Saturday, June 18, 2016

Toleransi

0 comments
Saya ingat zaman sekolah dulu, dalam pelajaran PPKN selalu ditekankan soal toleransi umat beragama. Toleransi pada orang yang sedang beribadah. Misalnya, kecilkan volume TV saat orang lagi shalat. Nggak berisik saat orang lagi berdoa. Nggak makan-minum di depan orang berpuasa.

Bertahun-tahun kemudian, di bulan Ramadhan, topik toleransi muncul kembali. Bedanya, kalau dulu keluar di ulangan, sekarang keluar di berita dan diulang-ulang.

Siapa sih yang nggak tau kasus Perda Serang dan penggrebekan rumah makan Bu Saeni oleh satpol PP? Media terlalu over mem-blow up berita itu.

Kalau saya sih nggak peduli ya. Puasa ya puasa aja. Nggak usah protes kalau ada yang nggak puasa dan makan-minum. Yang nggak puasa juga sadar diri aja. Nggak usah juga protes kalau ada yang meminta mereka untuk nggak makan-minum di depan yang berpuasa.

Tahun lalu, 2 orang teman saya yang non-muslim bahkan ikut sahur, puasa, dan buka di bulan Ramadhan. Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada juga yang melarang. Dan nggak perlu juga dibahas.

Toleransi itu diwujudkan dalam tindakan, bukan cuma ucapan apalagi jawaban ulangan.

Saya ingat waktu liburan ke Banjarmasin bareng Rifat, saya sedang nggak puasa. Sama seperti di Serang, di sana juga rumah makan tutup semua, dan saya nggak tau itu. Saya lapar dan haus setengah mati karena dari malam sebelumnya juga belum makan.

Mungkin karena super kelaparan, saya jengkel berat akan kota santri ini. Mikir apa sih pemerintahnya bikin peraturan konyol begini? Saat saya tanya warga sekitar, mereka menerima tanpa syarat. "Ya aturannya memang begitu". Bikin makin dongkol.

Aturan buat siapa sih larang-larang restoran buka? Aturan buat anak SD yang lagi belajar puasa? Yang belum bisa tahan iman liat jajanan? Gitu?

Sambil misuh-misuh sendiri, saya akhirnya ke supermarket beli roti dan air mineral, lalu makan-minum di toilet. Sempat juga di dalam ATM. Saat Rifat merekam kelakuan ajaib kala itu, luntur sudah segala kekesalan, berganti dengan kenyang ketawa.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meski masih nggak habis pikir, karena saya ada di daerah orang, ya mau nggak mau harus ikut aturan. Dan ini jadi menarik ketika seorang teman mencoba menjelaskan dari sudut pandang hukum. Ia berargumen bahwa peraturan harus ditegakkan.

Mari lepas atribut keagamaan. Misalnya kasus Perda Serang itu. Ketika Netizen berinisiatif memberi donasi pada Bu Saeni, itu sama saja mendukung pelanggaran hukum, walaupun atas nama simpati dan bentuk keprihatinan.

Saya sendiri, saat ada di Banjarmasin dan sedang nggak puasa, ketika makan di dalam ATM, saya merasa seperti buronan. Aneh banget rasanya. Padahal sebetulnya saya nggak salah. Lah ya memang nggak puasa kok.

Tapi jujur ya. Kasus Perda Serang ini bikin saya mikir. Kenapa sih nggak sekalian aja dikasih satu spot khusus di mana pedagang boleh berjualan makanan dan minuman di situ? Atau alternatif solusi lain, kenapa sih nggak memperbolehkan restoran untuk delivery/take away?

Intinya tetap nggak makan di situ kan?

Lelah ih semua orang koar-koar soal toleransi. Alih-alih duduk bareng memikirkan solusi, kenapa sih semua orang saling lempar komen, ramai-ramai minta dihormati?

Situ bendera?

Paid Off

0 comments
Saya nggak bisa tidur. Overdosis kafein. Mau numpang ngoceh aja di sini.

Jadi, akhir April lalu, saya masuk kantor baru. Dibajak, tepatnya. Baru masuk, saya udah dicemplungin dalam satu kegiatan yang durasinya cukup panjang. Sebulan, dengan persiapan cuma seminggu. Wakwaw.

