Seleksi PPAN Banten (Part 1)

Beberapa pekan ini, saya berjibaku dengan seleksi PPAN Banten. Ohya, sebelum lebih jauh membahas seleksinya, saya mau cerita sedikit tentang PPAN.

Tentang PPAN

Seperti namanya, PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) merupakan program pengiriman delegasi Indonesia ke luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Menpora). Ke mana saja? Jepang, India, Cina, Malaysia, Kanada (sekarang udah nggak ada), dan Australia.

Tiap provinsi diberi kuota yang berbeda-beda, rata-rata 5-6 orang delegasi. Tahun ini Banten cuma kebagian kuota 3 orang. 1 orang laki-laki untuk program ke Cina, 1 orang perempuan untuk program ke India, dan 1 orang perempuan untuk program ke Jepang.

Awal mula ketertarikan

Saya baru tahu ada pertukaran seperti ini dari teman 2 tahun yang lalu saat pelatihan Pengajar Muda. Ia ikut program ke Jepang. Telat banget emang. Tapi katanya, masih bisa coba sampai umur 30 tahun. Okelah, sepulang dari penempatan saya mau ikutan.

Tentang SSEAYP

Jujur, saya akui saya cukup ambisius ikut program ke Jepang yang biasa disingkat SSEAYP (Ship for Southern Asia and Japan Youth Program). Seperti apa programnya? Intinya, para delegasi se-ASEAN akan berlayar ke beberapa negara di ASEAN dan Jepang selama kurang lebih 2 bulan.

Apa saja kegiatannya? Banyak! Ada penampilan budaya dari masing-masing negara, FGD (Focus Group Discussion) yang membahas berbagai isu, VA (volunteering activity) contohnya jasa pijet gratis, belajar tari, alat musik, melukis, dsb. Pokoknya di dalam kapal mah jadwalnya pasti padat.

Informasi ini baru saya kulik sepulang dari Paser, dan sukses membuat saya makin ambi untuk ikutan. Saya bisa membayangkan serunya belajar social development dari teman-teman negara lain, ketemu orang nomer satunya negara-negara yang dikunjungi, dsb.

Proses Seleksi Kota Tangerang Selatan

Secara garis besar, saya super niat dalam proses seleksinya. Awalnya sudah kepikiran buat minta latihan nari Banten, privat sama teman. Tapi berhubung diminta bantu di kantor Indonesia Mengajar, akhirnya saya malah tenggelam dalam kesibukan pekerjaan. Betul-betul nggak sempat belajar tari apa pun.

Tapi saya sudah colong start menghubungi alumni SSEAYP dari Banten untuk cari informasi. Lumayan daripada nggak usaha sama sekali.

Singkat cerita, ikutlah saya proses seleksi di Kota Tangerang Selatan. Apa saja seleksinya? Ada tiga: tertulis, wawancara, dan penampilan bakat. Saya bodor tea soal pengetahuan umum tentang Banten maupun kepemudaan. Bakat juga belum siap nampil kesenian Banten. Jadi saya hanya mengandalkan wawancara. Semoga pengalaman selama ini cukup menolong.

Saya pikir, ya sudahlah. Tari bisa dilatih, pengetahuan bisa belajar, tapi karakter kan nggak bisa dibangun dalam 1-2 hari. Ini pembenaran aja sih, karena saya insecure banget sebetulnya. Kesel sendiri, kenapa nggak ngeluangin waktu belajar kesenian Banten dari jauh-jauh hari.

(Bersambung...)

No comments:

Powered by Blogger.