Friday, July 29, 2016

Anies Pamit (part 2)

0 comments
Seharusnya, H+1 reshuffle saya sudah nggak perlu datang ke kantor. Tapi barang-barang saya beberapa masih tertinggal. Lagipula, ada pertemuan dengan Production House yang akan presentasi video untuk tayang di bioskop (SOON! Hehe).

13.00 WIB

credit: @kawanakhdyan

Berhubung Rabu lalu Pak Anies selesai menjabat, jadi beliau sudah nggak bisa pakai lagi ruang menteri. Makanya, beliau pindah 'markas' sementara di ruang Stafsus.

Mumpung seruangan sama Pak Anies, tercetus ide spontan. Modal muka badak, saya buka percakapan. "Pak, berkenan nggak untuk tulis sedikit thank you notes buat relawan dan semua pihak yang udah bantu di HPS (Hari Pertama Sekolah) kemarin?"

Tanpa jeda berpikir, beliau mengangguk. "Ini ada pulpen warna hitam dan biru. Mau yang mana pak? Warna merah kuning hijau juga ada. Pokoknya siap semua warna" Masih kaget dengan Pak Anies yang begitu saja mengiyakan request, saya nyerocos sambil menyodorkan selembar kertas kosong dan dua buah pulpen.

Beliau nyengir. "Yang ini saja" lalu dikeluarkanlah pulpen andalannya sendiri.

Saya juga menaruh selembar kertas yang sudah ada wordingnya untuk memudahkan Pak Anies dalam menulis. Biar tinggal salin, pikir saya. Ini saja sudah merepotkan, minta tulis thank you notes di tengah kesibukannya urus berbagai dokumen di meja. Nggak usah tambah bikin repot beliau.

"Bisa carikan kertas bergaris? Khawatir tulisan saya berombak-ombak. Tulisan saya jelek, nanti makin sulit teman-teman bacanya" Dalam hati: pak, bersedia direpotin begini aja udah sukur. Hahaha.

Singkat cerita, disambi pertemuan ini-itu, tandatangan dokumen ini-itu, request thank you notes akhirnya selesai juga. Saat saya baca, ternyata betul-betul beda dari wording yang sudah saya siapkan.

Respek saya untuk bapak satu ini. He's busy, yet still makes time to personalize his notes. Bahkan saya nggak bisa sebut itu notes karena lumayan panjang. Lebih cocok disebut sebagai surat. Ucapan terima kasih dan apresiasi yang beliau tunjukkan, itu sungguhan.


15.00 WIB


Dua jam ada di ruangan yang sama dengan (mantan) Menteri ternyata bikin mati gaya juga. Apalagi saya nggak bawa laptop karena niatnya cuma mau ketemu orang PH.

Untuk mengusir bosan, saya secara lekat mengamati cara beliau berinteraksi dengan orang-orang yang ada di ruangan. Sebetulnya kalau interaksi saja mah sudah sering lihat, tapi baru kali ini sambil duduk semeja. Santai, tak berjarak, dan bukan dalam rapat serius.

Orang-orang yang bertandang dilayani semua dengan hangat dan senyuman yang khas. Baik yang butuh tanda tangan dokumen, sekedar mengucap pamit, maupun diskusi intens. Melihat ini semua, nggak heran kalau Pak Anies jadi menteri favorit banyak orang.

16.00 WIB


"Maaf lama. Setelah sekian lama dibantu tim Patwal, baru sadar lagi, oh iya, Jakarta macet" kelakar Pak Anies sesampainya di kantor PH. Paska reshuffle, tak ada lagi fasilitas 4 riders yang mengawal beliau untuk buka jalan supaya cepat sampai tujuan.

Singkat cerita, presentasi pun dimulai. Pak Anies kembali melempar kelakar, "seharusnya saya buat kata-kata di videonya kemarin. Tapi kena reshuffle".

Jadi begini. Mau spoiler dikit. Di video bioskop ini, yang tulis copywritingnya Pak Anies. Beliau mau kata-katanya 'berotot' dan menjanjikan diserahkan saat itu. Tapi karena reshuffle, banyak hal yang harus diurus dan tidak sempat mengerjakan copywriting sesuai tenggat.