Karena saya tau saya nggak bisa gerak sendiri, saya minta bala bantuan dan bawel nanya ini-itu ke mana-mana. Modal saya cuma muka badak minta persetujuan untuk inisiatif mengelola relawan walaupun saat itu masih clueless belum tau harus ngapain.

Modal tambahan: tekad dan nekat.

Singkat cerita, sebulan berlalu. Pilot project yang jelasss.. banyak kekurangan di sana-sini, semangat naik-turun, dan bukan sekali-dua kali rasanya pengen buru-buru udahan. Mengelola relawan di tengah birokrasi yang kental itu susah-susah-gampang.

Sempat iri ke teman saat dia cerita betapa menyenangkannya ketika acaranya sukses dan semua senang. "Gw pengen ngerasain paid off juga deh. Kapan ya?" keluh saya yang saat itu udah super capek. Baik fisik maupun mental karena 'baterai sosial' abis.

Selasa lalu (14/06), akhirnya momen paid-off yang dinanti terwujud juga. Buka puasa bersama Pak Anies sekaligus penutupan relawan. Rasanya bangga punya tim yang dibentuk dalam waktu singkat, tapi perkembangannya signifikan.

Terlintas di benak saya kata-kata untuk kalender 2016 Paser:
"Belajar itu paling enak. Kalau sukses, ya karena belajar. Kalau gagal, ya namanya juga belajar"
Beberapa hari sebelumnya, saya sibuk mengumpulkan cerita mereka sebagai bahan laporan. Karena bingung formatnya, saya buat saja dengan konsep refleksi sederhana. Apa yang dikerjakan? Apa kendalanya? Apa yang dipelajari? Apa yang bisa ditingkatkan?

Membaca dan mendengar cerita mereka, saya bisa menyimpulkan bahwa sebulan kemarin memang kami semua sedang belajar, dan semoga nggak akan pernah berhenti belajar. Selalu ada pertama kali dalam hal apa pun.

Life is such a never ending learning process. To live is to learn. And those who stop learning, stop living. So yeah, now I can say it's finally paid off! At least we all learn something and give meaning to it. Good job, guys!

"Mengalami itu mengambil hikmah dari yang dijalani" -Anies Baswedan

Video buka puasa bersama Mendikbud dan relawan bisa dilihat di sini

Oxymoron

0 comments
Saya nggak tau kutukan macam apa, tapi dari dulu, ketika sudah melibatkan hati, ilmu 'yaudalah ya' jadi level tertinggi yang harus dikuasai. Peduli itu melelahkan, tapi menjadi apatis bukan pilihan.

Meyebalkan, jelas. Gemas, pasti. Tapi biar bagaimana pun, apa yang sudah terpatri akan sulit dicabut kembali. Untuk itu, saya berhutang budi. Juga keki setengah mati.

'Benci-benci-cinta' mungkin istilah paling hoek yang bisa digunakan, tapi paling tepat menggambarkan. Saya dan beberapa teman sepakat melabelinya 'cerita setan'. Cerita yang dihindari, sekaligus tak terhindarkan. Bikin sewot "udah. Nggak usah dibahas" tapi tanpa sadar terus dibahas.

No matter what, you're still dear to my heart. And for that, I hate you :)

Monday, June 13, 2016

Serius Amat, Neng!

0 comments
Akhir-akhir ini saya lagi hobi serius. Mencerna regulasi, membaca strategi, dan menghadapi birokrasi. Hal-hal yang dulu bikin saya alergi. Sekarang?

Seharian ini, diskusi seru tentang Perda Serang dan kasus penggrebekan rumah makan. Sebelumnya, terkait pelayanan publik yang payah. Sebelumnya lagi, tentang hijab dan aturan seragam sekolah --yang kemudian malah panjang bahas keyakinan--.

Paralel juga bahas Indeks Integritas Ujian Nasional, Neraca Pendidikan Daerah, Uji Kompetensi Guru, kurikulum, matriks pemetaan, peta capaian, regulasi kebijakan, dan yang paling bikin patah hati: kekerasan di sekolah.

Baca, dengar, mencoba empati, dan mungkin karena terlalu menghayati, rasanya sampai nyeri. Itu baru yang saya tau dari teman-teman yang mengalami dan cari tau dari media saat ini. Nggak tahu deh berapa banyak lagi yang belum saya tau. Pengennya malah nggak mau tau.

