Toleransi

Saya ingat zaman sekolah dulu, dalam pelajaran PPKN selalu ditekankan soal toleransi umat beragama. Toleransi pada orang yang sedang beribadah. Misalnya, kecilkan volume TV saat orang lagi shalat. Nggak berisik saat orang lagi berdoa. Nggak makan-minum di depan orang berpuasa.

Bertahun-tahun kemudian, di bulan Ramadhan, topik toleransi muncul kembali. Bedanya, kalau dulu keluar di ulangan, sekarang keluar di berita dan diulang-ulang.

Siapa sih yang nggak tau kasus Perda Serang dan penggrebekan rumah makan Bu Saeni oleh satpol PP? Media terlalu over mem-blow up berita itu.

Kalau saya sih nggak peduli ya. Puasa ya puasa aja. Nggak usah protes kalau ada yang nggak puasa dan makan-minum. Yang nggak puasa juga sadar diri aja. Nggak usah juga protes kalau ada yang meminta mereka untuk nggak makan-minum di depan yang berpuasa.

Tahun lalu, 2 orang teman saya yang non-muslim bahkan ikut sahur, puasa, dan buka di bulan Ramadhan. Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada juga yang melarang. Dan nggak perlu juga dibahas.

Toleransi itu diwujudkan dalam tindakan, bukan cuma ucapan apalagi jawaban ulangan.

Saya ingat waktu liburan ke Banjarmasin bareng Rifat, saya sedang nggak puasa. Sama seperti di Serang, di sana juga rumah makan tutup semua, dan saya nggak tau itu. Saya lapar dan haus setengah mati karena dari malam sebelumnya juga belum makan.

Mungkin karena super kelaparan, saya jengkel berat akan kota santri ini. Mikir apa sih pemerintahnya bikin peraturan konyol begini? Saat saya tanya warga sekitar, mereka menerima tanpa syarat. "Ya aturannya memang begitu". Bikin makin dongkol.

Aturan buat siapa sih larang-larang restoran buka? Aturan buat anak SD yang lagi belajar puasa? Yang belum bisa tahan iman liat jajanan? Gitu?

Sambil misuh-misuh sendiri, saya akhirnya ke supermarket beli roti dan air mineral, lalu makan-minum di toilet. Sempat juga di dalam ATM. Saat Rifat merekam kelakuan ajaib kala itu, luntur sudah segala kekesalan, berganti dengan kenyang ketawa.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meski masih nggak habis pikir, karena saya ada di daerah orang, ya mau nggak mau harus ikut aturan. Dan ini jadi menarik ketika seorang teman mencoba menjelaskan dari sudut pandang hukum. Ia berargumen bahwa peraturan harus ditegakkan.

Mari lepas atribut keagamaan. Misalnya kasus Perda Serang itu. Ketika Netizen berinisiatif memberi donasi pada Bu Saeni, itu sama saja mendukung pelanggaran hukum, walaupun atas nama simpati dan bentuk keprihatinan.

Saya sendiri, saat ada di Banjarmasin dan sedang nggak puasa, ketika makan di dalam ATM, saya merasa seperti buronan. Aneh banget rasanya. Padahal sebetulnya saya nggak salah. Lah ya memang nggak puasa kok.

Tapi jujur ya. Kasus Perda Serang ini bikin saya mikir. Kenapa sih nggak sekalian aja dikasih satu spot khusus di mana pedagang boleh berjualan makanan dan minuman di situ? Atau alternatif solusi lain, kenapa sih nggak memperbolehkan restoran untuk delivery/take away?

Intinya tetap nggak makan di situ kan?

Lelah ih semua orang koar-koar soal toleransi. Alih-alih duduk bareng memikirkan solusi, kenapa sih semua orang saling lempar komen, ramai-ramai minta dihormati?

Situ bendera?

No comments:

Powered by Blogger.