saya 1 tahun mengajar di pedalaman. Dia bilang gini:
"You ngapain sekolah tinggi-tinggi, masih muda, jauh-jauh ke pedalaman. You kerja keras cari uang juga pengabdian. Bantu yang dekat dulu. You no money no action. So you make money make action"

Ouch. Menohok betul ih pak dokter.

Sebagian saya nggak sepakat. Jadi Pengajar Muda, setahun di Kalimantan, banyak banget yang saya dapat. Memang nggak kaya raya, tapi ungkapan "hidup secukupnya aja udah cukup" itu benar-benar saya rasakan.

Duh, emang harus ngerasain sendiri sih. Susah dijelasin. Kayak apa yaaa.. patah semua deh balada kekotaan seperti orang cuek, basa-basi ala kadarnya, hidup keras, dsb.

There, all small talks are so sincere and pure. Mereka nanya kabar, udah punya pacar apa belum, udah mandi apa belum, udah makan apa belum, itu bukan basa-basi basi. Mereka tulus berinteraksi tanpa agenda tertentu. Mereka tulus menyapa, ajak mampir, dan sungguhan menyuguhkan makanan.

Apalagi anak-anak. Duh, meleleh lah tiap mereka doain gw buat pakai jilbab, rajin ngaji, dan rajin shalat (walaupun pada kenyataannya nggak juga, haha). Mereka juga nggak malu-malu bilang sayang, peluk saya, dan ungkapan kasih sayang lainnya. Malah saya nya yang salah tingkah karena nggak terbiasa.

Lalu soal 'hidup secukupnya aja udah cukup' karena ya begitulah mereka. Bahkan di saat kekeringan, panceklik, bencana asap, dan susah ikan padahal di wilayah pesisir, mereka nggak keliatan terbebani sama hidup. Dijalani aja. Seadanya, secukupnya.

Ini asli beneran saya alami sendiri. Saya orang kota, seumur-umur nggak pernah ngerasain hidup susah, sekalinya ke desa, ternyata nggak hidup susah juga tuh. Suka lebay sih media koar-koar soal kemiskinan. Sotoy. Mereka tuh bukan miskin, cuma beda aja gaya hidupnya.

Bahkan menurut saya, mereka justru kaya raya. Indonesia ini kaya raya. Lalala, bisa baper nih kalau diterusin. Intinya, beda lah hidup di kota sama di desa mah. Kadar mewahnya nggak apple to apple. Nggak bisa diukur dengan indikator daya beli dan aset kepemilikan tangible.

Nah, sekembalinya ke kota, terpapar lagi lah saya sama 'segalanya butuh uang' dan urusannya balik ke perut. Idealis masih, realistis masih (di desa juga bisa realistis kok), tapi mulai bisa paham banyak sudut pandang.

Mungkin ini juga sih tujuan IM mengirimkan PM: pemahaman akar rumput. Alhamdulillah iya bener jadi paham. Jadi kalau waktu itu saya mau ngotot-ngototan sama Pak Dokter mah bisa-bisa aja.

Tapi nggak saya lakukan karena ada juga sebagian kebenaran dari perkataan Pak Dokter. Jadilah kaya raya biar bisa menolong sesama. Kalau perut kenyang, bantuin orang mah tenang.

Nah masalahnya, biasanya tuh, setelah berada di jalan penuh pengorbanan yang ramai tepuk tangan terus hijrah ke jalan penuh lempar batu sembunyi tangan demi beragam keuntungan, kesannya jadi nggak konsisten.

Pasti ada aja deh yang nyinyir "yaelah alumni PM balik dari penempatan juga paling kerja lagi di korporat". Atau kalau alumni PM kerja di pemerintahan, bilangnya "pantesss.. menterinya kan di situ. Ada link".

Lah ya terus kenapa? Salah cari duit? Salah mengambil keuntungan dari jejaring?

Terus random lagi ingat isu Panama Papers. Misal nih misal. Ada koruptor yang cuci uang lewat donasi besar ke yayasan Y misalnya. Haram sih uangnya, tapi digunakan untuk hal yang bermanfaat. Itu benar apa salah?