Jumat kemarin saya nggak masuk kantor. Badan super lemas, kepala pusing, flu berat, sariawan, radang tenggorokan, dan tipikal tepar ala pancaroba. Hari ini pun masih. Mungkin badan ngambek saya terlalu serius kerja, lupa istirahat. Haha.

Tapi istirahat fisik nggak ada hubungannya sama istirahat otak.

Makin banyak saya baca, analisa, diskusi, tanya sana-sini, dengar berbagai cerita, otak saya makin nggak berhenti mencerna. Dari bangun sampai (ke)tidur(an), ada aja yang bikin kepikiran. Dan seperti gatal, rasanya mengganggu kalau nggak digaruk.

Sampai barusan, saya memutuskan untuk tidur nyenyak tanpa mikir apa pun. Saya matikan lampu kamar, putar playlist di Spotify, dan lagu-lagu instrumental pengantar tidur pun mengalun.

Tapi tak berapa lama, setengah auto-pilot, saya buka laptop, mengetik tulisan ini, dan kilasan-kilasan pembahasan topik berat terputar acak di otak. Seperti waktu saya ngoceh semalaman ke Bayu cuma untuk numpang self-test, seberapa dalam saya paham analisa data. Zzz.

Serius amat, Neng! Nonton Teletubbies dulu lah.

Saturday, June 11, 2016

Tentang Hijab dan Aturan Seragam Sekolah

3 comments
Saya benci guru-guru saya saat SMA. JENG JENG! Terlalu kasar nggak pembukanya?

Sebetulnya nggak semuanya sih. Jadi begini ceritanya. Alkisah, di sebuah sekolah, terdapatlah seorang guru biasa yang awalnya biasa saja. Tapi semua berubah di suatu Jumat siang yang gerah ketika saya menggulung lengan kemeja panjang yang jadi seragam wajib seminggu sekali.

Rasa bosan, lelah, dan ngantuk, membuat saya mulai nggak fokus dan bisik-bisik ngobrol dengan teman. Melihat kami asik sendiri, guru itu marah dan membentak kami "heh kalian ngobrol terus! Kamu lagi. Baju digulung-gulung. Mau jadi perempuan macam apa kamu hah?!"

Saat itu, saya nurut aja biar cepet. Kalau ada yang bilang lebay, ya mungkin memang. Saya benar-benar tersinggung ketika dibilang "mau jadi perempuan macam apa kamu?!"

Maksudnya apa sih? Gara-gara gulung lengan kemeja terus jadi seks bebas gitu? Nonsense. Saya gulung lengan juga karena lipatan siku dalam merah-merah. Gerah. Elah.

Ada lagi, guru yang suka jambak rambut murid perempuan kalau ketahuan pakai hijab asal-asalan, apalagi nggak pakai sama sekali.

Saya memang malas pakai hijab karena lipatan dagu suka gatal-gatal lalu lecet perih kena gesekan peniti. Mending nggak usah sekalian daripada nanggung-nanggung.

Ohya, waktu itu hijabnya masih yang model kerudung segiempat klasik, bahannya bikin gerah, dan ada renda di bordernya. Model bergo yang bahannya adem baru keluar waktu saya kelas 3.

Lalu soal belahan rok panjang. Kenapa lagi sih gitu aja diributin?

Berhubung saya hobi datang ke sekolah mepet bel, jadi rok harus nyaman dipakai lari. Kalau nggak ada belahan, rok panjang ribet. Suka bikin keserimpet. Lagian di belakang juga kok, bukan di depan ala pramugari. Kalau itu, ya monggoh lah dibilang pamer paha.

Tapi guru mah mana mau tahu. Kesal karena aturan yang kolot dan nggak ada teman diskusi, akhirnya saya berontak. Kalau dipikir-pikir sih, semua aturan jadi terasa konyol karena:
  1. Emosi saya masih labil. Maklum, ABG.
  2. Rules are given unconditionally. No one can explain clearly WHY. Thus, either they obey it or ignore it.

Aksi berontak yang saya lakukan tiap Jumat adalah saya pakai kaos lengan pendek. Seragam kemeja putih lengan panjang dan kerudung saya pakai kalau lagi ada pelajaran saja.

Selebihnya, sebisa mungkin menghindari kantin supaya nggak perlu bawa kemeja in case ada guru keliaran, nggak perlu ketemu guru tukang jambak, nggak perlu ketemu guru yang suka judging sembarangan, juga nggak perlu ketemu guru yang suka negur soal belahan rok.

