Outgoing Introverts

Pulang seleksi intensif 4 hari kemarin bikin saya jadi pengen ngoceh banyak sama diri sendiri. Satu kegiatan yang buat saya, nggak ada matinya. Setelah 'kering' kebanyakan sosialisasi, 2 hari ini waktunya 'nge-charge'.

Maka jadilah weekend ini saya habiskan menjadi couch potato. Kemarin teman saya, Nyanya, mampir ke rumah. Dia heran rumah saya kok sepi banget. Dia takjub saya kok betah banget nggak keluar kamar, di kamar pun nggak ngapa-ngapain seharian.

Saya ngakak nanya balik, "emang lo nggak?" Dia bilang, tiap weekend dia pasti ada aja acara ke sana-sini. Saya mah suka sih jalan, cuma ada waktunya malas aja pergi ke mana-mana. Dan paling kesal kalau mama menyeruak nyeret-nyeret saya keluar dari 'goa'.

Lalu pagi ini saya blogwalking dan menemukan tulisan Miund yang momennya pas banget.
"It's quite all right. I just adore my own company"

Ya kira-kira begitu. Girang banget rasanya tiap nemu tulisan yang mewakili kondisi dengan super tepat. Kayak nemu harta karun.

Kutipan lainnya yang juga mewakili:
"Sisi negatifnya, yang nggak kenal-kenal amat sama saya seringnya langsung berkesimpulan kalau saya emang 'rame', ekstrovert, up for anything under the sun dan mudah beradaptasi dalam segala suasana. Semua karena image saya yang emang suka bercanda di media sosial dan senang mengomentari banyak hal. Padahal gak tau aja kan, kalau lagi cerewet di Twitter itu tandanya saya lagi nggak sama orang lain yang bisa diajak ngobrol atau ya emang lagi mojok aja dan nggak pengen ngobrol dua arah, layaknya orang introvert. Egois banget, memang. Ih."

 2 bulan di Galuh, saya pegang medsos. Dan tanpa saya sangka, saya sangat menikmatinya. Saya melakukan lebih dari yang diminta. Hasilnya juga terlihat karena saya rajin melakukan monev. Biasanya, kalau sudah kerja, saya butuh konsentrasi tinggi dan akan diam seribu bahasa. Padahal di media sosial yang saya pegang, saya lagi bawel-bawelnya.

Sementara itu, teman saya, Sarah, anaknya kalau ngomong kaya toa. Berisik banget, haha. Belum lagi celetukan-celetukan lain dari teman-teman seruangan. Ditambah orang-orang yang entah kenapa betah banget nongkrong di ruangan divisi kami.

Kalau lagi begitu, pilihannya dua: ikut nimbrung dan menutup tab media sosial atau pindah tempat ke ruang meeting yang lagi kosong biar bisa fokus meramaikan medsos.

Kontras banget yah. Media sosial memang bising, tapi mereka bising dalam diam. Itu yang saya nikmati, walaupun saya pun menikmati banyaknya distraksi keceriaan dari teman-teman satu divisi. Yaaah, hanya perkara menyeimbangkan hidup sih.

Tapi nggak jarang juga saya fed up sama media sosial. Pengen gumoh rasanya nyentuh Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Path. Biasanya karena kelamaan mantengin pergerakan akun media sosial kantor yang sedang saya pegang atau berkutat dengan laporan monev.

Saya jadi ingat kemarin ketika sesi wawancara, teman saya ditanya apa kelemahan dan kelebihan saya. Dia bilang saya bisa bekerja sama dengan baik dalam tim, gampang beradaptasi dan menyesuaikan diri, tapi kadang saya terlalu mandiri dan suka menyendiri.

Kalau kata 'Geng Cetek' --sebutan untuk ring 2 pertemanan antar Pengajar Muda setelah Paserangers-- saya ini hobi sekali menggelembung. Mayoritas Geng Cetek itu anak-anak ekstrovert yang bisa ngambek kalau nggak diajak jalan. Yang gelisah kalau sendirian. Pokoknya memang tipe people-person banget.

Dikelilingi anak-anak populer bling-bling seperti mereka, saya ya jadi kecipratan label outgoing juga. Untungnya mereka bisa paham tiap saya tiba-tiba menggelembung. Paling diledekin aja, dan diseret-seret kalau udah kelamaan.

Kadang bikin jengkel juga sih, persis mama. Tapi yaaah.. anak introvert emang harus main sih sama anak ekstrovert biar nggak terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri.

Ini nyata terjadi ketika saya menghabiskan waktu libur semester bareng Fajri, Bayu, dan Rifat di Paser. Ketika geng anak introvert kumpul, kerjaan kami cuma tidur-tiduran, baca buku, bengong, dan intensif ngobrol hal-hal personal kalau lagi mood aja. Lalu tidur-tiduran lagi, baca buku lagi, dan bengong lagi. Begitu terus siklusnya berhari-hari.

Seru? Nggak seru? Sekali lagi, hanya perkara menyeimbangkan hidup.

No comments:

Powered by Blogger.