Monday, May 30, 2016

Karetnya Dua

2 comments
Entah kenapa saya ingin menulis tentang teman saya satu ini. Namanya Meiliani Fauziah, panggilannya Sarah. Jangan tanya saya kenapa jauh betul panggilan dan nama panjangnya. Tanya langsung saja.

Anak bungsu dari almarhum jurnalis legendaris, Ersa Siregar. Anak bungsu yang merasa jadi kakak kami semua selama setahun di Paser. Padahal, saya sih menganggapnya tetap paling bungsu. Bahkan Rifat saja --yang 4 tahun lebih muda-- lebih 'sulung' dari Sarah. Mungkin karena memang menjadi sulung ataupun bungsu tidak ada hubungannya dengan umur. Ah sudahlah.

Awal pertemuan saya dengan Sarah adalah saat kopdar Calon Pengajar Muda 9 di Eatology. Sarah yang cerita dengan hebohnya tentang seorang laki-laki yang datang melamarnya dan mau memboyongnya ke Papua. Sarah yang tulisannya bagus. Sarah yang ketika betul-betul bertemu langsung........ ondeee mandeee. Ultrasonik.

Kali kedua kami bertemu adalah ketika di pelatihan, tepatnya hari pertama pelatihan. Ada kejadian super epic saat itu. Ia tidak sengaja membuat kepala saya berdarah karena terantuk ujung lemari. Kami langsung bergegas lapor ke fasilitator dan minta Betadine. Sambil meneteskan obat luka ke kepala, ia bolak-balik minta maaf dan saya bolak-balik ketawa.

Apa yang lebih berkesan dari penyiksaan perkenalan pertama dengan tetesan Betadine di kepala? Semenjak saat itu, entah anugerah atau kutukan, saya sekelompok terus sama Sarah, bahkan satu penempatan.

Berteman dengan Sarah sama dengan kuat-kuatan mental. Ratu sepet sejagat, nomer dua setelah Cune. Hahaha. Basa-basi basi tidak pernah ada dalam kamusnya. Peraturan pertama berhadapan dengan Sarah adalah buang jauh-jauh baper. Rugi. Lo sakit hati, dia bodo amat. Bikin dia sakit hati? Yang pasti nggak mempan kalau caranya adalah nyepet balik.

Apa pun yang lo lakukan untuk 'balas dendam', tetap lo yang rugi kalau baperan, karena ia pun tak pernah take it personal. Kalau kata Adam, "titah Kak Sarah selalu benar". Entah memang benar titah atau simply pasrah.

Menghadapi Sarah, banyak orang lebih memilih menghindari konflik. Jelas, karena malas sakit hati. Tapi buat saya sendiri, entah kebal atau bagaimana, selama setahun, satu-satunya yang membuat saya sebal dari Sarah hanya menjelang kepulangan. Saya bahkan lupa detailnya, yang jelas soal packing.

Selebihnya, bagi saya sih biasa saja. Saya justru sangat senang ketika bekerja bersama Sarah. Profesional, gercep, dan terus terang dalam memberi feedback. Biasanya, orang sungkan memberi feedback sehingga lebih banyak 'hiasan' kalimat penghiburan daripada inti masukannya. Takut menyakiti perasaan, mungkin.

Sementara Sarah? Babat habis. Makanya, dunia ini butuh orang-orang tegaan seperti Sarah, tapi jangan banyak-banyak :))

Pernah ada kejadian HP saya terbawa Sarah sampai Derawan. Belum sempat saya komen, malah saya yang diomeli. "Siapa suruh lo taro di daerah teritori gw", begitu pembelaannya. Saya dan teman-teman lainnya bengong. Lah mana kita tau di mana teritorinya. Ajaib memang manusia satu itu.

Tapi biar bagaimanapun, di balik mulut karet duanya, harus saya akui Sarah ini punya daya tarik tersendiri. Entah apa. Mungkin menjadi ketus adalah caranya memberitahu orang-orang di sekelilingnya bahwa yang bisa menyelamatkan diri mereka adalah mereka sendiri.

Istilahnya "kalau lo berharap gw akan menolong lo saat tenggelam di laut, bye. Sebelum lo nyemplung, gw udah bilang berkali-kali, laut itu bahaya. Ati-ati. Belajar renang. Bawa pelampung. Lo nekat, tanggung sendiri resikonya." Tapi ujung-ujungnya ditolongin juga.

Intinya, justru kalau Sarah berhenti ngomel, tandanya dia udah nggak peduli. Selama masih berkaret dua, tiga, sejuta, percayalah, dia masih peduli, dan bentuk kepeduliannya tercermin dari hal-hal kecil. Pernah suatu hari, saya marah sama Adam. Alasan saya marah biarlah tertinggal di Paser. Sarah tahu yang salah itu jelas-jelas si Adam. Adam diomelin Sarah, dan saya dibelikan cokelat *anaknya cetek.