Atau dibalik. Yayasan sosial Y yang korupsi. Jahat sih, tapi kan orang-orang yang berdonasi itu niatnya baik. Lagian orang-orang di yayasan Y juga masih tercukupi kebutuhannya. Nggak segitunya terlantar. Itu benar apa salah?

Saya kalau mikir begini suka jadi serba salah. Alasan itu pembenaran apa kebenaran?

Buat saya sendiri sih, orientasi saya sekarang cari uang. Nggak salah toh komersil? Lagian, walaupun sepakat relawan nggak dibayar karena sangat berharga, tapi profesional kan dibayar mahal karena punya harga. Cari uangnya halal kok.

Kalau pun saya mau kontribusi, masalah dikorupsi ya dosanya si koruptor. Walaupun ranah concern saya, itu bukan ranah kontrol saya. Itu ranahnya hukum. Iya dong?

Eh saya nggak lagi ngomongin IM ya. Ini murni berandai-andai doang. Kalau IM mah, angkat topi lah. Terlalu luar biasa karena bisa konsisten mempertahankan idealisme dari 6 tahun yang lalu dan benar-benar terbukti, IM berdaya karena terus bekerja. Salut.

Tapi yaaa.. balik lagi ke kata-kata Pak Dokter, "you make money make action". Jadi, nggak ada yang salah dengan ingin kaya raya, sist. Nggak usah takut kesannya shallow. Lebih shallow mereka yang kerjaannya nyinyir doang padahal nggak ngapa-ngapain.

Ah, jadi pengen makan marshmallow. Random.

Outgoing Introverts

0 comments
Pulang seleksi intensif 4 hari kemarin bikin saya jadi pengen ngoceh banyak sama diri sendiri. Satu kegiatan yang buat saya, nggak ada matinya. Setelah 'kering' kebanyakan sosialisasi, 2 hari ini waktunya 'nge-charge'.

Maka jadilah weekend ini saya habiskan menjadi couch potato. Kemarin teman saya, Nyanya, mampir ke rumah. Dia heran rumah saya kok sepi banget. Dia takjub saya kok betah banget nggak keluar kamar, di kamar pun nggak ngapa-ngapain seharian.

Saya ngakak nanya balik, "emang lo nggak?" Dia bilang, tiap weekend dia pasti ada aja acara ke sana-sini. Saya mah suka sih jalan, cuma ada waktunya malas aja pergi ke mana-mana. Dan paling kesal kalau mama menyeruak nyeret-nyeret saya keluar dari 'goa'.

Lalu pagi ini saya blogwalking dan menemukan tulisan Miund yang momennya pas banget.
"It's quite all right. I just adore my own company"

Ya kira-kira begitu. Girang banget rasanya tiap nemu tulisan yang mewakili kondisi dengan super tepat. Kayak nemu harta karun.

Kutipan lainnya yang juga mewakili:
"Sisi negatifnya, yang nggak kenal-kenal amat sama saya seringnya langsung berkesimpulan kalau saya emang 'rame', ekstrovert, up for anything under the sun dan mudah beradaptasi dalam segala suasana. Semua karena image saya yang emang suka bercanda di media sosial dan senang mengomentari banyak hal. Padahal gak tau aja kan, kalau lagi cerewet di Twitter itu tandanya saya lagi nggak sama orang lain yang bisa diajak ngobrol atau ya emang lagi mojok aja dan nggak pengen ngobrol dua arah, layaknya orang introvert. Egois banget, memang. Ih."

 2 bulan di Galuh, saya pegang medsos. Dan tanpa saya sangka, saya sangat menikmatinya. Saya melakukan lebih dari yang diminta. Hasilnya juga terlihat karena saya rajin melakukan monev. Biasanya, kalau sudah kerja, saya butuh konsentrasi tinggi dan akan diam seribu bahasa. Padahal di media sosial yang saya pegang, saya lagi bawel-bawelnya.