Belum lagi aturan konyol soal kaos kaki. Walaupun yang ini peraturannya nggak ketat-ketat amat, saya pernah bercanda --padahal sebenarnya serius-- sama teman saya "kalau gw kepilih jadi Ketua OSIS, gw mau kita boleh pakai kaos kaki pendek".

Oh ya, balada pemilihan Ketua OSIS di SMA saya juga absurd. Apalagi pemilihan Ketua Rohis. Ah sudahlah.

Kembali ke seragam.

Baca link yang dikasih sama bokap ini, saya senyum 'menang'. Coba taunya dari dulu ih!

Salah satu alasan saya kekeuh nggak pakai hijab walaupun se-antero desa mempertanyakan "kok Bu Della nggak jilbaban?" adalah saya nggak mau terpaksa pakai hijab hanya karena semua orang pakai.

Adaptasi sih adaptasi. Tapi kadang kita harus pinter-pinter memainkan peran kapan ikut arus dan kapan jadi diri sendiri.

Ya saya tau sih, dalam Islam, pakai hijab adalah kewajiban. Tapi buat saya, kewajiban = keterpaksaan ketika saya sebetulnya punya pilihan namun nggak boleh memilih.

Bagi saya, aturan Islam nggak sekaku semua-wajib-pakai-hijab-kecuali-laki-laki, walaupun saya tetap respek pada teman-teman yang berhijab dan nggak akan mendebat soal menutup aurat itu ya untuk melindungi diri juga.

Saya pun nggak masalah ketika lihat teman yang pasang-copot hijab. Ya pilihan dia lah. Kenapa jadi situ yang repot? Well, walaupun suka 'yaelah sist' juga sih kalau lihat perempuan pakai hijab tapi kelakuannya minus. Tapi yaudalah. Minus mah minus aja, nggak ada hubungannya sama hijab.

Tapi di sekolah, tiap hari Jumat itu wajib berhijab. Belum lagi gunungan aturan lain yang bikin saya merasa terkekang. Padahal itu sekolah umum, bukan pesantren. Hih heran!

Lalu seperti hukum karma, saya dapat kesempatan jadi guru dan menghadapi murid dengan beragam tingkah laku. Ke sekolah pakai sandal lah, pakai baju bola lah, seragam atasan-bawahan nggak nyambung lah, dsb.

Memang menyebalkan. Akhirnya saya paham kenapa guru sering marah kalau muridnya pakai seragam nggak karuan.

Beruntungnya, saya sempat diajarkan tentang disiplin positif di pelatihan. Walaupun super gemes, saya punya 'amunisi' yang lebih menyenangkan dari sekedar bikin aturan atau hukuman konyol.

Saat ada murid yang nggak pakai sepatu, saya bikin permainan yang bikin dia malu sendiri, ngaku salah karena cuma dia yang pakai sendal. Padahal, tiap pelajaran olahraga, sepatunya kinclong bro!

Soal murid yang ke sekolah pakai baju bola, biasanya dia nggak berani pakai pas upacara bendera hari Senin. Mendadak cakep lah pokoknya! Rapi, pakai minyak rambut yang klimisnya sampai sore, dan atribut lengkap.

Nah, pas lagi ganteng-gantengnya, saya puji, walaupun memang perubahannya nggak bisa instan.

Rumus doktrinnya mah gampang. Ke sekolah rapi = ganteng. Prakteknya yang susah. Butuh 1 semester sampai akhirnya anak ini ke sekolah tiap hari pakai seragam rapi. Padahal saya hampir nyerah ikut kebawa labeling "yaudalah. Anak Hulu emang begitu. Yang penting ngga ganggu temennya yang mau belajar aja". Eh ternyata, mau juga tuh dia berubah, hihi.

Sebetulnya saya nggak peduli seragam-seragaman. Bahkan saya pun nggak peduli soal nilai kognitif mereka. Anjlok yaudalah. Ya ada aja kan anak yang jago bikin puisi tapi lemah di matematika. Ada juga yang super kreatif bikin kerajinan tangan, pinter gambar, tapi nge-hang ketika ditanya hapalan IPS.

Baju udah seragam, masa standar kognitif anak juga harus seragam? Masalahnya, sekolah peduli.

