Tentang Hijab dan Aturan Seragam Sekolah

Saya benci guru-guru saya saat SMA. JENG JENG! Terlalu kasar nggak pembukanya?

Sebetulnya nggak semuanya sih. Jadi begini ceritanya. Alkisah, di sebuah sekolah, terdapatlah seorang guru biasa yang awalnya biasa saja. Tapi semua berubah di suatu Jumat siang yang gerah ketika saya menggulung lengan kemeja panjang yang jadi seragam wajib seminggu sekali.

Rasa bosan, lelah, dan ngantuk, membuat saya mulai nggak fokus dan bisik-bisik ngobrol dengan teman. Melihat kami asik sendiri, guru itu marah dan membentak kami "heh kalian ngobrol terus! Kamu lagi. Baju digulung-gulung. Mau jadi perempuan macam apa kamu hah?!"

Saat itu, saya nurut aja biar cepet. Kalau ada yang bilang lebay, ya mungkin memang. Saya benar-benar tersinggung ketika dibilang "mau jadi perempuan macam apa kamu?!"

Maksudnya apa sih? Gara-gara gulung lengan kemeja terus jadi seks bebas gitu? Nonsense. Saya gulung lengan juga karena lipatan siku dalam merah-merah. Gerah. Elah.

Ada lagi, guru yang suka jambak rambut murid perempuan kalau ketahuan pakai hijab asal-asalan, apalagi nggak pakai sama sekali.

Saya memang malas pakai hijab karena lipatan dagu suka gatal-gatal lalu lecet perih kena gesekan peniti. Mending nggak usah sekalian daripada nanggung-nanggung.

Ohya, waktu itu hijabnya masih yang model kerudung segiempat klasik, bahannya bikin gerah, dan ada renda di bordernya. Model bergo yang bahannya adem baru keluar waktu saya kelas 3.

Lalu soal belahan rok panjang. Kenapa lagi sih gitu aja diributin?

Berhubung saya hobi datang ke sekolah mepet bel, jadi rok harus nyaman dipakai lari. Kalau nggak ada belahan, rok panjang ribet. Suka bikin keserimpet. Lagian di belakang juga kok, bukan di depan ala pramugari. Kalau itu, ya monggoh lah dibilang pamer paha.

Tapi guru mah mana mau tahu. Kesal karena aturan yang kolot dan nggak ada teman diskusi, akhirnya saya berontak. Kalau dipikir-pikir sih, semua aturan jadi terasa konyol karena:
  1. Emosi saya masih labil. Maklum, ABG.
  2. Rules are given unconditionally. No one can explain clearly WHY. Thus, either they obey it or ignore it.

Aksi berontak yang saya lakukan tiap Jumat adalah saya pakai kaos lengan pendek. Seragam kemeja putih lengan panjang dan kerudung saya pakai kalau lagi ada pelajaran saja.

Selebihnya, sebisa mungkin menghindari kantin supaya nggak perlu bawa kemeja in case ada guru keliaran, nggak perlu ketemu guru tukang jambak, nggak perlu ketemu guru yang suka judging sembarangan, juga nggak perlu ketemu guru yang suka negur soal belahan rok.

Belum lagi aturan konyol soal kaos kaki. Walaupun yang ini peraturannya nggak ketat-ketat amat, saya pernah bercanda --padahal sebenarnya serius-- sama teman saya "kalau gw kepilih jadi Ketua OSIS, gw mau kita boleh pakai kaos kaki pendek".

Oh ya, balada pemilihan Ketua OSIS di SMA saya juga absurd. Apalagi pemilihan Ketua Rohis. Ah sudahlah.

Kembali ke seragam.

Baca link yang dikasih sama bokap ini, saya senyum 'menang'. Coba taunya dari dulu ih!

Salah satu alasan saya kekeuh nggak pakai hijab walaupun se-antero desa mempertanyakan "kok Bu Della nggak jilbaban?" adalah saya nggak mau terpaksa pakai hijab hanya karena semua orang pakai.

Adaptasi sih adaptasi. Tapi kadang kita harus pinter-pinter memainkan peran kapan ikut arus dan kapan jadi diri sendiri.

Ya saya tau sih, dalam Islam, pakai hijab adalah kewajiban. Tapi buat saya, kewajiban = keterpaksaan ketika saya sebetulnya punya pilihan namun nggak boleh memilih.

Bagi saya, aturan Islam nggak sekaku semua-wajib-pakai-hijab-kecuali-laki-laki, walaupun saya tetap respek pada teman-teman yang berhijab dan nggak akan mendebat soal menutup aurat itu ya untuk melindungi diri juga.

