About Being Humble

"Jri, gimana caranya sih biar humble?"

Di suatu Sabtu yang malas, saya curhat ke teman sepenempatan waktu di Paser. Namanya Fajri. Dia ini salah satu partner favorit untuk ngobrol random deep thought.

Dulu, di penempatan, tiap kami janjian ke kabupaten ataupun balik dari kabupaten, di sepanjang jalan pasti topik obrolannya sebetulnya berat tapi bisa dibawakan dengan kasual. Padahal, awalnya Fajri ini yang paling nggak saya 'lirik'. Untuk diajak ngobrol maksudnya.

Dia bukan 'anak panggung', malah cenderung menghindari spotlight. Tapi ya ibarat langit, nggak perlu koar-koar dia tinggi, semua orang udah tau. Fajri tipe orang yang seperti itu. Saya benar-benar tertipu sama penampilan yang sederhana dan nggak menonjol, padahal aslinya dia ketua di mana-mana. Orang berpengaruh di organisasinya. Ngeri lah pokoknya.

Hal tersebut ternyata terulang lagi. Saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata super keren, sebut saja X. Dia yang bolak-balik bilang kagum sama saya ternyata punya potensi luar biasa. Pusing ih tiap ketemu orang yang macem begini.

I got tricked again and again.

Saya sih nggak munafik. Kalau dipuji dengan tulus pastilah saya senang. Tapi yang saya salut, orang-orang macem Fajri dan X ini, mereka selalu menjadi yang pertama memberi pujian tulus, padahal merekalah yang lebih pantas dipuji.

Sementara saya, walaupun niat awalnya dengerin cerita, seringkali jadi orang yang mendominasi percakapan tanpa saya sadar. Saya serius berusaha menjadi pendengar dengan baik, tapi ketika saya ditanya tentang sesuatu yang memang saya sukai, bisa dari Jakarta ke Tanjung Aru nggak selesai ngoceh. So yeah, I'm that talkative, and I still learn to control that.

Mereka ini udah bisa sampai pada fase itu: self control. Orang-orang yang tenang, diplomatis, dan cemerlang. Itu yang saya kagumi dari orang-orang humble. They listen more, respect more, and as result, they gain more respect.

Saya bukannya gila hormat, tapi saya lagi gemes banget sama keambian yang makin menjadi-jadi. Kalau mau yang itu, ya itu. Titik. Saya bakal usaha apa pun untuk mendapatkannya. Kadang, kalau ketemu orang yang sama-sama keras, saya bisa makin ambi membuktikan. Ngeselin deh pokoknya.

Makanya saya curhat panjang lebar ke Fajri. Mau belajar jadi lebih humble. Serius ini, bukannya gimana-gimana, saya beneran gelisah. Nggak mau kalau keinginan mengasah keambian malah jadi bumerang. Harus bisa dikontrol.

Kenal sama Fajri setahun ini, dia bisa banget nggak ngoyo tapi apa yang dia mau tetap didapat dengan cara diplomatis. Saya mana bisa. Sradak-srudukan dulu baru berhasil. Makanya saya mau curi ilmu itu dari dia.

"Jadi humble itu nggak simpel, Del. Itu ilmu tingkat tinggi. Lo nanya cara humble, gw bingung. Emang iya ya?"

Gw cerita buktinya dengan evidence kuat pakai konsep STAR (situation, task, action, result). Bercerita secara runut ini memang pembiasaan yang diajarkan saat pelatihan PM, dan ternyata kebiasaan menguntungkan itu terbawa terus sampai sekarang.

Lalu Fajri pun membalas dengan cerita juga. Cerita kami nggak saya share di sini, tapi intinya, dia bilang jadi humble itu nggak simpel karena harus mengalahkan diri sendiri. Rendahkan hati, jangan pernah menganggap remeh orang lain, dan selalu respek dengan mendengarkan lawan bicara.

Kedengarannya basi, tapi pada prakteknya emang susah banget. Kalau ada orang belagu kelampau idiot nan sotoy, bawaannya gatel kan pengen nyepet. Setahun tetanggaan desa sama Fajri, harus diakui levelnya emang udah setara Master Oogway dalam menghadapi tipe orang kaya begitu.

Begitu juga dengan X. Walaupun belum lama kenal, kalau saya amati gerak-geriknya, dia memang duh, gimana ya jelasinnya? Keren pokoknya.

Pekerja keras tapi selalu merendah ketika dipuji. Punya kemauan kuat, tapi meredam ambisinya agar nggak terlalu keciri. Pembicara yang baik, tapi seringkali lebih memilih menjadi pendengar yang baik.

Saya rasa, orang-orang seperti Fajri dan X ini ditakdirkan ada di sekeliling saya sebagai penyeimbang. Pengingat bahwa hidup kadang nggak perlu diburu-buru. Mungkin selamanya saya nggak akan bisa seperti mereka, tapi setidaknya, saya bisa banyak belajar dari mereka.

So... about being humble, I guess, those who never realize they are, actually the most humble one. Then well, maybe I don't have to be very ambitious in being more humble. Or maybe in everything. Just chill, even earth never be too ambitious to spin faster than the other planet.

Easy girl, easy ;)

3 comments:

Fajri alfalah said...
This comment has been removed by the author.
Annieke Stevani said...

Gara2 baca link cerita tentang kak sarah,,jadi ikut nyerempet ke cerita ini.
Sukaaa tulisannya Dela..Jujur.

fidella anandhita savitri said...

Gyaaa.. aku malu dikomen Putri Petiku, haha. Thanksss Ike :D

Powered by Blogger.