Sementara itu, teman saya, Sarah, anaknya kalau ngomong kaya toa. Berisik banget, haha. Belum lagi celetukan-celetukan lain dari teman-teman seruangan. Ditambah orang-orang yang entah kenapa betah banget nongkrong di ruangan divisi kami.

Kalau lagi begitu, pilihannya dua: ikut nimbrung dan menutup tab media sosial atau pindah tempat ke ruang meeting yang lagi kosong biar bisa fokus meramaikan medsos.

Kontras banget yah. Media sosial memang bising, tapi mereka bising dalam diam. Itu yang saya nikmati, walaupun saya pun menikmati banyaknya distraksi keceriaan dari teman-teman satu divisi. Yaaah, hanya perkara menyeimbangkan hidup sih.

Tapi nggak jarang juga saya fed up sama media sosial. Pengen gumoh rasanya nyentuh Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Path. Biasanya karena kelamaan mantengin pergerakan akun media sosial kantor yang sedang saya pegang atau berkutat dengan laporan monev.

Saya jadi ingat kemarin ketika sesi wawancara, teman saya ditanya apa kelemahan dan kelebihan saya. Dia bilang saya bisa bekerja sama dengan baik dalam tim, gampang beradaptasi dan menyesuaikan diri, tapi kadang saya terlalu mandiri dan suka menyendiri.

Kalau kata 'Geng Cetek' --sebutan untuk ring 2 pertemanan antar Pengajar Muda setelah Paserangers-- saya ini hobi sekali menggelembung. Mayoritas Geng Cetek itu anak-anak ekstrovert yang bisa ngambek kalau nggak diajak jalan. Yang gelisah kalau sendirian. Pokoknya memang tipe people-person banget.

Dikelilingi anak-anak populer bling-bling seperti mereka, saya ya jadi kecipratan label outgoing juga. Untungnya mereka bisa paham tiap saya tiba-tiba menggelembung. Paling diledekin aja, dan diseret-seret kalau udah kelamaan.

Kadang bikin jengkel juga sih, persis mama. Tapi yaaah.. anak introvert emang harus main sih sama anak ekstrovert biar nggak terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri.

Ini nyata terjadi ketika saya menghabiskan waktu libur semester bareng Fajri, Bayu, dan Rifat di Paser. Ketika geng anak introvert kumpul, kerjaan kami cuma tidur-tiduran, baca buku, bengong, dan intensif ngobrol hal-hal personal kalau lagi mood aja. Lalu tidur-tiduran lagi, baca buku lagi, dan bengong lagi. Begitu terus siklusnya berhari-hari.

Seru? Nggak seru? Sekali lagi, hanya perkara menyeimbangkan hidup.

Tentang Meminta Feedback

0 comments
Setelah 2 bulan kerja di kantor Indonesia Mengajar, saya meminta feedback dari teman-teman satu divisi tentang kinerja saya selama ini. Mereka ketawa. Heran.

"Del, lo minta feedback mulu, lo bukan manusia ya? Kan ada penelitian bahwa manusia itu resisten terhadap kritik"

Lalu Brian --pendamping Pengajar Muda di Paser tahun lalu-- cerita bahwa ia sering dengar dari anak-anak Paser bahwa saya Ratu Feedback. Giliran saya yang ketawa.

Iya, saya suka minta feedback. Selama di pelatihan, saya rajin bertanya pada teman-teman Pengajar Muda tentang pandangan mereka terhadap saya.

Di penempatan pun, saya sering iseng tanya guru, minta feedback. Bahkan menjelang pamitan, saya suka mampir ke rumah guru atau sekadar nongkrong cari cemilan sambil minta kritik dan masukan dari mereka tentang kinerja saya selama jadi PM.

Awalnya sih memang karena saya kesal dengan pendekatan Appreciative Inquiry. Saya jadi nggak tahu kurangnya saya apa karena keluarannya selalu positif. Makanya saya minta masukan untuk perbaikan.