Selesai pertemuan dengan PH, foto-foto, kami pulang. Atasan saya mengajak ngopi-ngopi. Ternyata menyenangkan juga bisa santai sejenak seperti ini. Hikmah di balik reshuffle, hahaha.

19.00 WIB


Atasan saya pulang, sementara saya kembali ke kantor. Di ruangan, ternyata Pak Chozin dan tim lagi sibuk 'mainan' paper shredder. Dokumennya luar biasa banyak. Satu troli sendiri. Mungkin sebetulnya lebih :))

21.30 WIB

Setelah seru-seruan main paper shredder, waktunya pulang! Di perjalanan, saya buka link ini: https://madeandi.com/2016/07/28/anies/

"...kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar."

Aih. Pak Made, buka pendaftaran klub #cemenwithpride kah? Saya mau gabung :')

Thursday, July 28, 2016

Anies Pamit (part 1)

5 comments

"Terus berjuang ya pak"

Campur aduk, hanya sepatah kata itu yang bisa keluar dari mulut saya. Sambil tersenyum ramah seperti biasanya, dengan tenang beliau merespon, "ohya harus. Perjalanan kita masih panjang"

Anies Rasyid Baswedan. Sosok yang santun dan bersahaja ini kemarin baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

07.30 WIB

Saya bangun kesiangan. Buka Whatsapp, banyak pesan yang masuk. Tapi kali ini, ada yang beda. Banyak yang bertanya isu reshuffle. 3 bulan yang lalu sebelum saya bergabung di Kementerian, isu reshuffle kencang berhembus, tapi tidak kejadian. Makanya, saya tenang saja.

Ah, isu lagi, pikir saya. Malah, saya sempat becanda, mungkin reshuffle ini pengalihan isu aturan plat nomer ganjil-genap di Jakarta.

Lalu pagi itu, saya mengirim pesan pada atasan saya "mas, ada isu reshuffle lagi?" Dan dijawab dengan emoticon senyum. "Nanti kita ngobrol di kantor"

Eh?!

09.30 WIB

Saya sampai kantor. Mata dan jempol tak lepas dari HP, melayani pertanyaan yang masuk dan sibuk berasumsi sendiri.

"Pucet banget mbak" tanya salah seorang anak magang. "Kepikiran reshuffle sampai lupa pakai lipstik" sahut saya sekenanya. Di benak saya, masih banyak peer yang harus dikerjakan. Masih banyak inisiatif yang mau dilakukan. Kalau betulan di-reshuffle, ini nasibnya gimanaaa???!

Barangkali, pun dengan pulasan lipstik, raut pucat saya kala itu tetap terlihat.

Padahal, 2 hari yang lalu saya sempat mengutarakan keinginan perpanjang kontrak pada atasan saya. Beliau hanya tersenyum maklum saat saya bilang penasaran mau bantu gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah lagi tahun depan. Tapi ternyata, hidup memang penuh kejutan.

11.00 WIB

Saya sedang berusaha menyelesaikan laporan bulanan saat Metro TV menyiarkan pengumuman reshuffle. Jadi fix nih ya? Setelah benar-benar sadar apa yang sedang terjadi, saya dan teman-teman satu tim bergegas menuju ruang rapat. Di sana sedang digelar pertemuan kecil antar pimpinan.

Saat Pak Anies mulai keliling dan berjabatan, segera saya sadar, ini akan jadi hari yang panjang dan emosional.

Sekembalinya dari ruang rapat, sudah hilang mood untuk membuat laporan. Staf Khusus Menteri mulai berkemas. Saya, yang notabene tergabung dalam tim, ikut juga bergegas. Aturannya memang seperti itu. Staf Khusus ditunjuk langsung. Ring 1 Menteri harus ikut undur diri ketika Menterinya selesai menjabat.

Hari yang panjang itu kemudian diisi diskusi dan pamitan sana-sini.

