Posts

Showing posts from June, 2016

Toleransi

Saya ingat zaman sekolah dulu, dalam pelajaran PPKN selalu ditekankan soal toleransi umat beragama. Toleransi pada orang yang sedang beribadah. Misalnya, kecilkan volume TV saat orang lagi shalat. Nggak berisik saat orang lagi berdoa. Nggak makan-minum di depan orang berpuasa.

Bertahun-tahun kemudian, di bulan Ramadhan, topik toleransi muncul kembali. Bedanya, kalau dulu keluar di ulangan, sekarang keluar di berita dan diulang-ulang.

Siapa sih yang nggak tau kasus Perda Serang dan penggrebekan rumah makan Bu Saeni oleh satpol PP? Media terlalu over mem-blow up berita itu.

Kalau saya sih nggak peduli ya. Puasa ya puasa aja. Nggak usah protes kalau ada yang nggak puasa dan makan-minum. Yang nggak puasa juga sadar diri aja. Nggak usah juga protes kalau ada yang meminta mereka untuk nggak makan-minum di depan yang berpuasa.

Tahun lalu, 2 orang teman saya yang non-muslim bahkan ikut sahur, puasa, dan buka di bulan Ramadhan. Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada juga yang melarang. Dan nggak p…

Paid Off

Image
Saya nggak bisa tidur. Overdosis kafein. Mau numpang ngoceh aja di sini.
Jadi, akhir April lalu, saya masuk kantor baru. Dibajak, tepatnya. Baru masuk, saya udah dicemplungin dalam satu kegiatan yang durasinya cukup panjang. Sebulan, dengan persiapan cuma seminggu. Wakwaw.
Karena saya tau saya nggak bisa gerak sendiri, saya minta bala bantuan dan bawel nanya ini-itu ke mana-mana. Modal saya cuma muka badak minta persetujuan untuk inisiatif mengelola relawan walaupun saat itu masih clueless belum tau harus ngapain.

Modal tambahan: tekad dan nekat.
Singkat cerita, sebulan berlalu. Pilot project yang jelasss.. banyak kekurangan di sana-sini, semangat naik-turun, dan bukan sekali-dua kali rasanya pengen buru-buru udahan. Mengelola relawan di tengah birokrasi yang kental itu susah-susah-gampang.
Sempat iri ke teman saat dia cerita betapa menyenangkannya ketika acaranya sukses dan semua senang. "Gw pengen ngerasain paid off juga deh. Kapan ya?" keluh saya yang saat itu udah super…

Oxymoron

Saya nggak tau kutukan macam apa, tapi dari dulu, ketika sudah melibatkan hati, ilmu 'yaudalah ya' jadi level tertinggi yang harus dikuasai. Peduli itu melelahkan, tapi menjadi apatis bukan pilihan.

Meyebalkan, jelas. Gemas, pasti. Tapi biar bagaimana pun, apa yang sudah terpatri akan sulit dicabut kembali. Untuk itu, saya berhutang budi. Juga keki setengah mati.

'Benci-benci-cinta' mungkin istilah paling hoek yang bisa digunakan, tapi paling tepat menggambarkan. Saya dan beberapa teman sepakat melabelinya 'cerita setan'. Cerita yang dihindari, sekaligus tak terhindarkan. Bikin sewot "udah. Nggak usah dibahas" tapi tanpa sadar terus dibahas.

No matter what, you're still dear to my heart. And for that, I hate you :)

Serius Amat, Neng!

Akhir-akhir ini saya lagi hobi serius. Mencerna regulasi, membaca strategi, dan menghadapi birokrasi. Hal-hal yang dulu bikin saya alergi. Sekarang?

Seharian ini, diskusi seru tentang Perda Serang dan kasus penggrebekan rumah makan. Sebelumnya, terkait pelayanan publik yang payah. Sebelumnya lagi, tentang hijab dan aturan seragam sekolah --yang kemudian malah panjang bahas keyakinan--.

Paralel juga bahas Indeks Integritas Ujian Nasional, Neraca Pendidikan Daerah, Uji Kompetensi Guru, kurikulum, matriks pemetaan, peta capaian, regulasi kebijakan, dan yang paling bikin patah hati: kekerasan di sekolah.

Baca, dengar, mencoba empati, dan mungkin karena terlalu menghayati, rasanya sampai nyeri. Itu baru yang saya tau dari teman-teman yang mengalami dan cari tau dari media saat ini. Nggak tahu deh berapa banyak lagi yang belum saya tau. Pengennya malah nggak mau tau.

Jumat kemarin saya nggak masuk kantor. Badan super lemas, kepala pusing, flu berat, sariawan, radang tenggorokan, dan tipikal…

Tentang Hijab dan Aturan Seragam Sekolah

Saya benci guru-guru saya saat SMA. JENG JENG! Terlalu kasar nggak pembukanya?

Sebetulnya nggak semuanya sih. Jadi begini ceritanya. Alkisah, di sebuah sekolah, terdapatlah seorang guru biasa yang awalnya biasa saja. Tapi semua berubah di suatu Jumat siang yang gerah ketika saya menggulung lengan kemeja panjang yang jadi seragam wajib seminggu sekali.

Rasa bosan, lelah, dan ngantuk, membuat saya mulai nggak fokus dan bisik-bisik ngobrol dengan teman. Melihat kami asik sendiri, guru itu marah dan membentak kami "heh kalian ngobrol terus! Kamu lagi. Baju digulung-gulung. Mau jadi perempuan macam apa kamu hah?!"

Saat itu, saya nurut aja biar cepet. Kalau ada yang bilang lebay, ya mungkin memang. Saya benar-benar tersinggung ketika dibilang "mau jadi perempuan macam apa kamu?!"

Maksudnya apa sih? Gara-gara gulung lengan kemeja terus jadi seks bebas gitu? Nonsense. Saya gulung lengan juga karena lipatan siku dalam merah-merah. Gerah. Elah.

Ada lagi, guru yang suka jamb…