Anies Pamit (part 1)


"Terus berjuang ya pak"

Campur aduk, hanya sepatah kata itu yang bisa keluar dari mulut saya. Sambil tersenyum ramah seperti biasanya, dengan tenang beliau merespon, "ohya harus. Perjalanan kita masih panjang"

Anies Rasyid Baswedan. Sosok yang santun dan bersahaja ini kemarin baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

07.30 WIB

Saya bangun kesiangan. Buka Whatsapp, banyak pesan yang masuk. Tapi kali ini, ada yang beda. Banyak yang bertanya isu reshuffle. 3 bulan yang lalu sebelum saya bergabung di Kementerian, isu reshuffle kencang berhembus, tapi tidak kejadian. Makanya, saya tenang saja.

Ah, isu lagi, pikir saya. Malah, saya sempat becanda, mungkin reshuffle ini pengalihan isu aturan plat nomer ganjil-genap di Jakarta.

Lalu pagi itu, saya mengirim pesan pada atasan saya "mas, ada isu reshuffle lagi?" Dan dijawab dengan emoticon senyum. "Nanti kita ngobrol di kantor"

Eh?!

09.30 WIB

Saya sampai kantor. Mata dan jempol tak lepas dari HP, melayani pertanyaan yang masuk dan sibuk berasumsi sendiri.

"Pucet banget mbak" tanya salah seorang anak magang. "Kepikiran reshuffle sampai lupa pakai lipstik" sahut saya sekenanya. Di benak saya, masih banyak peer yang harus dikerjakan. Masih banyak inisiatif yang mau dilakukan. Kalau betulan di-reshuffle, ini nasibnya gimanaaa???!

Barangkali, pun dengan pulasan lipstik, raut pucat saya kala itu tetap terlihat.

Padahal, 2 hari yang lalu saya sempat mengutarakan keinginan perpanjang kontrak pada atasan saya. Beliau hanya tersenyum maklum saat saya bilang penasaran mau bantu gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah lagi tahun depan. Tapi ternyata, hidup memang penuh kejutan.

11.00 WIB

Saya sedang berusaha menyelesaikan laporan bulanan saat Metro TV menyiarkan pengumuman reshuffle. Jadi fix nih ya? Setelah benar-benar sadar apa yang sedang terjadi, saya dan teman-teman satu tim bergegas menuju ruang rapat. Di sana sedang digelar pertemuan kecil antar pimpinan.

Saat Pak Anies mulai keliling dan berjabatan, segera saya sadar, ini akan jadi hari yang panjang dan emosional.

Sekembalinya dari ruang rapat, sudah hilang mood untuk membuat laporan. Staf Khusus Menteri mulai berkemas. Saya, yang notabene tergabung dalam tim, ikut juga bergegas. Aturannya memang seperti itu. Staf Khusus ditunjuk langsung. Ring 1 Menteri harus ikut undur diri ketika Menterinya selesai menjabat.

Hari yang panjang itu kemudian diisi diskusi dan pamitan sana-sini.

15.00 WIB




Pak Anies bersama keluarganya memberikan pidato perpisahan di aula gedung kementerian. Berbondong-bondong orang datang. Mereka menangis terharu, merasakan betul dampak hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia.

Setelah keluarga dan ibunda, yang pertama kali disebut Pak Anies adalah ajudan dan supirnya, lalu para stafnya. "Mereka ini bekerja lebih lama dari saya. Kalau saya bekerja 16 jam, mereka 20 jam. Saya berangkat jam 6, mereka jam 4. Saya pulang jam 10 malam, mereka jam 12 malam."

Singkat cerita, sesi pamitan itu ditutup dengan salam-salaman. Saya yang mulai pusing dengan keriuhan massa kemudian melipir, memilih acak teman bicara dan berkenalan dengan seorang wanita paruh baya berkerudung kuning.