15.00 WIB




Pak Anies bersama keluarganya memberikan pidato perpisahan di aula gedung kementerian. Berbondong-bondong orang datang. Mereka menangis terharu, merasakan betul dampak hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia.

Setelah keluarga dan ibunda, yang pertama kali disebut Pak Anies adalah ajudan dan supirnya, lalu para stafnya. "Mereka ini bekerja lebih lama dari saya. Kalau saya bekerja 16 jam, mereka 20 jam. Saya berangkat jam 6, mereka jam 4. Saya pulang jam 10 malam, mereka jam 12 malam."

Singkat cerita, sesi pamitan itu ditutup dengan salam-salaman. Saya yang mulai pusing dengan keriuhan massa kemudian melipir, memilih acak teman bicara dan berkenalan dengan seorang wanita paruh baya berkerudung kuning.

Lirih ia berkata, "sepanjang saya bekerja di sini, baru kali ini saya ketemu menteri kayak gini. Bukan cuma dicintai, tapi juga dibutuhkan" Saya pun menghela napas dan menepuk pundaknya. Merasakan patah hati yang sama.

17.00 WIB


Sesi serah terima jabatan yang dihadiri oleh para eselon. Saat itu, pandangan saya menangkap sosok wanita paruh baya berkerudung kuning sedang berdiri sendiri di pojokan. Ibu itu lagi. Menyadari kehadiran saya, ia melambaikan tangan. Saya melangkah menghampiri.

"Ibu kok di sini? Maju aja, liat dari deket" Saya membuka percakapan. "Nggak enak. Itu eselon semua. Saya cuma pengen liat sampai Pak Anies nggak jadi menteri lagi"

Mencelos. Sedemikian membekasnya sosok mantan Mendikbud ini di hati para stafnya. Ah, memang ya. Kalau bekerja pakai hati, terbukti pasti sampai ke hati.

19.00 WIB


Malam ini terasa sangat spesial. Setelah hari yang sebagian besarnya dihabiskan dengan pamitan dan beberes, tim Staf Khusus Menteri Bidang Pemangku Kepentingan beserta anak-anak magang berkumpul. Kami merapat di satu meja besar dengan sejumlah kursi, bercanda dan bercerita.

Ada hangat yang menjalar ketika Pak Chozin selaku Staf Khusus berkisah soal politik baik, kejujuran, dan integritas.

"Dari dulu, semangatnya PM --Pak Menteri, sebutan orang-orang Kemdikbud untuk Pak Anies-- adalah orang baik jangan diam dan mendiamkan. Ilustrasinya begini. Ketika dalam satu tim ada 10 orang jahat dan yang baik diam, kejahatan akan merajalela. Tapi ketika orang-orang baik memilih turun tangan, setidaknya bisa mencegah mereka yang berniat jahat"

Beliau juga cerita alasan kenapa UN tidak dijadikan syarat kelulusan. Ketika titik berat kelulusan ditentukan oleh ujian, maka akan terjadi kecurangan yang sistemik. Itulah yang ingin dicegah.

Lalu beliau juga menjabarkan alasan ruangannya yang luas menjadi ruang publik dengan pintu yang tak pernah dikunci. Menurutnya, dengan banyaknya orang seliweran, orang yang punya niat memberi amplop 'uang pelicin' akan sungkan bertindak. Beliau menjaga dirinya sendiri dari peluang lunturnya integritas.

"Manusia itu kan kadang khilaf. Dan kita sukanya bikin pembenaran kalau kepepet. Bisa aja kita terima amplop sambil janji sama diri sendiri nanti-nanti nggak lagi. Tapi malah jadi yang kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya terbiasa. Itu yang berat. Makanya harus dijaga jangan sampai ada celah."

Mendengar penuturan beliau yang sungguh-sungguh menjaga integritas, saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Walau menjadi baik saja belum cukup, setidaknya, obrolan spesial malam itu menjadi bukti bahwa kita masih punya sejuta alasan untuk terus optimis.

Sunday, July 10, 2016

Tentang "Kapan Kawin?"

