Hari Kartini

"Cowok tuh minder juga kalau ketemu cewek yang standarnya lebih tinggi dari dia".

Di sebuah obrolan ngalor-ngidul saat sarapan, seorang teman laki-laki mengaku alasan kenapa perempuan pintar susah dapat pasangan ya karena kaum pria keburu melipir duluan kalau si wanita lebih 'bling-bling' dari dia.

Sambil ketawa, teman perempuan saya komentar, "pantes gw susah punya pacar".

"Yang penting jangan pernah nurunin standar. Rugi. Cari pasangan mah yang selevel" saya ikut nimbrung, sadar juga status jomblo bahagia yang saya sandang ini kadang dilihat aneh sama orang-orang.

Saya mah sebetulnya santai ya ada atau nggak ada pacar, tapi di zaman modern begini, saya masih saja mendapati perempuan yang mengalah, menurunkan standar biar laku.

Kalau masyarakat suku Bugis, ada yang namanya jujuran. Jadi, pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan kalau mau melamar pihak perempuan. Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar jujurannya. Makanya, kalau di desa saya, jarang perempuan yang sekolah tinggi-tinggi biar nggak susah cari pasangan.

Duh. Rasanya pengen geleng-geleng gagal paham, tapi ya begitulah realitanya. Laki-lakinya juga membenarkan. Mending cari perempuan yang lulus SMA mau dipinang ketimbang nunggu sampai jadi sarjana.

Padahal, Kartini dulu memperjuangkan emansipasi wanita ya biar puluhan tahun kemudian hal-hal patriarkis perlahan luntur. Selain itu, menurut penelitian, gen anak pintar itu turunan ibunya. Makanya jadi cewek ya harus pintar dong. Investasi masa depan.

Banyak lah contoh lainnya.

Misalnya hal sepele seperti cap "dasar cewek kelamaan dandan". Dulu, karena nggak mau dicap tukang dandan, saya usahakan 'seremonial' setelah mandi ya seminimal mungkin. Ya sih saya akui memang teman-teman saya yang lain sedikit lebih lama karena dandan dulu sementara saya sisiran pun nggak.

Saya selesai duluan untuk menghindari cap cewek lelet kelamaan dandan. Ya terlepas dari saya anaknya emang males dandan juga sih. Kalau lagi mood atau tuntutan image aja, HAHA.

Makin dewasa, saya jadi sadar. Sebetulnya yang sering telat itu justru cowok-cowoknya. Nggak tau deh mereka ngapain aja. Bahkan cewek-ceweknya udah rapi, wangi, ngeringin rambut atau bahkan catokan, lukis alis sampai jadi gunung berapi, mereka belum kelar juga.

Ketika kami udah selesai sarapan, mereka baru nongol dengan baju kusut, rambut acak-acakan, dan sendal jepit. Kalau protes, mereka bilangnya "ya wajar dong. Cewek kan lama dandan dulu. Kita mah bentar juga kelar"

ISH! Padahal mereka yang lelet, tetep yang keluar cap 'dandan'. Lah justru canggih dong manajemen waktunya cewek-cewek. Biar ribet tetep bisa on time. Lah elu ngapain? Dandan kagak, telat iya.

Pernah tuh, kami, sekumpulan cewek udah rapi semua. Acara telat karena nungguin cowok-cowoknya. Kebetulan kami ada grup Whatsapp, dan salah satu teman saya minta cowok-cowoknya segera bergegas. Alih-alih minta maaf, ada yang kirim gambar ini:


AUK AH!

Kalau kata Kartini:
"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri"

Nyambung? Nggak nyambung? Saya nggak peduli. Di Hari Kartini ini, cuma pengen nitip pesen gini ke semua cewek yang hobi dandan:

So girls, keep being awesome, fabulous, and on time, no matter how long you take to look pretty. And boys, please hurry!

1 comment:

Anonymous said...

.

Powered by Blogger.