Komitmen

"Do you have boyfriend?"

"Nope"

"Why?"

"Well, just haven't met him yet"

Dalam sebuah wawancara yang di-setting seperti sidang yang mengintimidasi, saya bisa menjawab dengan tenang, santai, dan apa adanya. Pewawancara sepertinya nggak puas karena usaha intimidasinya nggak mempan pada saya. Ia mendesak lagi.

"You're 27 this year, right? And you have no boyfriend. How come? Do you have problem with commitment?"

Alih-alih membela diri, saya malah ketawa. Dalam hati pengen jawab, "lah kalau soal cinta-cintaan, yang punya masalah sama komitmen mah bukan saya"

"Well, I won't say yes or no, but I can tell strong evidence based on my working and organization experience. After that, you may judge. Should I?"

Untungnya walaupun jawabannya sengak banget, saya berhasil nggak kepancing buat bahas masalah personal. Nggak penting juga sih.

"Ok. You may go out now. Thank you. Please call next turn"

LAH UDAH GITU DOANG?! Padahal saya udah nyiapin cerita. Yaudah lanjut di sini aja. Flashback 'tabungan' pengalaman yang bikin saya jadi seperti sekarang. Iya juga sih, kalau dipikir-pikir, saya dulu memang bermasalah sama komitmen.

Dari zaman SD sampai kuliah saya hobi gonta-ganti kegiatan ekstra. Semua dicobain. Mention it. Nari tradisional. Lomba Lasy (semacam Lego). Main gitar. Piano. Les bahasa. Gambar. Pramuka. Drum band. Silat. Basket. Renang. Komputer. Drama. Macem-macem, dan satu pun nggak ada yang serius ditekuni.

Yang paling parah waktu tahun 2007-2009. 3 tahun pertama kuliah.

Mulai ikut UKM tari tradisional Liga Tari (Litar), UKM pers mahasiswa Suara Mahasiswa (SUMA), UKM marching band Madah Bahana UI (MBUI), les design, les jazz ballet, les bahasa Jepang, panitia acara kampus, volunteer ini-itu, sampai jaga warnet shift malem hingga subuh.

Sering saya setengah mati memaksakan diri. Kuliah ngantuk. Pulang kuliah bukannya sosialisasi main dulu sama temen-temen di kantin, saya memilih balik ke kosan buat mandi dan tidur sebentar. Kuliah lagi, pulang langsung latihan MB. Pulang MB ngebut deadline kerjaan organisasi dan tugas kuliah yang menumpuk. Kelar, cus ke warnet. Begadang. Kuliah ngantuk. And fucking repeat.

Hari Jumat-Minggu lebih parah lagi.

Jumat pulang kuliah, kalau sempet, setor muka dulu ke sekre SUMA. Seringnya sih nggak ikutan rapat redaksi karena harus ngejar les jazz ballet di Bintaro. Sampai saya dapat SP-sekian. Untungnya masih kekejar tanggung jawab bikin layout buletin.

Sabtu pagi les bahasa Jepang di Kebayoran, abis itu cabut ke Depok buat latihan MB. Minggu pagi ke Salemba buat latihan Litar, terus pulang ke Bintaro. Tapi Litar ini nggak lama karena saya bisa jadi zombie kalau harus menjalani rutinitas weekend padat dengan rute Depok-Salemba-Bintaro.

Gila sih, Del.

Nah, di tahun 2010 saya mulai sadar diri. Jadwal saya kelewat nggak masuk akal. Kalau semua diturutin terus, hasilnya nggak akan maksimal. Ketika dihadapkan pada banyak tanggung jawab yang merongrong minta didahulukan, mau nggak mau kepentingan pribadi jadi prioritas ke-sekian.

Makanya, kuliah jadi korban. IP saya terjun bebas. Itulah yang jadi titik balik saya untuk break MB dan fokus kuliah. Transisi 2009 ke 2010 bisa dibilang salah satu check point paling signifikan sepanjang track record pengalaman organisasi dan kegiatan ekstra saya.

Kembali ke masalah komitmen, sejak 2010 saya berikrar pada diri saya sendiri 3 hal ini:
  1. Selesaikan apa yang sudah dimulai
  2. Kalau ada waktu ngeluh, pakailah buat usaha
  3. "If you can't you must. If you must you can" -NAC
Alhamdulillah sampai sekarang walaupun pasang-surut, saya bisa konsisten dan persisten memegang ikrar itu. Ya ada kalanya sih ngeluh. Namanya juga manusia kan. Ada kalanya juga saya sekedar selesai. Tapi yang pasti, saya jadi banyak pertimbangan sebelum ikut ini-itu.

Jadwal yang kayak setan itu benar-benar jadi pembelajaran penting buat saya. Nggak mau kejadian gagal manajemen waktu kembali terulang. Saya nggak boleh serakah. I may pursue all things I want, but not all AT ONCE.

Bukan berarti nggak ada ujian. Tahun 2011-2013 mah kenyang deh sama drama dan patah hati. Kalau kata Coldplay, "when you try your best but you don't succeed". Banyak lah kejadian.

Mulai dari pacaran pertama kali, putus, lamaran kerjaan gagal berkali-kali, sakit DB saat lagi ngerjain tugas akhir, kecelakaan, patah kaki, gagal jadi pasukan guard, gagal pentas, gagal volunteer-an, bermasalah sama temen, daaan.. masih banyak lagi.

Tapi segala hal yang terjadi di luar kontrol saya saat itu sebetulnya menguji komitmen saya.

Seberapa besar usaha lo buat menyelesaikan tugas akhir dalam kondisi apa pun? Seprofesional apa lo menghadapi tanggung jawab organisasi di saat lo terlalu patah hati buat berkontribusi? Apa yang lo lakukan ketika rasanya pengen nyerah tapi nggak bisa?

Gimana lo meyakinkan orang tua bahwa setelah lulus lo nggak jadi beban negara karena pengangguran terlalu lama? Gimana lo memutuskan untuk terpaksa menyelesaikan apa yang udah lo mulai di tengah jalan karena lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya? Atau sebaliknya, gimana lo tetap ngotot selesai sampai akhir sebagai wujud profesionalitas se-terseok-seok apa pun jalannya?

Nggak mudah. Serius. Pegang teguh komitmen itu jangan dikira seenteng sepik di awal. Mungkin kalau pertanyaannya dilontarkan jam 3 pagi, saya bisa sesenggukan nyeritainnya. Untung aja saat itu masih terjaga. Masih sekitar jam 10an malam. Masih aman. Belum celeng dan 'mabok'.

Makanya, kalau sampai sekarang saya belum punya pacar mah nggak ada hubungannya atuh sama komitmen. Ya emang belum ketemu aja sih, haha.

No comments:

Powered by Blogger.