Makanya, mau nggak mau, saya harus cari 1001 cara supaya anak-anak nggak sekedar menaati peraturan, tapi menjalaninya tanpa terpaksa. Idealnya sih gitu. Kenyataannya? Mungkin lebih mudah mindahin Gunung Fuji ke Bali kali ketimbang bikin semua anak mau nurut dengan senang hati.

Tapi tiap kali saya mau marah dan yaudah deh nggak mau tau, saya ingat betapa menyebalkannya dikekang banyak aturan dan nggak bisa protes. Makanya, giliran jadi guru, saya nggak mau melakukan hal yang sama ke murid-murid. Itu aja sih.

EHEM. Kembali soal hijab.

Saya ingin sedikit mengutip potongan kalimat dalam Detik News Jumat (10/06):
Dalam Permen itu diatur, bagi siswi yang hendak menggunakan hijab, maka ada desainnya. Begitu juga dengan siswi yang tidak bersedia mengenakan hijab. "Tidak ada aturan yang harus pakai dan tidak ada aturan yang tidak boleh pakai. Karena itu pilihan pribadi," ujar Anies.

Asli, saya makin kagum dengan Pak Menteri ini. Kebijakan yang diambil terasa sekali dilandasi argumen kuat. Terbukti bahwa beliau memang sudah malang-melintang terjun di dunia pendidikan, jadi paham betul kondisi lapangan.

He knows what he's doing.

Murid saya dulu sering tanya "Bu Della nggak pakai jilbab kah?" Selama setahun, saya berhasil ngeles dengan tanya balik "emang kenapa?" Mereka biasanya dengan polosnya menyahut "kan cantik je bu kalau pakai jilbab" Lalu saya balikin "emang sekarang nggak cantik?"

Kemudian mereka senyum-senyum doang, dan pembahasan berhenti sampai di situ.

Ada juga anak-anak yang lebih kritis. "Kan di Islam wajib pakai jilbab Bu" Kalau dapat jawaban seperti ini, gantian saya yang senyum "iya Ibu tau kok. Makasih ya ngingetin Ibu" Kelar. Selama setahun, nggak ada sih yang bertanya lebih jauh.

Padahal, kalau mereka masih tanya juga, saya mau jelasin bahwa pakai hijab itu memang kewajiban muslimah, tapi bukan pakai karena terpaksa.

Tapi saya sih membayangkan, kalau beneran saya bilang begitu, waaah, bisa digetok wali murid karena nggak salah juga sebetulnya argumen "pakai jilbab itu soal pembiasaan".

Ada satu cerita menarik tentang anak murid saya.

Sebut saja Tiara. Gadis tomboy yang berprestasi di bidang olahraga. Sepanjang mengajar, saya nggak pernah lihat dia pakai hijab. Di hari Jumat pun bahkan dia nggak pakai baju muslim.

Seragam sehari-harinya adalah kemeja lengan pendek dan rok di atas lutut yang memudahkan dia main bola sama murid laki-laki. Bahkan saya sering lihat dia seharian pakai baju olahraga walaupun pelajaran olahraga udah kelar :))

Kalau soal pakai sendal atau baju bola ke sekolah, yang pakai sendal saya suruh ke pasar, yang pakai baju bola saya suruh ke lapangan --> pernah dicoba dan nggak mempan, haha.

Tapi buat kasus 'unik' seperti Tiara ini, agak dilematis juga. Mau nyuruh pakai, lah wong saya sendiri nggak pakai kok! Nggak adil dan nggak konsisten sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Sebetulnya saya tuh gatel banget usil nyuruh Tiara pakai baju koko terus berangkat shalat Jumat, cuma kalau beneran diturutin kan gawat juga. Haha. Jadi paling saya sambil santai bilang "Ibu mau liat dong kamu pakai gamis perempuan. Penasaran. Pasti cantik deh"

Terus dia protes "Ibu Della jeee.. susah saya nanti main bola" Duh, kangen ih jadinya :')

Anyway, dengan adanya pernyataan Mendikbud soal seragam, saya jadi lega. Seenggaknya, saya melakukan hal yang benar pada Tiara, bahwa keputusan berhijab atau nggak adalah pilihan. Toh udah ditegaskan sama Menteri nya sendiri bahwa memang nggak ada aturannya sekolah mewajibkan maupun melarang siswi pakai hijab.

Dear high school teachers, give me back my Friday uniform rights!