Anies Pamit (part 2)

Seharusnya, H+1 reshuffle saya sudah nggak perlu datang ke kantor. Tapi barang-barang saya beberapa masih tertinggal. Lagipula, ada pertemuan dengan Production House yang akan presentasi video untuk tayang di bioskop (SOON! Hehe).

13.00 WIB

credit: @kawanakhdyan

Berhubung Rabu lalu Pak Anies selesai menjabat, jadi beliau sudah nggak bisa pakai lagi ruang menteri. Makanya, beliau pindah 'markas' sementara di ruang Stafsus.

Mumpung seruangan sama Pak Anies, tercetus ide spontan. Modal muka badak, saya buka percakapan. "Pak, berkenan nggak untuk tulis sedikit thank you notes buat relawan dan semua pihak yang udah bantu di HPS (Hari Pertama Sekolah) kemarin?"

Tanpa jeda berpikir, beliau mengangguk. "Ini ada pulpen warna hitam dan biru. Mau yang mana pak? Warna merah kuning hijau juga ada. Pokoknya siap semua warna" Masih kaget dengan Pak Anies yang begitu saja mengiyakan request, saya nyerocos sambil menyodorkan selembar kertas kosong dan dua buah pulpen.

Beliau nyengir. "Yang ini saja" lalu dikeluarkanlah pulpen andalannya sendiri.

Saya juga menaruh selembar kertas yang sudah ada wordingnya untuk memudahkan Pak Anies dalam menulis. Biar tinggal salin, pikir saya. Ini saja sudah merepotkan, minta tulis thank you notes di tengah kesibukannya urus berbagai dokumen di meja. Nggak usah tambah bikin repot beliau.

"Bisa carikan kertas bergaris? Khawatir tulisan saya berombak-ombak. Tulisan saya jelek, nanti makin sulit teman-teman bacanya" Dalam hati: pak, bersedia direpotin begini aja udah sukur. Hahaha.

Singkat cerita, disambi pertemuan ini-itu, tandatangan dokumen ini-itu, request thank you notes akhirnya selesai juga. Saat saya baca, ternyata betul-betul beda dari wording yang sudah saya siapkan.

Respek saya untuk bapak satu ini. He's busy, yet still makes time to personalize his notes. Bahkan saya nggak bisa sebut itu notes karena lumayan panjang. Lebih cocok disebut sebagai surat. Ucapan terima kasih dan apresiasi yang beliau tunjukkan, itu sungguhan.


15.00 WIB


Dua jam ada di ruangan yang sama dengan (mantan) Menteri ternyata bikin mati gaya juga. Apalagi saya nggak bawa laptop karena niatnya cuma mau ketemu orang PH.

Untuk mengusir bosan, saya secara lekat mengamati cara beliau berinteraksi dengan orang-orang yang ada di ruangan. Sebetulnya kalau interaksi saja mah sudah sering lihat, tapi baru kali ini sambil duduk semeja. Santai, tak berjarak, dan bukan dalam rapat serius.

Orang-orang yang bertandang dilayani semua dengan hangat dan senyuman yang khas. Baik yang butuh tanda tangan dokumen, sekedar mengucap pamit, maupun diskusi intens. Melihat ini semua, nggak heran kalau Pak Anies jadi menteri favorit banyak orang.

16.00 WIB


"Maaf lama. Setelah sekian lama dibantu tim Patwal, baru sadar lagi, oh iya, Jakarta macet" kelakar Pak Anies sesampainya di kantor PH. Paska reshuffle, tak ada lagi fasilitas 4 riders yang mengawal beliau untuk buka jalan supaya cepat sampai tujuan.

Singkat cerita, presentasi pun dimulai. Pak Anies kembali melempar kelakar, "seharusnya saya buat kata-kata di videonya kemarin. Tapi kena reshuffle".

Jadi begini. Mau spoiler dikit. Di video bioskop ini, yang tulis copywritingnya Pak Anies. Beliau mau kata-katanya 'berotot' dan menjanjikan diserahkan saat itu. Tapi karena reshuffle, banyak hal yang harus diurus dan tidak sempat mengerjakan copywriting sesuai tenggat.

Selesai pertemuan dengan PH, foto-foto, kami pulang. Atasan saya mengajak ngopi-ngopi. Ternyata menyenangkan juga bisa santai sejenak seperti ini. Hikmah di balik reshuffle, hahaha.

19.00 WIB


Atasan saya pulang, sementara saya kembali ke kantor. Di ruangan, ternyata Pak Chozin dan tim lagi sibuk 'mainan' paper shredder. Dokumennya luar biasa banyak. Satu troli sendiri. Mungkin sebetulnya lebih :))

21.30 WIB

Setelah seru-seruan main paper shredder, waktunya pulang! Di perjalanan, saya buka link ini: https://madeandi.com/2016/07/28/anies/

"...kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar."

Aih. Pak Made, buka pendaftaran klub #cemenwithpride kah? Saya mau gabung :')

No comments:

Powered by Blogger.