Saya sih mikirnya gini. Saya bukannya resisten terhadap kritik. Rasanya tetap pedih dan menusuk ketika ada saja orang yang asal nyeplos.

Tapi bedanya, kalau saya yang minta, saya sudah siap duluan. Kalau tiba-tiba saya dicegat di jalan dan dikritik orang, jadi wajar ketika kritik itu mental. Karena saya nggak siap.

Padahal, bisa jadi kritiknya membangun, tapi cara menyampaikannya aja yang nggak enak, sehingga sayanya jadi ofensif. Sayang kan, padahal ladang emas tuh. Kalau di-maintain dengan baik, bisa jadi penasehat tajam yang loyal.

Jadi, enaknya minta feedback duluan, ibaratnya, saya bisa sedia 'air minum', in case kritik yang dilontarkan kelewat pedas karena karetnya dua atau pujiannya terlalu manis kayak kamu, kang.

Kan yang paling penting kalau kata Pak Anies "dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang". Makanya perlu latihan juga dengan sering-sering minta masukan. Kalau sudah terlatih kan enak.

Lucunya, ketika saya minta feedback, seringnya yang nggak siap justru yang diminta feedback. Bingung, gelagapan harus bilang apa. Ya salah sih kalau pertanyaan yang dilontarkan terlalu general seperti "minta feedback dong!"

Harusnya lebih spesifik, misal "minta feedback dong! Sepanjang 2 bulan terakhir, menurut lo apa sih hal yang paling membantu selama gw ada di sini?" atau "kejadian apa yang bikin lo bete ketika ada gw?"

Nah, biasanya kalau pertanyaannya model begini, walaupun bisa jadi orang yang ditanya masih bingung, seenggaknya dia jadi mikir buat cari evidence. Selama dia mikir, saya sambil siapin hati agar nggak tumbang ketika dicaci dan nggak terbang ketika dipuji.

Jadi memang dalam bertanya tuh ada seninya. Seru kaaan? Itulah kenapa diskusi soal feedback menjadi salah satu topik obrolan favorit saya. Gpp deh dibilang Ratu Feedback. Emang iya kok.

Saturday, April 16, 2016

About Being Humble

3 comments
"Jri, gimana caranya sih biar humble?"

Di suatu Sabtu yang malas, saya curhat ke teman sepenempatan waktu di Paser. Namanya Fajri. Dia ini salah satu partner favorit untuk ngobrol random deep thought.

Dulu, di penempatan, tiap kami janjian ke kabupaten ataupun balik dari kabupaten, di sepanjang jalan pasti topik obrolannya sebetulnya berat tapi bisa dibawakan dengan kasual. Padahal, awalnya Fajri ini yang paling nggak saya 'lirik'. Untuk diajak ngobrol maksudnya.

Dia bukan 'anak panggung', malah cenderung menghindari spotlight. Tapi ya ibarat langit, nggak perlu koar-koar dia tinggi, semua orang udah tau. Fajri tipe orang yang seperti itu. Saya benar-benar tertipu sama penampilan yang sederhana dan nggak menonjol, padahal aslinya dia ketua di mana-mana. Orang berpengaruh di organisasinya. Ngeri lah pokoknya.

Hal tersebut ternyata terulang lagi. Saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata super keren, sebut saja X. Dia yang bolak-balik bilang kagum sama saya ternyata punya potensi luar biasa. Pusing ih tiap ketemu orang yang macem begini.

I got tricked again and again.

Saya sih nggak munafik. Kalau dipuji dengan tulus pastilah saya senang. Tapi yang saya salut, orang-orang macem Fajri dan X ini, mereka selalu menjadi yang pertama memberi pujian tulus, padahal merekalah yang lebih pantas dipuji.

Sementara saya, walaupun niat awalnya dengerin cerita, seringkali jadi orang yang mendominasi percakapan tanpa saya sadar. Saya serius berusaha menjadi pendengar dengan baik, tapi ketika saya ditanya tentang sesuatu yang memang saya sukai, bisa dari Jakarta ke Tanjung Aru nggak selesai ngoceh. So yeah, I'm that talkative, and I still learn to control that.

