Karetnya Dua

Entah kenapa saya ingin menulis tentang teman saya satu ini. Namanya Meiliani Fauziah, panggilannya Sarah. Jangan tanya saya kenapa jauh betul panggilan dan nama panjangnya. Tanya langsung saja.

Anak bungsu dari almarhum jurnalis legendaris, Ersa Siregar. Anak bungsu yang merasa jadi kakak kami semua selama setahun di Paser. Padahal, saya sih menganggapnya tetap paling bungsu. Bahkan Rifat saja --yang 4 tahun lebih muda-- lebih 'sulung' dari Sarah. Mungkin karena memang menjadi sulung ataupun bungsu tidak ada hubungannya dengan umur. Ah sudahlah.

Awal pertemuan saya dengan Sarah adalah saat kopdar Calon Pengajar Muda 9 di Eatology. Sarah yang cerita dengan hebohnya tentang seorang laki-laki yang datang melamarnya dan mau memboyongnya ke Papua. Sarah yang tulisannya bagus. Sarah yang ketika betul-betul bertemu langsung........ ondeee mandeee. Ultrasonik.

Kali kedua kami bertemu adalah ketika di pelatihan, tepatnya hari pertama pelatihan. Ada kejadian super epic saat itu. Ia tidak sengaja membuat kepala saya berdarah karena terantuk ujung lemari. Kami langsung bergegas lapor ke fasilitator dan minta Betadine. Sambil meneteskan obat luka ke kepala, ia bolak-balik minta maaf dan saya bolak-balik ketawa.

Apa yang lebih berkesan dari penyiksaan perkenalan pertama dengan tetesan Betadine di kepala? Semenjak saat itu, entah anugerah atau kutukan, saya sekelompok terus sama Sarah, bahkan satu penempatan.

Berteman dengan Sarah sama dengan kuat-kuatan mental. Ratu sepet sejagat, nomer dua setelah Cune. Hahaha. Basa-basi basi tidak pernah ada dalam kamusnya. Peraturan pertama berhadapan dengan Sarah adalah buang jauh-jauh baper. Rugi. Lo sakit hati, dia bodo amat. Bikin dia sakit hati? Yang pasti nggak mempan kalau caranya adalah nyepet balik.

Apa pun yang lo lakukan untuk 'balas dendam', tetap lo yang rugi kalau baperan, karena ia pun tak pernah take it personal. Kalau kata Adam, "titah Kak Sarah selalu benar". Entah memang benar titah atau simply pasrah.

Menghadapi Sarah, banyak orang lebih memilih menghindari konflik. Jelas, karena malas sakit hati. Tapi buat saya sendiri, entah kebal atau bagaimana, selama setahun, satu-satunya yang membuat saya sebal dari Sarah hanya menjelang kepulangan. Saya bahkan lupa detailnya, yang jelas soal packing.

Selebihnya, bagi saya sih biasa saja. Saya justru sangat senang ketika bekerja bersama Sarah. Profesional, gercep, dan terus terang dalam memberi feedback. Biasanya, orang sungkan memberi feedback sehingga lebih banyak 'hiasan' kalimat penghiburan daripada inti masukannya. Takut menyakiti perasaan, mungkin.

Sementara Sarah? Babat habis. Makanya, dunia ini butuh orang-orang tegaan seperti Sarah, tapi jangan banyak-banyak :))

Pernah ada kejadian HP saya terbawa Sarah sampai Derawan. Belum sempat saya komen, malah saya yang diomeli. "Siapa suruh lo taro di daerah teritori gw", begitu pembelaannya. Saya dan teman-teman lainnya bengong. Lah mana kita tau di mana teritorinya. Ajaib memang manusia satu itu.

Tapi biar bagaimanapun, di balik mulut karet duanya, harus saya akui Sarah ini punya daya tarik tersendiri. Entah apa. Mungkin menjadi ketus adalah caranya memberitahu orang-orang di sekelilingnya bahwa yang bisa menyelamatkan diri mereka adalah mereka sendiri.

Istilahnya "kalau lo berharap gw akan menolong lo saat tenggelam di laut, bye. Sebelum lo nyemplung, gw udah bilang berkali-kali, laut itu bahaya. Ati-ati. Belajar renang. Bawa pelampung. Lo nekat, tanggung sendiri resikonya." Tapi ujung-ujungnya ditolongin juga.

Intinya, justru kalau Sarah berhenti ngomel, tandanya dia udah nggak peduli. Selama masih berkaret dua, tiga, sejuta, percayalah, dia masih peduli, dan bentuk kepeduliannya tercermin dari hal-hal kecil. Pernah suatu hari, saya marah sama Adam. Alasan saya marah biarlah tertinggal di Paser. Sarah tahu yang salah itu jelas-jelas si Adam. Adam diomelin Sarah, dan saya dibelikan cokelat *anaknya cetek.

Selain kepribadiannya yang nyentrik, keputusan dia dalam berkarir pun tidak kalah nyentrik. Setelah mapan di Republika, ia blusukan jadi Pengajar Muda. Sekarang, malah magang di Salihara yang 'uang saku' nya nggak lebih banyak dari biaya perawatan James dan Bona --motor inventaris di Paser-- tiap bulan. Tapi saya paham betul, rezeki tidak melulu soal uang.

Salihara gudangnya seniman, budayawan, dan penulis kawakan. Sejalan dengan keinginannya untuk terus hidup dari menulis. Sikat lah!

Ah, tak ada habisnya kalau membahas teman-teman saya yang super menarik ini. Suatu saat nanti saya akan melunasi hutang untuk menulis tentang mereka satu per satu. Beberapa waktu lalu, Fajri sudah. Sekarang Sarah. Habis ini, siapa lagi ya?

Anyway, good luck with other quirky decisions you'll make in the future, Sar!

3 comments:

Shanti said...

Jadi gw masih nomer satu di hati lu? Asiik..

fidella anandhita savitri said...

Haha, mau dibahas Ne?

Dori Talk said...

Sarah memang amazing

Powered by Blogger.