Selain kepribadiannya yang nyentrik, keputusan dia dalam berkarir pun tidak kalah nyentrik. Setelah mapan di Republika, ia blusukan jadi Pengajar Muda. Sekarang, malah magang di Salihara yang 'uang saku' nya nggak lebih banyak dari biaya perawatan James dan Bona --motor inventaris di Paser-- tiap bulan. Tapi saya paham betul, rezeki tidak melulu soal uang.

Salihara gudangnya seniman, budayawan, dan penulis kawakan. Sejalan dengan keinginannya untuk terus hidup dari menulis. Sikat lah!

Ah, tak ada habisnya kalau membahas teman-teman saya yang super menarik ini. Suatu saat nanti saya akan melunasi hutang untuk menulis tentang mereka satu per satu. Beberapa waktu lalu, Fajri sudah. Sekarang Sarah. Habis ini, siapa lagi ya?

Anyway, good luck with other quirky decisions you'll make in the future, Sar!

Sunday, May 15, 2016

Tentang Merespon Feedback

0 comments

Beberapa hari ini, saya sedang baca buku judulnya "Thanks for the Feedback" Well.. baru part prolog beberapa lembar sih. Tapi saya tahu, ini akan jadi bacaan yang seru!

Jadi, buku ini pemberian teman saya. Kado katanya. Tadinya dia kasih pilihan, mau buku tentang feedback atau buku sejarah. Saya ngakak. You don't say. Jelas sekali mana buku yang akan saya pilih.

Orang yang mengenal saya pasti paham betul bahwa saya suka sekali feedback. Saking sukanya, saya sempat bingung bagaimana saya harus merespon suatu feedback agar mendapat feedback lebih banyak (HAHA). Karena belum pernah baca konsep/teori/apapun tentang feedback, akhirnya saya bagi saja jadi 3:
  1. Apresiasi
  2. Komentar
  3. Masukan yang membangun
1. Apresiasi

Ketika seseorang memberi apresiasi, saya sebisa mungkin berterima kasih dengan sopan dan merespon secukupnya, berusaha untuk nggak cepat puas.

Jujur, dipuji itu menyenangkan. Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai adiktif. You do things to express, not to impress. You do things for self improvement, not for people's compliment.

Ketika motivasi berusaha maksimal datang dari ngarepin pujian, ya siap-siap demotivasi aja. Saya sih nggak mau lagi bergantung sama manusia untuk urusan minta apresiasi. Capek. Kalau saya gas pol menghidangkan hasil kerja terbaik, ya itu karena saya nggak mau nyesel "tau gitu gw lebih usaha lagi". That's it.

2. Komentar

Ini nih yang pualing buanyak beredar. Biasanya kayak Jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Respon paling wajar adalah "gw nggak minta komen lo, kenapa lo yang repot ngurusin urusan gw?"

Kalau saya dikomen orang, saya berusaha untuk terima dengan anggukan dan nggak baper. Rugi. Soalnya yang saya coba pahami, kebanyakan orang berkomentar karena ingin didengar.

Jadi, berprasangka baiklah. Kalau memang mau klarifikasi, dengarkan dulu sampai selesai, baru jelaskan apabila dipersilakan.

Kalau saya sih, untuk komentar yang sifatnya semu (aka nggak jelas maksudnya apa), kalau masih ada waktu bertanya, akan saya 'kejar'. Misal:

"Ih jelek posternya"
"Jeleknya di bagian mana? Warna? Komposisi? Jenis font? Atau apa?"

Kalau dia cuma bales "ya pokoknya jelek aja" yaudah kelar. Nggak usah diladenin. Emang komen doang. Kalau dia kasih rincian, saya hargai itu dan akan anggap komentarnya sebagai bagian yang ketiga.

3. Masukan yang membangun

Masukan yang membangun pun nggak selalu keluar dari komentar negatif yang kita minta perjelas. Bisa juga dari apresiasi. Misal:

"Ide lo oke. Keren banget bisa mikir sampai ke sana"
"Mikir sampai ke mana? Ada yang mau ditambahkan ngga? Atau mungkin perlu diperbaiki?"
"Hmm.. coba dibeginikan begitukan bla bla bla"

Bagi saya, ini jauh lebih menyenangkan dan berguna daripada sekedar pujian.

Saya selalu terngiang-ngiang ucapan Pak Anies "dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang" tiap kali merespon feedback, walaupun setelahnya kadang emang bikin kepikiran.

Pun kesal dan nggak terima, biasanya saya numpang nyampah aja pada orang-orang terpercaya, karena debat kusir dengan lawan bicara yang niatnya cuma ingin komentar itu percuma. Buang-buang waktu.

Jadi, untuk kalian yang sudah berbaik hati meminjamkan kedua telinga, maaf dan terima kasih banyak. Tenang, saya belum butuh bahu untuk bersandar. Tapi uluran tangan untuk memijat bahu saya yang pegal mah boleh banget, hahaha.