Mereka ini udah bisa sampai pada fase itu: self control. Orang-orang yang tenang, diplomatis, dan cemerlang. Itu yang saya kagumi dari orang-orang humble. They listen more, respect more, and as result, they gain more respect.

Saya bukannya gila hormat, tapi saya lagi gemes banget sama keambian yang makin menjadi-jadi. Kalau mau yang itu, ya itu. Titik. Saya bakal usaha apa pun untuk mendapatkannya. Kadang, kalau ketemu orang yang sama-sama keras, saya bisa makin ambi membuktikan. Ngeselin deh pokoknya.

Makanya saya curhat panjang lebar ke Fajri. Mau belajar jadi lebih humble. Serius ini, bukannya gimana-gimana, saya beneran gelisah. Nggak mau kalau keinginan mengasah keambian malah jadi bumerang. Harus bisa dikontrol.

Kenal sama Fajri setahun ini, dia bisa banget nggak ngoyo tapi apa yang dia mau tetap didapat dengan cara diplomatis. Saya mana bisa. Sradak-srudukan dulu baru berhasil. Makanya saya mau curi ilmu itu dari dia.

"Jadi humble itu nggak simpel, Del. Itu ilmu tingkat tinggi. Lo nanya cara humble, gw bingung. Emang iya ya?"

Gw cerita buktinya dengan evidence kuat pakai konsep STAR (situation, task, action, result). Bercerita secara runut ini memang pembiasaan yang diajarkan saat pelatihan PM, dan ternyata kebiasaan menguntungkan itu terbawa terus sampai sekarang.

Lalu Fajri pun membalas dengan cerita juga. Cerita kami nggak saya share di sini, tapi intinya, dia bilang jadi humble itu nggak simpel karena harus mengalahkan diri sendiri. Rendahkan hati, jangan pernah menganggap remeh orang lain, dan selalu respek dengan mendengarkan lawan bicara.

Kedengarannya basi, tapi pada prakteknya emang susah banget. Kalau ada orang belagu kelampau idiot nan sotoy, bawaannya gatel kan pengen nyepet. Setahun tetanggaan desa sama Fajri, harus diakui levelnya emang udah setara Master Oogway dalam menghadapi tipe orang kaya begitu.

Begitu juga dengan X. Walaupun belum lama kenal, kalau saya amati gerak-geriknya, dia memang duh, gimana ya jelasinnya? Keren pokoknya.

Pekerja keras tapi selalu merendah ketika dipuji. Punya kemauan kuat, tapi meredam ambisinya agar nggak terlalu keciri. Pembicara yang baik, tapi seringkali lebih memilih menjadi pendengar yang baik.

Saya rasa, orang-orang seperti Fajri dan X ini ditakdirkan ada di sekeliling saya sebagai penyeimbang. Pengingat bahwa hidup kadang nggak perlu diburu-buru. Mungkin selamanya saya nggak akan bisa seperti mereka, tapi setidaknya, saya bisa banyak belajar dari mereka.

So... about being humble, I guess, those who never realize they are, actually the most humble one. Then well, maybe I don't have to be very ambitious in being more humble. Or maybe in everything. Just chill, even earth never be too ambitious to spin faster than the other planet.

Easy girl, easy ;)

Seleksi PPAN Banten (Part 3)

0 comments
Hari Pertama Seleksi Provinsi Banten

Akan ada 3 orang yang dipilih untuk mewakili Banten dalam program ke Jepang, India, dan Cina. Total peserta ada 40 orang, dan proses seleksi berlangsung selama 4 hari di Anyer. Yeay ke pantai! Eits, jangan seneng dulu. Ini bukan liburan, ini seleksi.

Di hari pertama, setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari Serpong ke Serang, tanpa diberi waktu istirahat, kami langsung seleksi wawancara. Pokoknya selama 4 hari itu, nggak lain nggak bukan, acaranya wawancara doang.

