Serius Amat, Neng!

Akhir-akhir ini saya lagi hobi serius. Mencerna regulasi, membaca strategi, dan menghadapi birokrasi. Hal-hal yang dulu bikin saya alergi. Sekarang?

Seharian ini, diskusi seru tentang Perda Serang dan kasus penggrebekan rumah makan. Sebelumnya, terkait pelayanan publik yang payah. Sebelumnya lagi, tentang hijab dan aturan seragam sekolah --yang kemudian malah panjang bahas keyakinan--.

Paralel juga bahas Indeks Integritas Ujian Nasional, Neraca Pendidikan Daerah, Uji Kompetensi Guru, kurikulum, matriks pemetaan, peta capaian, regulasi kebijakan, dan yang paling bikin patah hati: kekerasan di sekolah.

Baca, dengar, mencoba empati, dan mungkin karena terlalu menghayati, rasanya sampai nyeri. Itu baru yang saya tau dari teman-teman yang mengalami dan cari tau dari media saat ini. Nggak tahu deh berapa banyak lagi yang belum saya tau. Pengennya malah nggak mau tau.

Jumat kemarin saya nggak masuk kantor. Badan super lemas, kepala pusing, flu berat, sariawan, radang tenggorokan, dan tipikal tepar ala pancaroba. Hari ini pun masih. Mungkin badan ngambek saya terlalu serius kerja, lupa istirahat. Haha.

Tapi istirahat fisik nggak ada hubungannya sama istirahat otak.

Makin banyak saya baca, analisa, diskusi, tanya sana-sini, dengar berbagai cerita, otak saya makin nggak berhenti mencerna. Dari bangun sampai (ke)tidur(an), ada aja yang bikin kepikiran. Dan seperti gatal, rasanya mengganggu kalau nggak digaruk.

Sampai barusan, saya memutuskan untuk tidur nyenyak tanpa mikir apa pun. Saya matikan lampu kamar, putar playlist di Spotify, dan lagu-lagu instrumental pengantar tidur pun mengalun.

Tapi tak berapa lama, setengah auto-pilot, saya buka laptop, mengetik tulisan ini, dan kilasan-kilasan pembahasan topik berat terputar acak di otak. Seperti waktu saya ngoceh semalaman ke Bayu cuma untuk numpang self-test, seberapa dalam saya paham analisa data. Zzz.

Serius amat, Neng! Nonton Teletubbies dulu lah.

No comments:

Powered by Blogger.