4 comments
Lebaran ini saya 'disidang' 2 keluarga besar dengan pertanyaan "kapan kawin?" Yasudahlah, memang nggak bisa menghindar, kan?

Saya sebetulnya santai, tapi lama-lama lelah juga akan tatapan aneh orang-orang saat saya bilang "aduuuh ribet. Nanti aja". Saya pun susah menjelaskan bahwa saya 'nggak mau dicariin, males nyari, dan yakin nanti juga ketemu'.

Akhirnya, saya sekalian menjabarkan:

  1. Saya nggak mau pesta besar tapi undangannya banyak yang nggak saya kenal.
  2. Saya nggak mau keluar duit banyak cuma buat resepsi yang melelahkan di gedung.
  3. Saya nggak mau pakai adat.
  4. Saya malas meladeni permintaan gabungan 4 keluarga besar. Keluarga besar papa-mama aja udah pasti banyak maunya. Kalau harus meladeni juga permintaan camer........ :|
  5. Daripada ribet, saya mending sekalian nikah sama bule. Atau orang Indonesia yang keluarganya asik, punya pemikiran terbuka soal nikah itu tentang ikatan 2 manusia, bukan urusan beberapa kelompok besar keluarga.
  6. Saya mau pakai gaun. Kebaya gpp, tapi nggak mau paes-paesan dan cukur alis sampai botak terus bisa liat tuyul.
  7. Saya mau calonnya bisa memastikan anggaran buat ART selama setahun, aman. Gpp deh tinggal kontrak sepetak. Most important thing is someone has to help us doing house chores.

Saya bahkan menambahkan, untuk memastikan bahwa undangan yang datang adalah benar-benar orang terpilih, saya maunya di luar kota atau luar negeri sekalian. Nggak perlu juga pakai ada 'beban kolektif' piala-piala bergilir segala. Nggak penting.

Di pinggir pantai, bisa bebas berkeliaran nggak cuma duduk anteng di pelaminan. Itung-itungan duitnya nanti dipikirin kalau udah ada calonnya.

Adek saya sinis. Ngayal, katanya. Bodo amat. Apa salahnya berkhayal? Kalau semua orang kayaknya mau tau banget kapan saya nikah, sekalian saya kasih tau aja kenapa saya malas bahas nikah. Karena tau banget 7 poin di atas hampir mustahil. Khayal babu.

Ya tapi kalau ada yang mau lamar saya dan bisa meyakinkan saya bahwa 7 poin di atas bisa benar-benar terwujud, I'm all yours! Just pick a date. That's it. Puas?

So if anyone come to me and ask that 'when' question again, the answer is when there's someone that can assure me I'm happier together than being single. A leap of faith.

Satu catatan penting: saya nggak mudah diyakinkan. Just don't waste your time.

Friday, July 8, 2016

Sukses Itu Proses (part 2)

0 comments
5. Push

Teman saya --sebut saja Bayu-- pernah bilang, mungkin life traps saya adalah unrelenting standard. Hah? Apa itu life traps? Apa itu unrelenting standard?

Singkatnya, life traps merupakan 'jebakan' di masa kecil hasil didikan orang tua yang terbawa sampai dewasa. Life traps ini dipandang sebagai sebuah masalah, makanya harus diatasi.

Sementara itu, unrelenting standard adalah salah satu bentuk life traps di mana seseorang dituntut dengan standar tinggi di masa kecil, sehingga ia tumbuh menjadi orang dewasa yang nggak pernah puas.

Bayu bilang, saya yang workaholic, ambisius, dan perfeksionis ini masuk kategori unrelenting standard. Bukan tanpa alasan sebetulnya dia bilang gitu, soalnya saya memang sering banget ngomongin kerjaan. Suka aja bahas berjam-jam, bahkan dalam pertemuan kasual.

Saya sendiri sih nggak merasa saya workaholic. Cuma workafrolic. Hahaha. Makanya, saya bergidik nggak nyaman dengan judgement itu, lalu protes ke Bayu.