Wawancara di hari pertama adalah tentang seni-budaya, agama, psikologi, dan bahasa Inggris. Karena ada 37 orang yang harus diwawancara (harusnya 40 orang tapi 3 orang mengundurkan diri), jadi memang perlu waktu lama. Jadi........

SELAMAT DATANG PEKAN BEGADANG!

Saya selalu suka momen 'celeng' di atas jam 2 malam. Dalam keadaan setengah sadar, biasanya karakter asli seseorang mudah dikenali. Jadi, secara garis besar, saya super menikmati rangkaian seleksi Banten ini.

Hari Kedua Seleksi Provinsi Banten

Setelah begadang di hari pertama, kami tetap harus bangun subuh untuk olahraga. Habis olahraga, sepanjang hari kami habiskan untuk tes wawancara dengan alumni lewat berbagai format. Dari tes satu per satu, per kelompok kandidat dengan satu alumni, sampai keroyokan satu kandidat diwawancara banyak alumni.

Sambil menunggu giliran, kami biasanya ngobrol satu sama lain. Ini juga momen yang sangat saya nikmati. Ngobrolnya juga mulai dari ngobrol komunal sampai ngobrol personal. Sebagai anak introvert, karena waktu menunggu cukup lama, saya juga punya waktu 'nge-charge' buat baca buku dan curi-curi latihan tari.

Pokoknya gimana caranya manfaatin waktu supaya menunggu nggak jadi hal yang membosankan. Ya bayangin aja, dari pagi sampai hampir pagi lagi, 80% nya adalah waktu nunggu. Rugi sih kalau dirasa-rasain bosennya.

Hari Ketiga Seleksi Provinsi Banten

Ini klimaksnya! Karena wawancara sudah bisa selesai dari siang, kami diberi waktu bebas sampai malam untuk persiapan penampilan.

Singkat cerita, setelah semua kandidat selesai menampilkan apa pun itu, kami diminta menunggu lagi. Dipanggil lagi untuk wawancara. Saya masuk 3 besar untuk program SSEAYP, dan ini benar-benar menguras emosi dan ujian fokus.

Menguras emosi bukan karena jengkel, tapi karena ditanyakan hal-hal personal yang bikin saya jadi cengeng padahal saya mah orangnya nggak gampang nangis. Sukses banget lah alumni-alumni itu bikin baper, sial.

Yang paling berkesan buat saya sih ketika ditanya kenapa menampilkan kesenian Kalimantan. Saat itu, saya cerita tentang pertemuan dengan Komunitas Pelangi di Paser sebelum pamitan balik ke Jakarta.

Temen-temen Komunitas Pelangi bilang, mereka terinspirasi oleh Pengajar Muda yang rela jauh-jauh ke Paser buat membangun daerah mereka. Saya tertohok dan bilang, "justru kalian local hero yang sebenarnya".

Saat itu saya sadar, saya belum kasih kontribusi apa pun sama daerah sendiri. Coy, ngapain aja lo selama ini sampai nggak tahu kebudayaan Banten sama sekali? Malah lebih tau budaya Paser.

Di malam itu, ingat momen-momen di Paser, saya menangis. Kesel sih, tengsin nangis di depan alumni. Sedih juga, soalnya dipancing-pancing jadi kangen banget sama Paser. Ditambah lagi, beberapa hari kurang tidur, kadar sensitivitas meningkat berkali-kali lipat. Ngomong udah kayak orang mabok, baru sadar pas besoknya. Ah elah, Del!

Tapi terlepas dari kelepasan nangis, saya akui, salah satu momen favorit saya adalah ngobrol mendalam saat wawancara yang baru kelar jam 4 pagi itu. Momen 'mabok' yang mungkin malu-maluin, tapi bikin sadar bahwa human will always be humane.

Hari Keempat Seleksi Provinsi Banten

Setelah tidur cuma 1 jam, kami diminta menunggu pengumuman. Untuk mengisi waktu, kami main-main di pantai dan sisanya dipakai untuk... tidur lagi! Mayan lah nambah 1-2 jam colongan tidur. Saat itu, walaupun saya pengennya sih lolos, tapi jujur, udah nggak terlalu peduli lagi.

