Kaya Raya

Saya belakangan lagi terjebak dilema yang dibuat sendiri di kepala. Mengincar profit, baik? Buruk? Hitung-hitungan dan minta bayaran, baik? Buruk?

Dalam 1.5 tahun ini, mayoritas kegiatan saya adalah kegiatan sosial yang mana ya ada sih uang masuk ke rekening, tapi secukupnya aja lah. Sampai titik di mana saya melek. Sadar lagi bahwa di dunia ini, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

Kalau pakai teori Maslow, seharusnya kan bertahap. Tapi untuk special case, ketika kebutuhan self-actualization sudah terpenuhi, puasa pun rasanya kenyang. Karena memang, melakukan hal-hal yang meaningful itu membuat bahagia. Tapi apa meaningful aja cukup? Bagaimana dengan menjadi impactful?

Saya jadi terngiang-ngiang omongan seorang dokter ketika saya cerita saya 1 tahun mengajar di pedalaman. Dia bilang gini:
"You ngapain sekolah tinggi-tinggi, masih muda, jauh-jauh ke pedalaman. You kerja keras cari uang juga pengabdian. Bantu yang dekat dulu. You no money no action. So you make money make action"

Ouch. Menohok betul ih pak dokter.

Sebagian saya nggak sepakat. Jadi Pengajar Muda, setahun di Kalimantan, banyak banget yang saya dapat. Memang nggak kaya raya, tapi ungkapan "hidup secukupnya aja udah cukup" itu benar-benar saya rasakan.

Duh, emang harus ngerasain sendiri sih. Susah dijelasin. Kayak apa yaaa.. patah semua deh balada kekotaan seperti orang cuek, basa-basi ala kadarnya, hidup keras, dsb.

There, all small talks are so sincere and pure. Mereka nanya kabar, udah punya pacar apa belum, udah mandi apa belum, udah makan apa belum, itu bukan basa-basi basi. Mereka tulus berinteraksi tanpa agenda tertentu. Mereka tulus menyapa, ajak mampir, dan sungguhan menyuguhkan makanan.

Apalagi anak-anak. Duh, meleleh lah tiap mereka doain gw buat pakai jilbab, rajin ngaji, dan rajin shalat (walaupun pada kenyataannya nggak juga, haha). Mereka juga nggak malu-malu bilang sayang, peluk saya, dan ungkapan kasih sayang lainnya. Malah saya nya yang salah tingkah karena nggak terbiasa.

Lalu soal 'hidup secukupnya aja udah cukup' karena ya begitulah mereka. Bahkan di saat kekeringan, panceklik, bencana asap, dan susah ikan padahal di wilayah pesisir, mereka nggak keliatan terbebani sama hidup. Dijalani aja. Seadanya, secukupnya.

Ini asli beneran saya alami sendiri. Saya orang kota, seumur-umur nggak pernah ngerasain hidup susah, sekalinya ke desa, ternyata nggak hidup susah juga tuh. Suka lebay sih media koar-koar soal kemiskinan. Sotoy. Mereka tuh bukan miskin, cuma beda aja gaya hidupnya.

Bahkan menurut saya, mereka justru kaya raya. Indonesia ini kaya raya. Lalala, bisa baper nih kalau diterusin. Intinya, beda lah hidup di kota sama di desa mah. Kadar mewahnya nggak apple to apple. Nggak bisa diukur dengan indikator daya beli dan aset kepemilikan tangible.

Nah, sekembalinya ke kota, terpapar lagi lah saya sama 'segalanya butuh uang' dan urusannya balik ke perut. Idealis masih, realistis masih (di desa juga bisa realistis kok), tapi mulai bisa paham banyak sudut pandang.

Mungkin ini juga sih tujuan IM mengirimkan PM: pemahaman akar rumput. Alhamdulillah iya bener jadi paham. Jadi kalau waktu itu saya mau ngotot-ngototan sama Pak Dokter mah bisa-bisa aja.

Tapi nggak saya lakukan karena ada juga sebagian kebenaran dari perkataan Pak Dokter. Jadilah kaya raya biar bisa menolong sesama. Kalau perut kenyang, bantuin orang mah tenang.

Nah masalahnya, biasanya tuh, setelah berada di jalan penuh pengorbanan yang ramai tepuk tangan terus hijrah ke jalan penuh lempar batu sembunyi tangan demi beragam keuntungan, kesannya jadi nggak konsisten.

Pasti ada aja deh yang nyinyir "yaelah alumni PM balik dari penempatan juga paling kerja lagi di korporat". Atau kalau alumni PM kerja di pemerintahan, bilangnya "pantesss.. menterinya kan di situ. Ada link".

Lah ya terus kenapa? Salah cari duit? Salah mengambil keuntungan dari jejaring?

Terus random lagi ingat isu Panama Papers. Misal nih misal. Ada koruptor yang cuci uang lewat donasi besar ke yayasan Y misalnya. Haram sih uangnya, tapi digunakan untuk hal yang bermanfaat. Itu benar apa salah?

Atau dibalik. Yayasan sosial Y yang korupsi. Jahat sih, tapi kan orang-orang yang berdonasi itu niatnya baik. Lagian orang-orang di yayasan Y juga masih tercukupi kebutuhannya. Nggak segitunya terlantar. Itu benar apa salah?

Saya kalau mikir begini suka jadi serba salah. Alasan itu pembenaran apa kebenaran?

Buat saya sendiri sih, orientasi saya sekarang cari uang. Nggak salah toh komersil? Lagian, walaupun sepakat relawan nggak dibayar karena sangat berharga, tapi profesional kan dibayar mahal karena punya harga. Cari uangnya halal kok.

Kalau pun saya mau kontribusi, masalah dikorupsi ya dosanya si koruptor. Walaupun ranah concern saya, itu bukan ranah kontrol saya. Itu ranahnya hukum. Iya dong?

Eh saya nggak lagi ngomongin IM ya. Ini murni berandai-andai doang. Kalau IM mah, angkat topi lah. Terlalu luar biasa karena bisa konsisten mempertahankan idealisme dari 6 tahun yang lalu dan benar-benar terbukti, IM berdaya karena terus bekerja. Salut.

Tapi yaaa.. balik lagi ke kata-kata Pak Dokter, "you make money make action". Jadi, nggak ada yang salah dengan ingin kaya raya, sist. Nggak usah takut kesannya shallow. Lebih shallow mereka yang kerjaannya nyinyir doang padahal nggak ngapa-ngapain.

Ah, jadi pengen makan marshmallow. Random.

No comments:

Powered by Blogger.