Dia bilang, selama kita nggak ngerasa itu masalah ya gpp. Buat dia, dengan mengetahui apa life traps nya, justru membantunya untuk keluar dari situ. Good for him then, but not for me.

Buat saya, dengan takaran yang pas, nggak pernah puas itu justru bisa jadi kekuatan. Yes true, I tend to push myself hard and never can really be satisfied. But then I realize, ain't life boring when you're easily satisfied?

6. Serve

Ini yang baru saya sadari belakangan. Kita boleh nggak puas dan terus mendorong diri sendiri untuk jadi lebih baik, tapi harus ingat juga, jangan melakukan sesuatu cuma untuk diri sendiri aja. Kalau 'mantra' yang bolak-balik ditekankan di IM:

"It's not about me. It's about them"

Saya memang nggak pernah puas, tapi ketika melakukan sesuatu dengan ikhlas, membuat orang lain tersenyum puas, rasanya semua kerja keras terbayar lunas.

'Puas' ketika berusaha dan 'puas' ketika berbuat baik sama orang lain itu rasanya bisa beda jauh. Karena susah jelasinnya, mari anggep aja apa pun yang kita lakukan, kita sebenarnya sedang melepaskan energi.

Pada prinsipnya, energi itu kekal. Energi nggak bisa musnah, hanya berpindah. Jadi ketika orientasinya hanya diri sendiri, energinya akan muter di situ-situ aja. Tapi ketika kita memberikan pelayanan, berbuat kebaikan, kita sedang melakukan 'donor energi'.

Walaupun saya takut disuntik dan nggak pernah donor darah, tapi saya dapat cerita dari teman-teman pendonor. Mereka bilang, donor darah itu nagih karena rasanya segar sehabis mendonor. Charging.

That's the exact same thing when you serve. You'll feel refreshed like your energy recharged. It feels good when deed is good. It feels.......... meaningful :)

7. Ideas


Persis! Balada badai otak yang selalu dipenuhi ide. Kadang suka frustrasi sih ketika sebuah ide yang diungkapkan sulit dieksekusi. Padahal, katanya kan sebaik-baiknya ide adalah yang dieksekusi. Tapi boro-boro, saya sendiri suka kebingungan menyampaikan ide saking banyaknya 'tab'.

Prosesnya gini: punya ide, merenung, diskusi, eksekusi, revisi, ketemu ide baru, kembali merenung, kembali diskusi, kembali eksekusi, kembali revisi, dan bingung sendiri. Hahaha.  Selalu begitu, dan ya mungkin prosesnya memang begitu.

Makanya, sebagai outletnya, menulis menjadi ajang latihan buat saya untuk menyampaikan gagasan secara jernih dan terstruktur. Tantangannya, gimana realisasinya? Balik lagi ke situ :))

8. Persist

Saya ingat, dulu saya suka tanya sama mantan saya --sebut saja Budi-- tiap kali insecure. Apa sih kelebihan saya? Si Budi selalu bilang saya ini anaknya persisten. Dulu, saya nggak puas dengan jawabannya. Nggak jelas juga sebenarnya jawaban apa yang saya harapkan.

Sekarang, saya jadi bersyukur punya 'modal' persisten. Pokoknya selama keinginan masih ada, motivasi masih kuat, hambatan belum mentok, hajar lah!

Dari 8 poin di atas, seperti tujuan saya nulis untuk diri sendiri di masa depan, saya cuma pengen ngingetin Della sekian tahun lagi:

"Hey dear, keep all of these secret ingredients in mind, and you're on your way! Don't ever worry about temporary failures. Success never lies in results. Success is actually process. Promise me to keep going no matter what"

Sukses Itu Proses (part 1)

0 comments
Sukses itu proses. Yaelah. Klasik.

Jadi begini. Selama libur lebaran ini, saya lagi seneng-senengnya nonton video Ted X dan "Satu Jam Bersama"-nya RTV. Tanpa saya sadar, saya sedang mempelajari bagaimana pemimpin bertindak, juga bagaimana speakers Ted X membocorkan rahasia pemimpin sukses.