Buat saya, proses menuju seleksi itulah yang paling penting. Apa pun hasilnya, saya bisa bilang saya udah melakukan yang terbaik. That's it. Dan hasilnya memang saya masuk sebagai cadangan. Fair enough. Teman saya yang lagi berjuang lulus dari kedokteran lah yang terpilih.

Tapi setelah ini, kalau ternyata masih ada peluang, saya sih mau coba lagi. Wish me luck :D

Seleksi PPAN Banten (Part 2)

0 comments
Pembekalan di Tingkat Kota Tangerang Selatan

Dispora Tangsel ini cukup modal. Kami, para kandidat, cukup beruntung ikut seleksi di Tangsel. Nggak semua kota/kabupaten kasih pembekalan seniat Tangsel, bahkan sampai menginap 3 hari segala di Puncak. Kurang totalitas apa coba?

Di acara pembekalan itu, kandidat PPAN campur dengan kandidat BPAP dan KPN. Apa itu BPAP dan KPN? BPAP singkatan dari Bakti Pemuda Antar Provinsi, dan KPN adalah Kapal Pemuda Nusantara.

Saya nggak akan bahas tentang BPAP dan KPN ini, tapi secara garis besar, program ini mencakup pertukaran pemuda se-Indonesia.

Karena pembekalannya digabung, saya jadi kenalan dengan 14 teman baru dari Kota Tangsel. Apa saja pembekalannya? Pengetahuan umum tentang Banten dan gambaran program dari alumni. Karena alumni PPAN baru hadir di malam kedua, jadi nggak cukup banyak info PPAN yang tergali.

Tapi itu mah nggak jadi alasan buat nggak usaha. Kami berlima, kandidat dari Tangsel, sepakat ketemu lagi sama alumni di luar pembekalan. Buat kenalan dan ngobrol-ngobrol aja sih sebetulnya.

Persiapan Menuju Seleksi Tingkat Provinsi Banten

Tanggal seleksi tingkat provinsi pun mulai di-sounding. Hanya selang sekitar 10 hari dari pembekalan ke seleksi Banten. Saya makin insecure dengan apa yang harus ditampilkan. Tari Banten yang harus rusuh belajar kilat atau tari Paser yang rusuh cari propertinya.

Akhirnya saya putuskan untuk main terompet lagu Banten dan nampilin tari Paser yang udah cukup dikuasai. Tapi itu pun juga setengah mati cari propertinya, terutama Bubu, alat penangkap ikan tradisional. Tanya sana-sini sampai ke Kediri segala, tetep nggak nemu.

Ujungnya minta tolong pengrajin rotan buat bikin Bubu ala-ala. Yaaah, better than nothing lah. Terompet pinjem temen, partitur dan cut lagu Banten minta tolong artis Sentimental Moods, dan aksesori kostum pinjem temen PPAN yang kebetulan guru sanggar.

Pokoknya segala jejaring dan usaha sampai H-1 dikerahkan. Terima kasih teman-teman. Saya makin percaya bahwa orang baik emang ada di mana-mana :')

(Bersambung...)

Seleksi PPAN Banten (Part 1)

0 comments
Beberapa pekan ini, saya berjibaku dengan seleksi PPAN Banten. Ohya, sebelum lebih jauh membahas seleksinya, saya mau cerita sedikit tentang PPAN.

Tentang PPAN

Seperti namanya, PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) merupakan program pengiriman delegasi Indonesia ke luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Menpora). Ke mana saja? Jepang, India, Cina, Malaysia, Kanada (sekarang udah nggak ada), dan Australia.

Tiap provinsi diberi kuota yang berbeda-beda, rata-rata 5-6 orang delegasi. Tahun ini Banten cuma kebagian kuota 3 orang. 1 orang laki-laki untuk program ke Cina, 1 orang perempuan untuk program ke India, dan 1 orang perempuan untuk program ke Jepang.