Saya pun nggak masalah ketika lihat teman yang pasang-copot hijab. Ya pilihan dia lah. Kenapa jadi situ yang repot? Well, walaupun suka 'yaelah sist' juga sih kalau lihat perempuan pakai hijab tapi kelakuannya minus. Tapi yaudalah. Minus mah minus aja, nggak ada hubungannya sama hijab.

Tapi di sekolah, tiap hari Jumat itu wajib berhijab. Belum lagi gunungan aturan lain yang bikin saya merasa terkekang. Padahal itu sekolah umum, bukan pesantren. Hih heran!

Lalu seperti hukum karma, saya dapat kesempatan jadi guru dan menghadapi murid dengan beragam tingkah laku. Ke sekolah pakai sandal lah, pakai baju bola lah, seragam atasan-bawahan nggak nyambung lah, dsb.

Memang menyebalkan. Akhirnya saya paham kenapa guru sering marah kalau muridnya pakai seragam nggak karuan.

Beruntungnya, saya sempat diajarkan tentang disiplin positif di pelatihan. Walaupun super gemes, saya punya 'amunisi' yang lebih menyenangkan dari sekedar bikin aturan atau hukuman konyol.

Saat ada murid yang nggak pakai sepatu, saya bikin permainan yang bikin dia malu sendiri, ngaku salah karena cuma dia yang pakai sendal. Padahal, tiap pelajaran olahraga, sepatunya kinclong bro!

Soal murid yang ke sekolah pakai baju bola, biasanya dia nggak berani pakai pas upacara bendera hari Senin. Mendadak cakep lah pokoknya! Rapi, pakai minyak rambut yang klimisnya sampai sore, dan atribut lengkap.

Nah, pas lagi ganteng-gantengnya, saya puji, walaupun memang perubahannya nggak bisa instan.

Rumus doktrinnya mah gampang. Ke sekolah rapi = ganteng. Prakteknya yang susah. Butuh 1 semester sampai akhirnya anak ini ke sekolah tiap hari pakai seragam rapi. Padahal saya hampir nyerah ikut kebawa labeling "yaudalah. Anak Hulu emang begitu. Yang penting ngga ganggu temennya yang mau belajar aja". Eh ternyata, mau juga tuh dia berubah, hihi.

Sebetulnya saya nggak peduli seragam-seragaman. Bahkan saya pun nggak peduli soal nilai kognitif mereka. Anjlok yaudalah. Ya ada aja kan anak yang jago bikin puisi tapi lemah di matematika. Ada juga yang super kreatif bikin kerajinan tangan, pinter gambar, tapi nge-hang ketika ditanya hapalan IPS.

Baju udah seragam, masa standar kognitif anak juga harus seragam? Masalahnya, sekolah peduli.

Makanya, mau nggak mau, saya harus cari 1001 cara supaya anak-anak nggak sekedar menaati peraturan, tapi menjalaninya tanpa terpaksa. Idealnya sih gitu. Kenyataannya? Mungkin lebih mudah mindahin Gunung Fuji ke Bali kali ketimbang bikin semua anak mau nurut dengan senang hati.

Tapi tiap kali saya mau marah dan yaudah deh nggak mau tau, saya ingat betapa menyebalkannya dikekang banyak aturan dan nggak bisa protes. Makanya, giliran jadi guru, saya nggak mau melakukan hal yang sama ke murid-murid. Itu aja sih.

EHEM. Kembali soal hijab.

Saya ingin sedikit mengutip potongan kalimat dalam Detik News Jumat (10/06):
Dalam Permen itu diatur, bagi siswi yang hendak menggunakan hijab, maka ada desainnya. Begitu juga dengan siswi yang tidak bersedia mengenakan hijab. "Tidak ada aturan yang harus pakai dan tidak ada aturan yang tidak boleh pakai. Karena itu pilihan pribadi," ujar Anies.

Asli, saya makin kagum dengan Pak Menteri ini. Kebijakan yang diambil terasa sekali dilandasi argumen kuat. Terbukti bahwa beliau memang sudah malang-melintang terjun di dunia pendidikan, jadi paham betul kondisi lapangan.

He knows what he's doing.

Murid saya dulu sering tanya "Bu Della nggak pakai jilbab kah?" Selama setahun, saya berhasil ngeles dengan tanya balik "emang kenapa?" Mereka biasanya dengan polosnya menyahut "kan cantik je bu kalau pakai jilbab" Lalu saya balikin "emang sekarang nggak cantik?"

Kemudian mereka senyum-senyum doang, dan pembahasan berhenti sampai di situ.