Tanpa sadar? Ah masa? Iya, saya nggak berintensi untuk mencari tips sukses. Random aja. Sesuatu yang belakangan langka saya lakukan padahal dulu tiap saat me-random.

Ada satu video Ted X yang menjadi penghubung antara refleksi dan teori, judulnya "8 Secrets of Success" dengan keynote speaker bernama Richard St. John. Setelah 500 interview selama 7 tahun, ia meramu apa yang menjadi kunci sukses.

Berhubung ini judulnya "Sukses Itu Proses", jadi saya mau refleksi aja proses menuju sukses (aamiin). Mungkin ini akan jadi post yang panjang, yang sebetulnya tujuannya bukan buat dibaca orang lain, tapi buat saya baca lagi di kemudian hari.

1. Passion

Kali terakhir saya bahas passion adalah ketika OPP. Saya bilang, saya nggak tau apa passion apa. Saya nggak tau secara spesifik saya mau ke mana. Yang saya tau, saya ingin berkarir di tempat di mana saya mengelilingi dan dikelilingi orang-orang keren. Seperti lagunya One Direction:

"You don't know you're beautiful. That's what makes you beautiful"

Sama halnya dengan orang keren. Mungkin kalau dipuji, mereka akan dengan rendah hati bilang "ini memang tugas saya kok" kayak beberapa tokoh seperti Anies Baswedan, Jokowi, Ridwan Kamil yang saya tonton dalam "Satu Jam Bersama"-nya RTV.

Satu kesamaan, mereka semua konkrit. Mereka nggak mencari passion, tapi memilih passion dan segera action. Mereka nggak tau mereka keren. Mungkin nggak peduli keren-kerenan. Padahal, itulah yang bikin mereka keren.

2. Work

Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas -Ridwan Kamil

Kerja kerja kerja -Jokowi

Kerjaku, kerjamu, kerja kita -Madah Bahana in Concert 2

Berdaya karena bekerja -Indonesia Mengajar

"Kerja" sebagai kata kunci dari tokoh yang saya amati serta organisasi yang pernah saya ikuti. Tokoh yang memberi bukti. Organisasi yang lebih mementingkan aksi ketimbang menghabiskan waktu untuk diskusi kosong tanpa solusi.

3. Good

"Be so good they can't ignore you" -Steve Martin

Satu hal, saya cuma ingin saya menyelesaikan dengan baik apa yang saya kerjakan. Beruntung, pekerjaan saya sekarang membuka peluang untuk saya punya banyak mentor. Sampai saya suka diledek "Del, bos lo yang mana sih?" Biasanya saya suka menyahut asal, "yang mana aja boleh" Haha.

Buat saya, nggak masalah sih 'ngekor' sana-sini. Jadi, ketika saya bingung, butuh masukan dan arahan, ada mereka dengan senang hati saya 'recokin', bahkan tengah malam atau saat libur lebaran sekalipun. Maaf ya mas, pak, mbak, bu, hehehe.

Mereka merespon dengan baik apa yang saya tanya. Mereka membiarkan saya berbuat kesalahan, sadar sendiri, dan berusaha memperbaiki. Mereka betul-betul kasih saya ruang gerak yang luas buat eksplorasi ini-itu.

I feel like a kid one more time, supervised by cool adults that allow me to play to learn something. In return, I contribute by being better day by day.

4. Focus

Kayanya sih ini udah berkali-kali saya tulis. Saya 'tersiksa' ketika cuma harus fokus pada satu hal. Lebih suka berpindah fokus untuk mengerjakan hal-hal baru, eksplorasi banyak sudut pandang, dan mencoba beragam bidang.

Dulu, saya suka merasa insecure menjadi "jack of all trades, master of none". Tapi setelah bolak-balik refleksi, introspeksi, dan evaluasi diri, juga di-aamiin-i video Ted X berjudul "Why Some of Us Don't Have One True Calling" oleh Emilie Wapnick, saya jadi lega. Saya nggak sendirian.

Well maybe my focus is being jack of all trades. Perhaps, mastering some. Aamiin.