Awal mula ketertarikan

Saya baru tahu ada pertukaran seperti ini dari teman 2 tahun yang lalu saat pelatihan Pengajar Muda. Ia ikut program ke Jepang. Telat banget emang. Tapi katanya, masih bisa coba sampai umur 30 tahun. Okelah, sepulang dari penempatan saya mau ikutan.

Tentang SSEAYP

Jujur, saya akui saya cukup ambisius ikut program ke Jepang yang biasa disingkat SSEAYP (Ship for Southern Asia and Japan Youth Program). Seperti apa programnya? Intinya, para delegasi se-ASEAN akan berlayar ke beberapa negara di ASEAN dan Jepang selama kurang lebih 2 bulan.

Apa saja kegiatannya? Banyak! Ada penampilan budaya dari masing-masing negara, FGD (Focus Group Discussion) yang membahas berbagai isu, VA (volunteering activity) contohnya jasa pijet gratis, belajar tari, alat musik, melukis, dsb. Pokoknya di dalam kapal mah jadwalnya pasti padat.

Informasi ini baru saya kulik sepulang dari Paser, dan sukses membuat saya makin ambi untuk ikutan. Saya bisa membayangkan serunya belajar social development dari teman-teman negara lain, ketemu orang nomer satunya negara-negara yang dikunjungi, dsb.

Proses Seleksi Kota Tangerang Selatan

Secara garis besar, saya super niat dalam proses seleksinya. Awalnya sudah kepikiran buat minta latihan nari Banten, privat sama teman. Tapi berhubung diminta bantu di kantor Indonesia Mengajar, akhirnya saya malah tenggelam dalam kesibukan pekerjaan. Betul-betul nggak sempat belajar tari apa pun.

Tapi saya sudah colong start menghubungi alumni SSEAYP dari Banten untuk cari informasi. Lumayan daripada nggak usaha sama sekali.

Singkat cerita, ikutlah saya proses seleksi di Kota Tangerang Selatan. Apa saja seleksinya? Ada tiga: tertulis, wawancara, dan penampilan bakat. Saya bodor tea soal pengetahuan umum tentang Banten maupun kepemudaan. Bakat juga belum siap nampil kesenian Banten. Jadi saya hanya mengandalkan wawancara. Semoga pengalaman selama ini cukup menolong.

Saya pikir, ya sudahlah. Tari bisa dilatih, pengetahuan bisa belajar, tapi karakter kan nggak bisa dibangun dalam 1-2 hari. Ini pembenaran aja sih, karena saya insecure banget sebetulnya. Kesel sendiri, kenapa nggak ngeluangin waktu belajar kesenian Banten dari jauh-jauh hari.

(Bersambung...)

Friday, April 8, 2016

Future Letter to My Lifetime Roommate

3 comments
I don't know if this is necessary but I have the urge to say this to you, whom I have no idea when you'll exist in my future.

I always thought that love is like a room. There would be too spacey to fill it only with one person. Like one of my favorite line from my favorite song said, "I don't have time to be in love".

In all my life, I never pursue love. I already have plenty to share anyway. To family, friends, pets, units, even to life itself. And vice versa. So if love were a room, who said that I couldn't life without roommate?

But that's before I met you. Yeah sounds cheesy I know. But let me be cheesy once in blue moon.

If again, love were a room and you were my roommate, I would change my mind. It wouldn't be too spacey when you were there. Because of course, it wouldn't be only you there. Our beloved ones were already there even before we met.

Ain't we'd agreed that we don't have to be always together? I can go out to do my own thing, and so can you. Or if we're too lazy to go out, we can always invite our beloved ones to ours. You may introduce yours, and so may I. And as roommate, we share duties, secrets, and other stuff. We'd agreed with that, yes?

Dear you,

You don't have to promise me moon and diamond, but please just prove me a commitment, that whatever going in life, no matter how independent we are, how we embrace equity and freedom, our room will always be on-the-go list when we need home.