Ada juga anak-anak yang lebih kritis. "Kan di Islam wajib pakai jilbab Bu" Kalau dapat jawaban seperti ini, gantian saya yang senyum "iya Ibu tau kok. Makasih ya ngingetin Ibu" Kelar. Selama setahun, nggak ada sih yang bertanya lebih jauh.

Padahal, kalau mereka masih tanya juga, saya mau jelasin bahwa pakai hijab itu memang kewajiban muslimah, tapi bukan pakai karena terpaksa.

Tapi saya sih membayangkan, kalau beneran saya bilang begitu, waaah, bisa digetok wali murid karena nggak salah juga sebetulnya argumen "pakai jilbab itu soal pembiasaan".

Ada satu cerita menarik tentang anak murid saya.

Sebut saja Tiara. Gadis tomboy yang berprestasi di bidang olahraga. Sepanjang mengajar, saya nggak pernah lihat dia pakai hijab. Di hari Jumat pun bahkan dia nggak pakai baju muslim.

Seragam sehari-harinya adalah kemeja lengan pendek dan rok di atas lutut yang memudahkan dia main bola sama murid laki-laki. Bahkan saya sering lihat dia seharian pakai baju olahraga walaupun pelajaran olahraga udah kelar :))

Kalau soal pakai sendal atau baju bola ke sekolah, yang pakai sendal saya suruh ke pasar, yang pakai baju bola saya suruh ke lapangan --> pernah dicoba dan nggak mempan, haha.

Tapi buat kasus 'unik' seperti Tiara ini, agak dilematis juga. Mau nyuruh pakai, lah wong saya sendiri nggak pakai kok! Nggak adil dan nggak konsisten sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Sebetulnya saya tuh gatel banget usil nyuruh Tiara pakai baju koko terus berangkat shalat Jumat, cuma kalau beneran diturutin kan gawat juga. Haha. Jadi paling saya sambil santai bilang "Ibu mau liat dong kamu pakai gamis perempuan. Penasaran. Pasti cantik deh"

Terus dia protes "Ibu Della jeee.. susah saya nanti main bola" Duh, kangen ih jadinya :')

Anyway, dengan adanya pernyataan Mendikbud soal seragam, saya jadi lega. Seenggaknya, saya melakukan hal yang benar pada Tiara, bahwa keputusan berhijab atau nggak adalah pilihan. Toh udah ditegaskan sama Menteri nya sendiri bahwa memang nggak ada aturannya sekolah mewajibkan maupun melarang siswi pakai hijab.

Dear high school teachers, give me back my Friday uniform rights!

3 comments:

Shanti said...

Wah, menggelitik nih tulisannya.
Gw juga dulu sebel banget sama guru Agama yang nyuruh bikin agenda solat trus kalo di agenda itu solatnya full nilai Agamanya jadi bagus. Zzzzzz.

Tapi bukan itu sih yang menggelitik gw haha..
Gw ngeliat ada pola yang mirip (?) antara apa yang lu omongin/lakuin ke murid dan yang mereka omongin ke lu.

1. Doktrin lu "Ke sekolah rapi = ganteng", alesan mereka pengen liat lu pake jilbab "kan cantik Bu kalau pakai jilbab". Anak yang lu doktrin "Ke sekolah rapi = ganteng" ngeles "emang sekarang nggak ganteng?" juga ga? :p

2. Makanya, mau nggak mau, saya harus cari 1001 cara supaya anak-anak nggak sekedar menuruti peraturan, tapi memaknai peraturan dengan menyenangkan, berangkat dari kesadaran dan kemauan mereka sendiri. Idealnya sih gitu. Kenyataannya? Mungkin lebih mudah mindahin Mount Everest ke Bali kalik ketimbang bikin semua anak mau nurut. >> Somehow ini bikin gw balik ke argumen lu "Ya saya tau sih, dalam Islam, pakai hijab adalah kewajiban. Tapi buat saya, kewajiban = keterpaksaan ketika saya sebetulnya punya pilihan namun nggak boleh memilih." Buat anak-anak itu, Ibu Della mau cari 1001 cara supaya mereka memaknai peraturan dengan menyenangkan, berangkat dari kesadaran dan kemauan mereka sendiri. Buat Ibu Della sendiri gimana? Melakukan hal yang sama ga mengenai peraturan/kewajiban?

Ini gw bisa dimengerti ga sih ngomong apa? Hahah ya gitu lah pokoknya..

fidella anandhita savitri said...

Komen yang berujung pada pembahasan panjang, haha. Makasih Neee :D

Anonymous said...

Pertama saya baca ini, saya juga mikir hal yang sama dengan Shanti atawa yang dipanggil dengan sebutan "Ne" oleh Della. Terima kasih udah diwakilin di komen.

Bu della cantik kok ga pake jilbab.

Powered by Blogger.