Tentang Merespon Feedback


Beberapa hari ini, saya sedang baca buku judulnya "Thanks for the Feedback" Well.. baru part prolog beberapa lembar sih. Tapi saya tahu, ini akan jadi bacaan yang seru!

Jadi, buku ini pemberian teman saya. Kado katanya. Tadinya dia kasih pilihan, mau buku tentang feedback atau buku sejarah. Saya ngakak. You don't say. Jelas sekali mana buku yang akan saya pilih.

Orang yang mengenal saya pasti paham betul bahwa saya suka sekali feedback. Saking sukanya, saya sempat bingung bagaimana saya harus merespon suatu feedback agar mendapat feedback lebih banyak (HAHA). Karena belum pernah baca konsep/teori/apapun tentang feedback, akhirnya saya bagi saja jadi 3:
  1. Apresiasi
  2. Komentar
  3. Masukan yang membangun
1. Apresiasi

Ketika seseorang memberi apresiasi, saya sebisa mungkin berterima kasih dengan sopan dan merespon secukupnya, berusaha untuk nggak cepat puas.

Jujur, dipuji itu menyenangkan. Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai adiktif. You do things to express, not to impress. You do things for self improvement, not for people's compliment.

Ketika motivasi berusaha maksimal datang dari ngarepin pujian, ya siap-siap demotivasi aja. Saya sih nggak mau lagi bergantung sama manusia untuk urusan minta apresiasi. Capek. Kalau saya gas pol menghidangkan hasil kerja terbaik, ya itu karena saya nggak mau nyesel "tau gitu gw lebih usaha lagi". That's it.

2. Komentar

Ini nih yang pualing buanyak beredar. Biasanya kayak Jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Respon paling wajar adalah "gw nggak minta komen lo, kenapa lo yang repot ngurusin urusan gw?"

Kalau saya dikomen orang, saya berusaha untuk terima dengan anggukan dan nggak baper. Rugi. Soalnya yang saya coba pahami, kebanyakan orang berkomentar karena ingin didengar.

Jadi, berprasangka baiklah. Kalau memang mau klarifikasi, dengarkan dulu sampai selesai, baru jelaskan apabila dipersilakan.

Kalau saya sih, untuk komentar yang sifatnya semu (aka nggak jelas maksudnya apa), kalau masih ada waktu bertanya, akan saya 'kejar'. Misal:

"Ih jelek posternya"
"Jeleknya di bagian mana? Warna? Komposisi? Jenis font? Atau apa?"

Kalau dia cuma bales "ya pokoknya jelek aja" yaudah kelar. Nggak usah diladenin. Emang komen doang. Kalau dia kasih rincian, saya hargai itu dan akan anggap komentarnya sebagai bagian yang ketiga.

3. Masukan yang membangun

Masukan yang membangun pun nggak selalu keluar dari komentar negatif yang kita minta perjelas. Bisa juga dari apresiasi. Misal:

"Ide lo oke. Keren banget bisa mikir sampai ke sana"
"Mikir sampai ke mana? Ada yang mau ditambahkan ngga? Atau mungkin perlu diperbaiki?"
"Hmm.. coba dibeginikan begitukan bla bla bla"

Bagi saya, ini jauh lebih menyenangkan dan berguna daripada sekedar pujian.

Saya selalu terngiang-ngiang ucapan Pak Anies "dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang" tiap kali merespon feedback, walaupun setelahnya kadang emang bikin kepikiran.

Pun kesal dan nggak terima, biasanya saya numpang nyampah aja pada orang-orang terpercaya, karena debat kusir dengan lawan bicara yang niatnya cuma ingin komentar itu percuma. Buang-buang waktu.

Jadi, untuk kalian yang sudah berbaik hati meminjamkan kedua telinga, maaf dan terima kasih banyak. Tenang, saya belum butuh bahu untuk bersandar. Tapi uluran tangan untuk memijat bahu saya yang pegal mah boleh banget, hahaha.

Comments