Tentang Meminta Feedback

Setelah 2 bulan kerja di kantor Indonesia Mengajar, saya meminta feedback dari teman-teman satu divisi tentang kinerja saya selama ini. Mereka ketawa. Heran.

"Del, lo minta feedback mulu, lo bukan manusia ya? Kan ada penelitian bahwa manusia itu resisten terhadap kritik"

Lalu Brian --pendamping Pengajar Muda di Paser tahun lalu-- cerita bahwa ia sering dengar dari anak-anak Paser bahwa saya Ratu Feedback. Giliran saya yang ketawa.

Iya, saya suka minta feedback. Selama di pelatihan, saya rajin bertanya pada teman-teman Pengajar Muda tentang pandangan mereka terhadap saya.

Di penempatan pun, saya sering iseng tanya guru, minta feedback. Bahkan menjelang pamitan, saya suka mampir ke rumah guru atau sekadar nongkrong cari cemilan sambil minta kritik dan masukan dari mereka tentang kinerja saya selama jadi PM.

Awalnya sih memang karena saya kesal dengan pendekatan Appreciative Inquiry. Saya jadi nggak tahu kurangnya saya apa karena keluarannya selalu positif. Makanya saya minta masukan untuk perbaikan.

Saya sih mikirnya gini. Saya bukannya resisten terhadap kritik. Rasanya tetap pedih dan menusuk ketika ada saja orang yang asal nyeplos.

Tapi bedanya, kalau saya yang minta, saya sudah siap duluan. Kalau tiba-tiba saya dicegat di jalan dan dikritik orang, jadi wajar ketika kritik itu mental. Karena saya nggak siap.

Padahal, bisa jadi kritiknya membangun, tapi cara menyampaikannya aja yang nggak enak, sehingga sayanya jadi ofensif. Sayang kan, padahal ladang emas tuh. Kalau di-maintain dengan baik, bisa jadi penasehat tajam yang loyal.

Jadi, enaknya minta feedback duluan, ibaratnya, saya bisa sedia 'air minum', in case kritik yang dilontarkan kelewat pedas karena karetnya dua atau pujiannya terlalu manis kayak kamu, kang.

Kan yang paling penting kalau kata Pak Anies "dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang". Makanya perlu latihan juga dengan sering-sering minta masukan. Kalau sudah terlatih kan enak.

Lucunya, ketika saya minta feedback, seringnya yang nggak siap justru yang diminta feedback. Bingung, gelagapan harus bilang apa. Ya salah sih kalau pertanyaan yang dilontarkan terlalu general seperti "minta feedback dong!"

Harusnya lebih spesifik, misal "minta feedback dong! Sepanjang 2 bulan terakhir, menurut lo apa sih hal yang paling membantu selama gw ada di sini?" atau "kejadian apa yang bikin lo bete ketika ada gw?"

Nah, biasanya kalau pertanyaannya model begini, walaupun bisa jadi orang yang ditanya masih bingung, seenggaknya dia jadi mikir buat cari evidence. Selama dia mikir, saya sambil siapin hati agar nggak tumbang ketika dicaci dan nggak terbang ketika dipuji.

Jadi memang dalam bertanya tuh ada seninya. Seru kaaan? Itulah kenapa diskusi soal feedback menjadi salah satu topik obrolan favorit saya. Gpp deh dibilang Ratu Feedback. Emang iya kok.

No comments:

Powered by Blogger.