Lirih ia berkata, "sepanjang saya bekerja di sini, baru kali ini saya ketemu menteri kayak gini. Bukan cuma dicintai, tapi juga dibutuhkan" Saya pun menghela napas dan menepuk pundaknya. Merasakan patah hati yang sama.

17.00 WIB


Sesi serah terima jabatan yang dihadiri oleh para eselon. Saat itu, pandangan saya menangkap sosok wanita paruh baya berkerudung kuning sedang berdiri sendiri di pojokan. Ibu itu lagi. Menyadari kehadiran saya, ia melambaikan tangan. Saya melangkah menghampiri.

"Ibu kok di sini? Maju aja, liat dari deket" Saya membuka percakapan. "Nggak enak. Itu eselon semua. Saya cuma pengen liat sampai Pak Anies nggak jadi menteri lagi"

Mencelos. Sedemikian membekasnya sosok mantan Mendikbud ini di hati para stafnya. Ah, memang ya. Kalau bekerja pakai hati, terbukti pasti sampai ke hati.

19.00 WIB


Malam ini terasa sangat spesial. Setelah hari yang sebagian besarnya dihabiskan dengan pamitan dan beberes, tim Staf Khusus Menteri Bidang Pemangku Kepentingan beserta anak-anak magang berkumpul. Kami merapat di satu meja besar dengan sejumlah kursi, bercanda dan bercerita.

Ada hangat yang menjalar ketika Pak Chozin selaku Staf Khusus berkisah soal politik baik, kejujuran, dan integritas.

"Dari dulu, semangatnya PM --Pak Menteri, sebutan orang-orang Kemdikbud untuk Pak Anies-- adalah orang baik jangan diam dan mendiamkan. Ilustrasinya begini. Ketika dalam satu tim ada 10 orang jahat dan yang baik diam, kejahatan akan merajalela. Tapi ketika orang-orang baik memilih turun tangan, setidaknya bisa mencegah mereka yang berniat jahat"

Beliau juga cerita alasan kenapa UN tidak dijadikan syarat kelulusan. Ketika titik berat kelulusan ditentukan oleh ujian, maka akan terjadi kecurangan yang sistemik. Itulah yang ingin dicegah.

Lalu beliau juga menjabarkan alasan ruangannya yang luas menjadi ruang publik dengan pintu yang tak pernah dikunci. Menurutnya, dengan banyaknya orang seliweran, orang yang punya niat memberi amplop 'uang pelicin' akan sungkan bertindak. Beliau menjaga dirinya sendiri dari peluang lunturnya integritas.

"Manusia itu kan kadang khilaf. Dan kita sukanya bikin pembenaran kalau kepepet. Bisa aja kita terima amplop sambil janji sama diri sendiri nanti-nanti nggak lagi. Tapi malah jadi yang kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya terbiasa. Itu yang berat. Makanya harus dijaga jangan sampai ada celah."

Mendengar penuturan beliau yang sungguh-sungguh menjaga integritas, saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Walau menjadi baik saja belum cukup, setidaknya, obrolan spesial malam itu menjadi bukti bahwa kita masih punya sejuta alasan untuk terus optimis.

5 comments:

nengditha cahya said...

Menjadi baik saja tak cukup, harus baik dan benar, kalo baca dari cerita lo dell, mereka sudah berusaha untuk menjadi baik dan benar. Semoga, yaa..

fidella anandhita savitri said...

Aamiin Dit :D

Meong said...

Meong terharuuuu... Makasih sharingnya yaaa

Meong said...

Meong terharuuuu... Makasih sharingnya yaaa

Nina Arimurti said...

Cantik sekali tuturmu del, della pun bs patah hati ditinggal pak mentri ya. Dari pertama anies jd team sukses jokowi, aku bener2 ngefans dan terpesona dgn kelembutan dan santunnya, tp tegas. Semoga ada kabar yg lebih baik dr sekedar beliau jd mentri. Who knows. Kita tetap membutuhkannya utk terus memimpin pendidikan di indonesia.

Powered by Blogger.