Oxymoron

Saya nggak tau kutukan macam apa, tapi dari dulu, ketika sudah melibatkan hati, ilmu 'yaudalah ya' jadi level tertinggi yang harus dikuasai. Peduli itu melelahkan, tapi menjadi apatis bukan pilihan.

Meyebalkan, jelas. Gemas, pasti. Tapi biar bagaimana pun, apa yang sudah terpatri akan sulit dicabut kembali. Untuk itu, saya berhutang budi. Juga keki setengah mati.

'Benci-benci-cinta' mungkin istilah paling hoek yang bisa digunakan, tapi paling tepat menggambarkan. Saya dan beberapa teman sepakat melabelinya 'cerita setan'. Cerita yang dihindari, sekaligus tak terhindarkan. Bikin sewot "udah. Nggak usah dibahas" tapi tanpa sadar terus dibahas.

No matter what, you're still dear to my heart. And for that, I hate you :)

No comments:

Powered by Blogger.